
“Luna.”
Tidak perlu menoleh, Luna hafal suara pria yang memanggilnya. Ia sedang berdiri menunggu dokter Agus dan tim dokter dari rumah sakit Royal Pratama di depan ruang ICU.
“Bagaimana keadaanmu ?”
Raja berdiri di hadapannya sambil tersenyum namun Luna hanya menatap dengan wajah datar dan senyuman sinis. Ia tidak peduli melihat Raya yang terlihat jauh lebih kurus dan rambut putihnya semakin banyak.
“Apa kita cukup dekat untuk saling menanyakan kabar ?”
“Apa aku tidak boleh menanyakan kondisi anakku yang ada di dalam rahimmu sekarang ?”
“Anak ? Anda lupa dengan ucapan yang keluar dari mulut anda saat ketahuan oleh istri ?”
“Luna, maafkan aku. Aku memang pengecut karena tidak berani bertanggungjawab atas perbuatanku padamu tapi kalau kamu masih memberi kesempatan, aku ingin memperbaikinya. Aku sudah bercerai dengan Shinta, tinggal menunggu suratnya keluar.”
“Tanggungjawab ? Kesempatan ? Tanggungjawab seperti apa yang anda maksud ? Hanya memberi status untuk anak yang akan saya lahirkan dan sepanjang hidupnya dia harus menanggung kesusahan karena anda tidak bisa memberikannya jaminan ?”
“Aku akan menikahimu secara sah dan akan berusaha menjadi suami dan ayah untuk kalian.”
“Suami ? Ayah ? Bahkan segala milik anda ternyata milik istri. Anda hanyalah pria lemah yang tidak memiliki apa-apa. Berani sekali menjanjikan mimpi yang tidak mungkin terwujud.”
“Jadi selama ini kamu hanya mengejar hartaku ? Tidak ada cinta sedikit pun dalam hubungan kita ?”
“Dan anda sendiri hanya membutuhkan wanita untuk melampiaskan nafsu anda kapan saja kan ? Lalu sebagai gantinya anda memberi saya uang dan tempat tinggal supaya saya hanya memberikan diri untuk anda ?”
Raja menjambak rambutnya sendiri dengan raut wajah kecewa, marah dan sakit hati. Ia pun mendekati Luna yang masih memasang wajah sinis.
“Kalau aku hanya menganggapmu sebagai pelacur, aku tidak akan bahagia sangat mendengar kabar kehamilanmu. Sudah pasti saat itu juga aku akan menyuruhmu membuang janin itu karena yang aku butuhkan hanya tubuhmu. Aku mencintaimu Luna, aku merasakan hidupku berbeda saat bersamamu.”
“Receh !” cebik Luna dengan semyuman sinis.
“Ternyata aku salah memilih cinta. Aku pikir kamu juga mencintaiku,” ujar Raja sambil tersenyum getir.
“Kalau nanti bayi ini lahir dan kamu tidak menginginkannya, jangan coba-coba melenyapkannya, hubungi aku ! Aku akan membesarkannya bahkan tanpa dirimu !”
Luna sedikit terkejut mendengar penuturan Raja yang langsung pergi meninggalkannya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Raja tulus mencintainya dan mengingnkan anak dari Luna.
Luna menghela nafas Sebelum ia sempat berpikir soal Raja, dokter Agus dan tim rumah sakit keluarga Pratama sudah keluar membawa mama Sofia.
*****
“Ada apa ? Tumben hubungi gue setelah sekian bulan purnama berlalu.”
“Jangan sok puitis, geli dengarnya. Gue mau culik elo siang ini, perlu minta ijin sama Kak Juna nggak ?”
“Nggak usah, selama nggak diajak CLBK Mas Juna pasti kasih ijin. Bawa bumil harus ke tempat makan yang enak, nggak mau sekedar americano doang.”
“Dasar cewek matere ! Takut uang simpanan elo kehabisan nomor seri ?”
Cilla tertawa dan menutup panggilan dari Jovan. Ia baru saja selesai kuliah di jam 9 pagi. Kelas berikutnya baru jam 9.30 sampai 11.
Cilla pun menghubungi Arjuna namun langsung dibalas dengan jawaban singkat.
ARJUNA : lagi meeting.
CILLA : nggak apa-apa, cuma mau kasih tahu nanti mau ditraktir makan siang sama Jovan. Kayaknya bahas soal Amanda lagi.
ARJUNA : hari ini Mas Juna ada kelas sore. Kalau udah selesai minta Jovan antar Cilla balik ke kampus biar pulangnya sama Mas Juna.
CILLA : Iya Pak dosen tampan. I love you 😍😍
ARJUNA : 🥰🥰
Jam sebelas limabelas, Jovan menjemput Cilla di luar kampus demi menghindari Amanda. Dan sekarang Jovan membawa Cilla ke restoran Jepang yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus.
“Jadi ?”
“Gue putus sama Amanda sejak 3 hari yang lalu. Dia belum laporan sama elo ?”
“Masalah dia cemburu lagi ? Mana mungkin Manda cerita kalau penyebabnya justru dari dirinya.”
“Gue beneran capek, Cil. Kuliah kedokteran lebih padat dan banyak tugas, apalagi bentar lagi masuk semester 6. Gue nggak ngadi-ngadi kalau tugas memang mumpuk, kadang gue aja kurang tidur. Elo udah tahu kalau gue sampai cari kost dekat kampus demi menghemat waktu dan tenaga kan ?”
“Kayaknya udah keturunan kalau mereka berdua tuh, Mas Juna dan Amanda adalah tipe pacar posesif dan pencemburu.”
“Paham gue, Cil. Tapi kalau terlalu sering dengar omelan Amanda dan berharap gue datang buat membujuknya saat ngambek, kayaknya nggak banget untuk saat ini. Apalagi nanti kalau gue koas dan harus tinggal di rumah sakit lebih lama daripada di tempat kost, elo bisa membayangkan berapa kali dalam seminggu Amanda bakal ngambek karena cemburu.”
“Gue nggak akan maksa elo tetap bertahan sama Amanda kok, Jo. Jujur antara elo dan Amanda, gue lebih kenal elo daripada dia meskipun saat ini status Amanda adalah adik ipar. Jalanin apa yang udah jadi cita-cita elo dulu, kalau memang kalian jodoh, mau elo nanti tugas kemana baliknya akan ke Amanda juga.”
“Thankyou banget elo ngerti posisi gue, Cil.”
“Gue nggak pernah lupa punya sahabat kayak elo, Jo. Lagian kenapa badan elo jadi kurus begini sih ? Masih cakep tapi kurang gagah, jadi kelihatan tua.”
“Kebiasaan deh, habis angkat orang langsung dibanting,” gerutu Jovan dan ditanggapi dengan gelak tawa Cilla.
“Jujur Jo, gue kan selalu jujur sama elo.” Jovan malah mencibir.
“Elo beneran lagi hamidun lagi ? Bukannya elo bilang mau tunggu sampai kuliah selesai ?”
“Manusia berencana, Tuhan yang berkehendak, Jo. Udah dikasih mana gue dan Mas Juna tolak.”
“Salah ! Buat pasbucin kayak elo berdua lebih tepat Arjuna bertindak, Priscilla susah menolak.”
“Tahu aja nih Pak Dokter,” sahut Cilla sambil tertawa.
Keduanya melanjutkan obrolan santai mereka hingga sekitar jam 3, mobil Jovan tiba di parkiran kampus persis di sebelah mobil Arjuna.
“Thanks buat traktirannya dan jajanan untuk Sean,” ujar Cilla sambil mengangkat satu kantong belanjaan snack untuk Sean.
“Thanks juga atas waktunya dan titip salam untuk Kak Juna. Semoga kehamilan elo lancar terus ya !”
Jovan mengacak rambut Clla penuh rasa sayang. Biar bagaimana mereka pernah tumbuh bersama dari kecil sampai SMA.
Cilla mengangguk sambil tertawa pelan lalu membuka pintu.
Dahinya berkerut saat mobil Arjuna yang persis di sebelahnya masih menyala. Bergegas ia ke arah pintu penumpang depan namun memutar ke arah belakang mobil supaya Arjuna tidak melihat kedatangannya.
“Keju…tan.”
Cilla terperangah karena yang duduk di penumpang depan adalah Susan, dosen ganjen yang ikut terlibat bersama Glen. Posisinya sangat tidak sedap dipandang mata dan membuat emosi Cilla langsung naik ke level 15.
“Kamu ngapain di sini !” bentak Cilla sambil bertolak pinggang.
Jovan yang melihat Cilla berdiri sambil melotot di samping mobil Arjuna malah mematikan mesin mobilnya dan turun lalu berjalan mendekati Cilla.
“Saya….saya… saya lagi mau bicara sama Arju.. maksud saya Pak Arjuna.”
“Bicara atau mau memperkosa suami saya ? Turun !”
Arjuna masih duduk di belakang setir sambil menahan senyumnya begitu juga dengan Jovan yang berdiri di ujung mobil mantan gurunya.
“Ibu masih berniat menguji kesabaran saya ? Mau saya buat Ibu menyusul Pak Glen atas tuduhan pelecehan ? Mau berapa tahun ?”
Cilla melipat kedua tangannya di depan dada dan matanya masih melotot saat Susan turun dari mobil Arjuna.
“Saya belum ngapa-ngapain sama suami kamu, eh… maksud saya…”
“Udah nggak usah banyak ngeles kayak bajaj. Ibu tinggal pilih mau berapa tahun ?”
Mata Susanmembola dan ekspresi wajahnya terlihat ketakutan. Ia pun bergegas pergi meninggalkan Arjuna, Cilla dan Jovan.