
" Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu nak ? Pernikahan bukanlah hal yang main main " kata ibu Erina pada Varo yang malam itu bertamu ke rumahnya yang sangat sederhana .
" Tidak pernah terbersit dalam hati saya untuk mempermainkan putri ibu . Saya sungguh sungguh ingin menjadikannya pendamping saya . Lusa kami menikah secara agama dan negara . Resepsinya akan diadakan setelah dia lulus sekolah dan saat orang tua Varo pulang ke lndonesia "
" Pulang ? "
" Maaf lusa mungkin hanya Mama yang bisa menyaksikan pernikahan kami . Bukan apa apa tapi Papa Varo memang belum bisa kesini , dia masih ada di Rusia "
Mata Varo sedikit teralihkan ketika Erin datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring kue kering . Gadis itu kemudian duduk di sisi ibunya .
" lbu ingin istirahat dulu , temani nak Varo di sini "
" Ya sudah Erin antar ibu ke dalam "
" Tidak , ibu bisa sendiri . Ibu sudah baik baik saja , jangan selalu mengkhawatirkan ibu "
Erin menurut , mereka hanya bisa melihat ibunya yang berjalan perlahan menuju kamarnya .
" Ehhmm .. Mas "
Varo tersenyum lebar mendengar sebutan baru untuknya itu , biasanya calon istrinya itu hanya memanggilnya dengan sebutan ' kau ' tanpa embel embel apapun .
" Ya ? "
" Apa ibumu akan menyukaiku ? "
" Kenapa ? Apa kau takut ? " goda Varo senang , baru kali ini dia melihat wajah gugup Erin seperti ini .
" Aku sedang tidak bercanda ! "
" Aku juga baby ! Apa kau keberatan jika aku memanggilmu begitu ? "
" Tidak ... sama sekali tidak . Tapi aku merasa saat ini aku adalah seorang sugar baby "
Varo terbahak , Erin tidak sepenuhnya salah karena umur mereka memang terpaut sangat jauh yaitu hampir sepuluh tahun .Wajah Erin memerah ketika melihat calon suaminya malah tertawa .
" Itu tidak lucu Mas !! "
" Tapi wajahmu terlihat menggemaskan jika sedang malu seperti itu " kata Varo .
Jika saja dia adalah Deniel mungkin dia akan berani langsung mencium gadis di depannya ini . Tapi dia sudah berjanji untuk menyentuh Erin hanya dengan seijin gadis itu . Walau kemarin dulu pernah mencuri satu ciuman yang dirasanya sangat manis waktu itu .
" Orang tuaku bukan orang tua yang seperti kau tonton di sinetron sinetron atau novel yang kau baca . Yang menikahkan anak hanya untuk bisnis "
" Yang membedakan kita hanya aku laki laki dan kamu wanita . Selebihnya kita sama ! Kita sama sama manusia , bernafas di bumi yang sama dan darah kita sama sama berwarna merah . Dimana kau lihat perbedaannya ? "
" Tapi kau jauh di atasku ... "
" Berdirilah ... " Varo menarik tangan Erin dengan lembut agar gadis itu bangkit dari duduknya .
" Mas ... " wajah itu terlihat semakin gugup ketika sudah berdiri tepat di hadapan calon suaminya .
" Kau yang terlalu pendek , jadi jangan coba coba salahkan aku jika sedikit lebih tinggi darimu "
" Tapi bukan ini maksud Er .... hemmpppttthh "
Varo melanggar janjinya lagi , ia sudah tak tahan melihat wajah gugup itu . Terlalu menggemaskan untuknya . Kali ini bukan ciuman sekilas seperti waktu itu .
Varo sedikit bermain dengan bibir tanpa polesan itu . Senyumnya mengembang ketika melihat Erin malah memejamkan matanya , Varo tahu gadis itu mulai terbuai dengan permainan bibirnya .
Dengan lembut ia mulai kembali ******* candu barunya . Varo menekan tengkuk Erina agar bisa memperdalam ciumannya .
Entah siapa yang memulai tapi lidah mereka mulai terpaut , saling menyesap hingga terdengar bunyi decapan decapan lembut yang malah memacu Varo untuk mengeksplore lebih dalam bibir itu .
" Massshhh ... hahhh ..hahhh ...cukup "
Erin menempatkan satu jarinya di atas bibir Varo agar pria itu menghentikan kegiatannya . Kening mereka bertautan dengan bunyi nafas yang tersengal sengal .
" Udah yaaa ... "
" Maaf ... maafin Mas ya , Mas kelepasan "
Erin bisa melihat raut yang merasa sangat bersalah , tangan Erin melingkar di pinggang Varo ketika merasa pria itu ingin menjauh darinya . Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya ia mengecup sekilas bibir yang tadi sempat membawanya terbang ke awang awang .
" Baby ... jangan menggodaku "
" Mas sendiri yang bilang agar kita belajar saling menerima dan mencintai " Erin menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya .
" Tapi jika begini lama lama aku bisa saja menerkammu . Aku laki laki normal baby "
" Kemarin siapa yang sok.sokan bilang akan menyentuhku hanya dengan dengan ijinku ? Sok gentle "
" Tapi aku tidak bilang tidak akan memaksamu untuk mengijinkanmu agar bisa menyentuhmu baby . You're mine " ujar Varo kembali mengecup bibir dan pipi Erin hingga raut gadis itu kembali memerah .