MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bab 41 Insiden Ban Sobek


Seminggu sudah berlalu sejak kejadian penyiraman di kantin antara Cilla dan Sherli. Meski keduanya masih berwajah perang saat berpapasan, namun masing-masing tidak lagi melakukan tindakan pembalasan.


 


Arjuna yang lebih memperhatikan Cilla setelah mendengar cerita Jovan, merasa sudah seminggu ini Cilla lebih pendiam. Raut wajahnya terlihat kurang tidur. Bahkan saat berpapasan dengannya. Cilla tidak bersikap jahil seperti biasanya. Ia mengangguk sopan saat memberi salam pada Arjuna. Bukan hanya Arjuna yang dibuat mengerutkan dahinya, tapi Dono selaku wali kelasnya juga dibuat bingung dengan kelakuan Cilla yang lebih kalem bahkan sering tertidur di kelas.


 


Selama lima hari terakhir ini Cilla juga menggunakan motor maticnya ke sekolah. Bang Dirman, sopir pribadi yang biasa mengantar Cilla kemana pun, sementara ini diberi tugas membantu Bik Mina atau Bang Toga menjaga rumah.


 


Tidak ada yang tahu penyebabnya, termasuk Febi dan Lili. Selama lima hari ini Cilla selalu datang terlambat dengan wajah lesu, dan pulang tepat waktu saat bel terakhir berbunyi. Untungnya belum ada pelajaran tambahan untuk kelas 12.


 


Jovan sempat menanyakan alasan  Cilla selalu datang terlambat 5 hari terakhir ini pada Febi dan Lili, namun keduanya hanya bisa menggeleng dan mengangkat bahu. Jovan bingung karena Cilla tidak pernah protes dan menerima semua hukuman yang diberikan kepadanya.


 


Siang ini Cilla baru saja menyelesaikan hukumannya karena terlambat datang ke sekolah. Ia harus membersihkan ruang perpustakaan. Berhubung jam pertama adalah ekonomi dan ada ulangan, maka Jovan mengijinkan Cilla menyelesaikan hukumannya sesudah pulang sekolah.


 


Dengan wajah lesu dan langkah gontai Cilla berjalan ke parkiran motor. Sekolah sudah lumayan sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat limabelas menit. Febi dan Lili juga sudah pulang sejak pukul setengah tiga.


 


Matanya langsung membelalak saat melihat ban motornya bukan hanya kempes tapi juga sobek. Cilla menghela nafas panjang. Meski ia tidak tahu persis siapa pelakunya, tapi dapat dipastikan kalau mereka adalah penggemar Jovan yang ekstrim dan sangat tidak menyukai Cilla.


 


Cilla duduk di atas pot batu yang sudah tidak lagi ditanami pohon. Peluh membasahi keningnya. Ia sedang mencoba menghubungi Bang Dirman, minta supaya menjemputnya sekaligus membantu mencarikan bengkel untuk motornya, namun sampai tiga kali sambungan handphone Cilla tidak terangkat.


 


“Kok belum pulang Cil ?” sapaan Dono membuat Cilla mendongak sambil menyipitkan matanya karena silaunya cahaya matahari.


 


“Motor saya, Pak,” Cilla menunjuk pada ban motornya yang sobek.


 


“Eh busyet, Cil, siapa yang tega merobek ban motor kamu ?”


 


“Kalau saya tahu pelakunya, saya nggak akan diam duduk di sini, Pak. Udah saya tendang orangnya ke negeri antah berantah.”


 


“Hobi banget nendang orang ke antah berantah,” ledek seseorang sambil tertawa di belakang Dono.


 


Cilla mendelik menatap mahluk aneh yang sering berdebat dengannya. Bukannya merasa kasihan, Arjuna malah tertawa meledeknya.


 


“Bapak mau coba tendangan maut saya ?” tanyanya dengan wajah galak.


 


“Tumben sopan pakai nanya,” Arjuna mencibir. “Seminggu yang lalu aja tanpa permisi kamu tendang mata kaki saya. Untung hanya biru nggak sampai bengkak,”


 


“Makanya dipakein kacamata renang mata kakinya, Pak. Biar kalau ketendang sama saya nggak bakalan sampai biru apalagi bengkak.”


 


Arjuna mendengus kesal saat mendengar Dono malah terpingkal menertawakannya. Ada-ada saja ucapan Cilla. Mata kaki dipakaikan kacamata renang untuk pengaman.


 


“Terus kamu ngapain duduk di sini ?’ Dono yang sudah selesai menertawakan ucapan Cilla dan ekspresi Arjuna, kembali bertanya serius.


 


“Lagi minta sopir jemput, Pak, sekalian minta temani ke bengkel buat ganti ban.”


 


Belum sempat bertanya lagi, handpone Cilla kembali berbunyi. Ternyata Bang Dirman yang menghubunginya dan meminta maaf kalau telepon Cilla tidak terangkat karena baru selesai mengantarkan dokumen ke kantor Pak Darmawan. Setelah Cilla menceritakan masalahnya secara singkat, Bang Dirman langsung membawa mobil ke sekolah.


 


“Bapak pulang aja dulu, sopir saya lagi menuju kemari.”


 


“Nggak apa-apa, kami temani,” ujar Dono tanpa minta persetujuan Arjuna.


 


“Bapak yakin ?” matanya menatap Dono namun gerakan dagunya mengarah ke Arjuna yang berdiri di belakang Dono.


 


“Mulai nethink lagi sama saya ?” Arjuna melotot.


 


Cilla cekikikan melihat wajah Arjuna. Keletihannya sedikit terobati bila berada dekat Arjuna yang sering cemberut menanggapi kejahilannya.


 


“Jangan pasang tampang begitu, Pak. Udah nggak cakep-cakep banget, malah jadi jelek banget.” Bukan cuma Cilla yang tertawa, tapi Dono ikut tergelak.


 


“Udah senang hati kamu bikin saya kesel ?” Arjuna tersenyum meledek  “ Seminggu kemarin, muka udah kayak kain lecek yang nggak bisa disetrika.”


 


“Ya ampun Pak Arjuna,” Cilla memegang pipinya dengan kedua telapak tangannya sendiri sambil memperlihatkan wajah sumringah


 


“Ternyata Bapak begitu memperhatikan saya sampai segitunya. Gimana saya bisa jauh-jauh dari baper ? Bapak suka mendadak bikin saya melehoy dan jantung saya kayak mau copot. Jadi gemoy ih sama Pak Arjuna.” Cila mengerjap-ngerjapkan matanya.


 


“Haiiss dasar cewek baperan ! Gimana saya nggak perhatiin kamu. Saya lagi menerangkan di depan kelas, kamu malah merem melek menahan ngantuk di kursi belakang, udah pengen saya timpuk pakai penghapus papan tulis,” Arjuna mendekat sambi bertolak pinggang, Matanya jangan ditanya lagi, sudah melotot melebihi ikan koki.


 


Bukannya melerai, Dono malah terbahak menyaksikan perdebatan keduanya yang tidak pernah mau mengalah satu sama lain. Di satu sisi, Dono merasa senang melihat Cilla sudah tidak sependiam seminggu terakhir.


 


 


“Over pe-de sekali anda,” Arjuna tersenyum mengejek.


 


“Bukan opede, Pak, tapi kenyataan. Coba Bapak tunjukkan sama saya, pe-er mana yang Bapak berikan tidak bisa saya kerjakan, dan nilai ulangan saya yang mana dapat nilai di bawah KKM ? Pas KKM aja nggak, malah kalau ada nilai 101, seharusnya Pak Arjuna kasih nilai itu buat saya nanti di raport.”


 


Arjuna mendengus kesal karena apa yang dikatakan Cila memang betul. Sekalipun sering datang terlambat dan seminggu ini suka tertidur pada saat Arjuna menerangkan, semua tugas dan pe-er yang ia berikan diselesaikan dengan baik oleh Cilla. Malah sepengetahuannya, Febi, Lili dan beberapa teman sekelas mereka malah meminjam hasil pekerjaan Cilla. Dan masalah ulangan, Cilla boleh dibilang hampir selalu masuk dalam kelompok 3 siswa peraih nilai tertinggi di kelas. Meski urutannya tidak selalu di 1 atau 2 atau 3, tapi Cilla tidak akan di bawah itu.


 


“Kalian kapan bisa akurnya, sih ?” Dono menghapus air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa. Selalu ada keseruan mendengar perdebatan Cilla dan Arjuna.


 


“Ogah akur sama nih bocah,” gerutu Arjuna.


 


“Dih sembarangan ngatain saya bocah. Biar saya imut dan terlihat unyu-unyu, tapi saya sudah siap kalau mau ditembak jadi pacar, dilamar jadi istri juga nggak keberatan,” Cilla kembali mengerjap-ngerjapkan matanya di depan wajah Arjuna.


 


Arjuna langsung berekspresi seperti orang ingin muntah. Dono kembali tergelak.


 


“Bukan unyu-unyu tapi kayak penyu. Mana ada cowok yang mau punya istri model kamu . Cewek baperan, cerewet, makannya banyak, hidup lagi.” Arjuna tersenyum mengejek, namun tidak lama ia tergelak saat melihat bibir Cilla sudah mengerucut dengan wajah kesal.


 


“Saya laporin papi loh, masa anaknya yang imut ini dikatain kayak penyu. Kalau saya kayak penyu, berarti papi bapaknya penyu.”


 


“Tuh kan beneran kamu bocil, udah kalah bisanya ngadu sama papimu,” Arjuan mencebik.


 


Tidak lama terlihat mobil yang dikendarai Bang Dirman masuk ke parkiran mobil sekolah.


 


“Berhubung hari ini saya sedang baik hati, maka saya batal melaporkan Bapak sama papi. Dan sekarang saya mau pulang dan bobo siang,” Cilla melambaikan tangannya pada Arjuna dan Dono.


 


“Cilla, tunggu !” Dono menahannya.  “ Panggil sopir kamu kemari.”


 


Cilla mengerutkan dahinya dengan wajah bingung, tapi Dono memberi isyarat untuk menurut pada perintahnya. Ia pun mengangguk dan melambaikan tangannya, memanggil Bang Dirman mendekat.


 


Arjuna melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu  rencana Dono yang malah memanggil Bang Dirman mendekat.


 


“Mana kunci motor kamu ?” Cilla memberikan kunci motornya pada Dono.


 


“Kunci mobilnya, Mas,” Dono meminta pada Bang Dirman yang juga langsung menyerahkannya pada Dono.


 


Sesudah kedua kunci ada di tangannya, Dono menyerahkan kunci motor pada Bang Dirman dan kunci mobil pada Arjuna.


 


“Biar Bang Dirman iringan sama saya pakai tali ke bengkel dekat sini. Kamu pulang diantar sama Arjuna.”


 


“What ?” Arjuna langsung terpekik sambil melotot. Cilla pun ikut tercengang mendengar ucapan Dono.


 


“Mumpung ada mobil, Arjuna mau ajak kamu jalan. Katanya dia masih ada hutang traktir gaji pertamanya. Kebetulan kan besok hari Sabtu, sekolah libur, jadi kalian bisa pulang agak malam.”


 


“Gila lo Don !” omel Arjuna dengan wajah kesal. “Gue nggak mau !” Arjuna menyerahkan kunci mobil ke tangan Cilla. Gadis itu malah melongo mendengar rencana Dono.


 


Arjuna sedikit menjauh supaya tidak terus dipaksa oleh Dono. Cilla sendiri hanya bisa menatap Arjuna sambil menghela nafasnya.


 


“Terima kasih tawarannya, Pak. Saya pulang saja sama Bang Dirman. Soal motor saya akan titip Pak Tukimin dulu di sekolah, besok saya dan Bang Dirman akan mengurusnya. Terima kasih, Pak.” Cilla membungkuk dengan sopan sambil tersenyum.


 


Ia mengambil kembali kunci motornya yang ada di tangan Dono dan memberikan kunci mobil kepada Bang Dirman. Saat melewati Arjuna, Cilla hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


 


Dono menyalakan motornya dan membawa mendekati Arjuna.


 


“Dasar pemarah tapi ogeb. Gue bantuin elo yang katanya mau dekati Cilla sama Theo. Kan bisa aja elo pura-pura bawa dia ke mal terus ketemu Theo yang udah elo hubungi. Sebetulnya elo niat nggak sih bantuin Theo buat dapetin Cilla ? Atau malah elo sadar dan nggak rela karena sebetulnya elo suka sama tuh bocah ?” Dono mencebik kesal.


 


“Jangan asal ngomong. Udah gue bilang, kalau memang harus menikah sama anak SMA, gue akan menikah sama pilihan bokap, bukan modelan anak bebek itu.”


 


Arjuna menerima helm yang diberikan oleh Dono dan memakainya. Tapi setelah ia berpikir, apa yang dikatakan Dono betul juga, kalau tadi bisa mengajak Cilla pergi, Arjuna bisa mengatur Theo supaya datang juga seolah-olah mereka tidak sengaja bertemu.


 


Arjuna menepuk jidatnya sendiri. Terlalu emosi tiap berhadapan dengan Cilla membuat dia sering tidak bisa berpikir jernih sebelum bertindak.