MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Emosi yang Salah Tempat


Arjuna memejam saat Cilla masih menatapnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Entah perasaan apa yang bergejolak di dalam hatinya.


Seharusnya Arjuna merasa senang karena dua masalahnya bisa terselesaikan sekaligus. Menuruti permintaan papa Arman untuk menikahi putri sahabatnya dan menjadikan Cilla kekasih hatinya karena keduanya adalah orang yang sama.


 


Tapi entah kenapa bukan kelegaan yang Arjuna rasakan, melainkan rasa kecewa dan marah karena merasa Cilla telah membohonginya selama ini.


Hati Arjuna lebih condong meragukan ketulusan Cilla selama ini. Keraguan kalau semua yang Cilla lakukan hanya untuk membalas dendam atas perbuatannya yang mungkin menyinggung perasaan gadis itu.


 


“Mas Juna,” panggil Cilla pelan sambil menyentuh lengan Arjuna. “Cilla senang karena ternyata Mas Juna adalah anak om Arman yang akan dikenalkan malam itu tapi malah pilih kabur,” Cilla berusaha menetralkan suasana di antara mereka yang terasa tegang.


 


Cilla membelalakan matanya dan menatap Arjuna dengan tidak percaya saat Arjuna menepis tangannya dari lengan pria itu.


 


“Mas Juna,” desis Cilla sambil menautkan alisnya.


 


“Puas kamu sudah membuat saya seperti ini ? Puas sudah bisa membalaskan rasa sakit hatimu karena saya memilih kabur daripada menemui kamu malam itu ?”


 


Cilla cepat-cepat menggeleng dan membalas tatapan Arjuna yang penuh kekecewaan.


 


“Cilla nggak pernah sungguh-sungguh marah apalagi sakit hati karena Mas Juna memilih pergi malam itu,” sahutnya.


 


“Tapi kamu membiarkan saya berpikir mencoba mencari jalan yang terbaik agar bisa mendapatkan restu dari papa dan papimu selama seminggu ini ?” tanya Arjuna dengan senyuman sinis.


 


“Cilla nggak bermaksud membuat Mas Juna…”


 


“Cukup !” bentak Arjuna dengan wajah meradang dan mata yang membelalak karena marah. “Puas kamu bermain sandiwara untuk mempermainkan perasaan saya ?”


 


“Cilla tidak pernah mempermainkan perasaan Mas Juna,” protes Cilla cepat. “Apa yang Cilla lakukan selama ini benar-benar tulus dari hati yang terdalam, termasuk juga perasaan Cilla pada Mas Juna.”


 


“B****** !” geram Arjuna sambil mendengus kesal dan membuang muka ke samping.


 


“Ternyata sifatmu lebih buruk dari Luna. Pemain drama berpengalaman, bahkan sanggup melibatkan para orangtua untuk membuat semuanya berhasil !” tegas Arjuna dengan tatapan tajam.


 


“Cilla tidak pernah bermaksud jahat pada Mas Juna. Semua ini…”


 


“Cukup !” bentak Arjuna  membuat Cilla terperangah dan memundurkan badannya. “Jangan panggil saya seperti itu. Jijik saya mendengar panggilan itu keluar dari mulut pembohong dan drama queen sepertimu !”


 


“Saya tidak pernah berpura-pura pada Pak Arjuna,” Cilla masih berusaha melawan kemarahan Arjuna. Hatinya mulai merasakan sakit dengan semua tuduhan Arjuna yang menganggapnya sebagai sutradara di balik semua drama ini.


 


“Saya tidak pernah menginginkan semuanya seperti ini,” ujar Cilla kembali. Rasanya air mata ingin keluar karena rasa emosi yang membuncah.


 


“Good Job !” Arjuna tertawa sinis sambil bertepuk tangan di hadapan Cilla. “Pembalasanmu sudah berhasil mengacaukan pikiran saya dan membuat saya jatuh cinta padamu.”


 


“Saya tidak pernah merencanakan semua ini !” pekik Cilla dengan kesal. “Saya tidak pernah main-main dengan perasaan saya !”


 


Arjuna hanya tersenyum sinis. Bahkan hatinya tidak tersentuh saat melihat air mata mulai keluar dari sudut mata Cilla.


 


“Semua ini atas permintaan om Arman !” tegas Cilla kembali. Ia sudah tidak mampu lagi menahan air mata sebagai luapan emosinya yang meronta-ronta di dalam hati.


 


“Oh jadi sekarang kamu menyalahkan papa saya juga ? Kenapa ? Karena papa memaksamu menikah dengan saya ?” Arjuna menundukkan wajahnya mendekati Cilla.


 


Hatinya sempat tercubit saat melihat derai air mata membasahi pipi anak bebek kesayangannnya. Tapi saat ini perasaan kecewa karena merasa dibohongi oleh Cilla jauh lebih besar daripada cintanya.


 


“Bisakah bapak percaya kepada saya ? Selama ini saya tidak pernah menginginkan kepura-puraan ini karena saya sungguh-sungguh jatuh cinta pada Pak Arjuna,” suara Cilla sedikit tersendat di sela-sela tangisnya.


 


"Cinta ?" Arjuna tertawa mengejek. “Mana ada cinta yang rela berbohong selama sembilan bulan ini. Mana ada cinta yang rela membiarkan kekasihnya menderita karena memikirkan jalan keluar untuk kebaikan berdua. Jangan sekali-sekali bicara cinta lagi di depan saya. Seperti saya katakan tadi, kamu ternyata jauh, sangat jauh lebih buruk dari Luna !” desis Arjuna penuh ketegasan sambil tersenyum sinis.


 


“Bapak akan menyesal saat tahu kebenarannya !” balas Cilla dengan wajah kesal.


 


“Saya menyesal karena membiarkan kamu menjerat saya hingga jatuh cinta kepadamu !” tegas Arjuna.


 


Tanpa bicara apa-apa lagi Arjuna meninggalkan Cilla yang menatapnya dengan deraian air mata. Ia terduduk kembali di atas rumput dan menangkup wajahya di antara kedua lutut yang melipat.


 


“Cil,” sentuhan Amanda membuat Cilla mendongak.


 


“Elo kok belum pulang, Man ?” tanya Cilla sambil menghapus airmata dengan punggung tangannya.


 


“Kebiasaan !” gerutu Jovan yang ikut menemani Amanda memperhatikan Cilla dan Arjuna dari kejauhan.


 


Kembali Jovan memberikan saputangan yang memang selalu ada di saku celananya.


 


“Besok-besok elo titip saputangan selusin sama gue, biar kalau lagi mewek begini nggak perlu gue pinjamin saputangan lagi. Lama-lama stok gue pindah ke lemari elo,” gerutu Jovan .


 


Cilla tertawa di sisa-sisa air matanya. Ia tahu kalau Jovan tidak serius dengan ucapannya malah berusaha menghiburnya.


 


“Kalau nggak rela ya jangan dikasih !” kali ini malah Amanda yang terpancing emosinya mendengar ucapan Jovan yang dianggapnya serius.


 


“Eh nih cewek pakai bensin turbo ya ?” Jovan menatap Amanda sambi mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala. “Gampang banget kesulut… Api belum nyala udah main sambar aja.”


 


Cilla makin tertawa mendengar pertengkaran dua sahabatnya.


 


“Mirip sama kakaknya, Van,” sahut Cilla. “Tuh guru matematika idola elo,” sambung Cilla.


 


 


“Eh cowok si**lan, nggak lihat muka gue mirip begini sama guru elo ?” omel Amanda sambil melotot.  “Gue laporin sama kakak gue biar nilai elo merah semua, MAU ?”


 


“Haiiss beraninya main ngancam aja,” cebik Jovan. “Pantas aja pas neglihat elo, otak gue langsung mikir kalau muka elo mirip sama seseorang yang gue kenal. Dan udah fixed lah elo satu keturunan sama Pak Arjuna. Emosinya benar-benar kayak bensin turbo. Nggak boleh lihat api sedikit langsung main nyamber aja.”


 


Cilla tertawa saat melihat Amanda semakin membelalakan matanya dan bertolak pinggang di depan Jovan.


 


“Kalian berdua kenapa belum pulang ? Takut gue diapa-apain sama pak Arjuna ? Terus sekarang lihat gue nangis begini bukannya menghibur malah berantem aja,” ujar Cilla sambil mencibir.


 


Jovan dan Amanda yang baru sadar mendengar ucapan Cilla langsung menoleh dan masing-masing duduk di kedua sisi, mengapit Cilla yang duduk di tengah-tengah.


 


“Jadi Kak Juna sudah tahu ?” tanya Amanda dengan wajah cemas. Cilla menoleh dan mengangguk sambil tersenyum.


 


“Terus ?” Amanda mengangkat alisnya.


 


“Pak Arjuna nggak percaya kalau ini semua permintaan bokap elo. Dia nggak percaya kalo perasaan gue beneran sama kakak lo itu. Dan sepertinya kita putus beneran.”


 


“Sebetulnya ada masalah apa sih, antara elo sama Pak Arjuna ?” tanya Jovan dengan wajah bingung.


 


 Cilla menghela nafas dan menoleh menatap Jovan. Akhirnya perlahan Cilla menceritakan secara singkat masalah hubungannya dengan guru matematika mereka.


 


“Jadi sebetulnya elo berdua udah dijodohin lama ?” Jovan terlihat sedih. “Berarti gue bukan sekedar ditikung ya sama Pak Juna.”


 


“Mana ada Pak Arjuna nikung elo,” ujar Cilla sambil memukul bahu Jovan. “Selama ini jangankan dijodohkan, pacaran aja nggak, malah udah hampir sembilan tahun kita musuhan. Elo aja yang halu merasa gue ini udah di labelin milik elo.”


 


Jovan tertawa pelan sambil mengusap tengkuknya. Tentu saja Cilla tidak tahu kalau kedua orangtua Jovan  sempat membahas ingin melamar Cilla menjadi menantu mereka, bahkan setahu Jovan, kedua orangtuanya sudah menyampaikan niatnya ini pada papi Rudi.


 


“Jadi sekarang elo mau bagaimana, Cil ?” tanya Amanda. “Gue bakal omongin masalah ini sama papa, biar papa yang klarifikasi sama Kak Juna.”


 


“Thankyou buat niat baik elo, Man,” Cilla menyentuh lengan Amanda. “Tapi gue mohon jangan dalam waktu dekat ini ya. Hari Senin gue udah mukai pekan ulangan umum, jadi biar gue konsen dulu ke masalah sekolah. Selesai semuanya, gue yang akan langsung menemui om Arman dan membicarakan masalah ini.”


 


“Elo yakin nggak masalah ketemu kakak gue yang emosian itu selama di sekolah ?” Amanda mengangkat alisnya sebelah.


 


“Yakin !” tegas Cilla. “Kan selama pekan ulangan, belum tentu kakak lo yang jadi pengawas di kelas gue. Kalau selebihnya udah pasti Pak Arjuna akan menghindari gue.”


 


“Dasar kompor meleduk !” gerutu Amanda. “Bukannya senang mendapati kenyataan kalau jodoh sama pacarnya satu orang, ini malah marah-marah.”


 


“Eh ngaca dulu kali sebelum ngomong,” sindir Jovan. “Nggak sadar kalau elo itu sebelas duabelas sama kakak elo, emosian dan gampang diprovokasi.”


 


“Eh cowok kepo, baru kali ini gue ketemu sama cowok yang mulutnya ember bocor kayak elo !” omel Amanda sambil melotot dari samping Cilla.


 


“Bukannya kepo, tapi memberi nasehat yang benar,” sahut  Jovan dengan tatapan sombong. “Biar elo sebagai yang lebih kecil nggak salah jalan.”


 


Baru Amanda ingin membalas ucapan Jovan, Cilla bergegas bangun dari duduknya lalu membersihkan rumput yang menempel di celananya. Jovan dan Amanda reflek menjauh agar tidak terkena kibasan dari baju Cilla.


 


“Silakan berantemnya diterusin ya… Siapa tahu lama-lama dari benci jadi benar-benar cinta,” ujar Cilla sambil terkekeh. “Gue mau balik dulu.”


 


“Terus gue ditinggal, Cil ?” Amanda ikut bangun dan menahan lengan Cilla. “Gue nggak bawa kendaraan,” rengek Amanda.


 


“Tuh biar Jovan yang anterin elo, ya. Gue masih ada urusan.”


 


Jovan mencibir sementara Amanda terlihat kesal karena harus pulang dengan cowok kepo yang omongannya tidak mau kalah.


 


“Kalau begitu gue pulang naik ojol aja,” sahut Amanda cepat. Ia balas mencibir ke arah Jovan yang menertawakannya.


 


“Yakin ?” Cilla menatap Amanda untuk memastikan. “Jovan baik dan udah aman kok… Kalau sampai dia macam-macam sama elo, tinggal lapor sama kakak lo biar nih cowok dibikin nggak lulus.”


 


Amanda melirik ke arah Jovan yang masih bersikap santai dan tersenyum meledek Amanda.


 


‘Eh Manda, gue bisa pinjam hp lo sebentar ?” tanya Cilla .


 


Amanda mengangguk dan mengeluarkan handphone miliknya dari dalam tas selempang.


 


Cilla mengetikan sesuatu ke nomor  Arjuna dan langsung terkirim dengan centang dua. Cilla mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan juga pada Arjuna, tapi hanya muncul satu centang di pesannya.


 


Cilla menghela nafas, ternyata Arjuna bukan mematikan handphonenya, tapi sudah pasti langsung memblokir nomor Cilla.


 


Jovan dan Amanda sempat bertukar pandangan melihat Cilla yang sedang mengutak-atik dua handphone di tangannya, dan Jovan yang pertama kali mengangkat bahu menanggapi tatapan Amanda.


 


“Gue balik duluan, guys, “Cilla melambaikan kedua tangannya sambil tersenyum meskipun hatinya terasa kacau.


 


“Minta tolong ya Van, tolong anterin Amanda sampai rumah dengan selamat. Nggak bakalan ketemu dan dimarahi sama Pak Arjuna, karena mereka nggak tinggal serumah.”


 


Cilla menangkup kedua tangannya di depan dada sambil menatap Jovan yang langsung mengangguk, mengiyakan permintaan Cilla.


 


Cilla menarik nafas lega sambil tersenyum. Ia kembali melambaikan tangan dan bergegas meninggalkan Jovan dan Amanda yang masih memandangnya sampai sahabat mereka itu hilang dari pandangan.