
" Harusnya Mas tidak menemuimu dahulu , harusnya aku memberimu waktu untuk sendiri dulu . Tak mudah memaafkan semua yang telah Mas lakukan padamu dan Janu . Tapi sungguh .... Mas hanya ingin kau tahu bahwa aku menyesal , maaf ... "
Air tak menjawab satu patah katapun , ia masih mengobati luka di wajah suaminya . Baru kali ini Air berada dalam jarak sedekat ini dengan suaminya . Sebisa mungkin ia menahan tangannya yang bergetar ketika menyentuh wajah tampan suaminya .
" Mas ... "
" Marahi aku , pukul aku jika perlu ! Dengan begitu mungkin otakku baru bisa bekerja dengan baik "
" Ckk .. " Air menekan keras luka disudut bibir suaminya hingga Bumi meringis sakit .
" Awwsshh ... "
" Sakit !? " tanya tampak khawatir .
" Perih banget " jawab Bumi , ia mencoba menarik simpati istrinya .
" Sukurin ... Tapi kayaknya pukulan Dewa kurang keras , luka gini doang " Air berkata sambil tersenyum menang , ia masih menekan luka disudut bibir Dewa dengan alkohol pembersih luka .
Dewa menatap Air , senyum itu begitu indah baginya . Dia rela menerima lagi pukulan Dewa asal dapat melihat senyum itu lagi .
" Kamu masih benci sama Mas ? "
" Masih .. dikit "
Bumi tersenyum lebar mendengar jawaban dari Air . Ternyata dugaannya meleset , ia sempat berpikir jika Air akan mengusirnya dan melemparinya dengan sandal atau apapun itu .
Nyatanya dengan penuh kesabaran wanita yang sudah menjadi istrinya itu dengan telaten mengobati lukanya . Melihat wajah istrinya sedekat ini membuatnya semakin kagum , wajah cantik tanpa polesan itu terlihat begitu mengagumkan .
Alisnya yang tebal , hidung mancung dan bibir sedikit tebal yang menambah kesan seksi pada raut Air. Dan itu sedikit memancing nalurinya sebagai seorang laki laki .
" Sampai sekarang juga masih marah sama Mas ? "
" Masih .. dikit "
" Pulang ya ... Mas kangen "
" Tidak bisa , karena suami Air sudah tidak menginginkan kami lagi . Aku tidak membencinya , tapi cukup .... cukup aku merasakan semua penghinaannya padaku . Mas ... "
" Sudah selesai diobati lukanya Nak Bumi !? " suara ibunya spontan menghentikan kata katanya . Air memang sudah selesai mengobati luka suaminya .
" Sudah Bu , maaf malah jadi merepotkan semua " jawab Bumi dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tadi ia sempat akan membungkam bibir istrinya dengan bibirnya .
Dia tidak suka jika diingatkan dengan semua kelakuannya yang memang menyebalkan .
" Ya sudah kalian pulang saja , sudah sore juga . lbu harap kalian bisa menjaga keluarga kalian dengan baik . lbu titip anak dan cucu ibu Nak Bumi "
" Mereka adalah anak dan istri Bumi Bu , sudah pasti Bumi akan menjaganya "
" Dewa pegang janji Mas Bumi ... " suara Dewa menyambar dari arah dalam , ia mendekat pada Janu yang masih berada dalam gendongan ibunya dan menciuminya dengan gemas .
" Apa sih Wa .. kaya bensin aja main nyamber , masuk sono ! Kakak kakakmu juga sudah mau pulang "
" Bandel ya dibilangin , Embakmu itu dianter sama suaminya sendiri , kenapa kamu maksa !"
" Awww Bu .. sakit !! " pekik Dewa yang yang dipukul bahunya pelan oleh ibunya .
" Aku siap siap dulu Mas "
Bumi hanya mengangguk dan tersenyum , ia mendekat pada Janu yang masih di gendong mertuanya .
" Hai Janu ini papa Bumi , boleh saya menggendongnya Bu "
" Tentu saja ini kan putramu juga , Janu ikut papa yaaa .. "
Janu tampaknya mengerti dengan maksud sang nenek yang ingin memberikannya pada Bumi . Bayi itu menangis keras , Janu tidak mau bersama Bumi .
" Lho anak ganteng kok nangis sih , itu kan papa Bumi .. papanya Janu " kata Bu Sri sambil menenangkan Janu yang masih menangis dengan keras .
Bumi menghela nafas panjang , Janu ternyata masih marah padanya . Mungkin Janu tahu bahwa ia telah menyakiti ibunya , dia sendiri yang berusaha menjaga jarak dari bayi bertubuh gembul itu dari awal mereka bertemu .
Akhirnya Air keluar dari kamar membawa tas cukup besar berisi semua perlengkapan anaknya .
Bumi menyambut dengan mengambil tas yang di bawa istrinya , setelah pamit pada ibu dan adiknya akhirnya mereka pergi dengan menggunakan mobil Bumi .
" Aku mohon pulanglah bersamaku ... "
Ditengah perjalanan Bumi kembali memohon pada istrinya untuk mau pulang bersamanya .
" Aku mau mas , tapi tidak sekarang ! "
" Kau tadi bilang sudah memaafkanmu , kau tidak membenciku "
" Tapi bukan berarti aku sudah melupakan semuanya Mas . Berusaha hidup sendiri dalam semua keterbatasan dan dengan bertubi tubi hinaan itu sangat sulit "
" Aku tahu ... aku salah "
" Tidak ada yang salah Mas . Keadaan yang memaksa kita untuk bersatu padahal kita sana sekali tidak saling mengenal satu sama lain . Mas Bumi tidak mengenalku dan akupun tidak mengenalmu Mas "
" Tapi aku lebih keterlaluan , membencimu tanpa alasan "
" Mulai hari ini biarkan kita mulai dari awal hubungan kita . Mencoba saling mengenal dan memahami . Tapi aku belum siap jika kita tinggal di atap yang sama "
" Aku mengerti sayang ... "
Wajah Air memerah mendengar kata kata sayang dari suaminya . Tapi ia tak ingin Bumi melihatnya semburat merah di pipinya , Air menoleh melihat keluar jendela .
" Aku ingin memulai hidupku dengan membuka usaha sendiri , aku harap Mas mendukungku . Aku hanya ingin mandiri Mas , bergantung pada seseorang yang tidak mengerti pada kita itu sangat sulit "
" Iya sayaaaannnggg ... "