
" Kau tidak apa apa ??! "
Perlahan Diva membuka matanya seorang laki laki memakai setelan lengkap berdiri menjulang di depannya yang sedang duduk meringkuk di tengah jalan .
" Apa kau sengaja ingin menabrakkan dirimu !?? "
Diva mencoba bangkit walau kakinya masih terasa lemah , kejadian barusan masih membuatnya syok .
" Aku tidak gila tuan , sampai harus melakukan hal yang anda oikirkan !! "
" Apa yang kupikirkan memangnya ?? " tanya pria itu menantang .
Diva tidak menjawab , dia berjalan menuju mini market tanpa mempedulikan pandangan aneh orang yang akan menabraknya tadi . Yang dia pikirkan adalah dia harus segera ke mini market agar bisa pulang sebelum putra semata wayangnya bangun .
Pria itu sungguh menyebalkan , bukannya minta maaf malah sudah menuduh dirinya sengaja menabrakkan dirinya . Mungkin pria itu berpikir dia akan memerasnya dengan sejumlah uang .
Walau sangat butuh uang tapi dia tidak akan bertindak segila itu .
Sedangkan pria itu sedang berdecak kesal , karena sebenarnya ia juga merasa bersalah dalam hal ini . Kakinya yang kemarin sempat terkilir tiba tiba terasa sangat nyeri hingga tanpa sengaja ia malah menginjak lebih dalam gasnya . Untung saja dengan sigap satu kaki lainnya segera menginjak rem hingga kecelakaan itu urung terjadi .
Pria itu mengambil ponsel yang terdengar berdering di sakunya .
" Kak Adam nyetir sendiri !?? Tadi Pak Made lapor kalau Kakak nggak mau pakai dia . Dewa nyusul nanti setelah selesai meeting sama divisi pemasaran "
" Kaki Kakak baik baik saja Wa ! Nggak perlu pakai supir , nanti Pak Made saja yang nganter kamu . Soalnya kamu belum hafal benar daerah sini . Nggak lucu kan kalau ada berita CEO Adipraja kesasar "
" Ckk kan bisa sharelok Kak "
" Jaga jaga Wa ! Nanti ada singa ngamuk kalau tahu adik iparnya gue telantarkan disini . Bininya juga nggak kalah sadis "
Dan Dewa terdengar terkekeh , Aira dan Bumi menganggapnya masih seperti anak kecil . Kadang mereka juga khawatir berlebihan , dan Adam yang selalu menjadi tumbal dari semuanya .
*
Di kamar sebuah hotel mewah terlihat pasangan muda yang baru saja datang .
" Kata Mbak Aira kita nginep di mansion Kak , kok kita malah kesini sih !? Nggak enak sama mereka yang sudah menyiapkan untuk kita "
" Lebih nyaman di disini sayang " jawab Jerry singkat.
Jika dia menginap di mansion dipastikan dia tidak akan bisa bermanja manja dengan istri kecilnya . Bumi , Adam dan si polos Dewa kadang jahilnya kebangetan , mereka kompak jika itu menyangkut kesengsaraan dirinya .
" Ahhhhhh ... nyaman banget ... akhirnya "
Nayya tiduran di atas kasur dengan mengepakkan kedua tangannya seperti seekor burung . Perjalanan yang hanya beberapa jam itu sempat membuatnya ketakutan karena ini pertama kalinya dia naik pesawat .
" Capek sayang !? "
" He em " jawab sang istri manja .
" Kak Jerry memangnya nggak capek !? "
" Kalau cuma mijit badan kamu yang kecil sih nggak bakal capek sayang . Sini ... "
" Aww .. kok jeans nya dilepas sih , malu ihh Kak !! " jerit Nayya karena tiba tiba sang suami melepaskan kancing celana yang sedang ia pakai .
" Malu sama siapa ? Hanya kita berdua di kamar ini sayang , lagian nggak nyaman kalau mau istirahat masih pakai celana jeans seperti ini " kilah Jerry tersenyum smirk .
Dengan senyum lebar Jerry mulai memijit kaki mulus istrinya yang sudah tidak terhalang apapun , semakin ke atas semakin ia susah menelan salivanya . Kain segitiga warna merah itu sangat mengganggu penglihatannya .
" Kak Jerry !!! " pekik Nayya ketika merasa kain segitiganya diturunkan .
" Ngalang ngalangin sayang , nggak leluasa mijetnya "
" Hishhh mesum dasar , tadi sebelum berangkat kan udah !! "
" Yang tadi pagi kan makanan pembuka sayang !! Kalau yang ini makanan intinya ... "
Nayya hanya diam dan pasrah ketika sang suami mulai membuka semua pakaiannya . Pijatan pijatan itu berubah menjadi sentuhan sentuhan liar .
" Euuughhhh ... Kaaak !! "
Nayya benar benar di buat kewalahan dengan lidah suaminya yang sedang bermain di bawah sana . Puas bermain Jerry membalikkan tubuh mungil istrinya hingga tidur tengkurap .
Diremasnya gemas dua bongkahan padat bagian bawah sang istri . Jerry mengambil bantal untuk mengganjal pinggul sang istri . Dia melakukan gaya ini agar istrinya lebih rileks .
Perlahan dia memacu tubuh sang istri dari belakang dengan dua tangannya yang menahan pinggul ramping itu .
" Eeuugghh ... "
Gerakan yang semula slow motion berubah menjadi sangat liar . Suara beradunya kulit dan lengguhan manja sang istri menjadi musik indah yang menghiasi kamar itu . Jerry tambah bersemangat ketika melihat Nayya mulai menikmati semuanya .
Sungguh ! Jerry selalu bisa membuatnya terbang ke nirwana . Permainan lembut atau liarnya seringkali membuatnya ketagihan .
" Kak .... " lirih Nayya .
" Sama sama ya ... "
Jerry mempercepat gerakannya karena dia tahu sang istri sudah akan mencapai puncaknya . Sampai akhirnya tubuh mereka bergetar bersamaan . Jerry menggeram nikmat saat bagian bawahnya seperti sedang dipijat lembut didalam sana .
" Kakak sayang sama kamu " Jerry menciumi punggung polos istrinya yang masih tidur tengkurap di bawahnya .
" Nayya juga sayang sama Kakak "
" Mandi yuk , habis ini kita ke mansion mengantar titipan Aira buat Dewa "
" He em " Nayya pasrah saja ketika tubuh kekar sang suami membopong dirinya ke arah kamar mandi .