Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
141


" Saya tahu anda tidak akan pernah suka berada di tempat seperti ini "


Luna sedang menyiram tanaman tanaman hijau yang ada di kebun belakang mansion , sedang terra duduk di atas kursi rodanya .


Semua luka luarnya sudah sembuh , hanya saja dadanya masih terasa sangat sakit jika bergerak .Hingga ia masih butuh kursi roda agar dadanya tidak banyak bergerak .


Terra hanya diam , ia memang tak pernah menanggapi semua yang di bicarakan oleh pelayan pribadinya itu . Tapi ia akan menuruti perintah pelayannya tanpa bertanya , misalnya saja ketika makan , minum obat ataupun waktu istirahat .


" Kau tahu tuan , selama ini Tuan Alex yang merawat taman ini . Pria sesibuk dan seusianya masih mampu untuk menciptakan keindahan seperti ini "


" Kau tahu ada yang kurang dari taman ini ? Kau bisa lihat taman ini ? Semuanya hijau !!! Tak ada warna lain "


Luna meletakkan selang yang tadi ia gunakan menyemprot air dan duduk di kursi taman yang tepat ada di samping kursi roda Terra .


" Tak ada satupun bunga di sini , hanya ada warna hijau tapi itu tetap tidak mengurangi keindahan taman ini . Seperti Ayah tuan , yang mempunyai hati yang lapang untuk menghadapi semua ujian hidup . Dan sayangnya hanya satu warna yang ada di dalam hatinya . Dia hidup hanya untuk satu tujuan , membahagiakan anda ... "


Luna bisa melihat wajah Terra yang tampak tidak suka ketika ia membahas tentang ayahnya .


" Mungkin terlalu melelahkan untuknya , tapi nyatanya sampai sekarang dia tetap saja masih menjadi pelindungmu ! Tuan tahu saya bisa melihat kebahagiaan ketika tuan Alex sedang menatap kehamilan nyonya Narra . Tuan Alex sangat mengharapkan kehadiran cucunya . Anak itu beruntung walaupun ibu dan bapaknya tidak menginginkannya tapi ada kakek yang akan mencintainya sepenuh hati "


" Jaga mulutmu !! "


" Koreksi jika memang ada kata kata saya yang salah ... "


' Aku ingin kembali ke kamar .. "


Terra tidak ingin ditempat itu lebih lama , mendengar semua kata kata wanita itu membuat dadanya terasa sesak .


la diam selama ini karena memang tidak ingin .menggali semua obrolan itu karena semua yang di bicarakan wanita itu adalah benar walaupun ia telah berusaha untuk menyangkalnya .


" Baik akan saya antarkan tuan "


Luna mendorong kursi roda itu menuju ke kamar Terra . Dia menghentikan langkahnya ketika melewati ruang baca milik Alex karena ia melihat pria tua itu sedang tertidur dengan posisi duduk dan mendekap sebuah buku .


Begitupun Terra , hatinya tersentil melihat sang ayah seperti itu . Dia baru menyadari tubuh itu terlihat semakin rapuh . Dan tubuh rapuh itu yang selama ini berjuang keras untuk semua kebahagiaannya .


Selama ini dia selalu berpikir bahwa dialah yang paling menderita . Dia merasa di hina dan tersingkir , dia merasa hidup tak pernah berpihak padanya .


Dan apa yang ia lakukan untuk membalasnya ? Tidak ada . Dia terlalu sibuk dengan memikirkan bagaimana cara untuk membalas dendam . Dia terlalu sibuk untuk meraih apa yang. dia inginkan .


Tanpa pernah berusaha mengerti tentang apa yang ayahnya inginkan , apa yang bisa membuat tubuh renta itu bahagia .


" Jalan !! "


Luna kembali mendorong kursinya menuju kamar Terra . Setelah sampai ia membantu Terra untuk berbaring di ranjangnya .


" Apa dada tuan masih sangat sakit ? "


" Sedikit ... "


" Anda harus belajar menggerakkan lengan ataupun bagian lain agar otot dada anda tidak terlalu kaku . Kita juga harus meminta dokter untuk memastikan tulang dada anda sudah sembuh atau belum "


" Aku tidak butuh dokter !! Aku sudah baik baik saja "


" Kita bukan ahlinya tuan , biarkan dokter yang memeriksa agar lebih pasti "


" Tapi aku tidak mau !! "


" Atau jangan jangan anda memang sengaja sakit lebih lama agar bisa bersama dengan saya ?! " kata Luna sambil melipat kursi roda dan ditaruhnya di pojok kamar .


" Besok panggil dokter !! "


Luna tersenyum lebar , laki laki keras kepala itu kadang sifatnya seperti melebihi anak anak . Terra selalu tidak mau terlihat lemah di depannya , pria itu selalu memasang wajah garang jika ada di dekatnya .


Tapi Luna tahu jauh di dalam hati pria kaku itu sudah bisa sedikit menerima setiap kata katanya. Terbukti dengan sikap pria itu yang tak lagi membanting sesuatu jika sedang menginginkan sesuatu .


Sedikit demi sedikit pria itu juga mau menanggapi kata katanya . Tatapan matanya juga tidak semengerikan dulu lagi , dulu tatapan itu seperti ingin menghabisi orang di depannya .


Kadang pria itu juga menatap penuh arti jika kebetulan Narra sedang turun untuk mengambil sesuatu di dapur . Usia kandungan yang semakin besar membuatnya mudah sekali lapar .


Selama sakit ia belum pernah lagi bertatap muka atau menyentuh wanita itu . Mungkin pikirannya sudah tidak waras ! Tapi ia berpikir cukup sampai disini , ia ingin melepaskan wanita masa lalunya itu .


Terra ingin terbebas dari sakitnya belenggu masa lalu . Dia ingin membalas semua yang telah di lakukan sang ayah untuknya . Sekarang dialah yang bertugas untuk membahagiakan pria renta itu apapun caranya .