
Sore itu Bumi menjemput kedua orang tuanya di bandara , sedang istrinya menunggu di kediaman Adipraja . Seharusnya dia merasa senang ketika bertemu kedua orang tuanya . Tapi saat bertemu untuk pertama kali papa dan mamanya terlihat sangat diam .
Bumi masih mencoba berpikir positif , mungkin mereka diam karena terlalu lelah setelah perjalanan panjang mereka . Tapi raut mereka berubah ketika melihat menantunya yang sudah menyambut mereka .
" Mana cucuku ? " Alfian bertanya ketika Janu tidak terlihat di antara mereka .
" Janu kemarin dibawa sama Ibu , tapi sebentar lagi pasti kesini Pah " jawab Bumi .
Dan lagi , papanya sama sekali tak meliriknya ketika ia yang menjawab pertanyaan darinya . Sepertinya memang ada sesuatu dengan kedua orang tuanya .
" Papa dan Mama ingin bicara dengan kalian berdua " kata Alfian yang sudah duduk di sofa ruang tamu .
" Apa tidak sebaiknya Papa dan Mama istirahat dulu , kita bisa bicara lagi nanti setelah itu " bujuk Air yang melihat ada ketidak beresan antara mertua dan suaminya .
" Tidak , Papa tidak akan tenang sampai ini selesai "
Air mendampingi suaminya untuk duduk di depan mertuanya . Dia mengusap pelan punggung suaminya seakan meminta Bumi untuk lebih tenang . Dan Bumi membalasnya dengan sebuah anggukan dan senyuman .
" Belum genap setahun kami meninggalkan tempat ini . Tapi nyatanya ada banyak hal yang terjadi di sini tanpa aku ketahui " kata Alfian dengan menatap tajam putranya .
" Kami pergi untuk penyembuhan sekaligus memberikan kesempatan pada kalian untuk saling mengenal . Kami bahagia ketika mendengar dari mulut menantu kami sendiri jika dia bahagia , dia bahagia karena kau mampu menjaga dan mencintainya . Kami bahagia karena setidaknya setelah kepergian Reynand kami bisa menjaga istri dan anaknya . Tapi yang kami dengar ternyata ... "
Alfian tampak tidak bisa meneruskan kata katanya , ada cairan yang sudah menggenang di sudut matanya . Begitupun dengan Rita , wanita itu malah sudah sesenggukan memeluk sang suami .
Bumi dan Air masih bingung dengan apa yang terjadi . Mereka belum tahu kemana arah pembicaraan kedua orangtuanya .
" Bumi Attala Adipraja ... Kau melakukan apa yang dulu kami lakukan , kau kembali mengulangi kesalahan kami . Kami mendapatkan karma dari putra kami sendiri ... Aira , maafkan Papa dan Mama nak ! Sekali lagi kami tidak bisa menjaga kalian "
" Aira masih tidak mengerti .. "
" Aku ingin bertanya padamu dan jawab Papa dengan jujur "
Alfian menunjuk Bumi yang menggenggam erat tangan sang istri . Sepertinya Bumi mulai tahu kemana arah pembicaraan mereka .
" Apa yang sudah kau lakukan pada anak dan istrimu setelah kalian menikah ? Setelah kami pergi untuk berobat ? "
" Pah , Bumi ... "
" Kami pindah ke apartemen Mas Bumi . Air dan Janu senang kok tinggal disana " sahut Air .
" Papa bertanya pada suamimu , biarkan dia yang menjawab sayang ... " kata Rita , sepertinya ia tahu Air sedang menutupi sesuatu .
" Bumi ... "
PLAKKK ... PLAKKK
Dua tamparan yang sangat keras Bumi terima dari papanya . Air sampai berteriak saking kagetnya , tapi Rita menuntunnya untuk pergi dari tempat itu . Rita meminta Air pergi agar suami dan putranya bisa leluasa untuk berbicara .
Bumi hanya mengangguk ketika Air ingin meninggalkannya , dia tahu cepat atau lambat dia harus menghadapi ini sendiri . Kesalahannya memang sudah terlampau besar untuk bisa di maafkan .
" Bumi membencinya .. sangat membencinya , Aira dan Janu sudah membuat hidup Bumi kacau ! Bumi kecewa saat tahu wanita yang Bumi nikahi adalah wanita yang jauh dari kata ' baik ' . Bahkan Bumi ikut membenci Janu , karena sempat mengira dia bukanlah keturunan Adipraja "
BUGGHHH ...
Kini satu bogem mentah bersarang di rahangnya hingga membuat Bumi terjatuh di bawah sofa . Pria gagah itu duduk terkulai dengan bersandar kaki sofa .
" Setiap hari Bumi menghinanya dan putranya , aku pernah membuatnya terluka hingga tubuhnya banyak mengeluarkan darah . Bahkan aku mengusirnya dari apartemen , aku mengancamnya ... aku tidak mau melihatnya lagi . Selamanya aku tidak mau melihatnya lagi "
" Mass .. " jerit Air , kali ini meledaklah tangis wanita cantik itu .
Melihat suaminya menceritakan masa lalu mereka ternyata lebih sakit daripada ketika ia menjalani semua itu . Rita memeluk Air dan menahan agar tubuh Air tidak terjatuh .
" Kau apakan putri dan cucuku ?? Kenapa aku baru tahu itu sekarang !? "
Semua mata mengarah pada asal suara , ternyata Bu Sri sedang berdiri di pintu bersama dengan Dewa yang sedang menggendong Janu .
Bumi terhenyak melihat wanita yang telah melahirkan istrinya itu berlinangan air mata .
" lbu , bukan seperti itu ... Bumi bisa jelaskan semua "
Bu Sri mendekat ke arah di mana Bumi dan Alfian sedang berdiri . Ia pun tak memperdulikan Rita yang sudah berjalan menyambutnya . Bu Sri berhenti tepat didepan menantunya .
" Katakan pada lbu , benarkah semua yang aku dengar barusan !? "
" Bumi .. "
" Ibu hanya ingin mendengar jawaban ya atau tidak "
Dan Bumi mengangguk lemah , nyatanya semua yang ia katakan adalah benar . Wanita didepannya luruh ke bawah dengan Isak tangis yang tertahan . Dewa pun segera mendekati ibu mereka sedang Air ingin mendekati suaminya , tapi tangannya ditarik lembut oleh ibunya .
" Ibu mohon ... kembalikan putri dan cucuku , terimakasih kalian sudah ingin menjadikan mereka bagian dari keluarga ini lagi . Tapi aku mohon , kembalikan mereka padaku !! "