
" Ha .. ha .. aku memang selalu beruntung , ini bisa kujadikan alat agar anak sialan itu tidak diakui Mas Gilang "
Diana melihat foto foto yang dikirimkan orang suruhannya untuk mengawasi Diva dan Gema . Dia khawatir suatu saat Diva akan menggunakan Gema sebagai alat untuk mendekati Gilang kembali .
Hingga dia melakukan segala cara agar Diva dan Gema menyingkir dari kehidupannya . Dia tidak ingin kekayaan Gilang jatuh pada Gema yang merupakan putra satu satunya .
Sampai sekarang ia dan Gilang belum juga dikaruniai momongan . Padahal kondisinya ataupun suaminya sangat baik baik saja , dokter menyatakan mereka sehat dan mempunyai kemungkinan besar untuk memiliki keturunan .
Diana tersenyum senang ketika mendengar suara mobil suaminya sudah datang . Dia segera berlari keruang depan dan memasang wajah sedihnya . Dia berharap sandiwaranya kali ini berhasil seperti biasanya .
" Di ... kenapa dengan wajahmu ? Bukankah aku sudah memberimu uang untuk membeli tas yang kau inginkan ?? " Gilang yang baru masuk rumah dikejutkan dengan istrinya yang terlihat sangat sedih .
" Aku bukan sedih karena itu Mas , tadi teman temanku membicarakan tentang mantan istrimu " Diana mengusap satu tetes air mata yang menetes di pipinya .
" Diva ?? Apa yang mereka bicarakan hingga kau bisa menjadi sedih seperti itu "
Diana memperlihatkan foto foto yang dikirim ke ponselnya . Hatinya bersorak senang ketika melihat perubahan raut Gilang yang langsung masam .
" Mereka bilang kau bodoh Mas !! Aku tidak terima !! "
" Bodoh !?? "
" Mereka bilang sudah jelas jelas anak itu bukan anakmu tapi namanya tetap saja menyandang namamu di belakangnya . Mereka bilang wajah pria itu lebih mirip dengan Gema "
Gilang tampak masih menatap foto foto itu , tangannya tampak terkepal erat menahan emosi .
" Tapi aku percaya padamu Mas , hatimu tak akan pernah bisa berbohong . Kau yakin kan jika Gema adalah putramu ?? "
Gilang tak menjawab , dia melangkah pergi menuju kamarnya dengan diam . Dan diruang depan Diana tersenyum menang dia yakin sandiwaranya akan berhasil lagi . Samar samar dua mendengar suaminya mengumpat kasar di kamarnya .
" Diva ... kau tidak akan pernah bisa menang . Gilang milikku dan akan selalu seperti itu "
*
Siang itu Dewa iseng mencoba mobil yang kemarin ia perbaiki , Dewa membawanya pergi ke tempat yang cukup jauh . Karena hari sudah siang maka Dewa sengaja berhenti di sebuah restoran untuk sekedar mengisi perutnya .
Dewa menikmati makanan yang dipesannya dengan santai . Senyumnya mengembang ketika melihat seorang batita yang sedang makan bersama keluarganya . Kehangatan keluarga itu mengingatkannya pada keluarga kakaknya .
" Jasmine ... " lirih Dewa .
Dia melihat gadis muda itu sedang memarahi seorang waitress . Wajahnya yang memerah menggambarkan betapa marahnya dia saat ini .
" Apa maksud kalian memberikan mejaku padanya hahh !? "
" Tapi Nona sudah membatalkan meja itu kemarin . Bukankah Anda sudah konfirmasi dengan bagian resepsionis ?? "
" Tapi bukan berarti kalian memberikan mejaku padanya !! " kata Jasmine sinis dengan menatap tajam Dewa yang masih dengan santainya menikmati makanan di depannya .
Dewa merasa tak harus melayani kegilaan gadis muda itu . Dari awal Jasmine memang sudah terlihat tidak menyukainya . Entah kesalahan apa yang telah dia perbuat , tapi Jasmine sangat membencinya .
" Pelayan ... "
Seorang pelayan dengan sopan perlahan mendatangi Dewa . Wajahnya menampakkan raut tak enak padanya karena kejadian ini .
" Aku sudah selesai makan , persilahkan nona itu untuk duduk di sini jika dia menginginkannya "
Pelayan itu mengangguk dan menghampiri Jasmine . Dia mengatakan apa yang dikatakan Dewa padanya .
" Apa !! Aku tidak sudi duduk di bangku bekas dia !! Bisa bisa penyakitnya menular padaku "
" Mau anda apa nona ?? "
Dewa yang kasihan pada pelayan yang terus saja gadis itu marahi akhirnya datang pada Jasmine .
" Aku hanya tidak mau melihatmu !! "
" Maka kau bisa pejamkan matamu , tapi aku tidak yakin kau bisa melakukannya . Karena jika kau pejamkan matamu kau akan bisa melihat betapa gelapnya hatimu "
" Kau !!! "
Dewa melangkah meninggalkan Jasmine yang masih terlihat ingin adu mulut dengannya . Semakin ia ladeni gadis itu akan semakin kalap .
Sebenarnya Dewa heran , dia tak pernah berbuat apapun yang bisa menyinggung gadis itu . Tapi dari awal gadis itu terlihat sangat membencinya .