MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Waktunya Belanja


“Apa perlu kita belanja-belanja lagi ?” tanya Cilla saat berjalan beriringan dengan Cilla mengikuti mama Diva dan tante Siska.


“Elo mau dianggap sebagai adik atau istrinya Kak Juna ?” Amanda melirik Cilla. “Belum pernah menghadapi tampang cewek-cewek yang langsung terpesona pas lihat Kak Juna pakai setelan kerjanya, kan ? Gue udah sering dan takut kalau pada ngiler aja,” ujar Amanda sambil terkekeh.


“Sepertinya sudah bawaan kalau Mas Juna selalu jadi pusat perhatian. Di sekolah aja cewek-cewek kelas 10 sama 11 merengek minta dia jadi guru matematika mereka,” gerutu Cilla.


“Makanya elo harus belajar merubah penampilan pelan-pelan. Nggak perlu langsung ekstrim. Kalau Kak Juna balik kerja di perusahaan papa, elo siap-siap aja diajak ke acara-acara resmi urusan kantor. Nah pas acara begitu, elo wajib tampil beda tapi nggak perlu jadi tante-tante juga. Biar tuh emak-emak temannya papa dan mama nggak pada kepo mau jodohin anak mereka sama Kak Juna.”


Cilla menghela nafas dan menuruti Amanda saat gadis itu mengajak mereka bertiga masuk ke toko baju.


“Sayang,” mama Diva dan tante Siska mendekatinya saat melihat Cilla duduk di sofa yang ada di dalam toko.


“Kamu nggak milih-milih baju ?” Mama Diva mengelus punggung calon menantunya. “Mumpung ada Manda, mama dan tante Siska. Kami bisa memberi saran untuk pilihan kamu.”


“Terus terang Cilla jjarang belanja seperti ini, Ma. Biasa kalau Febi atau Lili belanja, Cilla juga nunggu di bangku aja.”


“Cilla, menjadi cantik adalah hak setiap wanita. Apalagi kalau orangtua atau suami kamu memberikan kamu kesempatan. Mungkin dulu kamu bingung memutuskan karena sendirian, tapi sekarang sudah ada mama kamu dan Amanda yang bisa memberikan gambaran kira-kira model seperti apa yang sesuai dengan selera calon suami kamu,” nasehat tante Siska.


“Iya sayang,” mama Diva menimpali. “Memangnya kamu mau dianggap adiknya Arjuna, karena selain kamu masih muda dan postur tubuh kamu yang mungil plus penampilan kamu yang terlalu kasual, orang bisa menyangka kamu itu adiknya Arjuna.”


“Apa Mas Juna akan malu kalau Cilla seperti anak-anak, Ma ?” tanya Cilla dengan wajah sendu.


“Hei, jangan melow terus,” tante Siska menepuk bahu keponakannya dengan penuh semangat. “Berpenampilan rapi, cantik dan sesuai keperluan adalah kewajiban seorang istri. Bagaimana penampilan pasangan adalah gambaran pasangan lainnya. Coba kamu bayangkan kalau melihat seorang wanita cantik dan modis menggandeng seorang pria dengan wajah kucel dan pakaian lusuh, apa yang ada dalam pikiran kamu ?”


“Istrinya tidak bisa mengurus suami,” jawab Cilla.


“Begitu juga dengan seorang suami tampan dan berpenampilan keren serta berwibawa seperti Arjuna menggandeng kamu yang berpenampilan sebagai anak abege dengan pakaian kasual. Kira-kira orang akan menilai kamu bagaimana ?”


“Seperti adiknya Mas Juna atau bahkan karyawannya aja,” Cilla mengerjapkan matanya.


“Kamu tidak perlu berpenampilan terlalu dewasa untuk mengimbangi Arjuna, paling tidak berpenampilan sesuai tempat dan waktu,” ujar tante Siska.


“Percayalah sayang, mama dan tante Siska juga melakukan yang sama agar para suami kami tetap bangga saat menggandeng istrinya,” timpal mama Diva sambil tertawa pelan.


“Lagipula Cil, papi dan calon suami elo itu cari uang untuk istri dan anak-anaknya. Mereka pasti sedih kalau udah kerja capek-capek, istrinya cuma berpenampilan jeans dan kaos oblong atau kemeja,” ujar Amanda terkikik.


“Itu mah bisa-bisanya kamu aja supaya tidak merasa bersalah karena sering-sering berbelanja pakai uang papa,” mama Diva melotot menatap Amanda. Adik Arjuna itu hanya tertawa.


“Jangan pernah takut hanya karena mendengar ucapan Theo,” ujar tante Siska. “Kamu hanya perlu mengerti kalau calon suami kamu itu adalah seorang pengusaha sekaligus pemimpin. Di sini, posisi tante dan mama kamu sama juga. Belajar menerima dan mengerti keadaan suami. Buat suami bahagia bukan berarti jadi wanita serba bisa, jadi wonder woman.”


“Mama yakin Arjuna tidak memilih kamu tanpa ragu-ragu. Kamu adalah calon istrinya, bukan rekan kerja bisnisnya,” ujar mama Diva sambil tersenyum.


“Elo bisa bayangin nggak Cil, Kak Luna yang lagaknya kayak paling cakep sejagat tapi neyebelin aja nggak bikin Kak Juna mudah berpaling. Elo cukup membahagiakan dia lahir batin. Kalau soal lahiriah gue bisa jadi partner disksusi, kalau masalah kepuasan batin suami tanyanya sama mama atau tante Siska,” ujar Amanda sambil tertawa.


“Dasar anak kecil yang sok gede,” mama Diva memukul pelan bahu Amanda. “Berani ngeracunin calon kakak iparmu dengan pikiran aneh-aneh.”


“Dih Mama, itu kan memang sudah kodrat alam. Lagian kita juga sudah dapat pelajarannya di sekolah biar baru kulit luarnya doang. Apa mama nggak dengar ucapan Cilla dua hari lalu ? Kak Juna mau punya anak saat Cilla kuliah tingkat dua.”


“Kayaknya tante nggak dengar Cilla ada omong begitu. Memang benar, Cilla ?” ledek tante Siska.


“Tante, sekarang udah jaman now. Daripada anak belajar lewat medsos atau channel youtube, akan lebih baik kalau orangtua sebagai tutor berpengalaman yang mengajari.”


“Iiihh, gue kagak minta diajarin,” Cilla mencebik pada Amanda. “Elo kali tuh yang minta diajarin buat bekal sama Jovan.”


“Eh kok jadi mengalihkan isu membahas soal gue,” sahut Amanda dengan nada sewot.


“Awas nyesel nolak sahabat gue dan menggantung cintanya kelamaan. Yang antri buat dapatin Jovan tuh banyak, yang nggak malu buat nyerobot lebih banyak lagi. Kelamaan jaim akhirnya nyesel loh !” Ledek Cilla sambil tergelak.


“Udah sih, jangan mengalihkan topik pembicaraan deh ! Mau gue temenin belanja dan siap jadi beauty advisor elo apa gue tinggal nih ?”


Cilla tertawa melihat wajah Amanda yang cemberut. Dia beranjak bangun dan langsung merangkul lengan Amanda.


“Jangan ngambek gitu, nanti gue nggak bagi foto-foto Jovan selama liburan ke Jepang, loh,” bisik Cilla sambil terkikik setelah posisi mereka sedikit menjauh dari mama Diva dan tante Siska.


“Nggak penting,” Amanda mencebik.


“Yakin ?” Cilla menatap Amanda dan menaikturunkan alisnya. “Padahal Jovan senang banget pas gue kirimin dia foto elo selama di sini .”


“Eh kampret ! Kapan elo ambil foto gue ?” Amanda langsung melotot.


“Pas elo lagi mangap dan sedikit ngorok waktu tidur,” sahut Cilla sambil terkekeh.


“Seharusnya elo berterima kasih karena gue tetap membantu kestabilan hati Jovan sama elo,” Cilla terkekeh.


“Elo udah kayak stabilizer aja bisa mempertahankan kestabilan hati,” Amanda mencebik.


“Yakin nih nggak mau lihat foto-foto Jovan selama di Jepang ?” Cilla menaikturunkan alisnya meledek Amanda.


Amanda hanya diam dan masih memasang wajah sok jaim, padahal dalam hatinya bukan hanya ingin, tapi ingin banget mendengar kabar dari Jovan.


Amanda pura-pura sibuk melihat-lihat baju yang tergantung di rak sementara pikirannya sudah melayang membayangkan Jovan.


“Elo kagak jawab, gue hapus semua fotonya nih !” ancam Cilla sambil menggoyang-goyangkan handphonenya di dekat wajah Amanda. “Dan gue bakal suruh Jovan berhenti mengirimkan fotonya buat elo.”


“Memangnya kerjaan elo udah ganti jadi kurir ?” sahut Amanda dengan nada sinis.


“Gara-gara elo memblokir nomornya Jovan, makanya dia kepoin gue,” sahut Cilla.


“Eh sejak kapan gue memblokir nomor Jovan ?” Amanda mengeluarkan handphonenya dan langsung mencari nama Jovan lalu memastikan omongan Cilla.


Melihat sikap Amanda yang begitu sigap memeriksa handphonenya, Cilla langsung terbahak. Kali ini calon adik iparnya tidak bisa mengelak lagi kalau ia masih peduli dengan Jovan.


“Makanya jangan sok jaim,” ledek Cilla sambil mencebik. “Punya hati jangan kelamaan disimpan nanti keburu basi. Belum lagi kalau sudah diambil orang, gue jamin kalau elo bakal nangis bombay.”


“Memangnya elo beneran nggak pernah punya perasaan khusus sama Jovan ?” Amanda menatap Cilla dengan wajah serius. Bukannya menanggapi dengan serius juga, Cilla malah tertawa.


”Gue nggak ingat kalau pernah punya perasaan yang gimana-gimana sama Jovan. Tapi yang pasti kalau sekarang, cuma Mas Juna doang yang gue sayang,” Cilla tertawa pelan.


“Oh, jadi dulu kamu juga sempat suka sama Jovan ?”


Cilla terpaku di tempatnya dengan wajah tegang. Gantian sekarang Amanda terbahak melihat ekspresi calon kakak iparnya ini. Sebetulnya Amanda sudah melihat kedatangan Arjuna bahkan kakaknya itu memberi isyarat supaya diam saja karena ingin memberikan kejutan pada Cilla.


Ide jahil muncul di benak Amanda. Antara serius dan bercanda dengan pertanyaannya barusan soal perasaan Cilla pada Jovan. Ternyata Cilla yang sama jahilnya memberi jawaban untuk menggoda Amanda. Siapa sangka kalau bukan hanya calon adik iparnya yang mendengar, tapi juga calon suaminya.


“Cilla !”


Cilla berbalik dan langsung nyengir kuda saat melihat Arjuna menatapnya tajam dengan kedua tangan melipat di depan dada.


“Eh Mas Juna kok tahu Cilla ada di sini ?” tanyanya dengan nada kikuk.


“Jangan mengalihkan pembicaraan ! Jadi kamu pernah suka sama Jovan ?”


Terlihat Cilla langsung menggeleng dengan cepat. Amanda yang posisinya ada di belakang Cilla menutup mulut menahan tawanya.


“Dulu kamu bilang nggak pernah punya perasaan apapun sama Jovan, tapi barusan kamu bilang nggak ingat. Berarti kamu pernah suka sama Jovan tapi kamu pura-pura lupa ?”


Arjuna membungkukan badan hingga wajahnya persis behadapan dengan muka Cilla.


Cilla kembali menggeleng dan wajahnya memerah karena bisa merasakan hembusan nafas Arjuna di kulit wajahnya.


“Kenapa muka kamu merah ? Malu karena ketahuan ?” Mata Arjuna memicing menelisik wajah Cilla yang kembali menggeleng.


“Malu karena Mas Juna terlalu dekat posisinya sama muka Cilla. Ini jantung nggak bisa dikondisikan lagi. Apa Mas Juna sudah siap memberikan CPR kalau sampai Cilla pingsan di sini ?”


“Jangan mengalihkan pembicaraan !” sahut Arjuna dengan nada galak dan tatapan tajam. Posisinya sudah kembali berdiri tegak di hadapan Cilla.


“Nggak mengalihkan, ini beneran. Coba pegang !”


Arjuna membelalak saat Cilla langsung menarik tangannya dan menempelkannya di dada Cilla dekat bahu dan leher.


Amanda pun ikut membelalak dan terkejut saat melihat tindakan Cilla. Bahkan mama Diva dan tante Siska yang melihatnya dari belakang ikut terkejut dan langsung berpikiran macam-macam.


Meski tangan Arjuna tidak menyentuh aset pribadi Cilla, namun posisinya yang lumayan dekat dengan area terlarang itu membuat Arjuna ikut berdebar.


Kalau diukur dengan EKG (elektrokardiograf) sepertinya angka detak jantung Arjuna akan lebih tinggi dibandingkan Cilla, melampaui batas normal.


Cilla mengerjap saat melihat wajah Arjuna terlihat makin gugup dan salah tingkah. Meski begitu, Arjuna tidak bergegas melepaskan tangannya dari tangan Cilla yang masih memeganginya.


Kalau dalam kondisi begini, Arjuna malah bingung. Entah dia atau Cilla yang akan membutuhkan CPR dalam waktu lima menit ke depan.