
Deniel segera turun setelah ia selesai berpakaian . Ia melihat gadisnya sedang menenteng satu mug minuman hangat sambil nonton di ruang tengah .
" Bikin apa Hon kok kayanya enak banget , kok nggak bikin dua sekalian sih " Deniel duduk di sebelah Val yang masih asyik menikmati minumannya .
" Kamu nggak bakal suka .. ini susu madu "
Val tahu benar Deniel sangat tidak suka susu , apalagi jika ditambah madu . Rasanya sangat aneh , itu menurut laki laki itu .
" Tumben kamu kesini malam malam gini "
" Kangen banget !! "
Deniel hanya terkekeh , gadisnya memang unik . Val selalu berkata blak blakan , selalu mengatakan apapun yang dirasakannya tanpa malu malu .
" Udah makan ? "
" Udah tadi "
" Sama siapa ?! "
" Sama Adam dan Jerry , harusnya sih sama Bumi juga tapi pas aku datang ke apartemennya dia sudah pulang . Cemburu ? " goda Val .
" Banget !! Kenapa tadi nggak telpon aku buat gabung ? Aku tidak pernah keberatan jika harus mengenal sahabat sahabat kamu "
" Ada yang kami bicarakan tadi "
" Tentang !? "
Vallery mencubit pelan pipi kekasihnya , dia gemas melihat wajah Deniel yang terlihat sangat penasaran . Tidak biasanya laki laki itu sangat ingin tahu tentang kegiatannya .
" lni tentang Bumi , tidak bisa aku katakan . Maaf tapi dia sahabatku "
" Aku mengerti honey , tapi berceritalah apapun padaku jika kau ingin berbagi sesuatu tentang hidupmu . Aku juga bisa menjadi sahabat yang baik untukmu "
Vallery meletakkan mug yang ia bawa ke atas meja . Setelah itu dia naik dan duduk di pangkuan kekasihnya . Dia berbisik lirih tepat ditelinga Deniel .
" l love you ... you are my everything "
" Honey turunlah , atau aku akan memakanmu sekarang juga "
" Eat me baby ... " tantang Val dengan senyum smirk .
Sudah sejauh ini pelan pelan Deniel sudah mampu mengontrol libidonya . Berkali kali ia menggodanya tapi kekasihnya mampu mengontrol nafsunya . Tak pernah berakhir di ranjang seberapapun panas ia menggoda .
" lm seriously honey , turunlah ... kali ini aku tidak yakin akan bisa menahannya "
Vallery malah mencium lembut bibirnya , Deniel tidak berdaya untuk tidak meresponnya . Bibir itu selalu manis untuknya , semakin lama mereka semakin bersemangat untuk saling memagut .
Saling menautkan lidah dengan hisapan hisapan yang membuat keduanya semakin tersengal . Tanpa Val sadar tangan Deniel sudah membuka satu demi satu kancing blousenya .
Dua tangan kekar itu sudah memanjakan dua bukit yang masih memakai penyangganya dengan remasan remasan lembut . Deniel mulai menelusuri belahan bukit itu dengan lidahnya .
Sesekali ia memberikan jejak kepemilikan pada sisi sisi bukit yang masih menggunakan penutupnya . Tapi pria itu tiba tiba terpaku , dan tangannya kembali mengancingkan blouse yang tadi sempat dia buka .
" Kau tidak menginginkanku sayang ? "
" Sangat ... aku sangat ingin kau mengerang di bawahku . Aku ingin mendengarmu berteriak memanggil namaku . Aku ingin kau memohon agar aku terus menyentuhmu ... " Deniel mendekap erat tubuh kekasihnya .
" Tapi saat aku sudah menikahimu , saat kau sudah benar benar menjadi milikku . Saat itu aku tak akan pernah berhenti walaupun kau sudah memohon padaku . Bersiaplah untuk itu !! "
Vallery membalas pelukan Deniel , sepertinya penyakit hyper sang kekasih memang sudah sembuh . Buktinya Deniel masih bisa menggunakan logikanya saat nafsunya sempat menguasainya tadi .
" Kapan kau menikahiku !? "
" Secepatnya , tentu saja setelah aku bertemu dengan orang tuamu "
" Besok aku off , kita temui Mama "
" Sepertinya kau sudah sangat tidak sabar untuk menjadi nyonya Brown honey " kata Deniel dengan mencium pipi kekasihnya dengan bertubi tubi .
" Ya ... aku sudah sangat ingin bercinta denganmu . Aku ingin bergerak diatasmu , kau tidak keberatan bukan jika aku yang berada di atas ?! "
Deniel terbahak mendengar penuturan yang ekstrim dari gadisnya . Sungguh , sepertinya dia memang sudah benar benar tergila gila dengan gadis itu .