
“Mas Juna kebanyakan hirup angin pas naik motornya Jovan ?” tanya Cilla saat Arjuna minta diambilkan handphone berlogo buah dengan model terbaru.
“Apa hubungannya ?” tanya Arjuna tanpa mempedulikan tatapan Cilla yang masih menautkan alisnya.
“Kebanyakan hirup angin, banyak gelembung di otak jadi agak-agak halu. Apa Mas Juna sudah tanya harga handphone ini ?” bisik Cilla supaya Arjuna tidak merasa dipermalukan.
“Tahu,” sahut Arjuna sambil mengangguk.
Cilla menarik tangan Arjuna sedikit menjauh karena Mbak Lasmi berdiri cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.
“Mas Juna, harga handphone itu terlalu mahal, Cilla nggak butuh model begitu. Daripada beli handphone mahal, lebih baik uangnya dipakai untuk beli motor, second juga nggak apa-apa. Kan biar kita bisa romantis kalau pacaran,” ujar Cilla sambil senyum-senyum.
Keempat orang yang datang dengan mereka hanya jadi penonton.
Theo dan Luki sudah terbiasa dengan Cilla dan Arjuna sejak mereka liburan bareng, tapi bagi Amanda dns Jovan, ini adalah pemandangan langka.
“Stand up comedy,” ujar Luki sambil tertawa pelan yang diikuti oleh Theo.
“Memangnya kamu mau pacarannya naik motor ?” ledek Arjuna.
“Mas Juna lupa kalau selama ini Cilla lebih sering kemana-mana naik motor ? Lagipula pacaran naik motor kan mesra bisa dempetan. Dilan aja sukanya ngajak Milea pacaran naik motor, biar bisa peluk-peluk.”
“Belum punya KTP jadi nggak boleh sering peluk-peluk,” Arjuna mencubit sebalah pipi Cilla.
“Jadi Mas Juna nggak mau dipeluk-peluk sama Cilla ?” matanya mengerjap-ngerjap menggoda Arjuna.
Amanda sudah cekikikan sementara Jovan geleng-geleng kepala. Sejak kapan sahabat kecilnya jadi cewek kecentilan begini.
“Sekarang yang penting kamu beli handphone, besok atau lusa aku ajak lihat-lihat cari motor. Biar kamu puas peluk-peluk aku,” bisik Arjuna sambil mengedipkan sebelah matanya.
Cilla mendongak dan mendekatkan wajahnya pada Arjuna sambil mengernyit.
“Mas Juna habis ngerampok dimana ? Rampok bank atau orang ? Kok tiba-tiba banyak uangnya ?” Cilla bahkan sampai bertolak pinggang.
Theo tertawa sementara Luki geleng-geleng kepala melihat Arjuna dengan wajah sok jaim mengabaikan pertanyaan Cilla.
“Cil, pacar kamu ini aslinya memang anak orang kaya. Udah CEO loh… Jadi biar aja kalau Juna mau beliin kamu handphone yang mahal. Dulu aja sama Luna..” Theo langsung menutup mulutnya sambil tertawa.
“Sorry Bro..” ujar Theo.
“Pacar, pacar. Apa elo lupa kalau gue ini udah tunangan sama sepupu elo ? Jadi gue bukan sekedar pacar tapi sudah calon suami,” gerutu Arjuna dengan wajah yang berubah cemberut.
“Sebelas duabelas pacar sama calon suami, Jun. Masih sama-sama bisa ditikung,” ledek Luki sambil terkekeh.
“Eh masih pada niat nikung ?” Arjuna menatap tajam ke arah Luki yang masih menertawakannya.
Luki melambaikan tangan memanggil Jovan.
“Dibuka kesempatan untuk menjadi pebinor,” ujar Luki sambil merangkul bahu Jovan.
“Eh sejak kapan gue ngomong begitu,” omel Arjuna. “Apalagi sama nih anak !” lanjut Arjuna sambil menunjuk Jovan.
“Yaelah Pak, saya juga udah nggak minat sama Cilla. Ternyata hati saya bukan cinta, cuma sayang,” sahut Jovan sambil mencibir. “Cintanya sudah pindah ke lain hati.”
“Eh jangan bilang kamu…” Arjuna langsung mendekat tapi belum selesai mengucap, Cilla mendekat sambil memegang lengan tunangannya.
“Mas Juna, jangan emosi jiwa, nanti mendadak jadi kelihatan lebih tua dari umur. Bisa-bisa Cilla dikira beneran sugar baby,” ujarnya sambil mengelus-elus lengan Arjuna.
“Lagipula kalau sama Jovan kelamaan nunggu diajak nikahnya, belum matang. Cilla kan maunya yang mateng alias matang dan ganteng,” Cilla mengedipkan sebelah matanya pada Arjuna.
“Eh belagu banget nih bocil,” ujar Jovan dengan emosi. “Dasar bucin Arjuna,” gerutunya.
“Eh kamu barusan bilang apa ? Berani panggil saya nama doang ?” Arjuna kembali mendekati Jovan.
Cilla terkikik sambil menahan lengan Arjuna.
“Jangan sebal-sebal sama Jovan, dia tuh udah niat banget mau jadi adik ipar kita. Nggak ingat dengan pengalaman pribadi sama Cilla ? Dari sebel malah jadi cinta mati,” ujar Cilla dengan suara sengaja dibuat selemah lembut mungkin membuat Jovan kembali mencibirkan bibirnya.
Theo, Amanda dan Luki hanya bisa ikut tertawa. Terlihat Arjuna menghela nafas. Apa yang dikatakan oleh Cilla ada benarnya.
Jovan sepertinya makin sering memberi kode-kode kalau ia menaruh hati pada Amanda, dan adik satu-satunya yang masih kelas 11 itu malah terlihat malu-malu meong, tidak galak seperti biasanya kalau ada lelaki yang menggodanya.
Saat mereka sedang berdebat, seseorang memanggil Luki dari dalam toko. Ternyata yang memanggilnya adalah teman Luki sekaligus pemilik toko.
Luki langsung menghampiri sahabafnya itu dan berdiri berhadapan dibatasi etalase.
“Ya ampun cakep, Man,” desis Cilla sambil menyenggol lengan Amanda yang ada di sebelah kirinya.
Arjuna langsung melotot memdengar ucapan Cilla dan menjewer telinga gadis itu.
“Berani bilang cowok lain ganteng di sebelah calon suami ?” geram Arjuna.
“Ampun, Pak,” Cilla meringis. “Cinta saya cuma buat Pak Arjuna.”
“Terus barusan bilang apa ?” Arjuna melepaskan jewerannya dan melipat kedua tangannya di dada.
“Temannya om Luki memang cakep, kayak bintang film Song Joong-Ki atau Chris Evans, tapi hanya untuk dipandangi dan dikagumi karena gantengnya sedikit lebih dari orang lain. Tapi yang pasti kecakepan mereka nggak bisa buat Cilla berdebar,” jelas Cilla panjang lebar seperti seorang diplomat.
“Memangnya kamu masih suka berdebar kalau sama aku ?” tanya Arjuna masih dengan wajah cemberut.
Cilla mengangguk dengan senyum malu-malu yang sedikit lebay, tapi anehnya malah membuat Arjuna jadi melayang sampai senyum-senyum sendiri.
“Makanya Cilla menunggu diajak kencan naik motor sama Mas Juna,” bisik Cilla sehalus mungkin supaya Amanda dan Jovan yang ada di sebelah kanan dan kiri mereka tidak akan meledek Cilla dengan gelak tawa yang menyebalkan.
“Dan sudah pasti kalau kita jadi pacaran naik motor, belum jalan aja Cilla sudah kayak orang masuk angin. Hati berdebar-debar sampai jari-jari tangan panas dingin, kayak orang meriang,” sahut Cilla sambil terkekeh.
“Dasar lebay !” Arjuna mencebik tapi langsung disusul dengan senyuman tampannya.
“Jangan terlalu sering tersenyum, nanti Mbak Lasmi jatuh cinta, Cilla susah cari gantinya. Kalau cari yang mirip Song Joong-Ki tinggal cari di majalah, sementara yang kayak Arjuna Hartono, susah di cari di pasar inpres,” ledek Cilla sambil terkekeh.
“Kamu kira saya cabe sama bawang yang dicarinya dipasar inpres ?” gerutu Arjuna tapi kembali diausul dengan senyuman.
“Ini dia keponakanmu, Ki ? Masih muda banget, ya ? Imut juga, boleh kenalan dong ?” ujar teman Luki sambil menatap Cilla.
“Kalau ini pasti adiknya Arjuna, ya ? Mukanya mirip banget sama kakaknya. Dan kalau yang ini pasti pacar kamu, ya ?” Pria itu beralih menatap Amanda dan Jovan gantian.
Teman Luki itu mengulurkan tangannya pertama kali kepada Cilla.
“Kenalkan nama aku Doni,” ujarnya memperkenalkan diri.
Baru saja Cilla mau membalas uluran tangan pria yang bernama Doni itu, tangan Arjuna langsung menahannya.
Doni pun mengerutkan dahi melihat reaksi Arjuna. Ia memang mengenal ketiga sahabat Luki karena beberapa kali mereka bertemu dan membeli handphone padanya. Apalagi Arjuna, sering membelikan hadiah handphone untuk relasi atau partner bisnis perusahaan papa Arman.
“Pawangnya galak, Bro,” celetuk Theo yang berdiri dekat Amanda sambil terkekeh.
“Pawang ?” tanya Doni dengan wajah bingung sampai dahinya berkerut.
“Pertama, namanya Cilla, nggak usah pakai salaman. Kedua, dia memang masih muda, KTP aja belum punya, tapi sudah punya calon suami. Dan gue calon suaminya,” tegas Arjuna dengan wajah galak.
“Calon istri gue kemari mau beli handphone, bukan cari jodoh,” omel Arjuna. “Sekalian mau minta dicek, apa data yang ada di handphone ini masih bisa dicopy, terutama galeri fotonya.”
Masih dengan tampang jutek, Arjuna mengeluarkan handphone Cilla yang tadi terjatuh dari saku celana panjangnya, lalu diletakannya di atas kaca etalase.
Doni yang semula tidak percaya akhirnya mengangguk dan tertawa pelan.
“Kamu kok mau sih… nggg.. tadi siapa namanya ya ?”
“Priscilla, tapi biasa dipanggil Cilla.”
“Nggak perlu kamu sebutin nama lengkap, ini bukan lagi wawancara kerjaan,” omel Arjuna sambil memandang Cilla dengan wajah masam.
“Iya Cilla,” Doni tertawa melihat ekspresi Arjuna yang terlihat posesif. “Kamu kok mau sih sama Arjuna yang jauh lebih tua ?”
“Dijodohkan,” sahut Cilla cepat sambil terkikik membuat Arjuna kembali melotot.
“Benar-benar beruntung lo, Jun. Lepas dari buaya betina malah dapat kelinci imut begini,” Doni sengaja mengedipkan sebelah matanya.
“Anak bebek bukan kelinci,” ralat Luki sambil tertawa.
Theo, Luki dan Doni tertawa melihat eskpresi Arjuna yang cemberut dan tidak ingin miliknya diganggu gugat.
Sebagai orang-orang yang pernah tahu bagaimana gaya pacaran Arjuna dengan Luna, kali ini Arjuna menjadi sosok pria dengan pribadi yang berbeda. Jauh dari kata jaim demi menjaga wibawa.
Berbeda saat masih jalan dengan Luna, Arjuna cenderung memberikan kebebasan pada mantan kekasihnya itu sendiri dan tidak terlalu posesif meski tahu Luna sering jalan dengan pria yang berbeda-beda.
Seperti pengakuan Arjuna pada Cilla kalau akhirnya ia sadar perasaannya pada Cilla benar-benar jatuh cinta, sementara dengan Luna hanya perasaan ingin membuktikan kalau Arjuna pantas menjadi pemenang dari para lelaki yang berusaha mendekatinya, meski pada akhirnya Arjuna menjadi seorang pecundang juga di mata Luna.
Akhirnya setelah melewati perdebatan yang panjang, Arjuna yang mengalah. Ia tetap yang membelikan Cilla handphone sesuai dengan krireria gadis itu.
Sesuai dengan saran Doni, Cilla akhirnya memilih handphone berlogo buah tapi bukan model yang terbaru, malah second tapi kondisinya dijamin masih sangat bagus.
Untuk handphone lama Cilla yang sedikit tidak berbentuk, akan dicoba dicek memorinya. Doni minta waktu 1-2 jam untuk memastikannya.
Sambil menunggu, Cilla, Amanda dan Jovan yang memang belum makan siang mengajak ke salah satu resto franchise yang ada di mal.
Hanya Luki saja yang harus pulang lebih dulu karena pekerjaan, sementara Theo dan Arjuna menemani ketiga abege ini.
“Mas Juna kok mendadak jadi olang khaya ?” tanya Cilla sambil mengernyit saat mereka sedang berjalan menuju resto.
Arjuna hanya senyum-senyum membuat Cilla jadi tambah bingung.
“Nggak mungkin kan Pak Slamet kasih bonus sampai bisa beliin Cilla handphone dan Mas Juna sendiri mau beli motor ?” tanya Cilla masih dengan nada penasaran.
“Kamu tuh harusnya bahagia karena calon suami kamu ini semakin baik keuangannya. Paing tidak kalau sudah menikah, kamu nggak akan hidup susah,” sahut Arjuna sambil tertawa.
“Kalau dibuat susah cari yang lain aja, Cil,” ledek Theo. “Aku nggak rela kalau sepupuku ini sampai hidup susah gara-gara suaminya tidak sanggup memberinya makan.”
“Gue jamin kalau adik sepupu elo biar hidup sederhana, pasti bahagia sama gue,” sahut Arjuna sambil tersenyum jemawa.
“Iya kan, sayang ?” Arjuna melirik pada calon istri kecilnya.
“Geli pakai sayang-sayang segala,” Theo mencebik.
Jovan yang mendengarnya ikut mencebik juga dan Amanda malah tertawa. Sejak tadi ia melihat kakaknya memang jadi pribadi yang berbeda.
Sampai di depan resto, hanya Cilla yang mogok di depan pintu dengan wajah cemberut. Arjuna mengernyit menatap Cilla dan memberi isyarat agar tiga orang lainnya masuk dan memesan terlebih dahulu.
“Dari tadi ngakunya calon istri !” omel Cilla dengan bibir mengerucut. “Tapi ditanya dapat uang darimana nggak mau jawab. Jangan sampai uang yang dipakai buat beliin handphone Cilla bukan uang halal.”
“Eh sembarangan,” Arjuna menoel hidung Cilla sambil tertawa pelan. “Dijamin uang halal, bukan hasil merampok apalagi jual diri,” lajutnya masih sambil tertawa.
“Terus ?” Cilla mengernyit dengan kedua tangan melipat di depan dada.
“‘Mulai Senin papa minta Mas Juna membantu dulu di perusahaan selama libur semesteran. Ada beberapa masalah yang harus ditangani dan papa minta bantuan untuk menyelesaikannya sebelum akhir tahun.”
“Kan belum kerja, kok sudah dikasih gaji ?” kedua alis Cilla kini menaut.
Arjuna tertawa dan mengacak-acak rambut Cilla
“Terima kasih karena sudah bertanya dan peduli dengan uang milikku, tidak masa bodoh meski itu bukan urusanmu,” Arjuna melepaskan tangannya dari kepala Cilla sambil tersenyum.
“Ternyata uang yang ada di rekening lamaku hanya dialihkan sementara ke rekening papa, dan kemarin sebagian dikembalikan ke rekening baruku dan sebagian lagi disimpan dalam bentuk deposito. Tabungan masa depan istri dan anak-anakku,” ucap Arjuna dengan wajah bahagia.
“Beneran ?” tanya Cilla dengan wajah merona dan senyum mengembang.
MendadK Cilla jadi tersipu saat mendengar Arjuna bcara soa masa depan istri dan anak-anak, membuat calon suaminya itu tertawa dan menggandeng anak bebek kesayangannya menyusul Theo, Jovan dan Amanda.
Selesai makan, Amanda merengek minta ijin pada Arjuna agar memperbolehkan ia jalan-jalan dengan Cilla melihat-lihat di mal. Setelah melalui perdebatan akhirnya Arjuna menyetujui dengan Jovan sebagai pengawal mereka. Itu pun karena Theo mengajaknya menunggu di salah satu cafe dengan alasan ingin berdiskusi soal masalah pekerjaaan.