MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Penjelasan


Pukul tujuh malam Cilla baru sampai di rumah. Jovan sempat mengajaknya ke tempat bermain anak yang ada di mal. Soal pakaian ? Cowok itu sampai membelikan Cilla pakaian ganti demi bisa masuk ke dalam mal.


 


Papi Rudi sudah mengabarkan kalau ada keperluan mendadak keluar kota. Tadi siang sempat menelepon Cilla, tapi sayangnya tidak terjawab karena Cilla sedang sibuk menata hatinya. Akhirnya papi hanya mengirimkan pesan baru akan kembali ke Jakarta di hari Sabtu siang atau sore.


 


Perlahan Cilla membuka pintu kamarnya. Badannya terasa lelah dan gerah karena hampir seharian berada di luar rumah. Ingin cepat-cepat mandi dan merebahkan tubuh di kasur kesayangannya.


 


Matanya membelalak saat melihat ada sosok asing yang sedang tidur di ranjangnya sambil memeluk guling. Meski posisinya membelakangi pintu masuk, Cilla sudah bisa tahu siapa yang sedang tidur di sana.


 


“Mau ngapain Pak Juna di sini ?” tanyanya dengan suara keras dan galak. Kedua tangannya melipat di depan dada dan menunggu reaksi Arjuna sambil berdiri di pinggir ranjang.


 


Menunggu tidak ada reaksi dari pria itu, Cilla hanya mendengus dan memutuskan untuk mandi dulu. Hatinya  yang baru saja sedikit adem mendadak kembali panas saat melihat sumber masalah itu di depannya.


 


“Maafin Mas Juna,”


 


Langkah Cilla berhenti saat tangannya tertahan oleh pria yang ternyata tidak tidur dan sekarang sudah duduk di atas ranjang.


 


“Pak Juna belum sah jadi suami saya, jadi saya tidak suka melihat bapak ada di kamar saya, apalagi sampai tidur di atas ranjang saya,” sahut Cilla dengan suara tegas tanpa membalikan badannya. “Jadi tolong sekarang juga keluar dari kamar saya !”


 


“Mas Juna sudah ijin sama papi mau menginap di sini.”


 


“Rumah ini memang punya papi dan terserah papi kalau mau memperbolehkan orang lain menginap di sini. Tapi ini kamar saya, area privasi saya dan sepenuhnya hak saya untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak berada di kamar ini.”


 


Masih memegang tangan Cilla, perlahan Arjuna beringsut bangun dari ranjang dan akhirnya berdiri di belakang Cilla. Tangannya memegang kedua bahu Cilla namun langsung ditepis dengan kasar oleh gadis itu membuat Arjuna tercengang.


 


“Kalau Bapak ada perlu dan mau bicara dengan saya, tolong tunggu di luar. Saya mau mandi dulu. Otak saya terlalu penuh hari ini dan perlu disegarkan sebelum mendengar ocehan Bapak.”


 


Arjuna masih tercengang mendengar ucapan Cilla yang baginya sedikit kasar. Apalagi Cilla tidak lagi memanggil Arjuna dengan sebutan Mas.


 


Cilla berdiri di pintu yang sudah dibukanya. Matanya menatap tajam ke arah Arjuna dan memberi isyarat supaya pria itu keluar dari kamarnya.


 


“Apa Cilla yakin akan berbicara dengan Mas Juna malam ini dan mendengarkan penjelasan Mas Juna ?”


 


“Ucapan saya sudah jelas, Bapak keluar dan menunggu di sini, atau saya yang keluar dan Bapak tetap di sini !”


 


Arjuna menghela nafas dan menatap Cilla dengan wajah sendu, namun gadis di depannya seperti sudah mengeraskan hatinya. Arjuna pun melangkah keluar kamar Cilla dan mendengar pintu ditutup dengan keras dan anak kunci yang diputar.


 


Arjuna kembali menghela nafas dan menuruti permintaan Cilla. Entah calon istrinya itu akan menepati ucapannya atau tidak, bukan waktunya bagi Arjuna untuk tawar menawar.


 


Tigapuluh menit kemudian ternyata Cilla benar-benar turun dari kamarnya dan langsung menuju ke teras belakang. Bik Mina sempat menawarkan makan malam saat Cilla melewati ruang makan namun ditolaknya. Cilla hanya minta dibuatkan tiga gelas es jeruk kesukaannya, dua untuk dirinya sendiri dan satu untuk Arjuna.


 


Cilla duduk di salah satu kursi yang ada di teras dengan kedua kaki melipat di atas. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya, ia hanya menunggu Arjuna berbicara.


 


Arjuna mendekat dan berlutut di depan Cilla, menarik kedua tangan gadis itu yang sempat melipat di depan dada.


 


“Mas Juna minta maaf atas kejadian tadi siang. Cewek tadi itu namanya Yola, dia sekretaris sementara yang membantu Mas Juna dan Tino selama bekerja di perusahaan Papa. Yola memang adik kelas Mas Juna saat SMA dan pernah nembak Mas Juna. Tapi demi apapun, Mas Juna nggak pernah sekalipun suka sama dia. Mas Juna sendiri kaget saat melihat dia bekerja di perusahaan papa dan ditempatkan sebagai sekretaris perbantuan untuk Mas Juna.”


 


Cilla hanya diam dan menatap Arjuna dengan wajah datar dan dingin, Tidak ada reaksi apapun dan Arjuna bisa melihat aura kemarahan di dalam mata Cilla.


 


“Tadi Mas Juna baru saja menerima telepon dari kepala proyek pembangunan pabrik di Batang. Saat berbalik tahu-tahu Yola sudah di belakang Mas Juna dan langsung menarik dasi lalu mencium Mas Juna. Beneran Cilla, Mas Juna sampai kaget dengan perbuatannya. Saking kagetnya, handphone Mas Juna sampai jatuh. Cilla dan Tino masuk saat Yola baru saja mencium Mas Juna, bisa pas gitu,” Arjuna tertawa kikuk. “Dan swear Cilla, Mas Juna nggak membalas ciuman Yola.”


 


Cilla menghela nafas. Bagaimana mau bilang masalah balas membalas, kenyataannya kedua bibirnya nempel meski sampai sejauh mana, Cilla tidak memperhatikannya karena hatinya sudah keburu berantakan.


 


“Maafin Mas Juna karena lengah dan memberi kesempatan pada Yola. Ternyata dia masih penasaran sama Mas Juna dan sengaja masuk ke perusahaan papa lewat mamanya yang minta tolong pada mama.”


 


Arjuna menghela nafas. Tatapan Cilla yang dingin dan datar ini membuatnya lebih ngeri daripada celoteh gadis itu yang sering membantahnya.


Arjuna merasa takut sendiri, takut melihat luka yang begitu dalam di mata Cilla karena sejujurnya, Arjuna tidak keberatan dengan sikap manja dan kekanakan Cilla akhir-akhir ini.


 


“Dan masalah blokir nomor Cilla, itu kerjaan Yola juga. Kemarin pagi Mas Juna ada meeting sama klien. Tino dan Yola ikut juga karena sebelumnya klien ini berurusan dengan Tino. Ternyata pas Mas Juna tinggal ke toilet, diam-diam Yola mengutak-atik handphone Mas Juna bahkan tanpa terlihat sama Tino yang masih ngobrol dengan klien.”


 


Cilla menghela nafas. Ia ingat kalau membuka handphone Arjuna harus menggunakan face ID dan memang mungkin pakai password untuk cadangan keduanya. Cilla masih ingat ia pernah memaksa Arjuna menggunakan face ID saat pertama Cilla ingin meminta nomor handphone Arjuna di Pujasera.


 


 


“Maafkan kelalaian Mas Juna karena membiarkan Yola melakukan semua itu.”


 


Posisi Arjuna masih berlulut dan Cilla membuang pandangannya ke arah taman belakang. Suasana hanya hening karena Cilla masih tidak berbicara sepatah kata pun. Perlahan ia melepaskan tangan Arjuna dan mencondongkan tubuhnya ke samping Arjuna.


 


Merasa dapat angin segar karena berpikir Cilla sudah memaafkannya dan hendak memeluk Arjuna, namun beberapa detik selanjutnya, pria itu harus menelan pil pahit saat Cilla sedikit mendorong bahunya untuk mengambil gelas es jeruk yang ada di atas meja.


 


Tanpa menawari Arjuna, Cilla meneguk habis satu gelas es jeruk yang disiapkan Bik Mina. Bukan lehernya yang terasa kering tapi  hatinya yang panas dan membutuhkan minuman segar, berharap bisa menyejukan sedikt hatinya.


 


Selesai meletakkan kembali gelasnya di atas meja, Cilla menghela nafas dan menatap ke arah Arjuna masih dengan wajah datarnya.


 


“Apa masih ada lagi yang Bapak mau bicarakan dengan saya ?” tanyanya singkat.


 


Arjuna mengerutkan dahinya dan menatap Cilla dengan wajah bingung. Meski bukan yang petama Cilla bersikap datar dan kaku seperti ini padanya, namun ada getaran kecemasan lain yang memenuhi hati Arjuna.


 


“Apa Cilla nggak mau memaafkan Mas Juna ?”


 


Cilla kembali menghela nafas dan menggeleng dengan tegas.


 


“Mas Juna sudah menjelaskan semuanya dan tidak ada yang Mas Juna tutup-tutupi. Seperti itu kenyataannya dan Mas Juna berani bersumpah kalau kehadiran Yola tidak membawa pengaruh apapun dan kejadian tadi siang tidak merubah apapun.”


 


Cilla masih dalam mode diam dan menggeser Arjuna karena ia ingin bangun dan kembali ke kamarnya. Ia ingat pesan Jovan untuk mendengarkan penjelasan dari sisi Arjuna. Keputusan akhirnya bagaimana, sama seperti hakim yang menjadi perumpamaan Jovan, Cilla butuh waktu untuk mencari fakta-fakta ucapan Arjuna.


 



‘Cilla mau kemana ?” Tangan Arjuna menahannya saat Cilla sudah beranjak bangun dan hendak masuk kembali ke dalam rumah.


 


Cilla hanya menoleh sekilas  dan dengan dagunya menunjuk ke arah pintu teras. Wajah Arjuna mendadak memerah dan dahinya berkerut. Ditariknya lengan Cilla dan tangannya langsung memeluk tubuh gadis itu.


 


“Maafkan Mas Juna,” bisiknya sambil memeluk Cilla.



Tanpa disangka, Cilla berusaha melepaskan diri sesaat setelah Arjuna berbisik padanya. Tangan Arjuna menahannya dan semakin mempererat pelukannya namun Cilla semakin kuat juga memberontak.


 


Lagi-lagi Cilla ingat dengan ucapan Jovan kalau ia memiliki ilmu bela diri yang cukup lumayan. Akhirnya sekuat tenaga dengan cara yang ia pelajari dalam ilmu bela diri, Cilla berhasil melepaskan diri dan menjauhkan Arjuna dari dirinya.


 


“Cilla !” wajah Arjuna tercengang saat mendapati Cilla kembali bersikap kasar padanya.


 


“Bapak perlu belajar bagaimana cara memberi penjelasan dan minta maaf yang  benar ! Sejak awal lebih dari lima kali saya mendengar kata maaf dari Bapak, tetapi hanya ada nama Yola yang menjadi sumber masalah. Bukan minta maaf itu namanya, karena pokok kesalahan ada pada diri Bapak sendiri, orang lain hanya sebagai aktor pembantu. Bukan sekedar karena ciuman tadi siang yang membuat saya kecewa, tapi tidak ada kepedulian Bapak pada saya sampai tidak penting bagi Bapak untuk mencari kabar tentang saya atau memberi kabar Bapak pada saya. Satu setengah hari Bapak seolah menganggap saya tidak ada dalam kehidupan Pak Arjuna. Kalau saya tidak datang ke kantor Bapak, saya yakin ingatan tentang posisi saya tidak pernah terbersit dalam pikiran Bapak.”


 


“Maaf karena kemarin Mas Juna ada rapat penting dengan papi dan hampir seharian,” lirih Arjuna dengan tatapan sendu.


 


“Saya ini calon istri dan bukan karyawan yang sewaktu-waktu Bapak ingat terus dipanggil menghadap kalau sedang diperlukan. Dan saya butuh waktu berpikir ulang untuk menikah dengan pria yang menganggap pekerjaan dan karirnya lebih penting daripada istrinya dan mungkin anak-anaknya kelak. Pria yang tidak pernah menganggap wanita yang menjadi istrinya sebagai bagian penting dari hidupnya, separuh nafas dan kehidupannya. Saya memang mencintai Bapak, tapi sebagai pria yang penuh perhatian dan peduli. Ternyata seiring waktu berjalan, saya bisa melihat kepribadian Bapak yang sebenarnya. Dan saya tidak menyesal, malah bersyukur karena diperlihatkan sebelum kita terikat dalam satu janji suci pernikahan yang tidak akan mungkin saya lepaskan,” Cilla tersenyum getir.


 


Tanpa menunggu jawaban dari Arjuna, Cilla bergegas kembali masuk ke dalam dan naik ke atas menuju kamarnya lalu mengunci pintu. Tubuhnya langsung melorot di balik pintu. Cilla memegang dadanya yang kembali terasa sakit dan sesak. Dibiarkannya air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan membasahi sudut mata dan mengalir ke pipinya.


 


Hatinya harus pasrah pada rencana Tuhan. Seperti Jovan bilang, kalau memang jodoh, tidak akan lari kemana sekalipun Cilla berusaha melepaskannya.


 


 


Sementara di teras, Arjuna kembali duduk di salah satu kursi dan meraih gelas es jeruk lalu menenggaknya sampai tandas. Matanya memejam dan tarikan nafas panjang berulang kali dilakukannya.


 


Ucapan Cilla begitu menohok hatinya. Sadar kalau dirinya sudah menjadi pengecut, dipenuhi rasa takut pada pikiran yang belum tentu menjadi kenyataan. Ketakutan akan tanggungjawab yang Arjuna tidak yakin bisa dijalankannya dengan baik.


 


Arjuna menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Rasanya akan sangat berat kalau sampai Arjuna harus kehilangan Cilla. Apa CIlla tidak merasakan kalau dirinya sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Arjuna bahkan sudah menjadi separuh nafas dan kehidupannya ?


 


Arjuna mendongakan wajahnya menatap ke arah taman yang dipenuhi dengan pohon buah dan bunga. Hatinya sudah bertekad tidak ingin kehilangan Cilla.


 


Calon istrinya itu benar. Semua masalah bersumber  dari dirinya sendiri bukan orang lain. Langkah awal yang perlu Arjuna lakukan adalah menghilangkan rasa takut saat mendapati begitu banyak tanggungjawab yang sudah disodorkan kepadanya.


Ia harus mengembalikan rasa percaya drinya dan yakin kalau tugas yang diberikan oleh papa dan papi bukanlah beban yang harus dipikulnya, tapi satu jalan yang harus dilewatinya karena merupakan bagian dari tanggungjawabnya sebagai anak, menantu dan suami.


Dan Arjuna akan belajar menjadi manusia yang lebih peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya, terutama keluarganya, seperti yang selalu  Cilla ajarkan padanya selama ini.