Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
10


Bumi mengernyitkan dahinya ketika didepannya ada seorang wanita parubaya yang sedang menggendong bayi berumur sekitar empat bulan .


Air yang mengerti keterkejutan Bumi berkata pelan .


" ltu ibu dan putraku mas namanya Janu , Mas Reynand yang memberinya nama itu "


Dan Bumi hanya diam tidak menanggapi kata katanya , Air yang memang sudah mempersiapkan mentalnya untuk hal ini hanya menghela nafas panjang . Sebelumnya ia sudah menduga kecanggungan ini pasti bakal terjadi antara dia dan suaminya .


Dewa mengusap punggung kakaknya seakan memberi kekuatan untuk sang kakak agar bisa menghadapi ini semua . Dewa juga sudah mengira hal ini pasti akan terjadi di awal pernikahan kakaknya .


Dua orang menikah bahkan ketika mereka sama sekali belum pernah bertemu atau mengenal . Jika Dewa berada di posisi Bumi mungkin ia juga akan bersikap seperti itu , begitu pikir Dewa .


" Ibu ... "


Bumi menghampiri mertuanya yang sudah berdiri menyambutnya , Sri memeluk menantunya dengan hangat . Bumi mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim .


" Ini putra kakakmu Reynand , tapi sekarang sudah menjadi putramu . Ibu titip putri dan cucu ibu padamu nak Bumi , jaga dan sayangi mereka seperti kami menyayanginya "


" Bumi akan berusaha bu ... " jawab Bumi


Air dan Dewa sedikit lega ketika Bumi bersikap lebih hangat pada ibunya . Setidaknya wanita yang sudah melahirkannya itu tidak merasa khawatir dengan kecanggungan yang ia alami saat ini . Air juga lega mendengar janji Bumi yang akan menjaga Janu dan dirinya .


Setelah berbasa basi sebentar tak lama Dewa dan ibunya pamit meninggalkan rumah mewah keluarga Adipraja . Hanya tinggal Bumi dan Air yang sedang menggendong Janu di ruang tamu .


Tanpa berkata apapun Bumi beranjak dan melangkah menuju lantai atas dimana kamarnya berada . Air yang masih bingung karena belum pernah sama sekali mengenal rumah itu hanya memandang bingung .


Air lega ketika Bumi berbalik dan kembali melangkah ke arahnya .


" Jangan kau pikir kau akan diratukan disini , kau hanya sampah yang papa dan mamaku pungut dari jalanan . Dan jangan kau pikir aku bisa kau tipu dengan menggunakan anakmu itu untuk menjeratku seperti kau telah menjerat kakakku "


DEGGHH ... DEGGHHH


Air tertegun mendengar semua kata kata Bumi yang bagai mengiris hatinya , ia tahu Bumi pria yang dingin tapi ia tak mengira akan mendengar hal menyakitkan seperti ini . Tapi ia tetap mencoba bersabar karena ini adalah hari pertama ia menjadi seorang istri dari Bumi Attala Adipraja .


" Kita akan ke apartemen , kau tak pantas berada disini ! Pak.Kiman !!! Bawa koper wanita itu ke mobilku " teriak Bumi pada salah satu tukang kebunnya .


Wanita itu ... suaminya menyebut dirinya seolah dia adalah wanita asing . Bumi sama sekali tak menganggapnya sebagai seorang istri . Dan sekali lagi Air menghela nafasnya . sekali lagi mencoba berpikiran positif . Mungkin Allah akan menaikkan derajatnya hingga ia di beri ujian seperti saat ini .


Turun dari mobil Air harus setengah berlari mengikuti langkah lebar Bumi . Pria itu bahkan membiarkannya. kerepotan menggendong Janu dan menyeret kopernya sendirian .


Sampai di dalam lift Air menata nafasnya yang terengah , mencoba membuai agar putranya tidak terbangun . Bumi sama sekali tidak meliriknya , pria itu sepertinya jijik jika melihatnya ataupun putranya .


Air sedikit tertegun ketika memasuki apartemen milik Bumi . Apartemen yang sangat mewah dengan penataan yang sempurna . Warna putih dan hitam sangat mendominasi membuat suasana di dalamnya sangat manly .


Air mengikuti langkah Bumi hingga sampai ia di depan sebuah pintu yang tidak jauh dari ruang dapur .


" lni kamarmu ... jangan pernah mencoba untuk naik ke atas ataupun ke kamarku . Jangan pernah menyentuh barang barang pribadiku dengan tangan kotormu . Dan jangan sampai aku mendengar ia menangis , jika tidak maka aku sendiri yang akan menyeret kalian keluar dari rumah ini "


Setelah berkata seperti itu Bumi pergi meninggalkannya seorang diri di apartemen itu . Perlahan Air membuka pintu di depannya .


" Uhuk ...uhuk .. "


Air sampai terbatuk karena bau ruangan yang lembab itu . Ruangan sebesar 2 x 3 meter itu tampak lebih seperti sebuah gudang . Banyak sekali barang disana , walau sudah tertata rapi tetap saja sedikit berdebu .


" Janu sayang bobok di sofa sebentar ya , mama mau bersihin kamar kita dulu biar nanti malam Janu bisa bobok anteng disini "


Setelah meletakkan Janu di sofa Air mulai membersihkan kamar itu dengan alat seadanya . Air menata ulang barang barang agar ia dan Janu punya cukup ruang untuk berbaring nanti .


Ketika semuanya selesai Air mengambil Janu dari sofa untuk menyusuinya .


" Janu sayang ... kuatin mama ya , doain mama biar bisa jadi mama yang kuat buat Janu . Seperti papa Reynand "


Janu tersenyum padanya seakan akan anak itu tahu mamanya sedang butuh di hibur saat ini . Saking lelahnya tanpa terasa Air tertidur dikamar barunya bersama Janu .


~Jempol dan votenya selalu ditunggu ya ~