
" Kalian hati hati di jalan , jika urusan memang sudah selesai maka cepatlah pulang "
" Ya Bu , titip Janu . Kalau ada apa apa telpon Air atau Mas Bumi saja " kata Air sambil menyerahkan bayinya pada sang ibu .
Semula Air ingin membawa Janu di perjalanan kali ini tapi ibunya melarang dengan alasan kesehatan putranya . Dan akhirnya ia hanya pergi dengan suaminya saja .
Pagi pagi benar Air dsn Bumi berangkat agar siang langsung bisa melihat tempat yang akan disewanya untuk cabang baru toko rotinya . Deniel sebenarnya yang sudah merekomendasikan tempat itu , tapi ia tetap ingin Air yang memutuskan cocok apa tidaknya .
Deniel juga sudah membeli tempat itu walau Air sudah melarangnya . Air ingin sistem sewa seperti dia cabang sebelumnya . Tapi Deniel bilang tempat itu sangat strategis sayang jika cuma menyewa .
Bumi iri dengan laki laki muda yang mampu bertindak cekatan untuk bisnis yang dijalani istrinya . Deniel selaku mengurus bisnis Air dengan tuntas . Dan Bumi tidak suka jika ada laki laki lain yang terlalu memperhatikan istri kesayangannya .
Tak lama mereka sampai disebuah bangunan yang lumayan besar , benar kata Deniel . Tempat itu sangat strategis karena terletak di pusat keramaian .
" Sayang .. bener ini tempatnya ? "
" He em .. turun yuk "
Bumi memarkirkan mobilnya di depan toko yang mempunyai area cukup luas untuk tempat parkir . Ada seorang laki laki yang menghampiri mereka dengan badan menunduk sopan . Bumi langsung merengkuh pinggang istrinya dengan posesif .
" lbu Aira ?? "
" Ya , saya Aira . Kamu siapa ? "
" Saya penjaga malam.toko ini . Tuan Deniel kemarin telpon saya jika ibu mau datang kesini , katanya mau lihat tokonya "
Air menerima kuncinya sang mengucapkan terima kasih pada laki laki itu . Bumi tetap saja tak melepaskan rengkuhannya walau laki laki muda tadi sudah pergi .
" Mas ... "
" Aku tidak suka dengan cara mereka memandangmu ! Kau milikku !! "
Kedatangan mereka memang sedikit mencuri perhatian orang yang lalu lalang di tempat itu . Mereka yang sebagian besar adalah kaum Adam tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka ketika melihat kecantikan seorang Aira .
Walaupun sudah mempunyai seorang putra , tubuh sempurna itu masih saja menjadi magnet yang luar biasa kuat untuk lawan jenisnya . Tak ayal jika Bumi terus saja menggerutu .
Bangunan lantai dua itu sebenarnya lebih mirip sebuah kafe daripada sebuah toko . Deniel pernah mengungkapkan untuk membuat kafe dengan konsep keluarga . Sebuah kafe yang ramah anak anak . Baik dari segi menu makanannya ataupun dari penataan ruangannya .
Dan waktu itu Air langsung menyetujuinya , karena pada dasarnya ia memang menyukai anak anak .
" Mas menurutmu bagaimana dengan tempat ini ? "
" Cukup bagus , tapi butuh waktu sosialisasi jika memakai konsep Deniel . Kurasa tempat ini pusat nongkrong para kaum muda . Kau lihat di depan tadi !? Rata rata yang lewat adalah kaum muda ... bukan sebuah keluarga . Aku kira kau tahu apa artinya "
" Semua memang butuh proses Mas , Kafe dengan konsep keluarga belum begitu banyak disini . Asal sabar dan ulet aku yakin nantinya kafe ini akan berkembang pesat " kata Air mantap .
" Walau aku kurang setuju tapi aku akan tetap selalu mendukungmu "
Air memeluk erat suaminya , dia bahagia bisa melihat perubahan suaminya yang sudah jauh berbeda . Walau masih sangat terlihat posesif dan pencemburu tapi suaminya tidak lagi marah marah seperti dulu lagi .
" Makasih Mas "
Bumi melesat pergi meninggalkan tempat itu ke villa miliknya yang jaraknya memang lumayan jauh dari tempat itu . Bumi ingin segera bisa menikmati waktunya hanya dengan sang istri .
" Mas di villa sudah ada bahan makanan belom ? Takutnya nanti malam malam Mas lapar terus minta dibikinin sesuatu "
" Ya sudah kita mampir beli bahan makanan di supermarket terdekat "
Akhirnya mereka mampir di sebuah supermarket yang lumayan besar .
" Lhohh Mas ini kan DeMart ! lni supermarket punya Varo , hebat ya dia Mas ! Masih muda tapi sudah punya bisnis sebesar ini "
Bumi hanya diam saja tanpa menanggapi satupun kata kata istrinya . Dia tidak suka jika istrinya sendiri memuji laki laki lain di depannya . Air yang melihat perubahan sikap suaminya baru tersadar jika ia sudah membuat marah suaminya .
" Mas marah ? "
Bumi hanya menggelengkan kepalanya tanpa menatap istrinya . Air menghela nafasnya , merasa bersalah . Dia tahu benar keposesifan suaminya memang tidak ada obatnya .
" Maaf ya ... "
Ketika sampai di rak berisi minuman , Air mengambil sebuah botol kecil berisi cairan berwarna kuning pekat . Dahi Bumi mengernyit botol itu seperti sebuah botol obat . Setahunya istrinya sedang dalsm.keadaan baik baik saja .
" Sayang kau sakit ? " Bumi menyentuh dahi Air , ia tampak sedikit khawatir .
" Enggak kok , Air sehat . Memangnya kenapa ? "
" Kok itu ambil botol obat " Bumi menunjuk pada botol yang masih dipegang istrinya .
" Ini bukan obat mas , ini jamu "
" Jamu ? "
" Racikan herbal biar kita sehat .. lebih sehat maksudnya "
Bumi mengambil botol itu dari tangan Air karena merasa penasaran . la hanya ingin membaca komposisinya , ia tak ingin Air minum sembarang ramuan .
" Sari rapet ... namanya kok aneh sih ? "
" Ishhh .. pulang yuk " dengan wajah merah padam Air merebut botol itu dan mendorong troli belanjaannya menuju kasir .
Sedangkan Bumi langsung mengambil ponsel pintarnya di saku ia masih penasaran dengan botol minuman yang diambil istrinya . Ia takut minuman itu bisa membahayakan kesehatan istrinya .
Tapi senyum kemudian menghiasi wajahnya ketika sudah mencari tahu kegunaan minuman itu . Dia menghampiri Air yang sudah selesai melakukan pembayaran di kasir . Bumi mengambil alih troli ke tangannya .
" Sayang ... masih rapet kok . Kemarin aja aku sempet susah masuknya . Tapi nggak apa apa sih pakai itu biar tambah gemes "
" Mass ... !!!! " pekik Air dengan menutup mulut suaminya menggunakan kedua tangannya karena mereka masih di area yang lumayan ramai orang .
Sedangkan Bumi tak henti hentinya tertawa melihat raut merah sang istri .