
Mobil kembali meneruskan perjalanan namun suasana terasa berbeda. Sementara si biang masalah malah memasang earphone sebelum menyenderkan kepala dan memejamkan matanya.
Cilla memutar otak untuk membuat suasana kembali menyenangkan.
“Om-om pada suka duren kan ?” Cilla memiringkan posisi badannya hingga bisa menatap semuanya dan membuka pembicaraan.
“Memangnya kamu mau traktir kita makan duren sepuasnya ?” Tanya Theo dan diangguki oleh Cilla.
“Daerah Gunungpati itu lumayan terkenal dengan pembibitan duren, Om. Ada beberapa tempat yang memang dijadikan untuk wisata kuliner makan duren, jadi kita bisa menikmati duren di tengah-tengah perkebunannya. Musim panen besarnya biasa di bulan November sampai Januari. Kalau di bulan Juni-Juli kurang banyak, tapi tetap ada saja yang jualan. Selain pembibitan duren, ada juga perkebunan lengkeng. Lengkeng lokal bentuknya lebih kecil, Om, tetapi manis dan legitnya nggak kalah dibandingkan dengan lengkeng Bangkok.”
“Kayaknya wisata kita kali ini bakal berkesan,” ujar Boni. “Bukan cuma pengalaman baru, tapi bisa makan gratis plus pemandu imut yang cantik.”
“Huuhhhh !” Teriak Luki, Erwin dan Theo bersamaan.
“Maunya elo tuh gratis ! Bayarlah nanti sama Cilla !” Luki melotot sambil menoyor kening Boni.
“Memangnya kita cowok apaan, semuanya minta gratis,” Erwin mulai dengan gaya konyol dan gemulainya.
“Anjir, geli gue Win,” ujar Theo sambil menggedikan bahunya.
Cilla tertawa melihat kelakuan empat cowok itu. Meski Arjuna masih asyik sendiri, paling tidak empat sahabatnya sudah mulai bersikap biasa lagi.
“Om Boni giliran mau dapat yang gretong, bilang Cilla cantik. Giliran semalam numpang kenalan sama Kak Mimi musti bayar pakai tahu serasi,” Cilla mencebik pada Boni.
“Lagian ganggu orang pacaran aja,” sahut Boni balas mencibir.
“Eh beneran kamu udah kenalan sama pacarnya papa bucin ?” Tanya Theo.
Cilla tertawa. “Keren juga panggilannya Om Boni, papa bucin.”
“Semalam gue lagi asyik-asyik pacaran sama Mimi, nih bocil main serobot aja. Berduaan malah gosip.”
“Diihh siapa yang gosip, cuma kenalan doang. Lagian upah kenalannya kan udah dibayar lunas.”
“Cakep nggak Cil, pacarnya Boni ?” Luki melirik Boni dengan tatapan meledek.
“Cakep dong Om, makanya Cilla tanya kok mau sih sama Om Boni yang ndut-ndut gimana gitu.” Cilla terkekeh dan Boni langsung melotot menatapnya.
“Mati lo Bon… Si Mimi mulai diracunin sama bocil,”
Erwin jadi ngakak mendengar omongan Cilla.
“Nggak ngaruh ! Mimi udah cinta mati sama gue,” sahut Boni dengan pongah.
“Yakin lo Mimi cinta mati ?” Ejek Luki. “Bentaran lagi alamat komplain, soalnya yang pacaran paling lama malah keduluan Dono dan Wiwik,” sambung Luki sambil mencibir.
“Tunggu aja tanggal mainnya. Yang penting elo orang harus nabung ya dari sekarang,” Boni menatap sahabatnya satu-satu. “Gue sama Mimi nggak terima uang receh.” Bonu tergelak.
“Dasar matere !” Luki menoyor kepala Boni.”Nih gue cicil dari sekarang.”
Luki mengeluarkan selembar uang duaribuan dari kantong celana pendeknya. Boni melotot dan mencibir.
“Ngakunya kepala divisi, masa cicilan buat kawinan sahabatnya cuma duaribu.”
“Eh bambang, kagak ada duaribu nggak jadi seratus ribu, cuma sembilanpuluh delapan ribu,” tukas Luki. “Lagian kan ada pepatah sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.”
“Bapak kepala divisi, kalau sedikitnya duaribu kapan itu bukit bisa jadi ? Harga telor kemarin sama hari ini aja bedanya bisa lebih dari duaribu perak. Terus kapan bukit elo jadi ? Pas gigi elo ompong semua, bukitnya aja baru jadi setengah.”
Cilla dan Theo terbahak mendengar perdebatan Boni dan Luki, sementara Erwin di paling depan hanya geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum.
Arjuna ? Tidak berubah dengan posisi awalnya, malah sekarang terbatuk tiba-tiba.
Tidak ada yang tahu kalau earphonenya tanpa musik apa-apa. Sejak tadi ia mendengar semua percakapan di mobil itu. Pura-pura batuk ? Arjuna hampir saja kelepasan ikut tertawa. Bisa jatuh harga diri kalau para sahabatnya tahu bahwa sejak tadi Arjuna cuma pura-pura memejamkan mata. Jadi untuk menutupi tarikan bibirnya, Arjuna memilih pura-pura batuk.
Hingga tidak terasa, mobil sudah sampai di depan rumah sederhana khas pedesaan di Jawa.
Sepasang suami istri baya berdiri menanti pintu mobil terbuka.
“Jun, bangun. Udah sampai,” Theo menepuk bahu Arjuna yang masih pura-pura memejamkan mata.
Masih meneruskan dramanya, Arjuna mengerjapkan mata seolah-olah memang habis bangun tidur. Ia pun merapikan earphonenya sebelum membuka pintu. Di depan Erwin sudah turun duluan dan menganggukan kepala pada sepasang suami istri itu.
“Pak Trimo, Bik Mina,” Cilla yang turun terakhir langsung menyapa dengan wajah sumringah.
Dihampirinya kedua orangtua itu, mencium tangan dan memeluk keduanya sekaligus.
Bik Mina yang sudah diberitahu tentang tambahan tamu lima pria kenalannya dan satu sopir terlihat biasa saja, sementara Pak Trimo masih menelisik satu persatu para pria itu dengan dahi berkerut.
Kelima pria yang masih berdiri di posisinya, menunggu sampai Cilla selesai menyapa si pemilik rumah.
“Pak Trimo,” panggilan Cilla memutus tatapan Pak Trimo yang masih dipenuhi tanda tanya.
“Ini semua sahabat baru Cilla. Nemu di jalan Ambarawa, sepertinya mereka Lima Pandawa yang kesasar di tanah Jawa,” celoteh Cilla sambil terkekeh.
Pak Trimo makin bingung dan mengernyit menatap Cilla minta penjelasan.
“Kamu kok berani-beraninya ajak orang asing semobil sama kamu ?” Pak Trimo akhirnya buka suara tidak mampu lagi menahan rasa penasarannya.
Bik Mina geleng-geleng kepala lalu menepuk bahu suaminya.
“Bapak kayak nggak kenal anakmu yang satu ini. Percaya aja kalau den bagus ganteng-ganteng begini dipungut di jalan..”
Cilla tertawa begitu juga dengan Bik Mina. Selain Arjuna, keempat pria itu saling bertatapan dan bingung harus bicara apa.
“Den bagus ini semua gurunya Cilla di sekolah, Pak,” terang Bik Mina.
“Eh nggak Bik, yang guru Cilla cuma yang itu,” Cilla menunjuk Arjuna. “Sisanya ini sahabatnya Pak Arjuna juga kenalannya Pak Dono, guru Cilla yang menikah di Ambarawa.”
Pak Trimo manggut-manggut dan Bik Mina kembali geleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang suka curiga.
Cilla memberi isyarat pada Boni yang sedang menatapnya untuk memperkenalkan diri pada pemilik rumah. Satu persatu mereka bersalaman dan memperkenalkan diri.
“Jadi ini gurumu beneran, non ?” Pak Trimo belum melepas jabatannya, memandang Arjuna dengan tatapan menyelidik.
“Iya, Pak. Gimana cocok nggak ?”
Pak Trino menyipitkan matanya menelisik wajah Arjuna, membuat pria itu jadi salah tingkah sementara keempat sahabatnya malah cekikikan di belakangnya.
“Nggak cocok,” Pak Trimo menggeleng. “Nggak cocok jadi gurumu, non. Cocoknya jadi suami kamu.”
Jedeerr…
Spontan keempat sahabat Arjuna langsung ngakak, Cilla dan Arjuna membelalak dengan wajah memerah, dan Bik Mina senyum-senyum melihat tingkah Cilla dan Arjuna yang tersipu malu.
Suasana canggung sempat berlangsung beberapa menit diiringi gelak tawa para pria yang menertawakan Arjuna yang jadi salah tingkah. Akhirnya Cilla mendekat ke arah Pak Trimo dan Arjuna yang masih bersalaman.
“Jangan dilihatin lama-lama, Pak Mo,” Cilla memutus jabatan tangan keduanya. “Katanya mau buat calon suami, kelamaan dilihatin sama Bapak nanti meleleh. Kalau mukanya jadi penyok-penyok, Cilla nggak mau jadiin calon suami.”
Pak Trimo senyum-senyum mendengar ucapan Cilla sememtara Arjuna menoleh menatap Cilla tajam dan tangannya gatal ingin menjewer telinga calon muridnya.
Keempat sahabat laknatnya ? Masih terpingkal melihat Cilla kembali pada mode jahilnya sama Arjuna. Erwin bahkan memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
“Jangan kesal-kesal, Den Bagus,” ucap Pak Trimo pada Arjuna. “Nanti yang menyebalkan malah dijadikan istri beneran sama Yang di Atas,” lanjutnya sambil terkekeh.
Blushh.
Wajah Arjuna tambah memerah. Kenapa juga semua orangtua mulai dari Pak Wahyu, Pak Slamet, Pak Darmawan dan sekarang Pak Trimo, mendoakan supaya Arjuna jadi pasangan hidup dengan Cilla.
Arjuna melengos kesal dan mengikuti Cilla yang masuk duluan sambil merangkul Bik Mina dan Pak Trimo.
“Udah dapat restu dari para tetua, Jun. Sudah dipastikan bakal jadi pernikahan yang abadi,” ledek Luki yang langsung merangkul bahu sahabatnya.
“Pesta tujuh hari tujuh malam dong, Jun. Pernikahan akbar dua penerus konglomerat tahun ini,” timpal Erwin.
“Lumayan lah kalo Juna beneran sama Cilla, udah nggak butuh hadiah apalagi amplop,” Boni ikut berkomentar.
“Awas jatuh kalau halu ketinggian,” Arjuna mencebik dan menyahut dengan wajah ditekuk. “Tunggu matahari tukeran sama bulan kalau ngarep gue jadian sama tuh anak.”
“Hati-hati omongan lo Jun !” Ujar Theo sambil geleng-geleng kepala sambil tersenyum mengejek. “Kalo elo sampai jadi beneran, gue orang pertama yang bakal balurin air comberan ke muka elo, biar ketutup tuh malu elo. Udah menghina dia, akhirnya malah jadian.”
Boni, Luki dan Erwin kembali tergelak. Arjuna menggerutu tidak jelas sementara Theo kembali geleng-geleng kepala.