
Pukul setengah enam pagi Cilla bergegas turun ke halaman belakang. Jam tiga dini hari tadi hujan deras mengguyur kota Jakarta, saat Cilla sempat terbangun karena ingin ke kamar mandi.
Hatinya langsung gelisah dan sulit memejamkan matanya kembali karena khawatir kencan hari keduanya dengan Arjuna batal.
Semalam Cilla sudah memastikan pada Arjuna kalau ia masih sanggup diajak jalan-jalan naik motor oleh Arjuna. Mau dibawa ke daerah pantai atau pegunungan, bagi Cilla tidak masalah yang penting bisa pergi naik motor berdua dengan calon suaminya itu.
Cilla mengulurkan tangannya untuk mengecek apakah tetesan air hujan masih turun membasahi bumi. Senyumnya langsung merekah saat tidak ada setitik airpun membasahi telapak tangannya yang terbuka dan dari balik awan yang tebal, cahaya matahari mulai terlihat meski belum sepenuhnya bersinar.
“Sedang apa noni ?” sapa Bik Mina yang sempat mengernyit saat melihat anak asuhnya sedang berdiri di halaman belakang dengan tangan terulur dan wajah menengadah ke langit.
Cilla menoleh dan mendapati Bik Mina sudah berdiri di bawah pembatas tudung teras belakang.
“Berdoa semoga hari ini cuaca cerah dan Cilla tetap bisa jalan-jalan naik motor sama Mas Juna,” sahut Cilla dengan bias wajah bahagia.
Bik Mina ikut melebarkan senyumnya. Hatinya ikut bahagia melihat perubahan anak asuhnya ini semakin membaik beberapa minggu terakhir ini. Meski di sisi lain hatinya sedih, saat mengetahui keadaan kesehatan majikannya bertambah buruk, namun Bik Mina harus tetap terlihat tegar. Lagipula sesuai perkataan papi Rudi padanya dua minggu yang lalu, beliau sudah tidak terlalu khawatir jika harus meninggalkan Cilla dalam waktu dekat karena sudah ada Arjuna yang akan menjadi calon suaminya dan tante Siska sebagai keluarga terdekat mereka.
Saat itu, Pak Trimo bahkan sempat diminta datang oleh papi Rudi. Kedua pelayan setia di keluarga Dharmawan menerima amanah pesan untuk tetap menjadi orangtua angkat Cilla. Papi Rudi menceritakan semua tentang kondisi kesehatannya dan bagaimana dokter sudah menyerah secara medis. Semua tinggal bergantung pada kehendak yang di atas.
“Bibi ikut mendoakan supaya hari ini jadwal kencan noni dan Den Juna bisa tetap berjalan,” ujar Bik Mina sambil memberikan jempol dan senyuman keibuannya.
“Bik,” Cilla mendekati wanita yang sudah membantu mengasuh Cilla sejak lahir. “Kalau menurut bibi sama pak Trimo, apa Mas Juna benar-benar mencintai Cilla atau terpaksa menerima Cilla karena disuruh sama papa Arman ?”
Cilla merangkul lengan Bik Mina dan bersandar pada bahu wanita itu. Bukan hanya kali ini Cilla melakukannya, di saat hatinya sedang gundah dan merasa membutuhkan tempat untuk bersandar, Bik Mina-lah orang yang selalu ada di dekatnya.
“Tentu saja, Non. Kelihatan banget kalau Den Juna itu sangat mencintai Noni. Tapi siap-siap saja, kalau bibi lihat Den Juna itu juga cowok yang pencemburu,” ujar Bik Mina sambil tertawa pelan.
Cilla tertawa dengan hati bahagia. Sepertinya bukan hanya Arjuna yang pencemburu, tapi diam-diam Cilla juga sering merasa tidak nyaman saat ada siswi di sekolah terlalu dekat dengan Arjuna,
“Cilla balik ke kamar dulu, Bik, mau siap-siap dan dandan yang cantik biar mata Mas Juna tetap balik ke Cilla setelah melihat yang lebih cantik dari Cilla.”
Bik Mina tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat Cilla tertawa. Perlahan gadis itu kembali ke dalam rumah sambil bersenandung. Bik Mina berharap kalau keceriaan itu tidak akan pernah hilang sekalipun saat papi Rudi sudah tidak bisa mendampinginya.
Sekitar jam tujuh Cilla kembali turun ke bawah untuk mengajak papi Rudi sarapan. Matanya memicing saat melihat papi Rudi sudah duduk di meja makan dengan dua orang pria. Keduanya dalam posisi memunggungi pandangan Cilla.
“Tuh, yang sudah nggak sabar dari pagi akhirnya turun juga,” ujar papi Rudi menyapa Cilla yang masuk ke ruang makan dengan langkah perlahan.
“Tambah manja memang, Pi. Seperti anak koala yang kemana- mana maunya nempel terus,” sahut salah seorang pria yang duduk sambil terkekeh.
“Jadi sekarang berubah lagi bukan anak bebek ? Ganti jadi anak koala ?” Cilla dengan wajah cemberut dan kedua tangan di pinggang mendekati Arjuna yang ternyata sudah tiba.
Om Budi yang duduk di samping Arjuna ikut tersenyum melihat putri bossnya itu mengomel pada calon suaminya.
“Sama calon suami pagi-pagi udah ngomel,” ledek papi Rudi. “Bukannya dikasih sapaan pagi dan morning kiss.”
“Tuh dengar nasehat orang tua,” ledek Arjuna sambil mencibir dan tertawa.
“Calon suaminya juga datang nggak kasih tahu, nggak suruh panggil calon istrinya dan diajak sarapan bareng, malah ditinggal makan duluan,” sahut Cilla dengan ketus sambil melirik piring Arjuna yang sudah terisi nasi goreng.
“Calon suaminya kelaparan,” sahut Arjuna sambil beranjak bangun. “Soalnya diminta papi datang kemari lebih pagi. Ada yang bilang calon istrinya susah tidur menunggu matahari keluar dari subuh tadi.”
Arjuna mencubit kedua pipi Cilla dan menggoyang-goyangkan wajah gadis itu. Semua yang duduk di meja makan bahkan Bik Mina yang baru saja mengantarkan segelas air jeruk untuk Cilla ikut tertawa melihat wajah Cilla yang terlihat lucu karena cemberut.
“Belum juga jadi suami, mata-matanya sudah banyak banget di rumah ini,” gerutu Cilla.
“Udah ngambeknya jangan kelamaan. Katanya mau jalan-jalan naik motor. Papi sudah kasih pinjam nih motor kesayangannya.” Arjuna memperlihatkan kunci motor yang sudah diberikan oleh papi Rudi.
Arjuna pun menuntun Cilla menuju kursi di sebelah papI Rudi bahkan menarikan kursi untuk diduduki oleh Cilla.
“Papi mau kemana sama Om Budi ?” Cilla menoleh menatap papi Rudi setelah ia sudah duduk dan mulai menikmati sarapan nasi gorengnya.
“Ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum besok ditinggal ke Singapura. Kan om Budi akan papi ajak juga untuk menemani,” jelas papi Rudi.
Duapuluh menit kemudian, semuanya sudah beranjak dari ruang makan dan berdiri di teras depan.
Bukan hanya Bang Dirman yang sudah siap di samping mobil dan akan menjadi sopir papi hari ini, tapi motor papi Rudi juga sudah diparkir depan teras dalam kondisi kinclong dan siap digunakan. Rupanya Bang Dirman sudah mempersiapkan semuanya sesuai dengan instruksi papi Rudi.
Papi Rudi dan om Budi jalan duluan diantar oleh Bang Dirman. Entah kemana Cilla juga tidak menanyakan detailnya. Cukup tahu kalau kepergian papi menyangkut masalah pekerjaan.
Arjuna membantu Cilla memakai jaket dan helm sesaat setelah papi Rudi berlalu. Tujuan hari ini adalah pantai, tapi Arjuna tetap minta Cilla menggunakan celana panjang karena mereka akan berpergian dengan motor. Ia meminta Cilla membawa baju ganti dalam tas ransel yang sudah disiapkannya.
“Boleh peluk ?” tanya Cilla saat keduanya sudah duduk di atas motor.
“Bukannya memang tujuan kamu ajak naik motor biar bisa peluk-peluk Mas Juna ? Nanti kalau Mas Juna bilang nggak boleh, mau langsung ngambek ?” ledeknya sambil tertawa.
“Basa-basi doang sih,” sahut Cilla sambil terkekeh. “Dikasih ijin atau nggak, Cilla akan tetap maksa peluk Mas Juna kayak begini.”
Kedua tangan Cilla langsung memeluk pinggang Arjuna, bahkan kepalanya sempat ia senderkan ke punggung pria itu.
“Dasar anak bebek ganjen, ya ! “ ledek Arjuna. “Segitu cintanya sama Mas Juna sampai pengen peluk-peluk kayak begini ?”
“Masih untung Cilla ngidamnya pengen peluk Mas Juna, kalau mendadak kepinginnya dibonceng Jovan dan peluk-peluk dia, memangnya Mas Juna kasih ijin ?” tanya Cilla sambil terkekeh.
“Awas kalau berani coba-coba !” ancam Arjuna sambil melirik dengan tatapan tajam. Cilla tergelak. “Lagipula memangnya kamu lagi hamil pakai ngidam segala ? Diapa-apain juga belum, dicium bibir aja baru sekali, masa langsung ngidam aja ?”
Cilla tergelak, mempererat pelukannya di pinggang Arjuna dan sempat menyandarkan kembali kepalanya di punggung Arjuna.
“Ayo jalan calon suami, kebanyakan ngobrol nanti kencannya nggak jadi-jadi. Calon istri sudah nggak sabar mau menikmati angin sepoi-sepoi menerpa wajah.”
Arjuna tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia pun menyalakan motor dan perlahan meninggalkan halaman rumah Cilla menuju wisata pantai.
“Kok jadinya kemari ?” protes Cilla saat motor Arjuna berhenti untuk membeli tiket masuk kawasan pantai Ancol. “Kenapa nggak cari yang jauhan ?”
Arjuna hanya diam saja dan membayar semua biaya tiket masuk lalu melajukan kembali motornya menuju kawasan pantai.
“Nggak mau turun ?’ tanya Arjuna setelah memarkir motornya dan melepas helm.
“Kok jalan-jalannya dekat banget ? Memangnya nggak ada tempat lain selain di sini ?” tanya Cilla dengan bibir mengerucut. “Baru juga tigapuluh menit naik motornya.”
“Jadi nggak mau turun ? Kalau begitu kita balik ke rumah saja,” Arjuna sudah mengambil kembali helmnya namun cepat-cepat Cilla mencegahnya.
“Eh jangan pulang dong,” Cilla menahan lengan Arjuna. “Cilla mau turun, jangan pulang lagi. Kalau ke sini terlalu dekat, naik motornya nggak bisa lama-lama.”
Cilla sudah berdiri di samping motor, tidak lama Arjuna ikut turun juga dan membantu Cilla melepaskan helmnya. Tanpa bicara apa-apa, Arjuna berjalan membawa kedua helm mereka ke tempat penitipan yang ada di area parkiran.
“Mas Juna marah sama Cilla ?” sambil berlari kecil, Cilla menyusul Arjuna yang sudah berjalan menuju ke arah pantai setelah selesai dengan urusan helm.
“Sekarang lagi musim hujan, Cil. Semalam aja deras banget, resiko kalau pergi jauh-jauh naik motor. Butuh waktu hampir lima jam ke pantai lain yang terdekat dengan Jakarta, itu pun kalau nggak pakai berhenti karena hujan. Mas Juna nggak mau Cilla sakit pas diajak papi liburan, apalagi Mas Juna kan nanti jauh dari Cilla.”
Perasaan galau yang tadi sempat melanda hati Cilla mendadak jadi berbunga mendengar ucapan Arjuna yang ternyata mengkhawatirkannya.
“Sorry ya kalau Cilla suka protes,” Cilla berdiri di depan Arjuna sambil memegang kedua lengan calon suaminya itu. Matanya sengaja mengerjap-ngerjap dengan senyuman yang juga sengaja menggoda Arjuna.
“Ternyata kamu benar-benar anak bebek sejati yang bawelnya suka gemesin,” Arjuna mengatupkan kedua bibirnya sebagai ekspresi gemas menatap Cilla. Tangannya kembali mencubit kedua pipi anak bebek kesayangannya.
“Jadi sebetulnya Cilla anak bebek atau anak koalanya Mas Juna ?” Cilla kembali mengerjap dan memasang tampang imutnya dengan tangan Arjuna masih mencubit kedua pipinya.
“Kamu calon ibunya anak-anak bebek yang suka nemplok kayak koala,” bisik Arjuna dengan suara yang sengaja dibuat sedikit mendesah di telinga Cilla.
Spontan wajah Cilla memanas dan merona membuat Arjuna malah terbahak. Sebelum jadi pacar, Arjuna-lah yang sering wajahnya dibuat merah karena kesal pada Cilla yang selalu menjawab ucapannya dengan kalimat-kalimat yang sulit dibantah.
Ternyata setelah resmi menjadi tunangan, gadis pemberani yang bawel ini begitu mudah malu-malu meong setiap kali Arjuna melontarkan kata-kata manis untuk calon istrinya.
Arjuna tergelak sambil mengacak-acak poni Cilla yang wajahnya makin tersipu dan merona.