
Sementara itu di rumah sakit , sepasang pengantin baru sedang masih menunggu operasi yang sedang berlangsung . lni adalah operasi kedua ibu Erina .
" Mom pulang saja bersama istriku , biar Varo yang menunggu ibu disini . Besok pagi kalian bisa kesini lagi " kata Varo yang sudah melihat raut lelah pada dua wanita dalam hidupnya .
Erina menggelengkan kepalanya , tanda ia tak.setuju dengan usulan suaminya .
" Tapi aku masih mau menunggu ibu Mas , percuma aku pulang jika pikiranku akan tetap disini "
Dila menghampiri menantu dan putranya , sebenarnya dia sedih harus melihat malam pertama mereka harus dilewatkan seperti ini .
" Biarkan istrimu disini , tapi Mom harap kau bisa menjaga istrimu . Mom tidak ingin melihat kalian berdua malah jatuh sakit ! Ya sudah Mom pulang dulu Besok pagi aku akan kesini lagi membawa baju ganti dan sarapan untuk kalian "
" Baju ganti buat Mas Varo saja Tante soalnya Erin sudah bawa dari rumah kemarin "
" Call me Mom like your husband called me honey ( Panggil aku Mom seperti suamimu memanggilku sayang ) "
" Ehh iya lupa ... Mom "
Varo dan Dila hanya terkekeh melihat tingkah polos gadis itu . Setelah Dila pergi , keduanya kembali diam duduk menunggu di depan kamar operasi .
Keduanya memang sudah sama sama tidak rnenggunakan baju pengantin karena sudah menggantinya sejak sang ibu sudah memasuki kamar operasi .
Varo merengkuh bahu sang istri dan meraih tangan istrinya . Dikecupnya sekilas kening gadis yang beberapa saat lalu sudah resmi jadi pendamping hidupnya .
" Kau tidak sendiri sayang , berbagilah apapun padaku . Jadikan aku tempat bersandar untukmu "
" Mas , bagaimana jika ... "
" lbu akan sembuh ... dia pasti sembuh . Aku akan melakukan apa saja untuk kesembuhannya "
Varo tidak membiarkan Erin menyelesaikan kata katanya . Dia memaklumi jika Erin terlalu khawatir karena sebelum operasi kondisi sang ibu memang terlihat lemah .
Dua jam setelahnya kamar operasi terbuka dan seorang dokter tampak berjalan keluar , Varo segera menghampirinya .
" Dokter .. "
" Tuan Dennis , semua berjalan dengan baik . Tidak usah khawatir "
Varo dan Erin sekarang menunggu sang ibu sadar dari pengaruh bius di kamar rawat .
" Yang penting sekarang adalah kesembuhan ibu . Lusa pengumuman kelulusan sekolahmu kan ? Jika kau ingin meneruskan ke perguruan tinggi maka aku akan mengurus semuanya "
" Mas tidak keberatan jika aku kuliah ? "
" Kenapa harus keberatan ? Pendidikan adalah hal yang penting , itu tidak akan menggangguku asal kau tahu batasanmu . Sekarang kau adalah seorang istri "
" Tapi kalau aku hamil bagaimana ? "
Varo tergelak mendengar pertanyaan sang istri , ternyata sudah sejauh itu pikirannya .
" Kau ingin hamil !? "
" Bukannya setelah menikah setiap wanita biasanya hamil ? "
" Kita bisa mengaturnya jika kau mau , dunia medis sudah berkembang pesat sayang . Kau bisa fokus dulu pada pendidikanmu "
Pembicaraan mereka terhenti ketika sang ibu sudah membuka matanya . Varo segera keluar untuk memanggil dokter sedang Erin langsung menghampiri ibunya .
" Ibu ... "
Erin menyingkir ketika ada seorang dokter dan beberapa perawat memeriksa kondisi ibunya . Dengan setia Varo tetap merengkuh tubuh kecil istrinya .
" Mas .. "
" Tenang sayang , dokter sedang memeriksanya . Semua pasti baik baik saja . lbu wanita yang kuat "
Mereka hanya melihat dokter yang terlihat serius menangani sang ibu . Setelah beberapa saat dokter menghampiri mereka .
" Alhamdulilah semua baik . Tapi kami akan tetap rutin memantaunya . Untuk sementara beliau harus tetap bed rest di sini agar kami lebih mudah memeriksanya "
" Baik dokter lakukan apapun yang terbaik untuk ibu saya "
Akhirnya mereka bisa bernafas dengan lega setelah mendengar semua penjelasan dokter .
" Terima kasih Mas " Erin memeluk tubuh kekar suaminya dsn merebahkan kepalanya di dada Varo . Disana ia temukan kedamaian karena merasa dihargai dan sangat dicintai .
Dalam hati dia berjanji akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk suaminya .