MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Tentang Perjodohan


Berbeda dengan situasi Cilla yang sedang merasakan kebahagiaan karena akhirnya papi Rudi bisa bertemu kembali dengan keluarga mami Sylvia setelah sekian lama saling menjauh, saat ini kondisi Arjuna justru penuh ketegangan.


 


Jam 5 sore Arjuna sudah sampai di rumah keluarganya untuk menemui papa Arman dan menyelesaikan masalah perjodohan serta meminta restu atas hubungannya dengan Cilla.


 


Baru saja Arjuna turun dari ojol yang membawanya dari tempat kost, mobil papa Arman juga tiba di depan gerbang.


 


“Masuk !” perintah papa Arman tanpa basa-basi. Arjuna menurut dan duduk di kursi belakang bersama papa Arman.


 


“Muridmu itu lagi yang mengantar kemari ?” tanya papa Arman dingin tanpa menatap Arjuna.


 


“Nggak Pa, Juna naik ojol kemari,” sahut Arjuna dengan wajah masih terlihat tegang namun ia bersyukur karena papa Arman masih mengajaknya bicara.


 


Sampai di pintu utama, hanya ada seorang pelayan menunggu kepulangan papa Arman dan kedatangan Arjuna. Setelah ditanya, ternyata mama Diva sedang keluar bersama Amanda dan belum pulang.


 


“Kita bicara di teras belakang saja.”


 


Arjuna hanya mengangguk dan mengikuti papa Arman menuju teras belakang sambil memandang sekeliling rumahnya. Ada kerinduan dengan suasana rumah yang cukup lama ditinggalkannya.


 


“Masalah apa yang ingin kamu bicarakan ?” tanya papa Arman saat keduanya sudah duduk berseberangan di teras belakang.


 


Seorang pelayan sudah mengantarkan minuman dan penganan untuk papa Arman dan Arjuna.


 


“Juna ingin diberi kesempatan untuk bertemu dengan teman papa dan putrinya. Juna mohon papa memberikan ijin untuk membatalkan rencana perjodohan itu,” ujar Arjuna sambil menatap papa Arman yang menoleh ke arah lain.


 


“Kenapa ? Karena muridmu itu ?” tanya papa Arman dengan nada sinis.


 


“iya,” jawab Arjuna tanpa keraguan. “Karena Juna mencintai Cilla.”


 


Papa Arman menatap putranya dengan wajah mengejek dan tawa sinisnya.


 


“Bukankah kamu menolak tegas untuk memiliki calon istri seorang anak kecil ? Lalu apa bedanya dengan putri teman papa yang akan dijodohkan denganmu ?”


 


Arjuna terdiam sejenak dan menghela nafas panjang sambil menunduk. Ia tahu kalau papanya akan memberikan pertanyaan seperti ini.


 


“Maaf Pa, maafkan semua ucapan Juna sebelum pergi dari rumah ini. Maaf karena Juna tidak mendengarkan nasehat papa soal Luna. Maaf karena Juna kabur saat acara makan malam dengan sahabat papa, dan maaf karena Juna tidak bisa berkomitmen dengan ucapan Juna sendiri. Tapi untuk kali ini, Juna mohon berikan ijin untuk mencintai Cilla dan melepaskan kewajiban dari perjodohan itu.”


 


“Apa kamu yakin kalau murid kamu itu lebih baik daripada putri teman papa ?”


 


“Untuk masalah itu Juna tidak bisa bilang  apa-apa, Pa. Tapi meskipun anak teman papa lebih baik, Juna sudah memantapkan hati memilih Cilla.”


 


“Apa yang bisa kamu harapkan dari muridmu itu ?” tanya papa Arman dengan tatapan tajam.


 


“Kalau maksud papa harapan masa depan, Juna belum bicara apa-apa dengan Cilla. Tapi gadis itu membuat Juna merasakan hal yang berbeda bahkan belum pernah Juna rasakan saat bersama Luna dulu. Dan hanya sekedar informasi saja kalau Luna adalah mantan kakak tiri Cilla.”


 


Papa Arman tampak terkejut dan mengerutkan dahinya.


 


“Jadi mereka masih satu keluarga ? Turun ranjang maksudmu ?” tanya papa Arman sambil tersenyum sinis.


 


“Luna bukan kakak kandung Cilla, Pa. Mamanya Luna juga bukan istri sah om Darmawan, mereka hanya kawin siri dan sudah bercerai, jadi Cilla tidak ada hubungan darah dengan Luna,” tegas Arjuna karena tidak ingin papa Arman berpikiran kalau Cilla akan seperti Luna.


 


“Darmawan ?” papa Arman mengerutkan dahinya.


 


Dalam hati papa Arman yakin kalau putra sulungnya ini belum mengetahui nama yang disebutnya adalah sahabat papa Arman yang ditinggalkan oleh Arjuna malam itu.


 


“Iya, Pa. Nama papinya Cilla adalah Marcel Darmawan. Beliau pemilik sekolah tempat Juna bekerja, tapi sepertinya sekolah itu bukanlah usaha utama Om Darmawan. Juna sudah mencari tahu kalau Om Darmawan mempunyai beberapa usaha hotel dan gedung perkantoran yang disewakan.”


 


Papa Arman tersenyum tipis. Sahabatnya masih sama seperti dulu, tidak menuliskan nama tengahnya dalam data pribadinya. Marcel Rudi Darmawan.


 


“Jadi kamu merasa dengan menjadikan Cilla calon istrimu, hidupmu pasti akan terjamin bahkan dengan meninggalkan keluargamu sendiri ?” tanya papa Arman dengan tawa sinis.


 


 


Suasana hening beberapa saat. Arjuna menunggu komentar atau reaksi papa Arman, namun terlihat pria baya itu menatap ke arah taman sambil menyesap teh hangat yang disediakan oleh pelayan.


 


“Kamu tahu kenapa papa ingin menjodohkanmu dengan anak sahabat papa itu ?” tanya papa Arman tanpa menoleh ke arah Arjuna.


 


“Tidak, Pa,” sahut Arjuna sambil menggeleng.


 


“Mungkin kamu tidak akan merasakan udara kehidupan sampai hari ini kalau sahabat papa itu tidak membantu papa dan mama.”


 


“Maksud papa ?” Arjuna mengerutkan dahinya.


 


“Mama terjatuh di jalan saat mengandung kamu di bulan yang ke delapan dan mengalami pendarahan. Orang-orang langsung menolongnya dan membawa ke rumah sakit. Papa pun menyusul ke sana, dan dokter mengharuskan mama menjalani operasi caesar saat itu juga.”


 


Terlihat papa Arman menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Cangkir teh nya sudah diletakkan kembali di atas meja.


 


“Waktu itu usaha papa belum ada apa-apanya,  masih di rumahan biasa, karena itu uang yang kami miliki juga belum seberapa. Dokter minta papa segera menandatangani surat persetujuan operasi tetapi bagian administrasi juga memberi papa batasan waktu sampai besok pagi untuk membayar sejumlah uang sebagai uang muka. Biaya lahiran sudah kami siapkan untuk lahiran normal dan itupun untuk kelas 3, jadi masih banyak kekurangan yang dibutuhkan untuk menutupi biaya lahiranmu saat itu.  Di saat pikiran Papa tegang memikirkan soal biaya, tidak sengaja papa bertemu dengan om Rudi, yang ternyata sedang berada di rumah sakit yang sama. Ia baru saja membesuk keluarganya bersama calon istrinya. Singkat cerita, akhirnya om Rudi membantu menyelesaikan masalah uang untuk biaya lahiranmu. Bukan hanya itu saja, calon istri om Rudi memberikan donor darah untuk mamamu yang membutuhkan tambahan karena telah kehilangan cukup banyak darah saat terjatuh.”


 


Arjuna merasa terenyuh mendengar cerita papa Arman yang rupanya sempat mengalami masa sulit juga di masa mudanya.


 


“Sampai hari ini, om Rudi menolak uang penggantian biaya kelahiranmu. Dia ikhlas memberikannya sebagai sahabat baik papa sejak SMP. Bahkan sesudah itu, om Rudi banyak membantu papa membangun usaha hingga bisa berjalan seperti sekarang ini. Bukan hanya bantuan modal, tapi beberapa ajaran tentang bisnis papa dapatkan dari om Rudi.”


 


“Apa om Rudi meminta papa untuk menikahi Arjuna dengan putrinya ?” tanya Arjuna dengan hati-hati, takut memancing emosi papa Arman.


 


“Tidak sama sekali,” papa Arman menggeleng. “Malam itu om Rudi mengajak papa bertemu untuk berkenalan dengan anak-anak kami. Om Rudi ingin minta tolong pada papa, tapi bukan masalah perjodohan. Om Rudi meminta agar papa bersedia menganggap putri tunggalnya sebagai anak kandung papa. Ternyata om Rudi sudah lama menderita kanker getah bening dan berusaha melakukan pengobatan kemana-mana demi putri tunggalnya yang sudah tidak mempunyai ibu lagi. Tapi beberapa waktu lalu, sepertinya om Rudi harus pasrah karena sel kankernya sudah menyebar ke beberapa organ vital.”


 


“Jadi maksud papa, tidak ada harapan lagi untuk om Rudi ?”


 


“Iya, bahkan papa pernah menemaninya ke Singapura untuk mencari alternatif pengobatan di sana, tapi cukup sulit untuk mengobati penyakit om Rudi sampai sembuh,” terdengar nada kesedihan dalam ucapan papa Arman. Pandangannya menatap ke arah taman juga terlihat sendu.


 


“Apa om Rudi tidak punya keluarga lainnya ?” tanya Arjuna sambil mengerutkan dahinya.


 


“Papa tidak begitu mengenal dengan istrinya. Usia mereka terpaut cukup jauh dan bukan dari teman-teman kami, jadi papa tidak terlalu kenal dengan istrinya. Om Rudi sendiri anak tunggal dan kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat istrinya sedang sakit parah.”


 


“Lalu papa bermaksud menikahkan putrinya dengan Juna ?” tanya Arjuna sambil menghela nafas berat.


 


“Awalnya papa tidak berpikir untuk menjodohkan kalian. Tapi mendengar semua penjelasan om Rudi, menurut papa akan lebih baik kalau anak om Rudi bukan sekedar menjadi anak angkat, tapi menantu papa. Om Rudi pasti akan lebih tenang karena anaknya sudah memiliki pasangan hidup yang bisa ia percaya. Lagipula menurut papa, ini adalah saat yang tepat untuk membalas kebaikan om Rudi pada keluarga kita.”


 


“Tapi pernikahan bukan sekedar  ikatan di atas kertas, Pa. Perlu dua hati yang saling mencintai untuk bisa membangun satu rumah tangga yang utuh, bukan atas dasar paksaan,” bantah Arjuna sambil menautkan kedua alisnya.


 


“Banyak orang yang berhasil menikah karena perjodohan, Juna. Lagipula papa yakin kalau putri om Rudi adalah gadis yang baik.”


 


Suasana kembali hening karena baik Arjuna maupun papa Arman larut dalam pikirannya masing-masing. Papa Arman sedang mempertimbangkan apakah ini saat yang tepat untuk memberitahukan Arjuna kalau anak om Rudi itu adalah Cilla, murid kesayangan Arjuna yang saat ini sedang diperjuangkan olehnya.


 


“Bisakah papa tetap menerima putri om Rudi hanya sebagai anak angkat papa dan bukan calon istri Juna ?” tanya Arjuna hati-hati.


 


“Kalau memang papa tidak enak karena sudah memastikan masalah perjodohan ini pada om Rudi, Juna akan menemui om Rudi secara langsung dan menjelaskan semuanya. Juna tidak ingin menyakiti hati anak om Rudi, karena saat ini, Juna benar-benar sangat mencintai Cilla, “ lanjut Arjuna dengan wajah memohon.


 


Papa Arman terdiam dan mengambil handphonenya. Terlihat beliau sedang mengetikkan sesuatu di handphonenya.


 


“Temui om Rudi dua minggu lagi, setelah anaknya selesai dengan ulangan umumnya. Keputusan Papa masih sama kalau restu papa hanya untuk pernikahanmu dengan putrinya om Rudi. Ingatlah Juna, hidupmu pernah terselamatkan karena ketulusan hati om Rudi dan istrinya, jadi sekarang saatnya kamu membayar semua hutang budi itu.”


 


“Bagaimana kalau Juna tetap memiih Cilla, Pa ?” tanya Arjuna masih dengan wajah memohon.


 


Papa Arman yang sudah bangun dari bangkunya urung melangkah dan menatap ke arah Arjuna dengan wajah kecewa. Papa Arman hanya menghela nafas berat dan meninggalkan Arjuna tanpa memberikan jawaban apa-apa.


 


Arjuna mengusap wajahnya dengan sejuta pikiran yang membuat hatinya tegang. Rasanya begitu berat harus menunggu sampai dua minggu lagi sampai pada keputusan akhirnya, apalagi hubungannya dengan Cilla sangat tidak baik beberapa hari ini.