Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
42


Semakin hari toko roti milik Air semakin dikenal , hingga kadang Air sampai kewalahan jika sedang banyak pesanan . Sudah hampir tiga Minggu dia menjalankan usaha itu .


Air mempunyai lima pegawai yang semua direkrut oleh Deniel . Laki laki muda itu masih kerap membantunya , dan tentu saja membuat suaminya urung uringan karena cemburu .


Sore itu Bumi menyempatkan mampir ke tempat anak dan istrinya setelah pulang kerja , ini adalah rutinitas barunya selama tiga Minggu ini . Berkali kali meminta pada istrinya agar mau kembali pulang ke apartemen , tapi masih juga dijawab dengan kata belum siap .


" Sayang ... berapa nilai pinjamanmu pada laki laki tengil itu !? " tanya Bumi yang sedang memangku Janu , bayi itu sudah terbiasa dengan keberadaan papa sambungnya .


" Deniel maksud Mas ? Beberapa ratus juta , cukup banyak sih ! Tapi jika toko bisa berjalan seperti ini terus kurasa aku bisa menutup cicilan setiap bulannya "


" Aku akan menyelesaikannya , kau tidak usah memikirkan cicilan setiap bulannya . Agar kau bisa lebih fokus memperbaiki hubungan kita "


Air tersenyum jika melihat sang suami mulai merajuk , ia tahu kesibukannya kadang membuat Bumi merasa tersisihkan . Walau begitu jika Bumi datang ke toko ia selalu mengutamakan kepentingan sang suami .


Jika datang saat makan siang , sesibuk apapun Air pasti akan menemani sang suami makan siang . Begitupun saat malam hari . Dan semua yang masuk ke perut Bumi adalah hasil tangannya , karena mengurus suami masih menjadi tugas utamanya .


" Toko ini adalah keinginanku , aku mohon Mas biarkan aku yang sepenuhnya mengurusnya . Mas Bumi bisa membantuku memperbaiki sistem kerja ditoko atau mencarikan tempat untuk membuka cabang "


" Kau ingin membuka cabang ? " tanya Bumi malas , membuka cabang berarti pikiran istrinya akan lebih tidak fokus untuk kembali padanya .


" Kemarin aku dan Deniel sudah membicarakan ini , sepertinya aku butuh satu toko lagi khusus untuk menyuplai kue di jaringan supermarket milik Varo yang ada di Jakarta . Jika semua campur aduk disini aku kewalahan "


Bumi menampakkan ketidaksukaannya ketika sekali lagi Air menyebut nama Deniel dan Varo di depannya . Sungguh ia tidak suka jika bibir istrinya menyebut nama laki laki lain .


CUPP ...


Bumi terpaku ketika Air mencium ujung hidungnya sekilas , walau hanya berlangsung sepersekian detik tapi mampu membuat degup jantungnya berhenti .


" Sayang ... "


" De ... papa Bumi masih cemburuan ya , bagaimana kita mau pulang kalau masih saja seperti itu . Nanti yang ada kita disuruh pergi lagi ya de " Air berbicara dengan putranya yang masih ada dalam pangkuan Bumi seakan bayi itu sudah paham semua yang dia bicarakan .


" Sayang please ... jangan ungkit itu lagi . Aku kan sudah mengaku salah . Aku bersumpah tidak akan mengulanginya lagi "


" Maka buktikan itu pada kami "


" Aku akan menjaga kalian dengan nyawaku , tapi aku ... aku pencemburu dan pemarah "


Air tersenyum lebar mendengar penuturan sang suami . Pria itu mengakui kelemahan terbesarnya yang selalu akan berapi api jika sedang cemburu .


" Maka jadilah Air yang bisa memadamkan kemarahanku , jadilah Air yang selalu menyejukkan hidupku ... "


" Kemarin kurasa aku yang menyebalkan , kenapa sekarang jadi kau yang bisa sangat menyebalkan !? Papa benar kan de ? "


Janu menjerit dan tertawa ketika Bumi mengangkat dan menciumi perut gembulnya . Air juga ikut tertawa , sungguh hal sekecil ini membuatnya sangat bahagia . Putranya kembali menemukan sosok ayah dari diri suaminya .


" Mas mau makan malam disini atau diluar ? Tadi aku masak udang asam manis . Jika mas mau aku angetin dulu "


" Ya sudah aku juga mau bikin susu dulu sekalian tidurin Janu " kata Bumi menggendong bayi gembul itu ke dalam kamar .


Setelah selesai menata semuanya Air segera memanggil suaminya ke kamar .


" Mas ... "


Bumi memberikan isyarat agar Air tidak bersuara dengan keras karena Janu sudah tertidur .


" Makan yuk , udah Air siapin di depan " bisik. Air pelan .


Bumi mengangguk dan berjalan mengikuti istrinya menuju meja kecil yang ada di ruang televisi yang tepat bersebelahan dengan kamar tidurnya .


Ada monitor yang di gunakan Air agar tetap bisa memantau Janu yang sedang tertidur dikamar . Jadi ia bisa mengerjakan semua tanpa khawatir putranya jika tiba tiba bangun dan menangis .


" Sayang ... "


" He em " jawab Air sambil menuangkan air putih ke dalam gelas suaminya .


Bumi mengelap saus yang ada di ujung bibir Air dengan menggunakan ibu jarinya .


" Kangen ... " matanya menatap sayu istrinya .


Air bukan lagi gadis yang tidak tahu kemana arah pembicaraan suaminya . Bumi adalah laki laki dewasa dan sudah menjadi kewajibannya untuk melayani kebutuhan jasmani dan rohani suaminya .


" Hei kok malah melamun sih , aku bukan bicara soal itu , bukan seperti apa yang ada dipikiranmu sekarang sayang . Aku hanya benar benar kangen sama kamu . ltu saja " bohong Bumi yang melihat raut muka Air yang berubah sedih .


Bumi meletakkan sebuah kartu hitam di atas meja .


" Sudah dari kemarin aku ingin memberikan ini padamu . Tapi aku takut kau berpikiran jika aku memberikan ini maka kau harus melaksanakan kewajibanmu . Dengarkan aku ... aku akan menunggumu siap untuk menerimaku . Aku mencintaimu bukan karena tubuhmu . Aku mencintaimu karena aku benar benar tigak bisa hidup tanpamu .. Air hanya milik Bumi "


Tanpa terasa air mata Air mengalir deras mendengar pernyataan cinta suaminya . Jujur ia ingin mendengar ini sejak lama . Air ingin Bumi mengatakan bahwa pria itu telah menyerahkan hatinya . Dengan begitu ia tidak ragu untuk menyerahkan hatinya untuk suaminya .


" Aku juga cinta sama kamu Mas "