
" lni punya Mas ? "
Mata Bumi mengernyit ketika Dewa membawa benda yang biasanya dia simpan dengan rapi di lemari pribadinya .
Mungkin tadi pistol miliknya jatuh saat tadi akan ia masukkan dalam kantong celananya . Dan tisu penuh darah itu , dia ingat tadi sempat mengelap darah yang menempel ditangan yang ia gunakan memukul Terra dengan tisu itu .
Sungguh dia sangat ceroboh kali ini . Tadi dia sempat tergesa karena mendapat pesan dari Air yang menanyakan apakah dia akan makan malam di rumah atau di luar bersama Adam .
Takut istrinya marah maka ia sampai lupa untuk menyimpannya terlebih dahulu di dashboard mobil . Ia juga lupa membuang tisu bekas darah yang tercecer di mobil .
" Mas memang tiap hari membawa itu buat berjaga jaga , biasanya Mas taruh di mobil . Mungkin tadi tidak sengaja tercecer "
Dewa hanya manggut manggut dan menyerahkan benda itu pada kakak iparnya . Dewa maklum karena Bumi adalah seorang pengusaha , mungkin hal itu memang diperlukan .
" Dan ini !? "
Aira menunjuk pada beberapa lembar tisu yang berwarna merah pekat .
" Ehmmm .. itu ada salah satu supir yang tadi tiba tiba mimisan , kita udah panik . Eeehhh ... ternyata cuma kecapean " jawab Bumi asal , ia tak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya pada istrinya .
" Mas nggak bohong kan !? "
Sebelum Bumi menjawabnya Dewa sudah memotong pembicaraan dua pasutri itu .
" Ibu udah panggil panggil kita tuh Mbak , mending langsung ke dalam deh ! Daripada nanti kita makan malam pakai sambel doang "
Dan untungnya Aira langsung percaya dengan ucapan adiknya . Wanita itu bergegas ke ruang makan untuk membantu menyiapkan meja makan .
" Ke dalam yuk Wa !! Laper Mas "
" Ok ... tapi Mas utang satu penjelasan pada Dewa "
Bumi menghela nafasnya , nyatanya dia tidak bisa membohongi adik iparnya . Sebagai sesama laki laki Dewa pasti sudah bisa mengira apa yang sebenarnya terjadi .
" Panjang ceritanya Wa ... kapan kapan deh Mas cerita ke kamu "
" Hebat kamu Mas , lawan sampai berdarah darah gitu tapi Mas masih utuh . Maksud Dewa nggak ada luka berarti di tubuh Mas . Siap siap aja nanti kalau Mbak Aira udah lihat luka dibuku jari Mas ! Bisa sampai pagi interogasinya " kata Dewa sambil terkekeh .
Dewa memang sudah tanggap dengan noda darah yang tertinggal di tisu itu ketika sekilas ia melihat luka di tangan Bumi . Dia langsung tahu jika kakak iparnya pasti sudah habis menghajar seseorang .
Makan malam kali ini terlihat begitu berbeda , dua keluarga berkumpul membuat suasana menjadi lebih hangat . Sangat terlihat jika Alfian dan Rita sangat bahagia melihat dan merasakan kebersamaan ini .
Setelah makan malam akhirnya Bumi sendiri yang mengantarkan ibu mertua dan adik iparnya untuk pulang . Dia berkeras tidak mengijinkan mereka pulang menaiki motor dengan alasan angin malam tidak baik untuk kesehatan sang mertua .
CEKLEKK ...
Air menoleh ketika seseorang membuka pintu kamarnya , ternyata suaminya sudah pulang .
" Kok tumben cepet Mas "
" Kebetulan jalanan nggak terlalu ramai jadi bisa ngebut dikit "
" Mas mau di bikinin kopi !? Atau mau diambilin sesuatu ? "
Bukannya menjawab pertanyaannya tapi suaminya malah seperti mencari sesuatu .
" Dede mana Yank ? Kangen banget Mas udah seharian ini nggak main sama dia "
" Dede bobo sama kakeknya .Tadi sebelum ibu kesini malah Dede udah di ajakin ke time zone sama Pada dan Mama . Makanya dari sore udah ketiduran , kecapean paling "
" Papa kan tadi pergi sama aku "
Bumi tersenyum senang jika melihat mode posesif sang istri sudah mulai keluar . Wajah Air nampak begitu menggemaskan di matanya .
" Tadi Mas gerah jadi mampir dulu sama Adam ke apartemen , terus Jerry malah pesan makanan banyak banget . Ya terpaksa Mas nemenin mereka ! "
" Gerah !? Memang Mas habis ngapain !!!?? "
" Habis .... habis presentasi Yank ! Kan ribet kalau presentasi di depan klien yang rewel , mereka mau sedetil mungkin minta kejelasan pada kita "
Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang untuknya . Akan ada banyak pertanyaan yang pasti akan diajukan padanya . Bumi melepas jam tangannya sebelum merebahkan tubuhnya di atas ranjang .
" Masss .. "
Bumi tersenyum lebar , ia mengira sang istri akan menunaikan janjinya tadi pagi .
" Yang merah kan !? "
" Iya yang merah , kenapa ini !?
Air mengambil tangan suaminya dan diletakkan dipangkuannya . Ternyata sang istri sudah melihat luka di tangannya . Air terlihat sedikit meniup luka luka kecil di tangan Bumi , sesekali dikecupnya ringan luka itu .
" Sakit Mas !? "
" Enggak sayang ! Tadi Mas sempat sparring partner sama temen lama Mas . Kangen tinju sama dia . Adam juga lihat kok , Papa juga tahu orangnya "
" Air obati dulu ya , takutnya infeksi kalau di biarin " Air bangkit dari ranjang ingin mengambil kotak obat yang ada di walk ini closet .
Tapi tangan kekar Bumi malah melingkar diperutnya , dan kepalanya ia letakkan tepat di atas perut sang istri .
" Sayang ... maafin Mas ya "
" Lho kok jadi minta maaf ke Air sih . Ada apa ? " Air mengelus lembut kepala suaminya .
" Dulu kamu pernah lebih parah dari ini , tapi Mas tidak peduli padamu . Sampai darah di kaki kamu waktu itu berceceran di lantai ... Ya Tuhan pasti waktu itu kamu benci banget sama Mas "
Air menghela nafas , tapi tersenyum kemudian . Bumi memang tidak akan bisa melupakan semua kisah kelam mereka .
" Mas ... Air tidak akan pernah keberatan untuk mengalami semua itu . Karena setelahnya aku bisa merasakan besarnya cintaku padaku , pada putraku "
" Dia juga anakku sayang , Janu anakku !! "
" Mungkin semua itu harus kita lalui agar kita bisa lebih menghargai cinta Mas . Aira cinta sama Mas "
" Aku juga cinta sama kamu , hanya kamu !! Sayaaannngg ... "
" Mulai deh !! "
" Kamu sih pakai bilang cinta segala , udah on nih .. sekarang ya ? "
" Ya udah Aira ambil pesenan Mas tadi siang . Mas pengen yang warna merah kan !? Lucu deh Mas ada pita merah jambu di depannya "
Tanpa aba aba Bumi malah sudah menarik tubuh istrinya hingga terlentang di ranjang .
" Yang itu besok aja deh , kelamaan !! "
" Maasssss .... "
Dan cinta mereka kembali bergema di kamar itu . Tak bosan bosannya Bumi selalu membisikkan rasa cintanya pada sang istri yang sudah pasrah dalam kungkungannya .