MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


Liburan ke Semarang telah usai dan semua harus kembali pada dunia realita lagi, menjalankan aktivitas rutin dengan segala kerumitan dan kadang-kadang jenuh.


Lili memilih memperpanjang liburannyadi Semarang karena dalam kesempatan seperti inilah dia bisa sering bertemu Dimas. Febi pun terpaksa menemani karena tidak tega membiarkan sahabatnya sendirian di siang hari sementara Dimas tetap bekerja di pabrik.


Cilla sendiri memanfaatkan sisa liburan yang tinggal 2 minggu lagi dengan menghabiskan waktu bersama Sean. Kalau Lili demi Dimas, maka Cilla demi Sean. Sesekali ia membawa putranya ke kantor, menemani Arjuna bekerja sama seperti kebiasaannya saat hamil.


“Hari ini Cilla nggak ke kantor, ya, mau diajak shopping sama Mama dan Tante Siska. Sean diajak juga.”


“Iya, tapi ingatkan Mama jangan terlalu banyak membelikan baju untuk Sean, sayang banyak yang belum sempat terpakai karena Sean udah cepat besar aja. Terus kalau mau beliin mainan yang bermanfaat, jangan asal aja. Sean lagi butuh mainan kreatif yang bisa membantu pertumbuhan otaknya.”


“Beres Pak Guru.”


Cilla memeluk leher Arjuna dari belakang. Posisi pria itu masih duduk di meja makan, menikmati potongan roti yang disiapkan Cilla.


“Pantas saja Mas Juna selalu jadi guru idola, udah ganteng terus kalau lagi bicara bikin hati melehoy, nggak tahan sama pesona wibawanya.”


“Jangan meledek terus, deh. Nyesel nikahnya sama Pak Guru yang udah seperempat abad ? Mentang-mentang banyak penggemarnya masih berondong.”


“Nggak meledek tapi memuji. Mas Juna nya aja yang nehtink.” Cilla mencuri satu ciuman di pipi Arjuna.


Sean yang baru saja selesai berjemur dan hanya mengenakan celana pendek langsung melonjak kegirangan melihat Arjuna baru saja bangun dari kursi.


“Pi…Pi.”


Tangannya menggapai-gapai, minta digendong papinya. Arjuna pun langsung mengambil alih putranya.


“Sean seksi banget ciihh,” Cilla yang berdiri di samping Arjuna menggelitik perut putranya yang tertawa kegelian.


“No Mi !”


“Seksian mana sama papinya ?” ledek Arjuna meliirk istrinya.


“Udah tahu jawabannya masih nanya,” gerutu Cilla.


Begitu sampai di teras, Sean memeluk dan menciumi wajah Arjuna dengan gemas. Bocah berumur 1 tahun 4 bulan itu sudah tahu kalau papinya akan berangkat kerja dan ia harus pindah ke gendongan sang mami.


“Jangan nakal jagoan,” Arjuna menempelkan hidungnya dengan hidung Sean. “Jagain mami biar nggak dilirik sama berondong dan sugar daddy.”


“Terus papinya siapa yang jagain,” Cilla cemberut.


Arjuna tertawa dan memberikan Sean ke dalam gendongan Cilla. Seperti sudah saling mengerti, saat Arjuna memberi isyarat, Sean mengangguk dan mencium pipi Cilla, masing-masing sebelah. Cilla langsung tertawa. Kedua pria kesayangannya ini memang paling pintar membuatnya bahagia.


“I love you. Kerja yang benar, jangan gampang tergoda.” Cilla menarik dasi Arjuna dan mencium pipinya.


“I love you, anak bebek kesayangan Mas Juna.”


Cilla dan Sean melambaikan tangan saat mobil yang disopiri Bang Dirman membawa Arjuna pergi ke kantor dan keduanya masuk ke dalam rumah saat gerbang sudah ditutup.


*****


Selesai lunch meeting di salah satu hotel, Arjuna membawa mobilnya sendiri menuju kafe yang letaknya agak jauh.


Setelah mempertimbangkan sana sini, akhirnya ia memutuskan untuk menemui Glen sebelum Cilla masuk semester baru.


“Jadi semua ini bersumber dari kematian Gina ?” tanya Arjuna saat keduanya sudah duduk berhadapan.


“Akhirnya sadar juga,” sinis Glen


“Gue nggak pernah tahu kalau Gina menaruh perasaan khusus sama gue, dia nggak pernah bilang apapun soal itu. Kita berdua juga jarang ketemu, hanya sebatas pas dia datang menemui lo di sekolah.”


“Nggak ada nama pengirimnya dan gue benar-benar nggak ingat kapan terima surat ini dari Gina. Terus elo dapat foto ini darimana ? Boleh share ke gue ?”


Glen mengambil kembali handphonenya dan mengirimkan foto itu ke nomor Arjuna.


“Apa Gina meninggalkan pesan atau apapun pada saat dia meninggal ? Kalau ada, boleh gue tahu apa isinya ?”


“Buat apa tahu, untuk menghapus rasa bersalah dan memastikan kalau bukan kamu penyebabnya ?” sinis Glen dengan tatapan penuh kemarahan.


“Gue berani sumpah demi apapun, Glen. Gue nggak pernah ngobrol berduaan sama Gina, ketemu aja jarang dan surat tadi nggak pernah gue terima dari tangan Gina jadi gue nggak tahu gimana surat itu bisa kembali sama dia. Nggak pernah sekalipun Gina menyatakan cinta.”


“Surat ini ditemukan di selipan buku hariannya saat nyokap menemukan Gina bunuh diri dengan cara menelan racun tikus.”


Arjuna menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tidak ada dalam ingatannya soal surat cinta berwarna pink itu, tapi ia akan meminta bantuan ketiga sahabatnya untuk mengingat-ingat soal ini.


“Gue minta maaf kalau memang menurut kalian, elo dan keluarga lo maksud gue, Gina memutuskan mengakhiri hidupnya karena penolakan cinta gue. Tapi sungguh, nggak pernah terlintas dalam benak gue bikin patah hati cewek sampai begitu dalam. Saat ini gue hanya bisa bilang maaf dan maaf.”


“Elo memang nggak pernah menganggap orang-orang seperti gue !” desis Glen.


“Jangan asal bicara, Glen. Selain Boni, Theo dan Luki, elo adalah sahabat baik gue di tim basket. Gue nggak pernah memandang orang dari status sosialnya, pantang buat gue ! Tanpa sadar elo sendiri yang menilai orang dari kacamata lo doang, kondisi ekonomi keluarga membuat elo mencari alasan untuk menuduh orang lain menganggap elo hina di mata mereka.”


“Tapi memang begitu faktanya !” suara Glen meninggi. “Elo nggak pernah peduli sama Gina karena elo menganggap dia nggak setara. Perhatiannya sama elo nggak pernah masuk dalam ingatan lo !”


“Maksud lo masalah Gina suka bawain kue untuk tim basket kita ?” Arjuna tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.


“Nggak pernah Gina memberikan potongan spesial buat gue, semua makanan yang dia bawa selalu bilangnya untuk tim basket. Bagaimana gue tahu Gina punya perasaan lebih kalau dia nggak pernah kasih sinyal yang jelas ? Masih ada Theo sebagai saksi.”


“Itu semua karena elo nggak peka !”


“Glen, gue nggak peka bukan hanya sama Gina, tapi sama semua cewek yang berusaha menarik perhatian atau mendekati gue. Elo tahu kan gimana gue kehilangan rasa percaya diri saat Luna menolak pernyataan cinta gue. Mata dan hati gue langsung tertutup dengan semua yang namanya cinta. Elo tahu banget soal itu Glen, elo paham betul bagaimana kondisi gue saat itu. Dan saat itu, elo nggak pernah menyinggung sedikit pun soal Gina suka sama gue.”


Arjuna berdiam sejenak, mengambil gelas es kopinya dan meneguk sedikit untuk membasahi tenggorokannya.


“Gue yakin elo sendiri baru tahu soal perasaan Gina ke gue setelah dia udah nggak ada dan elo menemukan surat sama buku hariannya.”


“Karena gue nggak pernah berurusan sama perempuan ! Jadi mana gue tahu soal perasaan perempuan yang sedang jatuh cinta !”


Arjuna tersenyum tipis. Meskipun masih dipenuhi emosi, setidaknya Glen sudah membahasakan dirinya tidak seresmi sebelumnya, pria itu sudah memakai kata elo gue seperti biasanya.


“Glen, jutaan kata maaf nggak akan membuat Gina hidup kembali, tapi gue nggak akan bosan mengucapkannya di depan elo. Satu hal yang gue mohon saat ini, tolong jangan ganggu Cilla, dia istri sah gue, bukan sekedar pacar atau tunangan. Jangan melimpahkan kemarahan lo kepada Cilla.”


“Gue nggak yakin bisa,” sahut Glen sambil tertawa sinis. Tatapan matanya membuat Arjuna sedikit bergedik.


“Glen, gue mohon. Dia bukan hanya belahan jiwa gue tapi seorang ibu yang dicintai anaknya. Gue akan melindunginya dengan cara apapun terutama dari orang-orang kayak elo yang bisanya melimpahkan rasa marah pada orang yang nggak bersalah.”


“Gue nggak marah atau benci pada Priscilla, malah sebaliknya. Gue menyukai dia sejak pertama kali bertemu dan sebelum gue tahu kalau dia adalah istri lo.”


“Dan sekarang elo udah tahu, jadi tolong menjauh dari istri gue dan jangan macam-macam ! Belajarlah untuk profesional sebagai dosen pada mahasiswanya.”


Glen hanya tertawa licik dan menatap Arjuna dengan tatapan menantang.


“Elo benar-benar sakit, Glen. Gue nggak akan tinggal diam. Sekali aja gue bisa membuktikannya, gue nggak akan biarkan elo lepas dari jeratan hukum !”


Arjuna langsung beranjak dari kursinya, enggan memperpanjang pembicaraan dengan pria sakit jiwa seperti Glen.


Sepertinya Arjuna harus segera mengambil langkah untuk melindungi Cilla dan mencari celah untuk menjerat Glen hingga tidak bisa lagi mengganggu istrinya.