Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
113


" Mas ... "


" He em "


" Ehmmmm ... ehmmm ... Mas ingin lanjutin yang tadi !? " tanya Erin sambil memalingkan wajahnya agar Varo tak bisa melihatnya .


" Itu sebuah permintaan atau sebuah pertanyaan ? " goda Varo yang dari tadi tak bisa menahan senyumnya ketika melihat tingkah lucu sang istri .


Erin duduk di tepi ranjang dengan balutan baju tidur panjang yang masih memakai jubah mandi untuk luarannya . Seakan gadis sedang mengantisipasi ulah mesumnya seperti tadi di ruang kerja .


" Ckk Erin lagi serius ini Mas !! "


" Ya kalau kamu mengijinkan ya kita teruskan sayang "


" Tapi kalau tidak Mas ... "


" Mas paksalah !! Puyeng atas bawah Mas kalau gagal terus " kata Varo memotong perkataan istrinya .


" Ehmm ... tapi kalau Erin beneran hamil gimana ?!! Erin nggak bisa jadi yang Mas harapkan . Kan Mas Varo dulu bilang Erin kuliah biar bisa sukses , biar bisa jadi kebanggan Ibu dan Mas Varo "


Varo hanya tersenyum mendengar suara hati istri kecilnya . Wanita disampingnya memang masih terlalu muda untuk berpikir jauh .


" Sini sayang , duduk disamping Mas " Varo menepuk sisi ranjangnya dan Erin walaupun ragu tetap menuruti perintah suaminya .


Erin duduk di samping suaminya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang . Varo menarik pinggang sang istri dengan satu tangan agar lebih merapat padanya .


" Yang Mas harap dari kamu adalah keberhasilan kamu ! Keberhasilan kamu menjadi istri dan ibu dari anak anak Mas kelak . Hanya itu yang Mas harap , kita bisa saling memiliki . Karena bagi Mas kesuksesan sebenarnya adalah ketika aku bisa membahagiakan kamu sayang "


Erin menyembunyikan wajahnya di dada kekar suaminya , dia masih saja belum terbiasa mendengar kata kata manis dari suaminya .


Dan Varo mengeratkan pelukannya , meresapi aroma bunga yang menguar dari tubuh istrinya .


" Tapi Erin masih takut ... "


" Takut !? "


" Malam itu Mas seperti monster , kasar banget sama Erin . Padahal Erin udah nangis nangis minta berhenti , sakit ... "


Varo menghela nafas kasar dan merengkuh tubuh kecil sang istri yang sudah mulai terisak . Obat laknat itu pasti sudah mengubahnya menjadi monster yang sangat haus **** .


" Maaf ... maafkan Mas ya ! Mas sangat menyesal . Ya sudah , udah malam kita istirahat saja . Lagipula besok kamu ada kelas pagi kan !? "


Varo mengalah lagi , nyatanya ia tidak bisa memaksakan sesuatu yang masih menjadi trauma bagi sang istri sampai saat ini . Mungkin perlakuannya memang terlalu kasar malam itu .


Diciumnya dalam kening , pipi , hidung dan bibir istri kecilnya . Dia berharap Erin bisa merasakan kasih sayang di setiap kecupan itu .


" Tapi Erin ingin mencobanya ! Mas bantuin Erin biar nggak takut lagi ya ... ehmmm pelan pelan maksudnya "


" Sayang ... serius kamu !? "


Erin tampak berpikir lagi , sepertinya ia masih ragu dengan keputusannya barusan .


" Nggak jadilah ! Mas Varo kayanya memang nggak bisa pelan pelan deh " katanya sambil merebahkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut .


" Lhohh ... ehh .. kok gitu sih ! Nggak bisa gitu dong tadi udah bilang mau !! "


Varo menarik selimut yang menutup tubuh sang istri dan mulai menggelitik pinggang istrinya hingga wanita dalam selimut itu tertawa terbahak .


" Maasss geli iiihhhh ... udahhh "


Dengan terpaksa Erin membuka selimutnya karena kedua tangannya berusaha menahan tangan Varo yang masih saja jahil menggelitik perut dan pinggangnya .


Erin menaiki tubuh suaminya agar bisa leluasa menghentikan kejahilan sang suami dan perlahan tawa keduanya sirna . Berganti dengan suara detak jantung yang bertalu dengan muka yang sama sama memerah .


Hingga keduanya diam dan saling menatap , entah siapa yang memulai tapi bibir keduanya telah bertaut . Varo berusaha sebisa mungkin memperlakukan Erin dengan penuh kelembutan .


Setelah di rasa sang istri sudah mulai bisa mengikuti nalurinya , Varo mulai membuka satu persatu kancing baju istrinya dan menyentuh permukaan kulit yang terbuka .


" Eeuungghh ... "


Erin menggelinjang merasakan geli ketika Varo menyusuri perutnya dengan bibirnya semakin ke atas dan berhenti pada dua bukit yang masih terlindung oleh penutupnya yang berwarna merah .


" Sayang ... "


Erin sempat tampak ketakutan ketika Varo ingin menanggalkan dua penutup terakhir yang ada di tubuhnya .


" Massss ... "


" Hei sayang ... Mas janji akan pelan pelan . Kamu rileks ok "


Varo kembali mengecup lembut seluruh wajah sang istri yang sudah mulai berkeringat . Dan meneruskan aksinya ketika tubuh mungil itu sudah kembali rileks .


Dan dia tertegun ketika berhasil membuka semua penghalang ditubuh istrinya , dia sungguh terpaku melihat semua keindahan yang berada di depannya . Nafasnya mulai berat dan nafasnya mulai tersengal ketika ingin merasai setiap keindahan itu .


" Kau sungguh indah ... "


~ Aeerr .... aeer 😄 sampai segini dulu biar bisa nafas ! Mau emak bikin yang panas panas takut nggak lolos review . Yang ingin tahu proses selanjutnya tunggu besok pagi emak up lagi yaa !! Jangan lupa goyang jempol vote n comen y ~