Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
143


Siang itu Bumi bersama anak istrinya pergi ke rumah mertuanya . Mereka ingin berbagi kabar gembira ini dengan mereka .


" Mas nanti beli oleh oleh dulu ya buat ibu , di toko depan saja "


Air menunjuk sebuah toko oleh oleh yang cukup besar . Bermacam macam kue kering , roti dan cemilan disediakan . Ada juga stand buah ataupun minuman dingin . Suasana seramai itu membuat Bumi berpikir dua kali untuk mengijinkan .


" Sayang , sepertinya ramai sekali ! Kita cari yang agak sepi saja ya !? "


" Kalau tokonya ramai kan berarti kuenya enak enak Mas . Salah Mas tadi , kenapa Air nggak boleh bikin kue sendiri buat oleh oleh " sengit Air .


Melihat ibu hamil itu terlihat sedikit emosi akhirnya Bumi mengalah . Dia mengijinkan sang istri untuk belanja di toko itu .


" Mas sama Janu nunggu di mobil saja ya ? Air cepet kok , daripada Dede rewel di sana malah repot "


" Tapi ...."


" Tuh buntutnya udah banyak banget , amanlahh " potong Air yang tahu pasti suaminya masih saja mengkhawatirkan keberadaan Terra .


Dia menunjuk pada beberapa bodyguard yang masih saja ditugaskan untuk menjaganya dan Janu . Walaupun tidak banyak tapi orang orang itu adalah orang pilihan yang sudah di latih khusus untuk menjaga keluarga Adipraja .


Setelah Air keluar dari mobil Bumi kemudian bermain dengan putranya . Dia berbicara selayaknya pada seorang teman .


" Dede seneng nggak udah mau punya adek ? Jangan nakal kalau sama adek ya , main sama sama . Janu pengen punya adek cowok apa cewek ?? Ooo .. cowok ya , berarti Mama akan jadi bidadarinya di antara kita " Bumi terkekeh sendiri sambil menciumi pipi putranya .


Tiba tiba ia melihat keriuhan di toko yang tadi di masuki istrinya , dan ...


DORR .. DORRR


Dua kali suara tembakan membuatnya sangat panik , yang ada di otaknya sekarang hanyalah istri dan calon anaknya . Tanpa pikir panjang ia keluar dari mobil untuk mencari keberadaan sang istri .


Bumi sayup mendengar seseorang berteriak padanya , tapi keramaian itu membuat otaknya menjadi tidak fokus . Suara jerit orang orang disekitarnya terlalu mendominasi hingga ia tidak mendengar teriakan para penjaganya .


" Tuan muda !! Kembali ke mobil !!! "


DORRRR ...


Satu orang berseragam hitam mendorongnya dari arah samping hingga dia jatuh terduduk di lantai parkiran depan toko . Untung dia mendekap Janu hingga anak itu masih aman dalam pelukannya .


Dia tersenyum ketika melihat sang istri yang terlihat berjalan dengan beberapa penjaganya . Tapi ia melihat tatapan kosong Air yang melihat ke arah mereka . Begitupun dengan para penjaga yang melihat ke arahnya dengan wajah terkejut .


" Janu .... "


" Sayang !!!! "


Bumi bangkit ingin menghampiri istrinya yang jatuh pingsan , tapi seorang pengawal yang tadi sempat mendorong menarik tangannya .


" Kita ke rumah sakit sekarang tuan Janu lebih membutuhkan pertolongan saat ini "


DEGGHH ... DEGGHHH


Bumi baru menyadari ini , tadi putranya sempat menangis sebentar tapi diam dengan sendirinya . Dia kira Janu sudah tenang ternyata putranya pingsan . Entah bagaimana tapi lengan Janu bersimbah darah .


" Dede ... " lirih Bumi , satu pengawal menariknya agar segera memasuki mobil . Sedang pengawal lain segera melajukan mobil ke arah rumah sakit .


" Nyonya muda aman bersama mereka , kita tangani tuan muda Janu terlebih dahulu . Tadi sepertinya lengannya tergores peluru "


Dengan sigap pengawal itu membebat luka goresan di lengan Janu dengan selembar saputangan agar aliran darah terhenti .


Bumi menciumi putranya dengan air mata yang sudah memenuhi sudut matanya , Janu masih saja menutup matanya , nafasnya pun sudah mulai melambat !!


Sungguh ia tidak mengira ini akan terjadi . Semua terjadi begitu cepat hingga ia lupa jika ada Janu dalam pelukannya ketika peristiwa genting itu terjadi .


Harusnya ia percaya pada para pengawalnya untuk menangani semua , harusnya ia tetap berada di dalam mobil demi keselamatan putranya karena mobil yang ia naiki adalah mobil anti peluru .


" Dede maafkan Papa ya , bertahan ya ... Papa sayang sama Dede . Kak Reynand maafkan aku , kau benar kalau aku terlalu ceroboh !! Tapi aku mohon biarkan putraku tetap bersamaku "