
“Udah kenyang atau mau cari makanan lagi ?” tanya Arjuna saat keduanya berjalan menuju parkiran mobil.
“Memangnya habis ini Mas Juna mau ajak Cilla kemana ?” tanya Cilla dengan wajah mendongak menatap Arjuna yang sedang menggandengnya.
“Mas Juna sudah beli tiket bioskop. Mau nonton ?”
“Seriusan ? Memangnya tiket bioskop bisa dibeli sehari sebelumnya ?” tanya Cilla dengan wajah bingung.
Arjuna hanya tertawa dan membukakan pintu untuk calon istrinya.
“Jadi berasa punya pacar beneran karena bisa kencan kayak begini. Biasanya Cilla hanya dengar cerita teman-teman yang sudah punya pacar. Kalau Febi dan Lili belum pernah punya pacar,” ujar Cilla dengan wajah berbinar.
“Memangnya selama ini Mas Juna terasa seperti pacar bohongan ?” tanya Arjuna sambil tertawa pelan dan mulai membawa mobilnya menuju salah satu mal.
“Jadi kalian bertiga itu sebenarnya jones juga, ya ?” ledek Arjuna sambil tertawa.
“Baru juga kelas duabelas, mana bisa dibilang jones kalau belum punya pacar. Kalau om-om temannya Mas Juna kan usia sudah duapuluh lima ke atas tapi belum punya pacar,” sahut Cilla sambil mencibir.
“Tapi Mas Juna nggak pernah masuk di dalamnya,” ujar Arjuna terkekeh.
“Itu karena Mas Juna sama Om Boni terlalu ganjen dan kurang eksplor. Pacarannya sama teman sekolah juga, nggak kreatif,” sahut Cilla sambil tertawa pelan.
“Memangnya kamu kreatif ? Calon suami hasil pilihan orang tua dan perjodohan. Persis seperti Siti Nurbaya,” ledek Arjuna.
“Iiih memangnya Mas Juna mau jadi Datuk Maringgihnya ? Kan Siti Nurbaya menikahnya sama Datuk Maringgih, bukan sama Samsulbahri, cinta sejatinya. Kalau Cilla kan menerima perjodohan karena Mas Juna cintanya Cilla, bukan karena paksaan.”
“Oh jadi beneran cinta sama Mas Juna, nih ?” Arjuna masih meledek Cilla sambil tertawa. “Kayak dapat durian runtuh mendengar pernyataan cinta dari calon istri.”
“Mana ada orang bahagia tertimpa durian runtuh. Yang ada malah berdarah dan kesakitan,” sahut Cilla sambil mencibir.
“Mas Juna yakin nilai Bahasa Indonesia kamu pasti di bawah KKM. Istilah bahasa kok diartikan secara harafiah.”
“Mentang-mentang status masih guru, ngomongnya nggak jauh-jauh dari KKM. Sebentar lagi balik jadi CEO ngomongnya strategi dan pengembangan usaha, nih,” gantian Cilla meledek Arjuna sambil tertawa.
Tidak terasa ternyata mobil Arjuna sudah terparkir di gedung parkiran sebuah mal yang posisinya tidak jauh dari letak bioskop.
Cilla memicing saat melihat Arjuna mengambil topi dan memakai masker sebelum mereka turun dari mobil.
“Maaf ya, Mas Juna harus berpenampilan seperti ini. Kalau pergi ke bioskop biar jauh dari sekitar sekolah dan rumah, kemungkinan bertemu teman kamu sama besarny dan jangan sampai nanti kamu digosipin yang nggak enak.”
Cilla mengangguk sambil tersenyum. Tidak lama ia kembali memegang dadanya.
“Kenapa deg deg kan lagi melihat Mas Juna berpenampilan kayak begini ?” ledek Arjuna sambil tertawa di balik maskernya, apalagi saat melihat Cilla mengangguk.
“Jadi berasa jalan sama Song Joong-Ki beneran. Kalau di tabloid atau medsos, bintang film yang pacaran di tempat umum pakai topi dan masker biar nggak kena paparazzi.”
Arjuna kembali tertawa dan mengacak-acak rambut Cilla, sementara gadis itu masih senyum-senyum dengan ekspresi wajah yang sulit digambarkan.
Arjuna kembali menggandeng lengan Cilla memasuki area mal.
“Nggak apa-apa kalau ada yang lihat Cilla digandeng begini ?” tanya Cilla dengan suara berbisik.
“Kan Mas Juna pakai masker dan topi, jadi orang nggak bakal kenal.”
Cilla mengangguk sambil senyum-senyum. Ia melepaskan tangan Arjuna dan pindah bergelayut di lengan pria itu.
“Mumpung nggak ada yang kenal sama Mas Juna, Cilla mau cobain jalan sama pacar dengan gaya begini.”
Arjuna hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, namun membiarkan Cilla bergelayut manja di lengannya. Memang beda rasanya pacaran dengan abege yang pertama kali merasakan punya kekasih. Sebagian sikap kanak-kanaknya masih bisa terlihat.
Cilla kembali memicingkan mata saat memasuki arena bioskop, seorang pria menghampiri Arjuna. Ada perasaan khawatir di dalam hatinya karena belum pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya.
Pria seumuran dengan tinggi badan seperti Arjuna, hanya saja rahangnya lebih kotak dibandingkan dengan wajah Arjuna yang agak oval.
“Kenalkan ini Tino,” ujar Arjuna sambil menatap Cilla, memperkenalkan pria yang menghampiri mereka. “Tino ini asisten pribadiku di perusahaan papa. Nanti Tino juga yang akan menemani aku lembur selama bekerja di perusahaan papa. Bukan ulet keket yang biasanya ada di tikungan,” lanjut Arjuna sambil terkekeh.
“No, kenalin ini yang namanya Cilla. Gue sampai lupa undang elo pas kemarin ini,” gantian Arjuna memperkenalkan Cilla pada Tino.
“Dasar memang teman laknat. Ingat gue kalau lagi ada butuhnya doang, kayak gini nih,” omel Tino sambil mengulurkan dua tiket bioskop yang sudah dibelinya atas permintaan Arjuna.
Arjuna tertawa dan menangkup dua tangannya di depan wajah sebagai tanda permintamaafan pada Tino sekaligus terima kasih karena asisten merangkap sahabatnya itu membelikan tiket dulu saat ia dan Cilla makan malam.
“Cilla,” Cilla pun memperkenalkan diri dengan senyuman yang tidak kalah manisnya dari Tino.
“Jangan terlalu lama jabatan sama senyumnya,” Arjuna melepaskan jabatan tangan Cilla dan Tino. “Dia ini masuk dalam pasukan jones juga.”
“Diih sombongnya yang sekarang sudah punya calon istri,” cebik Tino.
“Eh kok tahu ?” Arjuna mengangkat kedua alisnya.
“Darimana lagi kalau bukan dari big boss. Bokap elo kagak habis-habisnya cerita sambil ketawain kelakuan elo yang kabur saat mau dikenalin, eh malah kepentoknya sama cewek yang ditinggal kabur.”
“Si**lan lo !” omel Arjuna dengan wajah cemberut. “Elo kira kisah hidup gue itu berita gosip di tabloid ?”
Cilla tertawa melihat wajah Arjuna yang berubah kesal. Jadi masalah calon suaminya ini kabur bukan hanya diketahui para sahabatnya yang tergabung dalam Lima Pandawa, tapi sebagian karyawan perusahaan papa Arman juga tahu tentang masalah itu.
“Siapa lagi yang tahu selain elo ?” tanya Arjuna dengan nada ketus.
“Para sekretaris dan asisten elo dan Pak Arman,” sahut Tino di sela-sela tawanya.
“Udah dong Mas Juna, lagi kencan sama calon istri masa cemberut begitu. Yang penting berita itu bukan gosip, tapi kan benar memang Mas Juna kabur dan larinya malah ke hati Cilla.” Cilla menepuk-nepuk bahu Arjuna pelan.
“Wah gue mau juga nih dijodohin sama cewek model begini. Apa Pak Arman masih punya stok ?” ledek Tino sambil tertawa.
“Cari sendiri,” omel Arjuna. “Nggak boleh ganggu punya gue !”
“Dih posesifnya Bapak Arjuna,” ledek Tino sambil mencibir.
“Cilla nggak punya kembaran apalagi foto copyan. Elo usaha sendiri dan jangan coba-coba merayu calon istri gue !” Mata Arjuna sudah melotot menatap Tino yang masih menertawakannya.
“Nanti Cilla kenalin sama dua sahabat Cilla, Om. Tinggal pilih mau yang mana.”
“Om ?” Tino menghentikan tawanya dan dahinya langsung berkerut menatap Cilla. “Eh bocil, gini-gini gue masih lebih muda setahun dari calon suami elo. Masa udah dipanggil om ? Kakak aja gimana ?”
Gantian Arjuna tertawa sambil mencibir meski tertutup oleh masker.
“Jangan dirubah Cil, tetap panggil cowok ini dengan sebutan om aja. Biar usianya lebih muda dari Mas Juna, tapi berewoknya bikin dia sepuluh tahun lebih tua,” ledek Arjuna.
“eh si**lan nih boss !” omel Tino dengan wajah memberenggut. “Berewok gue nggak bikin kelihatan tua, tapi maskulin.” Tino mengusap wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus di seputaran dagunya hingga mendekati bibir.
“Udah sana pulang. Kelamaan ngomongnya ganggu orang pacaran,” Arjuna meraih lengan Cilla dan sengaja menyenggol bahu Tino saat melewatinya.
“Dih udah dapat maunya, gue dibuang begitu aja,” gerutu Tino.
“Terima kasih Om Tino,” Cilla menoleh sebelum jauh dan mengucapkan terima kasih pada asisten Arjuna itu.
“Sama-sama Cilla manis,” ujar Tino sengaja dengan suara dibuat selembut mungkin.
Arjuna langsung menarik lengan Cilla membuat Tino tergelak melihatnya. Baru kali ini ia melihat Arjuna begitu posesifnya pada wanita yang berstatus kekasihnya. Tidak pernah melihat Arjuna bersikap seperti itu saat pacaran dengan Luna.
Sampai di dalam bioskop, Arjuna yang sudah memilih kursi paling atas dan paling pojok langsung melepas topinya dan maskernya baru akan dilepas setelah kondisi bioskop gelap semua. Cilla pun meletakkan popcorn di antara kursinya dan kursi Arjuna.
“Apa sudah sesuai dengan keinginan kamu, pacaran beneran kayak sekarang ?” tanya Arjuna dengan wajah yang cukup dekat menatap calon istrinya.
Cilla menoleh dengan wajah kemerahan. Arjuna tertawa pelan dan menarik tangan Cilla supaya merangkul lengannya.
“Kalau jantung kamu bermasalah dan membutuhkan CPR, Mas Juna nggak keberatan melakukannya di sini,” ledek Arjuna saat melihat wajah Cilla maskin bersemu karean posisi mereka saat ini.
“Itu namanya Mas Juna menang banyak,” cebik Cilla dan wajahnya kembali menatap ke arah layar bioskop biar jantungnya aman dan tidak semakin berdebar kencang.
Arjuna tertawa pelan dan akhirnya melepaskan masker saat lampu dalam bioskop sudah dipadamkan.
“Terima kasih sudah menjadi bagian hidupku. I love you,” bisik Arjuna di telinga Cilla lalu mencium pipi gadis itu sekilas.
Bulu di sekitar leher Cilla sempat bergidik sementara matanya membelalak namun ia tidak berani menoleh. Wajahnya semakin terasa panas diperlakukan begitu romantis oleh Arjuna. Cilla bahkan bisa merasakan hembusan nafas di pipinya dan wangi nafas Arjuna begitu menggoda penciumannya.
“Jadi begini rasanya punya pacar pria yang sudah matang dan jauh lebih dewasa. Tahu banget bagaimana membuat hati pacarnya melehoy dan jadi mahluk bertulang lunak dari kepala sampai ke ujung kaki,” batin Cilla dengan hati berdebar.