Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
115


" Mas mau ke kantor kan ?! "


Dahi Aira berkerut melihat heran pada tampilan sang suami pagi ini . Memang memakai setelan kerja biasa dengan dasi yang rapi , hanya saja Bumi memakai jaket kulit warna hitam sebagai luarannya .


" lya sayang , kenapa memang ? "


" Kok dandan ganteng banget ? Mas ada janji sama orang !? "


Bumi terkekeh ketika pujian meluncur dari bibir sang istri .


" Bukannya kamu pernah bilang kalau Mas lebih ganteng kaldu nggak pakai baju ya ! Nsntinsiang aku ada oertemuan penting sayang "


" Sama cewek ?? "


" Belum tau sih , tapi aku sama Papa yang pergi kesana . Ada Adam.juga . Posesif bener sih Yank "


" Ckk ... cuma nanya Masss "


Bumi merengkuh tubuh sang istri yang sudah merajuk , diciuminya tengkuk dan pundaknya hingga satu desisan keluar dari bibir candunya itu .


" Massss ... jauh jauh gih !! Ntar ujung ujungnya nggak pakai baju beneran kalau kamu nempel terus kaya gini "


" Udah halal ini " katanya malah mulai menggigit kecil leher istrinya .


" Maaassss .. "


" Sayang , yuk "


" Tapi Papa sama Mama udah nungguin kita sarapan di bawah , nggak enak sama mereka ! Lagian semalem juga udah kan "


" Baru sekali , mana enak sih ! Mereka nggak bakal ingat kita kalau lagi sama Janu . Please sekali lagi ya ... gerak cepat deh ! Janji "


" Mana bisa cepat kalau sama Mas , lepas iihhh geliii ... " protes Air pada suaminya yang kedua tangannya sudah ada diarea depannya , menerobos penyangga yang masih terpakai rapi .


TOKK ... TOKKK


Pintu kamar mereka diketuk seseorang , mungkin oleh salah seorang maid . Air menjulurkan lidahnya ketika akhirnya bisa lepas dari rengkuhan suami mesumnya .


Semalam ketika Bumi ingin mengulang kegiatan panas mereka Janu malah terbangun dan minta ditemani bermain dengan papanya sampai tengah malam . Dan itu menjadi salah satu kegiatan rutin Bumi dan putranya saat malam hari .


Untung saja pria yang terlihat arogan itu malah dengan senang hati menemani sang putra untuk bermain .


" Mas turun yuk sarapan , tadi ada maid kesini bilang Mas udah ditungguin Papa dibawah "


" Aku punya lingerie baru , nanti jangan telat pulang ya "


Hanya sebuah bisikan bisa kembali membuat wajah itu ceria kembali . Bumi mengecup kening Air dengan mesranya dan pemandangan itu dilihat sang Mama yang sedang menggendong Janu di bawah .


Rita bahagia melihat perubahan putranya , yang dulu terlihat dingin dan tak tersentuh . Kini menjadi pribadi yang hangat dan menyenangkan jika didepan keluarganya , walaupun tetap saja seperti gunung es jika diluar sana .


Janu menjerit senang melihat kedua orang tuanya yang terlihat turun dari tangga , tangannya terjulur seolah ingin ikut salah satu diantara mereka .


Air segera mengulurkan tangan pada putranya , tapi Janu menolak . Sepertinya bayi gembul itu ingin di gendong sang papa .


" Dede ... kok pilih papa sih ! Nggak usah senyum senyum nggak jelas gitu Mas !! Jelek tau "


Bumi tertawa senang melihat Air yang cemburu pada dirinya . Semakin lama Janu memang menjadi sangat dekat dengannya . Jika sedang di rumah maka dua laki laki itu tak akan mau dipisahkan .


Begitupun jika sedang bersama Alfian , Janu tidak akan pernah mau bersama dengan neneknya , Rita .


" Aira sepertinya kalian harus program bayi secepatnya . Satu bayi perempuan agar Mama dsn kamu tidak kesepian lagi . Pria pria Adipraja itu lama lama menyebalkan ! "


Bumi dan Alfian sontak tertawa mendengar keluhan sang Mama .


" Tenang Mah , bukan hanya satu ... Tapi kami akan penuhi rumah ini dengan anak anak kami . Ya kan sayang ? "


Air hanya menjawab dengan senyuman . Sarapan yang selalu dipenuhi warna , tawa bayi gembul itu menjadi penyemangat semua orang yang ada di rumah itu tanpa terkecuali .


Air mendekati sang Mama ketika dua pria Adipraja itu sudah meninggalkan rumah .


" Mahh .. "


" Ya sayang ? "


" Tadi Air lihat benda aneh di balik jaket Mas Bumi . Kalau enggak salah kaya senjata api yang sering Air lihat di film film . Mama tahu kalau suami Air punya senjata ? "


" Bukan hanya suamimu sayang , Papa ataupun seluruh penjaga mempunyai senjata api untuk berjaga . Mereka semua sudah punya ijin , mereka hanya menggunakan di saat yang benar benar dibutuhkan "


" Maksud Mama suami Air sedang ada masalah ? " Air menjadi panik mendengar penuturan Mamanya .


" Tenang sayang , mereka akan baik baik saja . Kita doakan yang terbaik untuk mereka " Rita mengelus lembut lengan menantunya yang masih terlihat panik .


Dia sudah terbiasa dengan hal itu , menjadi nyonya Adipraja menjadikannya lebih kuat untuk menghadapi apapun kedepannya . Apalagi dulu suaminya pernah berkecimpung di dunia bawah .