MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Sahabat Sehari


Kegiatan sekolah tetap di hari Senin berjalan seperti biasa meskipun baru Sabtu yang lalu anak-anak menerima laporan nilai mid semester. Cilla yang bangun kesiangan tidak bisa lagi menghindari Jovan yang sudah menunggunya di bawah pohon tempat biasa ia masuk ke area sekolah saat gerbang di tutup.


 


“Masih belum bosen juga jadi anak monyet ?” Jovan sudah menunggunya dengan wajah galak dan kedua tangan yang terlipat di depan dada.


 


“Eh kakak Ketos,” Cilla tersenyum kikuk. “Kan sebentar lagi lulus, Kak. Kasihan ini pohon kalau sampai kehilangan penggemar. Sekali-sekali perlu dipanjat juga,” ujar Cilla sambil menepuk-nepuk batang pohon mangga.


 


“Elo kira dia boyband yang banyak penggemarnya ? Cuma elo doang yang hobi banget manjat pohon ini,” sahut Jovan dengan nada galak.


 


Melihat tampang Jovan dan suaranya yang galak, Cilla jadi menelan salivanya. Tidak biasanya ketos tampan ini bersikap seperti perempuan yang lagi PMS.


 


“Ikut gue ! Terima hukuman elo !” Jovan memberi isyarat dengan gerakan kepalanya supaya Cilla mengikutinya.


 


“Eh tugas elo kan belum selesai,” ujar Cilla berusaha mengalihkan perhatian Jovan yang membawanya menjauh dari tempat para siswa senasib dengannya berkumpul.


 


“Masih ada Bu Retno dan yang lainnya,” sahut Jovan tanpa menoleh.


 


Sambil melangkah menuju halaman belakang sekolah, sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan kalau Cilla mengikutinya. Jovan tidak mau kalau sampai biang terlambat ini kabur dari hukumannya.


 


“Hukuman apaan yang harus gue kerjakan di sini ?” tanya Cilla saat mereka sudah sampai di halaman belakang,


 


“Hukuman elo pagi ini adalah harus menjawab pertanyaan gue dengan jujur dan nggak boleh ngeles.”


 


Cilla meniup wajahnya sendiri dengan ekspresi malas. Hukuman teraneh yang pernah Jovan berikan selama Cilla menjadi anggota tetap siswa paling sering terlambat.


 


“Sejak kapan elo dekat sama Pak Arjuna ?” Jovan menyipitkan matanya, menelisik wajah Cilla. “Kalian pacaran ?”


 


“Iya,” jawab Cilla cepat sambil membalas tatapan Jovan dengan wajah santai.


 


 “Kenapa ? Nggak boleh karena ada aturan kalau guru nggak boleh pacaran sama murid ?” lanjut Cilla sambil mencibir.


 


“Tapi Pak Arjuna nggak pernah bilang kalau kalian pacaran saat gue minta tolong sama dia !” Jovan yang sejak tadi menahan kesal tidak mampu lagi menahan emosinya dan akhirnya kelepasan soal kesepakatannya dengan Arjuna.


 


Cila yang tadinya duduk di bangku semen beranjak bangun dan berdiri di hadapan Jovan. Ditatapnya Jovan dengan mata menyipit.


 


“Minta tolong ?” Cilla berdecih sambil tersenyum sinis. “Jadi elo udah libatkan orang lain dalam masalah kita ? Elo nggak takut malah diketawain orang atas perbuatan elo sama gue ?” Cilla mendorong sebelah bahu Jovan dengan telunjuknya.


 


“Gue akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dari elo, Cil,” ujar Jovan dengan suara lebih pelan. “Gue mau kita jadi sahabat lagi.”


 


Cilla menghela nafasnya dan kembali duduk di bangku semen. Kedua tangannya memegang tepi bangku semen.


 


“Kalau sekedar kata maaf dan memaafkan itu gampang diucapkan, tapi luka yang meninggalkan bekas tidak akan mudah dilupakan. Setiap kali melihatnya, kejadian penyebab luka itu akan langsung terpampang di dalam pikiran. Selain itu sangat sulit untuk percaya lagi pada seseorang yang sudah berbicara fitnah tetapi tetap mengaku sahabat.”


 


 


“Nggak usah melibatkan orang ketiga dalam masalah kita. Mereka nggak akan pernah memahami kejadian yang sesungguhnya. Jangan gara-gara orang ketiga, gue malah tambah ingin elo menghilang total dari kehidupan gue.”


 


“Sorry Cil. Seandainya gue bisa membuat waktu terulang kembali, gue nggak akan jadi sahabat yang sejahat itu. Gue berpikir dengan pengakuan gue, elo akan terbebas dari hukuman Om.”


 


“Dan masalah gue sama Pak Arjuna itu urusan pribadi. Jangan terlalu banyak ikut campur karena elo tidak tahu apapun. Jangan sampai niat baik elo jadi bumerang lagi. Kalau sampai itu terjadi, bukan hanya bikin elo menyesal, tapi buat elo ingin menghilang.”


 


Cilla pun bangun dari duduknya dan kembali berdiri di hadapan Jovan dengan menjaga jarak.


 


“Sekarang hukuman apa yang harus gue jalanin karena terlambat pagi ini ? Kalau sudah selesai, gue mau ijin ke kantin. Cacing di perut gue udah pada teriak karena nggak keburu sarapan pagi ini.”


 


Jovan memandang wajah Cilla yang selalu dirindukannya. Terlihat gadis itu biasa-biasa saja tanpa merasa baper dipandangi Jovan seperti itu.


 


“Hukuman hari ini elo harus membiarkan gue menjadi sahabat elo sehari aja. Kalau besok-besok elo mau balik jutek lagi sama gue, nggak masalah. Hanya hari ini aja.”


Jovan menatap Cilla sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah dan senyum memohon. Cilla menarik nafas panjang  dan dengan wajah malas akhirnya ia mengangguk.


 


“Hanya hari ini,” tegas Cilla. “Gue nggak mau berurusan sama para anggota fans club elo,” oceh Cilla sambil berjalan menuju kantin sekolah.


 


“Kenapa ? Elo takut disiram lagi ?” ejek Jovan yang dengan perasaan bahagia menyusul Cilla dan berjalan di sampingnya.


 


“Sejak kapan gue takut ngadepin cewek-cewek sok kecantikan kayak Sherly. Gue nggak mau nambah panjang daftar pelanggaran gue. Lagian kalau sampai papi dipanggil ke sekolah,  sakit hati gue malah bertambah karena papi hanya akan mengirim siapapun untuk mewakilkannya.”


 


“Perlu nyokap gue yang menjadi wali elo ?” goda Jovan sambil tertawa pelan.


 


“Mau gue batalin permintaan elo sekarang juga ? Gue kabulin bukan karena sudah melupakan perbuatan elo, tapi gue terima sebagai hukuman karena udah terlambat datang. Ngerti ?” Cilla yang berhenti berhadapan dengan Jovan langsung bertolak pinggang sambil melotot.


 


“Iya.. iya… Namanya juga berharap, kan nggak ada salahnya usaha dulu biar nggak bisa kesampaian,” sahut Jovan sambil tertawa pelan.


 


Cilla mempercepat langkahnya menuju kantin dan menyuruh Jovan berdiri jauh-jauh darinya, membuat Jovan semakin tergelak karena melihat wajah Cilla yang cemberut. Namun sesampainya di kantin. Cilla membiarkan Jovan duduk semeja dengannya.


 


Sementara di dalam kelas XII IPS-1, Arjuna yang sedang mengajar merasa sedikit resah. Selama menerangkan materi, matanya tidak bisa diajak kompromi untuk tidak melirik ke arah bangku Cilla. Meski ia tahu kalau ketidakhadiran Cilla karena sedang menjalani hukuman akibat terlambat datang, ia berharap Cilla masih bisa masuk dan mengikuti pelajarannya secepatnya.


 


Arjuna keluar mencari udara segar setelah memberikan tugas latihan pada murid-muridnya dan berdiri di relling depan kelas XII IPS-1. Tadinya ia ingin menyuruh Nino mencari Cilla dan memintanya kembali ke kelas karena ia sedang menerangkan materi baru. Namun saat berdiri di luar, pandangannya  langsung menangkap sepasang anak SMA yang berjalan menuju kantin.


 


Suasana yang terlihat berbeda. Dilihatnya Jovan berjalan berdampingan dengan Cilla dan berbincang. Biasanya Cilla tidak pernah membiarkan Jovan berjalan di sebelahnya.


Meski sempat ada adegan kemarahan Cilla, namun Arjuna melihat kalau ekspresi Jovan tidak menyedihkan seperti biasanya, malah beberapa kali ketos tampan itu tertawa meski di belakang Cilla.


 


Arjuna menghela nafas sambil tersenyum. Semoga usaha Jovan mendapatkan maaf dari Cilla membuahkan hasil setelah 9 tahun usahanya. Selain itu Arjuna tidak akan dipusingkan lagi dengan kesepakatannya akan membantu Jovan mendapatkan maaf Cilla.