
Diva terhenyak ketika mendapati putranya sedang bermain catur di ruang dengan pria yang menyebabkan anaknya tidak diakui oleh ayahnya . Mereka berdua terlihat sangat dekat walau baru sekali bertemu .
" Gema ... "
" Ibu sudah pulang ? "
Gema bertanya seperti itu karena tadi Diva mengantar baju baju yang sudah ia setrika ke langganannya seperti biasanya . Dan Adam datang menemaninya setelah ibunya pergi .
" Udah sore , Gema mandi dulu ya ... "
Diva sengaja menyuruh anaknya mandi agar dia bisa berbicara dengan Adam . Dia tak mungkin meluapkan emosinya di depan putranya .
" Om Adam di sini saja ya , nanti kita lanjutkan caturnya . Awas ya kalau pulang !! "
" Siap kapten !! " Adam.mrngacsk pelan rambut Gema yang sudah bangkit dari duduknya .
Diva mendekati Adam ketika putranya sudah berada di kamar mandi yang ada di belakang rumah .
" Kau mau apalagi ?? Misimu sudah berhasilkan ?? Dia tak punya ayah sekarang !! Kalian memang laki laki tidak punya hati !! "
" Misi ?? Aku pendatang di pulau ini nyonya , belum banyak yang aku kenal disini . Aku senang bermain dengan Gema karena dia anak yang pintar dan juga menyenangkan . Bukan karena sebuah ' misi ' seperti yang kau bilang "
" Bilang padanya kami tidak akan menuntut apapun jadi dia tidak perlu membuat fitnah lagi tentang aku !! "
" Padanya ? Pada siapa maksudmu ? "
" Jangan berpura pura tidak tahu !!! "
" Baik , aku tahu semua tentang dirimu ! Tapi aku bukan orang suruhan bajing*n itu . Aku bahkan tidak mengenalnya "
" Aku tiidak akan pernah mempercayaimu !! "
" Harus ... kau harus percaya padaku karena hanya aku yang bisa menolongmu sekarang "
" Apa maksudmu ?? "
" Apa yang akan terjadi pada Gema jika dia tahu ayah kandungnya tidak mengakuinya ? Dokumen yang kau tanda tangani kemarin akan sangat berpengaruh pada putramu . Perubahan nama anak itu pasti akan jadi pertanyaan besar untuknya . Kau sangat tahu putramu mempunyai otak yang pintar melebihi anak anak sebayanya "
Diva terdiam , ia bahkan tidak berpikir sejauh ini . Dia tidak memikirkan jika perubahan nama ini akan menjadi pertanyaan untuk putranya .
" Satu lagi yang kau lupa , kita hidup di tengah masyarakat . Apa yang akan mereka pikirkan jika putramu tidak mempunyai nama belakang ayahnya ?? Kau mungkin kuat mendengar cacian mereka , tapi Gema ?? Jiwa dan psikisnya pasti akan terguncang . Sepintar apapun dia masih anak anak , dia butuh sosok seorang ayah yang bisa melindunginya "
Adam menghembuskan nafasnya kasar , sebenarnya ia tidak mau mengatakan semua ini . Tapi walau baru beberapa kali bertemu ia sudah merasa dekat dengan Gema .
Adam merasa ada banyak sifat dan perilaku Gema yang sama dengannya . Dia suka dengan pribadi Gema yang terlihat dingin tapi dia sangat menyayangi dan menghormati ibunya .
" Jadi apa yang harus aku lakukan untuk melindungi putraku ?? "
" Hanya satu , tapi aku tidak yakin kau mau melakukannya "
" Akan aku lakukan apapun untuk kebahagiaannya , bahkan jika aku harus melepas nyawaku "
" Tidak ada yang meminta nyawamu nyonya " dengus Adam sambil berdecak kesal .
" Katakan apa yang harus aku lakukan !!!? "
" Menikah ... agar Gema bisa memakai nama belakang ayah barunya "
" Kau gila !!??? "
" Itu cara gila paling efektif untuk menyelesaikan semuanya . Apa kau punya cara lain ? "
Diva terdiam , otaknya bahkan sepertinya tidak bisa berpikir kali ini . Dia bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan semua masalahnya .
" Menikah ... dengan siapa ? Kau tahu aku seorang janda ! Masyarakat punya pandangan sendiri tentang statusku , apalagi putraku sudah sebesar Gema . Sulit menemukan laki laki yang mau menerimaku apa adanya . Siapa yang mau menikah dengan janda seperti aku !? " lirihnya menarik nafasnya dalam dalam .
" Aku ... aku bersedia menjadi ayahnya ! Gema Aksa akan menjadi putraku . Aku akan sangat bangga jika dia menyandang namaku di belakangnya "
" Aku mau !!! "
Suara antusias seorang anak membuat mereka terperanjat . Mereka melihat Gema dengan wajah gembiranya berdiri di depan pintu kamarnya .
Mereka lupa jika anak itu pasti sudah selesai mandi dan mungkin mendengar semua yang mereka bicarakan .
" Aku mau menjadi putra Om !! Jadilah ayahku !! Bolehkan Bu ?? "
" Gema ... "
Diva tak menjawab , tapi dua orang dewasa itu saling memandang tak percaya dengan respon anak di depan mereka .