
Sampai di ruko Air bisa melihat perubahan pada raut wajah suaminya , terlihat dia menatap tajam ke arah depan . Bumi menatap Deniel dengan tangan terkepal yang masih di atas kemudi mobilnya .
" Mas ... "
Air tahu Bumi tidak suka melihat Deniel yang sudah ada di ruko miliknya . Laki laki muda itu sedang menata etalase etalase kaca yang nantinya di gunakan untuk menaruh kue kue buatan Air .
Deniel menyiapkan semuanya dengan matang , dia bilang semua pengeluaran akan dihitung sebagai pinjaman dari bank tempatnya bekerja . Dan Air percaya hal itu , wanita itu belum tahu jika laki laki muda yang menolongnya adalah seorang milyader
" Kenapa harus dia sih ! Mas juga bisa membantumu "
" Dia sudah seperti.adikku sendiri Mas , melihatnya seperti melihat Dewa . Mereka sama sama mempunyai semangat untuk mencoba semua ... "
" Dewa tidak seperti itu . Dia tidak mata keranjang ! "
" Aku bicara bukan soal wanita Mas , ini tentang semangat mereka untuk meraih impian mereka "
" Tapi Deniel ... "
" Setiap orang punya masa lalu , jangan menghakimi mereka karena kita pun mungkin tak lebih baik dari mereka "
Air menyambar setiap kata Bumi yang akan merendahkan Deniel . Walau Air belum mengenal sepenuhnya seorang Deniel Brown . Baik tentang latar belakang ataupun pekerjaannya . Tapi Air bisa merasakan Deniel adalah orang yang baik .
" Sepertinya seumur hidup aku harus terbiasa dengan sindiranmu Nyonya Bumi Adipraja "
Air hanya tertawa , padahal ia tak bermaksud untuk menyindir suaminya . Mungkin ini karma bagi suaminya untuk selalu mendengar semua kata orang sebagai sebuah sindiran .
Deniel tersenyum ketika mereka keluar dari mobil milik Bumi . Laki laki muda itu tanpa takut mendekati Air dengan tangan terentang . Dua tak peduli dengan tatapan mata Bumi yang seperti ingin menelannya hidup hidup .
" Januuuuu ... gembuullll "
Dan anehnya Janu menyambut orang yang paking ia benci dengan senyuman . Janu menjerit senang ketika Deniel ada didepannya .
" lkut Om yuk , kita beli jajan "
" Ngga usah aneh aneh , anak gue belom boleh makan jajan !! Elo sono jajan sendiri , hushhh hushhh yang jauhan jajannya kalau perlu ngga usah kesini lagi "
" Cihhh ... anak elo apanya , ngasih makan aja ngga sanggup ngaku ngaku jadi bapaknya !! Punya kaca bang !? "
" Elo !!!! "
Air memutar bola matanya malas mendengar pertengkaran tak penting itu . Dia melangkah masuk ke rukonya dan menaiki tangga menuju lantai dua .
" Sayang ... tunggu ! "
Bumi tak menggubrisnya dia berlari menyusul anak dan istrinya ke atas . Sampai diatas dia melihat seluruh ruangan .
Hanya ada satu kamar yang sepertinya cukup luas , ada ruang untuk menonton televisi yang di depannya digelar karpet tebal untuk bermain Janu , juga satu kamar mandi .
" Aku bisa memberikan yang lebih bagus dari ini . Yang lebih bisa membuat kau dan Janu nyaman "
" Ruangan ini cukup untuk kami berdua Mas , lebih dari cukup malahan . Ini lebih baik dari fasilitas yang kudapat ketika tinggal di apartemen mewah tempo hari ! Walau terlihat mewah nyatanya fasilitasnya pas pasan . Sumpek dan.panas . Mama benar kan sayang ? "
Air seakan bertanya pada Janu yang sedang bermain di karpet . Bayi itu hanya tertawa ketika Air mulai menciumi pipinya .
" Jangan begitu , kan sudah berkali kali aku bilang minta maaf . Besok jika kau sudah mau pulang kau boleh menghukumku . Aku yang akan tinggal di gudang dan kau dan Janu akan tidur di kamar utama "'
" Memang aku pernah bilang ingin tinggal di apartemen lagi !? "
" Kok gitu "
Air seakan tak mendengarnya , ia masih sibuk bermain dengan bayinya .
" Sayang ... pengen ! Boleh ? "
Air mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Bumi . Tapi selanjutnya ia tersadar karena barusan ia menciumi putranya . Mungkin Bumi sedang memintanya untuk menciumnya .
BLUSSHHH ... wajah Air seketika memerah .
" Apa sih Mas ... "
" Boleh ??? "
" Enggak , malu di bawah ada banyak orang "
" Lho memang memalukan jika aku mencium putraku sendiri ? Aku ingin mencium Janu . Aku kangen banget sama dia "
" Terserah tapi awas kalau Mas bikin nangis dia , aku suruh Deniel menyeretmu keluar dari tempat ini "
Air langsung berdiri dan berjalan masuk ke kamar sambil menenteng tas besar yang tadi ia bawa . Ia akan menata barang barang Janu kembali , dan itu tentu hanya sebuah alibi agar Bumi tidak melihat raut wajahnya yang merah menahan malu .
" Janu ... tolongin papa , mama galak banget ! Dari tadi papa kena sindir terus " adu Bumi kepada bayi yang sedang menatapnya tak mengerti . Bumi tak kuasa lagi menahan air mata ketika melihat mata bening Janu . Dunianya seakan berhenti berputar ketika melihat Janu masih sedikit takut pafanya .
Didalam kamar Air yang mendengar keluh kesah suaminya hanya tertawa . Mungkin keputusannya kali ini sedikit egois . Sebagai seorang istri ia wajib mematuhi suaminya , Air tahu itu . Tapi bukan sekarang !
Keputusan untuk tinggal terpisah dengan Bumi mungkin bukan jalan keluar terbaik . Tapi sungguh ia hanya ingin menata hatinya terlebih dahulu . lni juga jalan terbaik untuk menguji cinta mereka .