Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
37


" Harusnya Mas tidak menemuimu dahulu , harusnya aku memberimu waktu untuk sendiri dulu . Tak mudah memaafkan semua yang telah Mas lakukan padamu dan Janu . Tapi sungguh .... Mas hanya ingin kau tahu bahwa aku menyesal , maaf ... "


Air tak menjawab satu patah katapun , ia masih mengobati luka di wajah suaminya . Baru kali ini Air berada dalam jarak sedekat ini dengan suaminya . Sebisa mungkin ia menahan tangannya yang bergetar ketika menyentuh wajah tampan suaminya .


" Mas ... "


" Marahi aku , pukul aku jika perlu ! Dengan begitu mungkin otakku baru bisa bekerja dengan baik "


" Ckk .. " Air menekan keras luka disudut bibir suaminya hingga Bumi meringis sakit .


" Awwsshh ... "


" Sakit !? " tanya tampak khawatir .


" Perih banget " jawab Bumi , ia mencoba menarik simpati istrinya .


" Sukurin ... Tapi kayaknya pukulan Dewa kurang keras , luka gini doang " Air berkata sambil tersenyum menang , ia masih menekan luka disudut bibir Dewa dengan alkohol pembersih luka .


Dewa menatap Air , senyum itu begitu indah baginya . Dia rela menerima lagi pukulan Dewa asal dapat melihat senyum itu lagi .


" Kamu masih benci sama Mas ? "


" Masih .. dikit "


Bumi tersenyum lebar mendengar jawaban dari Air . Ternyata dugaannya meleset , ia sempat berpikir jika Air akan mengusirnya dan melemparinya dengan sandal atau apapun itu .


Nyatanya dengan penuh kesabaran wanita yang sudah menjadi istrinya itu dengan telaten mengobati lukanya . Melihat wajah istrinya sedekat ini membuatnya semakin kagum , wajah cantik tanpa polesan itu terlihat begitu mengagumkan .


Alisnya yang tebal , hidung mancung dan bibir sedikit tebal yang menambah kesan seksi pada raut Air. Dan itu sedikit memancing nalurinya sebagai seorang laki laki .


" Sampai sekarang juga masih marah sama Mas ? "


" Masih .. dikit "


" Pulang ya ... Mas kangen "


" Tidak bisa , karena suami Air sudah tidak menginginkan kami lagi . Aku tidak membencinya , tapi cukup .... cukup aku merasakan semua penghinaannya padaku . Mas ... "


" Sudah selesai diobati lukanya Nak Bumi !? " suara ibunya spontan menghentikan kata katanya . Air memang sudah selesai mengobati luka suaminya .


" Sudah Bu , maaf malah jadi merepotkan semua " jawab Bumi dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tadi ia sempat akan membungkam bibir istrinya dengan bibirnya .


Dia tidak suka jika diingatkan dengan semua kelakuannya yang memang menyebalkan .


" Ya sudah kalian pulang saja , sudah sore juga . lbu harap kalian bisa menjaga keluarga kalian dengan baik . lbu titip anak dan cucu ibu Nak Bumi "


" Mereka adalah anak dan istri Bumi Bu , sudah pasti Bumi akan menjaganya "


" Dewa pegang janji Mas Bumi ... " suara Dewa menyambar dari arah dalam , ia mendekat pada Janu yang masih berada dalam gendongan ibunya dan menciuminya dengan gemas .


" Apa sih Wa .. kaya bensin aja main nyamber , masuk sono ! Kakak kakakmu juga sudah mau pulang "


" Bandel ya dibilangin , Embakmu itu dianter sama suaminya sendiri , kenapa kamu maksa !"


" Awww Bu .. sakit !! " pekik Dewa yang yang dipukul bahunya pelan oleh ibunya .


" Aku siap siap dulu Mas "


Bumi hanya mengangguk dan tersenyum , ia mendekat pada Janu yang masih di gendong mertuanya .


" Hai Janu ini papa Bumi , boleh saya menggendongnya Bu "


" Tentu saja ini kan putramu juga , Janu ikut papa yaaa .. "


Janu tampaknya mengerti dengan maksud sang nenek yang ingin memberikannya pada Bumi . Bayi itu menangis keras , Janu tidak mau bersama Bumi .


" Lho anak ganteng kok nangis sih , itu kan papa Bumi .. papanya Janu " kata Bu Sri sambil menenangkan Janu yang masih menangis dengan keras .


Bumi menghela nafas panjang , Janu ternyata masih marah padanya . Mungkin Janu tahu bahwa ia telah menyakiti ibunya , dia sendiri yang berusaha menjaga jarak dari bayi bertubuh gembul itu dari awal mereka bertemu .


Akhirnya Air keluar dari kamar membawa tas cukup besar berisi semua perlengkapan anaknya .


Bumi menyambut dengan mengambil tas yang di bawa istrinya , setelah pamit pada ibu dan adiknya akhirnya mereka pergi dengan menggunakan mobil Bumi .


" Aku mohon pulanglah bersamaku ... "


Ditengah perjalanan Bumi kembali memohon pada istrinya untuk mau pulang bersamanya .


" Aku mau mas , tapi tidak sekarang ! "


" Kau tadi bilang sudah memaafkanmu , kau tidak membenciku "


" Tapi bukan berarti aku sudah melupakan semuanya Mas . Berusaha hidup sendiri dalam semua keterbatasan dan dengan bertubi tubi hinaan itu sangat sulit "


" Aku tahu ... aku salah "


" Tidak ada yang salah Mas . Keadaan yang memaksa kita untuk bersatu padahal kita sana sekali tidak saling mengenal satu sama lain . Mas Bumi tidak mengenalku dan akupun tidak mengenalmu Mas "


" Tapi aku lebih keterlaluan , membencimu tanpa alasan "


" Mulai hari ini biarkan kita mulai dari awal hubungan kita . Mencoba saling mengenal dan memahami . Tapi aku belum siap jika kita tinggal di atap yang sama "


" Aku mengerti sayang ... "


Wajah Air memerah mendengar kata kata sayang dari suaminya . Tapi ia tak ingin Bumi melihatnya semburat merah di pipinya , Air menoleh melihat keluar jendela .


" Aku ingin memulai hidupku dengan membuka usaha sendiri , aku harap Mas mendukungku . Aku hanya ingin mandiri Mas , bergantung pada seseorang yang tidak mengerti pada kita itu sangat sulit "


" Iya sayaaaannnggg ... "