Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
95


" Ibu sedang ke Bandung Pak sama tuan Deniel dan Mas Dewa . Katanya ada pekerja yang kecelakaan saat kerja di kafe dan masuk rumah sakit . Tadi sih tuan Deniel sudah melarang tapi ibu memaksa ingin ikut "


Bumi menghela nafasnya ketika tahu sang istri tidak ada di tokonya .


" Dimana Janu mbak ? "


" Janu di bawa sama neneknya pulang soalnya kata Bu Aira mungkin mereka pulang malam . Kasihan kalau Janu ikut kesana "


" Ya sudah terimakasih mbak "


Bumi segera masuk ke mobilnya lagi , ia membuka ponselnya siapa tahu sang istri sempat menghubunginya karena ia sengaja mematikan ponselnya agar tidak di ganggu oleh Adam .


Ternyata benar beberapakali Air mencoba menelponnya . Dan ia membuka satu pesan yang tetkirim padanya .


Dear wife : Mas aku , Dewa dan Deniel ada kepentingan sebentar . Mungkin aku pulang telat tidak seperti biasanya . Handuk bersih ada di lemari bawah sebelah kiri jika ingin mandi . Aku juga buat rendang tadi pagi , Mas bisa angetin jika Mas ingin makan malam "


Untuk hal sekecil ini pun sang istri masih mengingatnya . Aira memang selalu mengurus dirinya sampai hal terkecil sekalipun .


Bukannya pulang , Bumi malah melesatkan kuda besinya menyusul sang istri ke Bandung . Dia ingin segera menemui Air untuk berbicara sekaligus minta maaf .


Bumi tak akan tenang jika masih ada masalah yang mengganjal antara mereka berdua . Dia tahu selama ini Air terus saja mengalah bukan karena salah ataupun bodoh !


Air mengalah hanya agar emosi sang suami mereda . Karena jika ia mencoba menjelaskan saat Bumi sedang terbakar emosi , hasilnya hanya akan membuat suaminya tambah meledak ledak .


Jika sudah terikat dalam suatu hubungan kita dituntut untuk saling mengerti . Kita akan menjadi air dikala pasangan kita menjadi api , kita akan mendengarkan jika pasangan kita sedang ingin berbicara .


Karena hakekat pernikahan adalah menerima semua kekurangan pasangan kita masing masing .


Hari sudah gelap ketika ia tiba di kafe istrinya , suasana juga sudah sepi . Mungkin para pekerja sudah pulang . Dan hanya penjaga malam kafe yang ada di tempat itu .


" Pak , apa Bu Aira dan Deniel tadi kesini ? "


Penjaga itu tidak langsung menjawab melainkan meneliti pria tinggi besar di depannya .


" Saya Bumi suami Bu Aira "


" Tidak apa apa "


" Bu Aira sama adiknya masih ada di rumah sakit untuk mengurus pekerja yang tadi kecelakaan . Jatuh dari lantai dua kafe , kayaknya sih patah tulang pak ! Terus tuan Deniel mengurus keluarganya , dengar dengar sih ada pihak keluarga yang ingin menuntut Bu Aira gitu "


Bumi menghela nafasnya , dia bahkan tidak ada saat sang istri sedang mengalami kesulitan seperti ini .


" Ya sudah kalau begitu saya akan susul mereka kerumah sakit saja "


Bumi kembali memacu kuda besinya menuju ke arah rumah sakit yang tadi sempat ditunjuk oleh oenjaga malam . Setelah mendapat informasi Bumi segera menuju kamar rawat si pekerja karena ia yakin Aira dan Dewa masih berada di sana .


" Lhohh Mas nyusul kesini ? Kata Mbak Aira Mas lagi ada meeting penting di kantor . Tadi Dewa sempat hubungi Mas Bumi tapi ponsel mas nggak aktif "


Bumi menghampiri Dewa yang berjalan mendekatinya . Dia tidak melihat istrinya di sekitar tempat itu .


" Mbak Aira lagi ada sama dokter . Patah tulangnya lumayan parah ! Jadi Mbak Air bicara sama Dokter untuk memberikan pengobatan terbaik . Sudah sepuluh menit lebih mereka di ruang dokter "


" Kamu sama embak udah makan Wa ? "


" Dari tadi siang cuma makan combro yang tadi dibawa Embak dari toko , nggak sempat keluar makan soalnya . Nanti kalau urusan kelar baru kita cari makan Mas "


" Dimana ruangan dokternya ? Mas mau nyusul kesana "


Dewa tak menjawabnya sepertinya ia sedang memperhatikan seseorang .


" ltu mbak Aira sudah kesini , ya udah Dewa mau nyari kopi dulu di kantin . Sepet banget mata Dewa , Mas Bumi sama Embak mau dibawain kopi nggak ? " tanya Dewa menawarkan .


" Nanti Embak nyusul ke kantin , kamu duluan saja "


Air mendekati suaminya dan mencoba tersenyum , ia belum tahu apakah suasana hati Bumi sudah membaik apa belum . Belum ada senyum di raut sang suami sejak tadi mereka bertemu


" Mas ... "


" Sayang .... "