Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
172


" Kapan kalian pindah ke unit sebelah ?! "


Siang itu ternyata Aira berkunjung ke rumah Jerry untuk bertemu dengan Nayya dan Cherry .


" Kalau nggak nanti sore ya berarti besok Kak , aku udah packing kok jadi tinggal bawa aja ke sebelah . Makasih banyak Kakak udah mau direpotkan kita "


" Kalian juga keluargaku ! Ngomong ngomong kapan kalian menikah !? "


Air tersenyum ketika gadis di depannya hanya tersipu malu dan menggelengkan kepalanya .


" Nayya nggak tahu "


" Cherry ikut Tante yuk ! Kita ke kantor Om Bumi .. boleh aku bawa Cherry sebentar !? " Air sengaja mendekatkan diri pada gadis kecil itu agar pelan pelan Cherry bisa menjadi dekat dengannya .


" Tentu saja boleh , Nayya juga mau packing barang barang Cherry dulu . Cherry sama Tante Aira dulu ya nggak apa apa kan ? "


" Iya .. Celli mau ketemu Om Bumi "


" Ya udah yuk "


Air menggandeng Cherry keluar , mereka akan segera ke perusahaan Adipraja karena siang ini Air sudah mengatakan pada suaminya ia ingin membawa Cherry menyusul ke kantor agar mereka bisa makan siang bersama .


Nayya pun segera ke lantai atas untuk membereskan barang barang milik Cherry agar nanti sore ia bisa segera pindah ke unit sebelah . Sore ini rencananya ia akan minta ijin ke Jerry untuk segera bisa menempati rumah barunya .


Nayya terkejut ketika ponselnya berdering , ia pikir Aira yang menghubunginya . Mungkin Cherry meminta sesuatu untuk di bawa dari rumah .


" Halo ... "


" Halo Nayya ... "


Nayya tersenyum ketika mendengar suara yang sudah sangat ia hafal , itu adalah suara pamannya di kampung . Tapi suara yang ia dengar seperti sedikit bergetar .


" Ya Paman , ada apa ? Kalian sehat sehat saja kan !? "


" Adikmu ... "


" Seno kenapa Paman !? "


" Pulanglah dulu nak , dia membutuhkanmu sekarang ... "


Nayya bertambah panik ketika ia bisa mendengar suara berat sang paman yang terdengar sedang menyembunyikan sesuatu .


" Bicara Paman , ada apa ... Nayya punya tanggung jawab disini . Tidak bisa asal pulang "


" Seno kecelakaan nak , tadi siang pulang sekolah ia tertabrak mobil ... "


" Ya Tuhan .... " tubuh Nayya lemas seketika , adiknya adalah satu satunya yang ia punya saat ini .


" Dia di rumah sakit sekarang dan harus secepatnya di operasi . Paman tidak tahu tapi kata dokter ada darah membeku di kepala Seno . Pihak rumah sakit bilang kita harus menyediakan biaya operasi sebesar seratus juta "


" Seratus juta ... " lirih Nayya .


" Jangan pikirkan itu dulu , yang penting lihat dulu adikmu di sini "


" Paman jaga Seno ya , Nayya secepatnya pulang membawa uang operasi buat Seno " Nayya mencoba mengatur suaranya agar sang paman tidak mengetahui bahwa ia pun sangat bingung .


" Apa kau benar benar punya uang sebanyak itu nak !? Jangan memaksakan diri , paman bisa jual rumah jika kau benar benar tidak bisa mencari uang itu "


" Jangan !! Nanti paman dan bibi mau tinggal dimana kalau rumah itu di jual . Pokoknya Paman tenang saja Nayya pasti pulang membawa uang "


Setelah menutup telponnya gadis itu menangis sejadi jadinya . Seno adalah amanah dari mendiang ibunya , Nayya sudah berjanji akan menjaga adik laki lakinya itu sepanjang hidupnya .


Tiba tiba Nayya teringat Jerry , pria itu harapan satu satunya . Mungkin Jerry bisa meminjamkan uang seratus juta itu padanya , Nayya berpikir mungkin uang itu bisa ia kembalikan dengan cara memotong gajinya tiap bulan .


Dengan harapan yang sangat tinggi akhirnya Nayya pergi ke kantor Jerry dengan menggunakan taksi . Tiba disana dia segera pergi ke lantai atas di mana ruangan Jerry berada .


CEKLEKKK ..


Jerry menoleh ketika Grace membuka pintu ruangannya .


" Siapa ?? "


" Katanya sih namanya Nayya ... sepertinya yang kemarin kesini sama nyonya Adipraja " jawab yang masih ingat kejadian tempo hari saat dia kepergok berpelukan dengan bosnya .


Jerry sedikit terkejut kenapa tiba tiba Nayya ingin menemuinya .


" Biarkan dia masuk "


Jerry melihat gadis itu masuk dengan wajah yang pucat .


" Permainan apa yang akan kau mainkan ****** !? " gumam Jerry menatap gadis di depannya sinis .


" Kak ... "


" Ada apa sampai kau menyusulku ke kantor !? "


" Aku ingin bicara sama Kakak ehmm ... aku minta bantuan Kakak "


" Sudah aku duga " kata Jerry dalam hati , dia memejamkan matanya sesaat sebelum bangkit menghampiri gadis di depan meja kerjanya .


" Berapa ?? "


" Hahh ... ehh .. itu Nay butuh uang untuk .. "


" Berapa !!!! Aku tidak butuh penjelasan untuk apa yang itu . Maaf jika aku tidak tahu jika aku harus membayarmu perjam untuk semua pelayanan yang kau beri "


" Kak .. bukan begitu "


" Aku memang brengsek tapi aku tahu wanita wanita yang bermain denganku tidak memakai topeng sepertimu !! Mereka tidak pernah berpura pura baik di depanku !! Berapa yang kau inginkan ... "


" Tapi Nay ... "


" Jawab !!! " teriak Jerry hingga Nayya tersentak kaget , ada air mata menggenang di sudut mata gadis itu .


" Cihhh ... selain berwajah lugu ternyata aktingmu juga sangat bagus . Aku bertanya untuk terakhir kalinya ... berapa yang kau mau ?? "


" Nayya butuh seratus juta , Kakak bisa potong gaji Nayya setiap bulan untuk melunasinya "


Jerry terbahak mendengarnya , wanita di depannya benar benar licik dan lihai untuk dapat mengambil hatinya . Dia berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil segepok uang lembaran merah dari dalamnya .


SRRAAKKKKHH ...


" Arrrgghhh ... " Nayya memekik kaget sekaligus kesakitan .


Jerry melempar kasar uang itu tepat ke wajah Nayya hingga dahi gadis itu terlihat tergores dan berdarah .


" ltu seratus jutamu !! "


Jerry melihat gadis itu meneteskan air matanya , hatinya ikut sakit tapi ia tidak mau terperdaya oleh tipu muslihat gadis berwajah lugu itu lagi .


" Ambil uang itu ! Dan setelah ini jangan pernah lagi muncul di depanku ... pergi dari hidupku !!! "


" Kak .... "


Nayya memungut satu gepok uang dan beberapa lembar yang terlepas dari ikatan karena saking kerasnya uang itu dilemparkan padanya .


" Terima kasih sudah diperkenankan untuk menjaga Cherry dan tinggal di rumah Kakak . Terima kasih membuatku merasa berarti akhir akhir ini . Maaf jika aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuk Kakak ... "


Sebelum keluar ruangan gadis itu sempat meraih tangannya untuk di bawa ke keningnya .


" Jaga diri Kakak ya .... "