Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
94


Sementara itu di rumah sakit , sepasang pengantin baru sedang masih menunggu operasi yang sedang berlangsung . lni adalah operasi kedua ibu Erina .


" Mom pulang saja bersama istriku , biar Varo yang menunggu ibu disini . Besok pagi kalian bisa kesini lagi " kata Varo yang sudah melihat raut lelah pada dua wanita dalam hidupnya .


Erina menggelengkan kepalanya , tanda ia tak.setuju dengan usulan suaminya .


" Tapi aku masih mau menunggu ibu Mas , percuma aku pulang jika pikiranku akan tetap disini "


Dila menghampiri menantu dan putranya , sebenarnya dia sedih harus melihat malam pertama mereka harus dilewatkan seperti ini .


" Biarkan istrimu disini , tapi Mom harap kau bisa menjaga istrimu . Mom tidak ingin melihat kalian berdua malah jatuh sakit ! Ya sudah Mom pulang dulu Besok pagi aku akan kesini lagi membawa baju ganti dan sarapan untuk kalian "


" Baju ganti buat Mas Varo saja Tante soalnya Erin sudah bawa dari rumah kemarin "


" Call me Mom like your husband called me honey ( Panggil aku Mom seperti suamimu memanggilku sayang ) "


" Ehh iya lupa ... Mom "


Varo dan Dila hanya terkekeh melihat tingkah polos gadis itu . Setelah Dila pergi , keduanya kembali diam duduk menunggu di depan kamar operasi .


Keduanya memang sudah sama sama tidak rnenggunakan baju pengantin karena sudah menggantinya sejak sang ibu sudah memasuki kamar operasi .


Varo merengkuh bahu sang istri dan meraih tangan istrinya . Dikecupnya sekilas kening gadis yang beberapa saat lalu sudah resmi jadi pendamping hidupnya .


" Kau tidak sendiri sayang , berbagilah apapun padaku . Jadikan aku tempat bersandar untukmu "


" Mas , bagaimana jika ... "


" lbu akan sembuh ... dia pasti sembuh . Aku akan melakukan apa saja untuk kesembuhannya "


Varo tidak membiarkan Erin menyelesaikan kata katanya . Dia memaklumi jika Erin terlalu khawatir karena sebelum operasi kondisi sang ibu memang terlihat lemah .


Dua jam setelahnya kamar operasi terbuka dan seorang dokter tampak berjalan keluar , Varo segera menghampirinya .


" Dokter .. "


" Tuan Dennis , semua berjalan dengan baik . Tidak usah khawatir "


Varo dan Erin sekarang menunggu sang ibu sadar dari pengaruh bius di kamar rawat .


" Yang penting sekarang adalah kesembuhan ibu . Lusa pengumuman kelulusan sekolahmu kan ? Jika kau ingin meneruskan ke perguruan tinggi maka aku akan mengurus semuanya "


" Mas tidak keberatan jika aku kuliah ? "


" Kenapa harus keberatan ? Pendidikan adalah hal yang penting , itu tidak akan menggangguku asal kau tahu batasanmu . Sekarang kau adalah seorang istri "


" Tapi kalau aku hamil bagaimana ? "


Varo tergelak mendengar pertanyaan sang istri , ternyata sudah sejauh itu pikirannya .


" Kau ingin hamil !? "


" Bukannya setelah menikah setiap wanita biasanya hamil ? "


" Kita bisa mengaturnya jika kau mau , dunia medis sudah berkembang pesat sayang . Kau bisa fokus dulu pada pendidikanmu "


Pembicaraan mereka terhenti ketika sang ibu sudah membuka matanya . Varo segera keluar untuk memanggil dokter sedang Erin langsung menghampiri ibunya .


" Ibu ... "


Erin menyingkir ketika ada seorang dokter dan beberapa perawat memeriksa kondisi ibunya . Dengan setia Varo tetap merengkuh tubuh kecil istrinya .


" Mas .. "


" Tenang sayang , dokter sedang memeriksanya . Semua pasti baik baik saja . lbu wanita yang kuat "


Mereka hanya melihat dokter yang terlihat serius menangani sang ibu . Setelah beberapa saat dokter menghampiri mereka .


" Alhamdulilah semua baik . Tapi kami akan tetap rutin memantaunya . Untuk sementara beliau harus tetap bed rest di sini agar kami lebih mudah memeriksanya "


" Baik dokter lakukan apapun yang terbaik untuk ibu saya "


Akhirnya mereka bisa bernafas dengan lega setelah mendengar semua penjelasan dokter .


" Terima kasih Mas " Erin memeluk tubuh kekar suaminya dsn merebahkan kepalanya di dada Varo . Disana ia temukan kedamaian karena merasa dihargai dan sangat dicintai .


Dalam hati dia berjanji akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk suaminya .