MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Cinta yang Tidak Ada Habisnya


“Ya ampun Juna, rasanya nggak percaya kalau Cilla punya anak di usianya yang masih muda begitu. Ganteng banget lagi,” sambut tante Siska saat Arjuna keluar menggendong anaknya.


“Ini mah jiplakan Arjuna,” ujar om Rio.


“Iya, jadi ingat pas Juna baru lahir ya. Pa,” ujar mama Diva sambil mengusap sudut matanya yang sedikit basah.


“Cilla nya bagaimana, Jun ?” tanya papa Arman.


“Sehat, Pa. Udah bawel lagi seperti biasa. Tadi sempat lemas kehabisan tenaga, tapi semangatnya luar biasa untuk bisa melahirkan Sean.”


“Namanya Sean, Jun ?” tanya mama Diva.


“Namanya Sean Abimanyu Hartono, Ma, hasil rundingan Cilla dan Juna. Panggilannya Sean sesuai keinginan Cilla.”


“Wah mentang-mentang papinya punya nama Arjuna, anaknya dikasih nama Abimanyu,” ledek om Rio. “Abimanyu kan memang anaknya Arjuna.”


”Kira-kira begitu, Om,” sahut Arjuna dengan wajah sumringah.


“Elo kenapa, Yo ?” mata Arjuna menyipit, memperhatikan Theo yang diam saja.


“Dia mendadak kepingin nikah dan punya anak kayak kamu, Jun,” ledek tante Siska.


Theo mendekat dan mengusap pipi bayi mungil itu hingga menggeliat.


“Amazing, Jun. Gue nggak nyangka tuh bocil bisa melahirkan anak di usianya yang masih muda banget.”


“Iya, istri gue memang luar biasa, Yo.”


Arjuna tersenyum lebar sambil menatap wajah putranya yang kembali menggeliat.


Tidak lama Cilla yang masih tidur di atas brankar siap dipindahkan ke kamar.


Seorang perawat lainnya meminta bayi yang digendong Arjuna untuk dipindahkan ke dalam box bayi dan dibawa ke kamar Cilla untuk mendapatkan ASI pertamanya.


“Selamat sayang,” Cilla pun yang terbaring lemas mendapat ucapan bergantian dari kedua mertua dan keluarganya.


“Bocil luar biasa. Kecil-kecil udah jadi mami aja.”


Theo mengusap kepala Cilla sambil tersenyum bangga.


“Terima kasih juga buat dukungannya,” sahut Cilla dengan senyum bahagia.


“Selamat Bro,” Theo merangkul bahu sahabatnya dan berjalan mengikuti brankar Cilla bersama papa Arman, mama Diva, tante Siska dan Om Rio.


🍀🍀🍀


Arjuna menggendong bayinya dengan wajah bangga saat para sahabat keponya datang membesuk keesokan harinya.


“Dih kenapa jadi mukanya mirip Arjuna semua ? Kamu nggak protes, Cil ?” Erwin mulai berkomentar, memancing ledekan yang lainnya.


“Udah gue bilang,” Theo menimpali. “Cilla yang rempong bawa-bawa sembilan bulan, masa mukanya nih anak dikuasai Arjuna semua.”


“Untung bapaknya cakep,” ledek Dono menimpali. Sore ini ia datang sendiri karena Wiwik harus menemani anak mereka yang sedang demam.


“Nggak apa-apa wajahnya Sean mirip sama Mas Juna, kan ganteng,” Cilla merangkul lengan Arjuna dan menatap Sean yang menggeliat.


“Kalau mirip sama Cilla nanti kelihatannya cantik, nggak gagah,” lanjut Cilla.


“Kamu memang istri yang pengertian, sayang,” ujar Arjuna sambil mengecup kening Cilla.


”Dilarang menghumbar kemesraan,” protes Luki. “Masih ada 3 jomblo di sini yang target aja belum punya.”


“2 bukan 3,” protes Cilla. “Kak Theo tinggal mau jujur apa nggak soal perasaanya sama Kak Yola.”


“Kamu apaan sih, Cil,” gerutu Theo.


“Umur udah nggak muda lagi Kak Theo, jadi nggak usah sok jaim gitu deh.”


Baru juga Cilla selesai bicara, pintu kamar dibuka dan terlihat Boni, Mimi, Pius dan Yola.


“Awas keduluan sama Om Pius,” bisik Cilla meledek Theo yang berdiri di sebelahnya. Sepupu Cilla itu menggerutu tidak jelas.


Arjuna meletakkan kembali putranya ke dalam boks bayi supaya para sahabatnya bisa melihat Sean.


“Ya ampun Cilla, lucu banget sih,” Mimi dan Yola langsung mendekati boks bayi sementara Pius dan Boni memberikan selamat pada Arjuna dengan pelukan ala pria.


“Boleh pakai cipika cipiki nggak, Jun ?” ledek Boni saat berpindah menyalami Cilla


.”Langsung sosor aja, Yang, nggak usah minta ijin Arjuna,” Mimi malah memanasi suaminya.


”Efek pacaran kelamaan, jadinya suami rasa saudara,” Arjuna balas meledek Mimi dan Boni sementara tangannya menahan Boni yang berniat memberikan cipika cipiki pada Cilla.


“Udah jadi papi, posesifnya masih aja tingkat dewa,” ledek Theo.


“Udah bawaan orok, Yo, susah dihilangkan,” timpal Luki sambil tergelak.


“Arjuna kok jadi kelihatan tambah tua ya dipanggil papi,” Pius ikut meledek juga. “Kalau jalan disangka opa lagi bawa cucu.”


Semuanya langsung terbahak mendengar ucapan Pius yang membuat wajah Arjuna langsung cemberut.


“Cilla, habis ini kalau mau cari suami pengganti silakan aja,” ledek Erwin. “Daripada kamu disangka sugar baby- nya Om Arjuna. Lihat tuh mukanya makin berkerut kalau lagi cemberut gitu.”


Mimi dan Yola ikut tertawa sambil memberikan selamat untuk Cilla dan Arjuna.


“Udah sih jangan cemberut gitu, Mas Juna,” Cilla bergelayut di lengan suaminya. “Yang Om Erwin bilang memang benar, suka cemberut nanti wajah gampang berkerut. Lagian Cilla cuma maunya sama Mas Juna yang sudah memberi bukti bukan janji. Tuh hasilnya cakep banget,” Cilla melirik Sean.


“500 tenaga kuda ya, Cil ?” celetuk Boni sambil terkekeh.


“Kayaknya 1000, Om, ditambah bensinnya pakai pertamax turbo, bisa bawa Cilla ke langit ketujuh.”


“Awas goncangannya terasa sampai tetangga sebelah, Cil,” ledek Luki.


“Kalau itu sih nggak usah ditanya, Om,” Cilla mengerling menatap Arjuna. “Bukan hanya membuat gempa tetangga kiri kanan, tapi satu RT, Om. Kedahsyatan Mas Juna bikin Cilla merem melek dan ketagihan,” ujar Cilla sambil terkekeh.


“Tuh dengar sendiri, kan ?” Arjuna dengan wajah bangga membalas tatapan Cilla sambil tersenyum.


“Ya ampun kalian berdua, ya,” Mimi mencibir sambil geleng-geleng kepala. “Dipancing dengan satu kata, primbon suami istrinya langsung keluar semua. Bisa-bisa sebentar lagi Sean punya adik, tahun depan kita disuruh besuk lahiran Cilla lagi.”


“Duh doanya jangan tahun depan dong, Kak Mimi, soalnya Cilla mau kuliah dulu. Lebih baik Kak Mimi sama om Boni duluan. Udah ada hasilnya belum, Kak ?”


“Belum, kayaknya Boni harus berguru sama Juna,” Mimi terkekeh sambil melirik suaminya. “Biar cepat nyusul Cilla dan bisa jadi jodoh si ganteng Sean kalau anaknya perempuan.”


“Ogah !” Arjuna dan Boni menjawab bersamaan membuat yang lainnya tertawa.


“Pertama, ogah banget bagi-bagi ilmu sama dia,” Arjuna menunjuk Boni .”itu resep rahasia, tidak bisa diperjual belikan. Dan nggak ada minat menjodohkan Sean sama anaknya Bonbon.”


“Udah jangan sebal-sebal, nanti beneran anak-anak kita berjodoh, bapak-bapaknya cuma bisa gigit jari,” ujar Cilla sambil terkekeh.


“Kak Mimi gendong Sean aja tuh, biar cepat ketularan dapat debay-nya.”


“Kalau aku boleh gendong kamu nggak, Cil ?” ledek Erwin. “Biar ketularan dapat istri yang muda dan cakep kayak kamu ?“


“Nih !” Arjuna langsung menunjukkan kepalan tangannya membuat yang lainnya tertawa.


“Udah langsung gendong aja, Win biar cepat ketularannya. Gue juga mau coba,” Luki ikut meledek.


“Perlu bantuan gue sama Boni buat pegangin Arjuna ?” ujar Dono mendekati Arjuna.


Theo pun ikut bergerak merapat ke tubuh Arjuna dan mulai memegang tangan sahabatnya itu.


“Awas ya kalau ada yang berani gendong-gendong Cilla, jadi musuh gue seumur hidup !” Arjuna melotot saat Theo dan Dono memegangi kedua tangannya.


“Kan membantu teman adalah perbuatan baik, Jun. Elo nggak bahagia kalau gue ketularan juga punya istri yang masih muda dan punya anak kayak elo ?”


Arjuna tidak sadar kalau Cilla perlahan berjalan mendekatinya.


“Itu namanya jodoh bukan karena gendong-gendong istri orang,” omel Arjuna dengan wajah ditekuk.


Terlalu fokus dengan ledekan Erwin dan Luki, Arjuna benar-benar tidak menyangka kalau Cilla akan langsung memeluknya.


“Mas Juna sayang, sekalipun Mas Juna kasih ijin Cilla juga nggak mau kok,” Cilla mendongak, menatap wajah Arjuna yang sudah lepas dari Theo dan Dono.


“Udah merasakan gimana nggak enaknya lihat Mas Juna dipeluk-peluk cewek lain apalagi pas disosor di kantor.”


“Assekk… ungkit terus,” sindir Theo sambil tertawa mengejek. “Memangnya enak diungkit terus.”


Yola yang mendengar ucapan Cilla langsung salah tingkah, merasa tidak enak dengan perbuatannya dulu. Meski Cilla sudah memaafkannya, ternyata apa yang dilihat Cilla begitu membekas di hati istri Arjuna itu.


“Iya Mas Juna…”


“Udah nggak usah diperpanjang,” Cilla meletakkan jari telunjuknya di bibir Arjuna. “Cilla bahagia kok lihat wajah kesal Mas Juna barusan. Cilla senang karena Mas Juna masih posesif sama Cilla. Terima kasih karena sudah mencintai Cilla begitu besar.”


Cilla memeluk Arjuna dengan erat dan Arjuna sendiri langsung balas memeluk Cilla dan mencium pucuk kepala Cilla.


“Eh, jangan cium-cium rambut Cilla sampai masa nifas selesai.”


Cilla buru-buru melepas pelukannya dan memberi jarak di antara mereka.


“Memangnya kenapa ?”


“Mama sama tante Siska melarang Cilla keramas sampai 40 hari sesuai tradisi orang tua.”


“Itu peletnya, Cil. Dijamin Arjuna bakal makin nempel,” ledek Dono. “Saya juga ngalamin itu kok. Nggak bakal suami beralih cuma gara-gara itu.”


“Iya sih, namanya juga demi kesehatan,” Arjuna melangkah mendekati Cilla yang langsung mundur.


“Cilla pertimbangkan dulu,” tangannya terangkat menghalangi Arjuna yang makin mendekat.


“Sayang…” pinta Arjuna dengan wajah memelas.


Belum sempat Cilla menjawab, Sean menangis.


“Sudah waktunya Sean mimi lagi, sayang,” ujar Arjuna setelah melirik jam dinding.


“Iya, tuh mulutnya udah nyari-nyari mimi,” Cilla tertawa saat putranya bergerak mengikuti jari Cilla yang sengaja menyentuh bibir Sean.


“Ayo keluar semua,” Arjun memberi isyarat pada para sahabatnya.


“Gue boleh di sini temani Cilla, ya Jun, sama Yola. Gantian kita yang tua belajar sama yang muda yang berpengalaman,” pinta Mimi.


“Ya udah,” Arjuna mengangguk.


Cilla pun mendorong boks bayi Sean ke arah tempat tidur Cilla dan mempersiapkan diri untuk memberikan ASI pada Sean.


“Baru sehari udah pintar aja, Cil,” puji Yola.


“Naluri ibu-ibu, Kak Yola,” Cilla tertawa lalu meringis. “Sean, pelan-pelan aja,” Cilla mengelus pipi putranya.


“Arjuna benar-benar udah cinta mati sama kamu, Cil,” ujar Mimi. “Selama mengenalnya, belum pernah melihat dia benar-benar khawatir dan marah saat pacarnya didekati.”


“Masa sih Kak Mimi ? Terus selain Susan sama Luna, Mas Juna pernah pacaran sama siapa lagi ?”


“Susan ?” Mimi mengerutkan dahinya, mencoba mengingat wajah Susan.


“Kemarin dia datang pas kawinan elo,” ujar Yola. “Susan Raharja, satu angkatan sama kalian.”


“Aaahh iya… gue ingat deh. Dia pindah pas SMA. Tapi pacaran sama Arjuna ? Kayaknya nggak lama, nggak sampai sehari,” ujar Mimi.


“Masih punya hati buat Mas Juna, Kak. Pas kawinan kakak berani dekati Mas Juna dan ajak bicara, tapi Mas Juna nya terlihat biasa aja.”


“Cil,” Mimi menyentuh bahu Cilla yang masihbmenyusui Sean. “Arjuna itu pada dasarnya baik sama semua orang nggak peduli cewek cowok dan ringan tangan meskipun dulu termasuk anak badung. Itu lah yang buat cewek-cewek penggemarnya sering memanfaatkan kebaikan Arjuna. Tapi kalau soal hati, Arjuna nggak mudah pindah-pindah hanya karena fisik dan mulut manis aja. Cintanya sama kamu kelihatan banget melebihi cintanya pada diri sendiri.”


“Benar kata Mimi, Cil,” Yola menimpali. “Maaf atas perbuatanku dulu, ya. Aku menyesal banget dan sangat menyesal apalagi pas melihat Arjuna begitu terpukul saat kamu membatalkan pertunangan kalian. Arjuna benar-benar kehilangan semangat hidup.”


Cilla tersenyum dan kebahagiaan terpancar di wajahnya.


“Jangan pernah meragukan cinta Arjuna sama kamu, Cil,” ujar Yola kembali. “Kamu harus jadi istri sekaligus penjaga Arjuna supaya tidak ada lagi perempuan yang berani nempel-nempel sama Arjuna dan memanfaatkan sikap tidak enakannya.”


“Iya, Cilla tahu kalau cinta Mas Juna tulus dan sungguh-sungguh. Tapi namanya hidup rumah tangga selalu ada saja cobaannya. Dan cinta itulah yang membuat kami saling mengisi dan menguatkan. Kak Mimi pasti udah ngalamin juga sejak pacaran sama Om Boni.”


“Iya benar banget, Cil,” sahut Mimi sambil tertawa pelan.


“Dan sekarang giliran Kak Yola,” Cilla menatap Yola yang langsung menautkan kedua alisnya. “Masih suka sama Kak Theo ?”


“Ribet urusan sama Theo,” sahut Yola. “Dari dulu sampai sekarang belum berubah. Emosian dan jaim.”


“Tapi Kak Yola masih suka, kan ?” ledek Cilla sambil terkekeh. “Justru itu pesonanya Kak Theo.”


“Udah tuh, ada yang mau bantuin. Kalau nggak dicoba mana bisa tahu hasilnya. Kalau gagal juga anggap aja belum jodoh,” ujar Mimi.


“Tenang aja, Cilla pasti bantuin asal Kak Yola yakin masih suka sama Kak Theo,” ujar Cilla sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Terserah kalian aja,” sahut Yola pura-pura acuh.


“Ternyata elo samanya kayak Theo,” Mimi mencibir. “Sama-sama jaim. Hati dan mulut nggak sejalan.”


Yola hanya senyum-senyum membuat Cilla dan Mimi tertawa sampai Sean yang sudah tertidur setelah kenyang menyusu terbangun lagi dan menangis.