MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bukan Kencan Berdua ?


Theo terkesima menatap Cilla yang baru saja keluar dari kamar menggunakan dress hitam berenda dan wajahnya sudah di make over oleh mami Siska.


 


“Wuih, ternyata anak bebeknya Arjuna bisa jadi angsa manis juga,” ledek Theo sambil mencibir.


 


“Iiih ogah banget jadi angsa yang manis. Lebih enak jadi anak bebek yang bisa berenang santai kemana-mana,” cebik Cilla.


 


“Diihh bukannya bahagia dikasih pujian, malah protes,” sahut Theo sambil geleng-geleng.


 


Tangannya langsung menekan tombol panggilan ke nomor Arjuna, sayangnya hingga sambungan masuk ke kotak suara, Arjuna tidak mengangkat panggilan handphone Theo. Diliriknya info jam yang terpampang di layar handphone. Sudah hampir jam 6 tapi Arjuna masih belum mengangkat teleponnya.


 


“Tante, Cilla beneran mau ketemu papi, kan ? Bukan mau dikenalkan sama sugar daddy ?” tanya Cilla sambil terkekeh.


 


“Kamu tuh ya !” tante Siska memukul pelan bahu Cilla sambil geleng-geleng kepala. “Bisa-bisanya papi kamu dibilang sugar daddy.” Cilla hanya terkikik melihat wajah mami Siska yang pura-pura marah.


 


“Tapi ide bagus juga, Mi,” Theo yang menyahut. “Sepertinya kita bisa dapat uang banyak kalau bisa menawarkan anak perawan buat om-om.”


 


“Theo !” mami Siska langsung melotot ke arah putranya yang malah tertawa.


 


“Nggak buka lelang lagi, Kak Theo. Anak bebek spesial ini sudah sold out alias sudah dibayar tunai sama Kangmas Arjuna.”


 


Theo malah tergelak menatap Cilla dengan gaya pongahnya membanggakan dirinya sebagai calon istri Arjuna.


 


“Moga-moga aja Arjuna nggak berubah pikiran setelah lama nggak ketemu kamu,” ledek Theo. “Siapa tahu dapat cewek yang lebih kalem dan anggun, bukan anak bebek bawel yang pecicilan ini.”


 


“Mulai deh.. mulai…” Cilla langsung cemberut. “Sukanya nyumpahin yang jelek-jelek kalau topiknya hubungan aku sama Mas Juna.”


 


“Diihh bucin abis,” cebik Theo. “Kayak nggak ada cowok lain aja kalau sampai ditinggal sama Arjuna.”


 


“Itu namanya bukan bucin, Kak Theo, tapi setia…setia sampai akhir. Makanya cepetan cari pacar, jadi tahu rasanya belajar setia tuh gimana,” Cilla balas meledek Theo sambil tertawa.


 


Mami Siska geleng-geleng kepala menyaksikan perdebatan anak dan keponakannya ini. Sejak berangkat hingga dua hari di Singapura, terlalu sering mami Siska mendengar perdebatan antara Theo dan Cilla.


 


“Sudah cepetan pakai sepatu kamu. Sopir sudah menunggu kamu di bawah, nanti papi kamu kelamaan nunggu di restoran.”


 


“Nggak nganter angsa jadi-jadian ke bawah nih ?’ ledek Cilla saat melihat Theo masih bersantai di sofa.


 


“Ogah banget buang-buang energi,” sahut Theo sambil mencibir. “Udah mager.”


 


“Bye bye kakak Theo,” Cilla terkikik sambil melambaikan tangannya.


 


Mami Siska yang mengantar Cilla sampai ke lobby dimana mobil yang disiapkan oleh papi Rudi sudah menunggu di sana.


 


“Jadi anak gadis yang anggun beberapa jam ke depan,” pesan tante Siska saat Cila sudah masuk ke dalam mobil di kursi penumpang belakang. “Buat malam ini jadi spesial buat kamu dan papi, biar papi bahagia.”


 


“Semoga otak dan mulut Cilla bisa diajak kerjasama, Tan,” sahut Cilla sambil terkekeh dan memberikan jempolnya. “Soalnya settingan programnya udah begini dari sananya.”


 


Tante Siska tertawa pelan dan kembali geleng-geleng kepala. Ia memberi isyarat agar sopir melajukan mobil menuju tempat yang dipesan oleh papi Rudi.


 


Tante Siska menghapus air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya keluar juga saat mobil yang ditumpangi Cilla hilang dari pandangan.


 


“Kamu benar-benar seperti jelmaan Sylvia,” gumam tante Siska pada dirinya sendiri. “Semoga kamu sama kuat dan pemberani seperti mamimu, Cilla.”


 


Tante Siska menghela nafas panjang dengan senyuman getir. Langkahnya membawa kembali ke apartemen yang ada di lantai 3.


 


Melihat Cilla yang tampil beda hari ini membuat tante Siska seakan mendapatkan kembali sosok adiknya yang sudah lama meninggalkannya. Bahkan sebelum Cilla lahir, tante Siska sudah tidak pernah lagi bertemu bahkan berkomunikasi dengan mami Sylvia.


 


Cilla menikmati suasana kota Singapura dari dalam mobil dan hanya dalam waktu limabelas menit, mobil yang ditumpanginya berhenti di lobby sebuah hotel berbintang.


 


“Sudah sampai Nona. Akan ada yang membantu Nona di hotel nanti,” ujar sopir yang mengantar Cilla sore ini.


 


“Loh Bapak bisa Bahasa Indonesia ?” tanya Cilla tercengang. Tidak terpikir olehnya kalau sopir yang dikirim oleh papi Rudi adalah orang Indonesia.


 


“Asli Demak, Nona,” sahut sopir itu sambil tertawa. “Saya bekerja membantu Tuan Darmawan kalau sedang berada di Singapura. Sehari-hari saya bekerja di perusahaan Tuan Darmawan di Kendal.”


 


Cilla ikut tertawa dan mengangguk-anggukan kepalanya.


 


“Salam kenal, Pak. Saya Priscilla, putrinya papi Darmawan.”


 


“Nama saya Hasan, Nona. Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan putri kebanggaan Tuan Darmawan. Selama ini saya hanya sering mendengar tentang Nona dari cerita tuan Darmawan saja. Tuan selalu membanggakan Nona di dalam setiap ucapannya. Setelah bertemu langsung, saya mengerti mengapa Tuan begitu menyayangi Nona dan selalu menceritakan tentang putrinya ini pada banyak orang,” ujar Pak Hasan sambil tertawa pelan.


 


“Apa iya papi selalu ingat sama Cilla ?” tanya gadis itu dengan wajah tidak percaya.


 


“Selalu Nona, bahkan beberapa kali saat bertemu dengan rekan bisnisnya di sini, tuan selalu memperlihatkan foto Nona yang tersimpan di handphone Tuan.”


 


 


“Maaf Nona, sepertinya Nona harus turun sekarang karena sudah ada mobil menunggu di belakang,” ujar Pak Hasan dengan sopan.


 


“Apa saya boleh minta nomor handphone Bapak ?” pinta Cilla sebelum turun. Posisinya bergeser ke tengah-tengah, di antara kursi pengemudi dan penumpan depan.


 


Pak Hasan mengangguk dan langsung mengambil handphone yang disodorkan oleh Cilla. Ia pun memasukan nomor handphonenya ke daftar panggilan Cilla.


 


“Kapan pun Nona membutuhkan saya, bisa menghubungi saya di nomor tadi.”


 


“Terima kasih, Pak Hasan. Terima kasih juga karena sudah mengantar Cilla kemari.


 


“Sama-sama Nona. Senang bertemu dengan Nona.”


 


Pak Hasan yang menoleh ke belakang menganggukan kepala sambil tersenyum dan dibalas dengan senyuman yang sama oleh Cilla.


 


Seorang petugas hotel membantu membukakan pintu mobil untuk Cilla.


 


“Good evening, Miss,” sapa petugas itu sambil membungkukan badan saat Cilla sudah keluar dari mobil.


 


“Good evening, Abdul,” sapa Cilla sambil menyapa petugas hotel itu dan menyebut namanya setelah melirik name tag yang terpasang di seragam hotelnya.


 


Petugas tadi kembali tersenyum menanggapi sikap Cilla yang ternyata sangat ramah.


 


“Nona Priscilla Darmawan ?” seorang pria seumuran Arjuna keluar dari dalam hotel berpakaian jas lengkap menyambut Cilla yang baru saja mau melangkah ke dalam lobby hotel.


 


“Saya sendiri,” sahut Cilla dengan wajah bingung namun tetap tersenyum.


 


“Saya Bagas, karyawan hotel di sini. Mari saya antar ke tempat yang sudah dipesan oleh Tuan Darmawan,” pria yang bernama Bagas itu membungkuk sopan dan mempersilakan Cilla jalan melewatinya.


 


“Orang Indonesia juga ?” tanya Cilla saat mereka sudah berjalan sejajar.


 


“Asli dari Solo,” sahut Bagas sambil tertawa. “Dan kebetulan bisa bekerja di hotel ini atas rekomendasi dari Tuan Darmawan.”


 


Cilla menautkan kedua alisnya. Entah berapa banyak orang yang akan ditemuinya lagi dan mengaku sangat mengenal papi Rudi.


Sepertinya untuk ukuran seorang pengusaha, papi Rudi tidak masuk dalam jajaran konglomerat yang sering masuk majalah bisnis dan berita ekonomi.


 


 Tapi entah mengapa, bahkan di negara tetangga ini, begitu banyak orang yang membantu papi Rudi untuk mewujudkan rencana kencannya dengan Cilla hari ini.


 


‘Sepertinya Tuan Darmawan baru tiba beberapa menit lagi. Silakan Nona tunggu di sini dulu,” ujar Bagas sambil menarik sebuah kursi setelah keduanya berada dalam restoran mewah yang ada di dalam hotel.


 


“Papi tidak berada di sini ?”


 


“Tidak Nona, tapi sudah dalam perjalanan ke tempat ini.”


 


Cilla hanya mengangguk-angguk dan tersenyum pada Bagas. Namun belum sempat Bagas bicara lebih lanjut, Cilla yang sengaja memilih posisi duduknya menghadap ke arah pintu masuk, melihat papi Rudi berjalan memasuki restoran.


 


Matanya memicing saat melihat papi Rudi tidak sendirian, tapi ada dua pria lain yang berjalan bersamanya. Ada rasa khawatir dalam hati Cilla saat melihat papi Rudi semakin mendekat dengan dua orang pria yang berbeda usia namun sangat mirip wajahnya. Cilla yakin kalau kedua pria itu adalah ayah dan anak.


 


Tapi apa maksud papi Rudi mengajak dua orang pria ini dalam acara makan malam mereka ? Cilla berpikir kalau papi Rudi mengajak makan malam hanya berdua dengannya.


Apa ternyata ada niat lain sampai Cilla diminta mengenakan pakaian yang tidak biasa bahkan tante Siska juga membuat wajahnya tampil beda ?


 


Tiba-tiba pikiran buruk menghantui Cilla membuat jantungnya berdebar kencang. Apa semua ini sudah settingan ?


Ucapan Theo kembali terngiang-ngiang dalam benaknya. Tentang tanggungjawab Arjuna yang semakin berat kalau sampai kembali menjadi CEO. Bahkan ucapan Theo belum sampai sejam yang lalu tentang kemungkinan Arjuna bertemu dengan wanita yang lebih anggun, kalem, cantik dan lebih pintar dari Cilla membuat hatinya mendadak gundah.


Kekhawatiran Cilla dengan ucapan-ucapan Theo membuat pikiran buruk begitu mudah menyerangnya.


Apa iya papi Rudi sengaja mengajak Cilla ke Singapura ada maksud tertentu ?


Cilla sempat bingung saat melihat Arjuna tetap santai menanggapi rencana papi Rudi yang mengajak Cilla liburan. Malah Arjuna seperti mendorongnya untuk menuruti keinginan papi Rudi.


Tidak ada tanda-tanda Arjuna keberatan harus berpisah dengan Cilla dengan alasan kalau calon suaminya itu juga akan sibuk dengan urusan perusahaan papa Arman.


 


Cilla menggelengkan kepalanya membuat Bagas yang ada di sampingnya mengerutkan dahi. Apalagi mendapati wajah Cilla yang tadi ceria berubah keruh.


 


Kenapa mendadak Cilla jadi mudah nethink dan selemah ini ?


Ternyata Theo benar-benar berhasil menjadi seorang provokator yang menciptakan pikiran-pikiran buruk di otak Cilla. Meski mulut Cilla sering menyangkal ucapan Theo, tapi memori otaknya merekam dan mengolahnya sampai menghasilkan pikiran jelek yang mendukung kegelisahan hatinya saat jauh dari Arjuna.


Cilla menarik nafas panjang. Terlalu khawatir membuat ia lupa pesan Arjuna supaya jangan sampai terprovikasi oleh Theo.


Cilla tidak bisa menyangkalnya kalau ucapan Theo memang mengena di hatinya. Apalagi Arjuna benar-benar sibuk setelah kembali bekerja dengan papa Arman.


Dalam dua hari ini kesibukan Arjuna sudah cukup menyita waktunya, itupun dengan status hanya membantu sementara perusahaan papa Arman. Bagaimana kalau nanti Arjuna benar-benar kembali terjun sepenuhnya dan kembali menjadi CEO ?


“Cilla, kamu tidak apa-apa ?” tanya papi Rudi sambil menyentuh bahu putrinya yang menggeleng sambil memejamkan mata.


Cilla terdiam menatap papi Rudi dan melirik pria muda yang ternyata sedang menatapnya sambil tersenyum manis. Cowok keren yang berdiri di depannya memang sebelas duabelas jika dibandingkan dengan Arjuna.


Tapi Cilla hanya mau Arjuna, guru matematika yang sudah membuat hatinya merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.