MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kenapa Rasanya Begini ?


Tiga hari ini SMA Guna Bangsa dipulangkan lebih awal karena adanya persiapan akreditasi sekolah. Hanya anak-anak OSIS yang diminta bantuannya untuk mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan peninjauan akreditasi.


 


“Cil, jalan-jalan yuk ! Udah lama kita nggak ke mal,” ajak Lili saat mereka baru saja keluar dari kelas.


 


“Boleh, tapi jangan hari ini ya, besok atau lusa aja,” sahut Cilla.


 


“Memangnya elo ada acara apa lagi, Cil ? Jangan bilang elo udah jadian sama Jovan dan sekarang mau bantuin dia,” ujar Febi sambil menelisik wajah Cilla.


 


“Asal lo !” Omel Cilla sambil menoyor kepala Febi. “Sejak kapan gue minat sama tuh ketos ? Selera gue om-om, karena selain tampan mereka juga sudah mapan. Aman hidup gue,” sahut Cilla terbahak.


 


“Haiss udah lolos seleksi jadi sugar baby ? Memang ada sugar daddy yang mau sama putri cebol kayak elo ?” ujar Lili  sambil cekikikan


 


“Gue tuh bukan cebol, Lili, tapi imut, unyu-unyu,” sahut Cilla sambil menangkup wajahnya sendiri dan mengerjap-ngerjap.


 


“Geli asli,” Febi mencebik.


 


Mereka sedang menuruni tangga saat handphone Cilla bergetar. Ia pun mengambil benda pipih itu dari saku roknya.


 


“Iya Om, sudah sampai ? Sebentar Cilla ke situ. Beneran om jemput dekat lapangan ? Waahh sengaja ya, biar dapat penggemar baru,” Cilla terkekeh menjawab orang yang meneleponnya.


 


“Gue duluan besties,” Cilla mempercepat langkahnya dan melambaikan tangan pada kedua sahabatnya yang langsung melongo mendengar percakapan Cilla barusan.


 


“Eh beneran tuh anak janjian sama om-om ?” Lili bertanya dengan wajah tidak percaya,


 


“Ho-oh, barusan dia panggil om. Jadi ?”


 


Keduanya bertatapan dengan mata membelalak. Tanpa aba-aba, Febi dan Lili langsung berlari menyusul Cilla yang sudah turun duluan. Untung saja sahabat mereka itu masih terlihat di dekat lapangan. Keduanya menyipitkan mata.


Terlihat Cilla sedang berbincang dan tertawa-tawa dengan seorang pria yang lumayan tinggi dan badannya bagaikan idola. Sayangnya wajah pria itu tidak terlalu jelas karena memakai kacamata hitam.


 


Febi dan Lili makin tercengang saat pria itu beberapa kali mengacak-acak rambut Cilla sambil tertawa. Lili yang ingin meyakinkan ucapan Cilla, meneruskan langkah mendekati keduanya.


 


“Mau kemana lo ?” Febi menahan lengan sahabatnya.


 


“Cari kebenaran lah, memangnya mau ngapain lagi ? Elo rela kalau Cilla beneran jadi sugar baby ? Lebih baik terima Jovan yang ganteng sama tajirnya nggak bakalan kalah sama tuh om-om,” oceh Lili sambil terus melangkah tanpa mempedulikan Febi yang mencoba menahannya.


 


“Cilla !” panggil Lili saat posisi nya sudah lumayan dekat dekat kedua orang itu.


 


Cilla menoleh dan tersenyum mengejek  pada Lili yang sudah terbaca pikirannya akan penasaran dengan omongan Cilla.


 


“Kenapa ? Mau kenalan sama om gue ?” ledek Cilla sambil mencibir.


 


“Elo nggak beneran jadi sugar baby, kan ?” Lili yang memang otaknya sedikit lemot, tanpa sungkan bertanya di depan si om.


 


Cilla langsung terbahak sementara pria yang berdiri di depannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedikit malu karena disangka sugar daddy.


 


“Dasar lemot,” Cilla menoyor kening Lili. “Kalau beneran Om Theo ini sugar daddy gue, masa iya berani datang dan ngobrol begini di sekolah ?”


 


Febi yang sebetulnya sedikit deg-deg kan akhirnya menarik nafas lega. Selama ini mereka berdua memang tahu kalau Cilla itu sering merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian papinya, sementara maminya sudah meninggal sejak dia berumur 5 tahun. Namun sebagai sahabat, mereka tidak akan membiarkan Cilla mendapatkan kasih sayang dari seorang pria dewasa dengan status sugar baby.


 


“Daripada elo berdua malu karena sudah salah duga sama Om Theo, sekalian kenalan dulu. By the way busway, Om Theo ini anaknya sahabat mami,  dan sekarang gue mau diajak ketemuan sama Tante Siska, maminya Om Theo ini,” ujar Cilla memberi penjelasan.


 


Febi dan Lili sedikit tersipu karena malu sudah berperasangka buruk. Mereka pun berkenalan dengan Theo yang tidak melepas kacamatanya .


 


“Udah puas dan jelas kan sekarang ? Gue mau jalan dulu ya sama Om Theo, soalnya Tante Siska udah nungguin, mau maksi bareng.”


 


Cilla menarik lengan Theo dan melambaikan tangan pada kedua sahabatnya.


 


“Awas lo berdua buntutin gue lagi !” ancamnya dengan wajah galak.


 


 


Dari depan ruang guru di lantai 2, Arjuna menatap semuanya itu dengan wajah sedih dan tidak percaya. Ia merasa tugasnya sebagai mak comblang gagal total karena baik Jovan maupun Theo, langsung mendekati Cilla tanpa menggunakan jasanya sebagai perantara. Akibatnya Arjuna tidak bisa memantau perkembangan hubungan Cilla dengan Jovan dan Theo.


Berharap Cilla yang bercerita ? Sepertinya akan sulit karena gadis itu akan sibuk dengan kedua pria yang mengejarnya.


 


“Kenapa lo ?” Dono yang sejak tadi memperhatikan tingkah Arjuna mendekat dan menepuk bahu sahabatnya.


 


Bukannya ia tidak tahu akan kedatangan Theo yang menjemput Cilla. Tidak ada haknya sebagai wali kelas sekalipun melarang Cilla untuk bertemu dengan Theo dan diajak pergi oleh sahabatnya itu. Dono yakin kalau Theo bukan pria brengsek yang memanfaatkan gadis seusia Cilla hanya untuk kesenangan pribadinya.


 


“Jun, elo nyesel ?” tanya Dono kembali.


 


Arjuna menoleh dan menatap Dono sambil menautkan kedua alisnya.


 


“Nyesel kenapa ?” tanya Arjuna.


 


“Nyesel karena udah ngomong nggak ada perasaan atau sampai suka sama cewek model Cilla ? Nyesel karena pernah ngomong lebih baik menerima anak SMA yang dijodohkan sama bokap elo daripada anak bebek itu ?” tanya Dono sambil tertawa pelan.


 


“Nggak ! Siapa yang nyesel ?” sahut Arjuna dengan nada sedikit emosi.


 


Dono tertawa melihat raut wajah Arjuna yang sepertinya tidak terima kalau terbaca mulai menyukai Cilla. Tidak mungkin perasaan seorang kakak pada adiknya bisa bikin pria di depannya ini terlihat kusut dan mudah emosi.


 


“Kan gue nanya , Jun, bukannya bikin ultimatum kalau fix elo suka sama Cilla,” ujar Dono masih dengan tawa pelannya.


 


“Kalau memang jodoh elo harus anak SMA dan sudah yakin dengan pilihan bokap elo, lebih baik elo balik ke rumah. Minta maaf dan ungkapin penyeselan elo. Gue yakin kalau sejak elo pergi, belum pernah sekalipun elo ketemu atau sekedar menanyakan kabar bokap. Jangan sampai menyesal, Jun,” Dono kembali menepuk bahu Arjuna.


 


“Biar bagaiman Om Arman itu bokap elo, dan elo adalah satu-satunya anak cowok yang menjadi tumpuan harapan Om Arman. Minimal temui dulu tuh bocil yang mau dijodohin sama elo. Nggak ada gunanya juga terlalu keras kepala sama orangtua. Gue yakin kalau Om Arman itu melakukan semua ini buat kebaikan elo.”


 


Arjuna menarik nafas mendengar nasehat Dono. Bukan yang pertama kali ia menerima nasehat soal penyesalan. Cilla bahkan selalu mendorongnya untuk kembali menemui orangtuanya dan mencoba bicara baik-baik dengan mereka.


 


“Don,” panggil Arjuna dengan suara pelan.


 


“Apaan ?”


 


“Cilla pernah kasih gue nasehat yang sama dan dia juga maksa gue untuk pulang ke rumah pas mama ulangtahun hari Minggu besok.”


 


“Nah kan, ternyata biar tuh anak kelihatan kayak bocil tapi pikirannya dewasa kan ? Nggak hanya pentingin emosi doang. Siapa tahu bocil yang dijodohkan sama elo lebih dewasa lagi dari Cilla.”


 


“Terus gue harus ngomong apa sama bokap ?”


 


“Ya elo minta maaf dan bilang kalau elo bersedia ditemui lagi sama calon pilihan bokap elo. Tapi jangan lupa, elo terikat sama kontrak di sini. Pak Slamet udah tegaskan sama elo kan ? Harus menyelesaikan satu tahun pelajaran, nggak boleh berhenti di tengah jalan soalnya elo pegang anak-anak kelas 12.”


 


“Iya gue nggak lupa,” sahut Arjuna dengan suara sendu.


 


“Terus kenapa lagi elo masih melow begitu ?” Dono mengerutkan dahinya melihat tatapan Arjuna yang masih memandang ke arah lapangan dimana Cilla dan Theo sempat berdiri.


 


“Perasaan gue kok begini ya Don ? Nggak enak.”


 


Dono ingin terbahak tapi kasihan melihat Arjuna memegang dadanya sendiri. Ia tahu kalau sahabatnya ini mulai merasakan yang namanya cemburu pada pria-pria yang mendekati Cilla.


 


“Kenapa ? Karena anak bebek yang udah elo anggap sama seperti Amanda, sekarang lagi  pergi sama Theo ?”


 


Tanpa sadar Arjuna mengangguk tanpa merubah arah pandangannya. Dono tidak mampu lagi menahan gelak tawanya.


 


“Dasar ogeb ! Makanya tuh mulut hati-hati kalau berucap ! Siap-siap aja elo terima siraman khusus dari kita semua.”


 


“Tinggal beli sabun sekilo,” jawab Arjuna asal yang membuat Dono tambah terbahak.