
Kamar yang didominasi warna hitam dan coklat membuat kamar milik suaminya terlihat sangat maskulin . Berdua diruangan yang sama seperti ini membuat Air tampak salah tingkah .
Bumi berhasil membujuk Air untuk mau menemaninya di kamarnya . Karena tidak mungkin ia membiarkan Air tidur di sofa ruang tamu ataupun di gudang lagi . Tapi kini ia melihat istrinya tak nyaman ada diruang yang sama dengannya .
" Sayang ... " Bumi yang masih tiduran di ranjang memanggil Air yang dari tadi duduk di sofa yang ada di samping ranjangnya .
" Jika kau ingin pulang ke ruko aku bisa mengantarmu , apa kau mengkhawatirkan Janu ? "
" Tidak Mas , aku tidak khawatir . Ibu dan Dewa menginap di ruko , lagian kamu lagi sakit begini masa iya aku tega ninggalin kamu sih "
" Aku cuma lemas , tapi tidak sakit . Besok mungkin aku akan fit lagi "
" Tapi dokter Val tadi bilang Mas harus istirahat total dirumah untuk beberapa hari ini .Jangan terlalu forsir tenaga untuk bekerja Mas , jaga kesehatan karena tugas Mas sekarang sudah bertambah "
" Tugas ?! "
" Jagain aku sama Janu "
Bumi hanya terkekeh , dia kemudian menepuk kasur di sampingnya . Ia ingin istrinya duduk disampingnya . Tapi Air menggelengkan kepalanya .
" Jangan katakan kau masih mengingat kata konyol dariku yang melarangmu untuk menyentuh kamarku "
" Mas Bumi butuh istirahat , jika aku duduk disitu aku bisa mengganggu kamu Mas . Kamu pasti tidak akan leluasa bergerak " kilah Air , padahal ia masih takut jika malam.ini akan menjadi malam pertama mereka .
Bukan takut karena belum siap , tapi lebih karena mengingat kondisi kesehatan suaminya yang masih drop . Air tahu Bumi akan lepas kendali jika ia sudah memulainya .
" Ranjang ini bahkan muat untuk enam orang sayang , jangan khawatir "
" Mas dari tadi siang belum makan , hanya makan sepotong kue tadi . Mas Bumi lapar ? Mau aku bikinin sesuatu ? " Air mencoba mengalihkan pembicaraan Bumi .
" lya aku lapar ... "
" Mas Bumi mau makan apa ?! "
" Kamu ... aku ingin makan kamu "
" Maaassss ... " rajuk Air .
" Kau takut ? "
Air beranjak dari duduknya kemudian duduk ditepi ranjang suaminya . Dia membelai rahang kokoh yang dipenuhi jambang tipis itu . Sesekali ia susah menelan salivanya , ia tak bisa bohong jika tubuh shirtless Bumi membuat hatinya tergetar .
Tadi Air sempat memaksa Bumi untuk mengenakan piyama tidurnya , tapi suaminya menolak dengan alasan sudah terbiasa tidur dengan keadaan seperti itu .
" Ya aku takut . Aku takut ini ( Air menyentuh kedua mata Bumi ) ... ini ( kemudian menyentuh hidung ) ... dan ini ( terakhir ia menyentuh bibir suaminya ) . Aku takut jatuh dalam pesona pria menyebalkan bernama Bumi Attala Adipraja . Kau terlalu sempurna "
Bumi malah terbahak ketika mendengar perkataan istrinya .
" Kau sedang merayuku sayang !? Harusnya aku yang mengatakan hal itu , aku yang sudah jatuh terlalu dalam . Aku yang tergila gila padamu "
Mereka tertawa bersama karena merasa sama sama konyol . Sampai akhirnya Bumi menarik lengan Air hingga wanita itu jatuh tertidur ke dalam pelukannya .
" Temani aku tidur "
Bumi semakin mengeratkan pelukannya ketika Air sedikit meronta untuk dilepaskan . Bukan tanpa alasan Air minta dilepaskan , bersentuhan langsung skin to skin dengan suaminya membuatnya sedikit tak nyaman , apalagi dengan posisi intim berpelukan seperti saat ini .
" Sebenarnya tidak , sepertinya kau terlalu nikmat untuk dilewatkan sayang "
Air mencubit perut liat suaminya ketika mendengar jawaban vulgar darinya .
" Ckk ... tidurlah ! Jika tidak aku akan benar benar memakanmu malam ini juga "
" Maasss ... "
" Aku serius sayang "
Akhirnya Air membungkam mulutnya dan segera mencoba untuk memejamkan matanya . Tapi ketika ia sudah mulai mengantuk dan ingin memejamkan matanya , ia terganggu dengan tangan Bumi yang mulai meraba perutnya dan semakin lama semakin merambat ke atas .
Tubuhnya menggelinjang menahan rasa luar biasa ketika tangan Bumi mulai memainkan dua bukit kembarnya .
" Mass ... euugghh .. jangan ditekan .. nanti keluar airnya "
" Gemes ... boleh ya ? "
" ltu masih punya Janu Mas ... jangan aneh aneh "
" Dikit ... aku janji "
Bumi segera membalik tubuh istrinya yang sekarang memang hanya mengenakan kaos miliknya . Karena Air tidak membawa baju ganti . Dan dulu ketika pergi dari apartemen ia juga sudah membawa seluruh pakaiannya tanpa sisa .
Dengan tak sabar Bumi menyingkap kaos Air hingga sebatas perut . Kemudian perlahan lidahnya mulai menelusuri perut rata istrinya hingga Air tak bisa lagi menyembunyikan suara suara indahnya .
" Aarrgghhh ... pelan Mass ! "
Air meremat rambut Bumi yang mulai liar bermain di area dadanya . Memilin , menjilat dan kadang meremas gemas area depan yang sudah sepenuhnya terekspose sempurna karena ia sudah melepas kaos dan kain penutup bukit kembar istrinya .
" lni terlalu nikmat sayang ... boleh ya "
Air bahkan sudah tidak bisa menjawab lagi karena terlalu frustasi dengan semua kenikmatan yang di berikan suaminya . Satu tangan sang suami malah sudah menerobos masuk kain segitiga penutup area bawahnya .
Dengan lincah tangan itu sudah bergerak dibawah sana untuk membuat istrinya terus menjerit menyebut namanya .
" Maasss ... "
" Jangan ditahan sayang .. "
Tubuh Air bergetar menahan hempasan gelombang kenikmatan yang menghampirinya . Bumi puas bisa mengantar Air sampai pada klimaksnya .
" Boleh ya ... " Bumi menarik kain terakhir di tubuh istrinya .
" Tapi kamu masih sakit Mas " dia pasrah ketika semua kain ditubuhnya sudah direnggut .
Air memejamkan mata ketika Bumi turun dari ranjang untuk melepas celana trainingnya . Air masih malu jika harus melihat tubuh polos suaminya . Tapi ia membuka mata kaget ketika terdengar suara Bumi sedang di kamar mandi .
Hoek ... hoek ...
" Ya Tuhan ... Mas !! "