Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
145


" Tante sepertinya kita butuh kopi dulu biar kuat melek malam ini , kita harus siapkan mata dan hati kita malam ini " kata Jerry yang sekali lagi disambut tatapan tajam.dari para sahabatnya .


Maksudnya mungkin benar , Jerry ingin memberi kesempatan pada Bumi dan Air untuk duduk berdua karena mungkin mereka butuh berbicara satu sama lain . Tapi entah kenapa Jerry selalu tidak bisa memilih kata yang tepat untuk situasi apapun .


" Perasaan gue terus sih yang salah " lirihnya sambil mengikuti langkah Rita , Adam dan Dewa .


Suasana kembali hening saat sepasang suami istri itu duduk dengan berseberangan . Ada satu kursi kosong di antara mereka . Hanya terdengar helaan nafas dan isakan lirih yang masih terdengar .


" Sayang ... "


Bumi mendekat dan duduk bersimpuh di depan istrinya . Dia meletakkan kepalanya di pangkuan Aira . Tapi wanita itu masih setia dengan kebungkamannya , sejenak mereka larut dalam pikirannya masing masing .


" Maaf ... maaf karena aku tidak bisa menjaganya . Kau berhak marah padaku "


Bumi merasakan tangan sang istri membelainya lembut , isakannya terdengar menjadi lebih keras . Bumi mengangkat kepalanya dan tangannya terulur di pipi istrinya yang basah .


" Heiii ... jangan nangis sayang , hatiku lebih sakit jika melihat kamu nangis . Kita hadapi sama sama ya " ujar Bumi bangkit dan memeluk istrinya .


" Mas nggak marah sama Aira !? " lirih Air disela tangisnya dipelukan suaminya .


" Marah ?? "


" Kalau aku nggak minta mampir beli oleh oleh pasti nggak bakal seperti ini "


Bumi mengeratkan pelukannya seolah memberi kekuatan pada istrinya padahal ia juga sedang memberi kekuatan pada dirinya sendiri .


Dia tahu masih ada trauma di hati istrinya , masa masa awal pernikahan mereka memang dia bersikap tidak baik . Bukan pada Aira saja tapi juga pada Janu , dan sampai kapan pun itu akan menjadi penyesalan seumur hidupnya .


Bahkan di saat seperti in pun sang istri ketakutan padanya , ada perih disudut hatinya ketika tahu cintanya belum mampu menghapus semua kenangan buruk itu .


" Semua sudah ada yang mengatur jalannya , kita harus kuat untuk Janu . Tidak ada yang salah tidak juga ada yang dibenarkan . Tidak ada yang mau jika ditawarkan keadaan seperti ini "


" Tapi bagaimana jika Dede ... "


" Janu putraku .. dia pasti anak yang kuat . Jangan berpikir macam macam . Kita berdoa sama sama semoga dia bisa melewati masa kritis ini . Kembali bersama kita ... "


" Amin .. "


Bumi memejamkan matanya , tak bisa ia pungkiri ia pun sangat takut kehilangan karena Janu sudah menjadi bagian dalam hidupnya . lsakan itu sudah reda , berganti dengan hembusan nafas teratur istrinya .


Vallery sudah pernah bicara tentang ini padanya . Tentang kehamilan kedua istrinya ini . Dokter cantik itu pernah memperingatkan tentang kejutan kejutan yang akan terjadi .


Hormon kehamilan itu mungkin akan membuat Aira sedikit berbeda dari biasanya , dan nyatanya hal itu benar . Tapi Bumi mencoba untuk menikmati semuanya , menikmati masa masa kehamilan sang istri .


Bumi berjanji akan selalu menjadi sandaran istrinya . Tak ada yang sempurna tapi ia tidak akan pernah menjadikan kekurangan menjadi sesuatu yang memisahkan . Mereka akan selalu saling melengkapi .


Bumi memberikan isyarat agar mamanya dan ketiga pria di belakangnya tenang ketika mereka. berjalan ke arahnya .


" Tidur Mas !? " tanya Dewa ketika melihat kakaknya tenang dipelukan Bumi .


Bumi mengangguk dan mengecup puncak kepala istrinya .


Rita dan Dewa terlihat lega karena sepasang suami istri itu kembali seperti semula . Tadinya mereka mengira akan terjadi pertengkaran .


" Kita bawa pulang saja , kasihan kalau Aira tidur dalam posisi begitu " kata Rita yang di benarkan oleh ketiga pria disampingnya .


" Iya Mas , kita bawa Embak pulang saja sama Tante . Biar kita yang jaga di sini " sambung Dewa untuk meyakinkan .


" Percuma Wa , nanti kalau kakakmu bangun pasti dia ingin kesini lagi . Malah tambah capek kalau nanti bolak balik ! Kita terpaksa pesan kamar di sini saja . Dam ... "


" Ok aku urus itu , aku cari kamar ternyaman untuk nyonya muda .. "


Walaupun bukan pilihan terbaik terpaksa semua mengiyakan permintaan Bumi . Akhirnya Dewa dan Jerry pergi untuk mendapat kamar untuk nyonya muda mereka .


" Wa kalau kamu capek bisa pulang sama Mama saja , temani ibu di rumah . Pasti ibu juga sedang khawatir di rumah . Nanti Mas kabarin tentang perkembangan kondisi Janu . doakan terus untuk kebaikan Dede "


" Nggak Mas , maaf kalau soal ini Dewa nggak bisa nurut sama Mas ! Dewa nggak bisa tenang sebelum Janu bisa melewati masa kritisnya "


Perhatian mereka teralih ketika beberapa orang dokter dan perawat terlihat berlari kecil ke arah kamar UGD Janu . Dewa langsung bangkit dan menghadang salah satu perawat yang ada di belakang .


" Maaf mbak , ada apa dengan keponakan saya ? "


" Saya belum tahu . Anda bersabar saja ... "


Dewa termangu melihat kakak iparnya yang juga sedang terpaku melihatnya ...


" Mas ... "