
Siang itu Bumi bersama anak istrinya pergi ke rumah mertuanya . Mereka ingin berbagi kabar gembira ini dengan mereka .
" Mas nanti beli oleh oleh dulu ya buat ibu , di toko depan saja "
Air menunjuk sebuah toko oleh oleh yang cukup besar . Bermacam macam kue kering , roti dan cemilan disediakan . Ada juga stand buah ataupun minuman dingin . Suasana seramai itu membuat Bumi berpikir dua kali untuk mengijinkan .
" Sayang , sepertinya ramai sekali ! Kita cari yang agak sepi saja ya !? "
" Kalau tokonya ramai kan berarti kuenya enak enak Mas . Salah Mas tadi , kenapa Air nggak boleh bikin kue sendiri buat oleh oleh " sengit Air .
Melihat ibu hamil itu terlihat sedikit emosi akhirnya Bumi mengalah . Dia mengijinkan sang istri untuk belanja di toko itu .
" Mas sama Janu nunggu di mobil saja ya ? Air cepet kok , daripada Dede rewel di sana malah repot "
" Tapi ...."
" Tuh buntutnya udah banyak banget , amanlahh " potong Air yang tahu pasti suaminya masih saja mengkhawatirkan keberadaan Terra .
Dia menunjuk pada beberapa bodyguard yang masih saja ditugaskan untuk menjaganya dan Janu . Walaupun tidak banyak tapi orang orang itu adalah orang pilihan yang sudah di latih khusus untuk menjaga keluarga Adipraja .
Setelah Air keluar dari mobil Bumi kemudian bermain dengan putranya . Dia berbicara selayaknya pada seorang teman .
" Dede seneng nggak udah mau punya adek ? Jangan nakal kalau sama adek ya , main sama sama . Janu pengen punya adek cowok apa cewek ?? Ooo .. cowok ya , berarti Mama akan jadi bidadarinya di antara kita " Bumi terkekeh sendiri sambil menciumi pipi putranya .
Tiba tiba ia melihat keriuhan di toko yang tadi di masuki istrinya , dan ...
DORR .. DORRR
Dua kali suara tembakan membuatnya sangat panik , yang ada di otaknya sekarang hanyalah istri dan calon anaknya . Tanpa pikir panjang ia keluar dari mobil untuk mencari keberadaan sang istri .
Bumi sayup mendengar seseorang berteriak padanya , tapi keramaian itu membuat otaknya menjadi tidak fokus . Suara jerit orang orang disekitarnya terlalu mendominasi hingga ia tidak mendengar teriakan para penjaganya .
" Tuan muda !! Kembali ke mobil !!! "
DORRRR ...
Satu orang berseragam hitam mendorongnya dari arah samping hingga dia jatuh terduduk di lantai parkiran depan toko . Untung dia mendekap Janu hingga anak itu masih aman dalam pelukannya .
Dia tersenyum ketika melihat sang istri yang terlihat berjalan dengan beberapa penjaganya . Tapi ia melihat tatapan kosong Air yang melihat ke arah mereka . Begitupun dengan para penjaga yang melihat ke arahnya dengan wajah terkejut .
" Janu .... "
" Sayang !!!! "
Bumi bangkit ingin menghampiri istrinya yang jatuh pingsan , tapi seorang pengawal yang tadi sempat mendorong menarik tangannya .
" Kita ke rumah sakit sekarang tuan Janu lebih membutuhkan pertolongan saat ini "
DEGGHH ... DEGGHHH
Bumi baru menyadari ini , tadi putranya sempat menangis sebentar tapi diam dengan sendirinya . Dia kira Janu sudah tenang ternyata putranya pingsan . Entah bagaimana tapi lengan Janu bersimbah darah .
" Dede ... " lirih Bumi , satu pengawal menariknya agar segera memasuki mobil . Sedang pengawal lain segera melajukan mobil ke arah rumah sakit .
" Nyonya muda aman bersama mereka , kita tangani tuan muda Janu terlebih dahulu . Tadi sepertinya lengannya tergores peluru "
Dengan sigap pengawal itu membebat luka goresan di lengan Janu dengan selembar saputangan agar aliran darah terhenti .
Bumi menciumi putranya dengan air mata yang sudah memenuhi sudut matanya , Janu masih saja menutup matanya , nafasnya pun sudah mulai melambat !!
Sungguh ia tidak mengira ini akan terjadi . Semua terjadi begitu cepat hingga ia lupa jika ada Janu dalam pelukannya ketika peristiwa genting itu terjadi .
Harusnya ia percaya pada para pengawalnya untuk menangani semua , harusnya ia tetap berada di dalam mobil demi keselamatan putranya karena mobil yang ia naiki adalah mobil anti peluru .
" Dede maafkan Papa ya , bertahan ya ... Papa sayang sama Dede . Kak Reynand maafkan aku , kau benar kalau aku terlalu ceroboh !! Tapi aku mohon biarkan putraku tetap bersamaku "