
Setelah selesai mengemasi semua barangnya Air menggendong Janu dan menyeret kopernya menuju pintu . Dia sudah tidak lagi melihat Bumi ada di ruang tamu . Dia melihat jam ditangannya , sudah terlalu malam . Tapi apa boleh buat dia harus segera angkat kaki dari tempat itu .
Mungkin uang yang akan digunakan untuk mencari rumah kosan bisa ia pergunakan dulu untuk menyewa hotel yang murah yang ada disekitar tempat itu . Tidak mungkin ia pulang ketempat ibunya malam malam begini , bisa bisa Ibu dan Dewa bisa murka mengetahui bahwa dia diusir suaminya sendiri .
Air tak segera melangkahkan kakinya keluar , ia amati setiap.sudut rumah yang menjadi tempat bernaungnya beberapa hari ini . Tempat yang seharusnya menjadi saksi bisu awal kebahagiaan baru untuknya dan putranya .
Awal hidup baru sebagai istri seorang Bumi Attala Adipraja . Dulu pernikahannya terkendala pada restu kedua mertuanya . Dan sekarang setelah restu diberikan , suaminya belum sepenuhnya bisa menerimanya .
Ada sesuatu hal yang Air tidak mengerti sampai sekarang , yaitu kebencian yang tak beralasan dari suaminya . Berkali kali ia mencoba berbicara tapi nyatanya sia sia .
Selama ini dia masih mencoba bersabar dan diam.karena dia belum sepenuhnya mengenal watak suaminya . Beberapa hari ini sedikit demi sedikit ia mulai memahami Bumi .
Laki laki itu mempunyai watak yang sekeras batu , menggebu dan kadang tidak berpikir panjang . Tapi ada sisi lain dari Bumi , dibalik semua itu Air yakin suaminya juga mempunyai sikap yang hangat dan penyayang .
Air bisa saja melawan sifat Bumi jika sedang berapi api , tapi itu hanya akan menghabiskan energinya . Semakin dilawan api dalam hati Bumi akan semakin berkobar .
" Sudah malam , pergilah besok pagi !! Jangan pikir aku kasihan padamu , aku cuma tak ingin Janu sakit keluar malam malam begini "
Suara Bumi membuat Air tersadar dari lamunannya . Laki laki itu berdiri di tangga dengan kedua tangan bersedekap . Baru kali ini laki laki itu menatapnya setajam ini karena biasanya Bumi tidak pernah mau untuk sekedar melihatnya .
" Mas ... "
" Aku yang akan keluar karena aku tak ingin seatap denganmu lagi ! Kita urus semua saat papa dan mama pulang dari Tiongkok . Dan selama itu jangan kau muncul lagi di hadapanku apapun yang terjadi " ujar Bumi dengan melangkshkan kakinya menuju pintu apartemennya .
" Terimakasih sudah sampai memikirkan kesehatan putraku . Aku serahkan semua padamu Mas , asal itu tidak mempengaruhi kesehatan papa Alfian . Aku berjanji padamu , aku dan Janu tak akan mengganggumu lagi . Kau tak akan pernah melihat kami lagi "
Bumi tidak menanggapi kata katanya , pria itu berlalu dari hadapannya dan pergi entah kemana . Sekeras apapun ternyata Bumi tidak tega melihatnya dan Janu berkeliaran pada malam hari . Laki laki itu masih membiarkannya tinggal walau untuk satu malam lagi .
Air membawa kopernya dan meletakkan disamping pintu agar besok pagi pagi sekali ia bisa langsung pergi dari tempat itu sesuai janjinya . Tiba tiba ponselnya berdering , Air terkejut melihat siapa yang sedang menghubunginya .
" Walaikumsalam Aira ...bagaimana kabar kalian !? " suara mama mertuanya terdengar dari seberang sana .
" Alhamdulilah kami baik Mah , Papa dan Mama juga baik kan ? "
": Alhamdulilah berkat doa kalian juga . Sebenarnya Mama ingin melihat Janu tapi sepertinya sudah terlalu malam disana . Suamimu sudah tidur ? Dia baik pada kalian kan ? "
" Mas Bumi sangat baik pada kami Mah , Mamah fokus dengan pengobatan Papa saja . Kami baik baik saja disini , Air ingin kita bisa cepat berkumpul kembali "
" Semoga sayang , doakan saja Papa cepat pulih . Dan kami ingin dapat cucu baru ketika kami pulang nanti ' kata Rita sambil tertawa kecil .
" Pasti ... Air selalu berdoa untuk kesembuhan Papa . Janu masih terlalu kecil Mah , kami belum memikirkan tentang hal itu "
Setelah beberapa saat berbicara dengan ibu mertuanya Air menutup ponselnya . Dia menghela nafas panjang . Kali ini dia terpaksa berbohong karena tidak mungkin ia menceritakan hal yang sebenarnya .
Sementara itu Bumi melesatkan mobilnya ke sebuah klub malam . Dia juga sudah menghubungi Adam untuk menemaninya . Sebenarnya Bumi jarang sekali pergi ke sebuah klub malam .
Dulu Reynand akan menyeretnya keluar jika ia ketahuan menghabiskan waktu dengan teman-temannya . Kakaknya tidak mengijinkan dia terbiasa dengan dunia malam . Menurutnya dunia itu hanya akan membawanya pada kehancuran .
Bumi melihat Adam sudah ada di dalam ditemani beberapa wanita dengan pakaian seksi . Adam bukan pemain wanita tapi wataknya yang supel menjadikannya mudah bergaul dengan siapa saja .
" Hai sayang ... kau merindukanku ?? "
Bumi menoleh ketika ia mendengar suara yang sangat di kenalnya .
" Kau ... "