
“Apa Cilla boleh tahu masalah sebenarnya, Tante ?” tanya Cilla dengan hati-hati dan wajah penasaran.
Mami Siska yang sudah melerai pelukan Theo, meraih jemari Cilla dan mulai bercerita.
“Kami bersaudara sudah menjadi yatim piatu sejak Sylvia kelas 2 SMP dan tante kelas 3 SMA. Ibu meninggal karena terjatuh di kamar mandi dan dua minggu kemudian, ayah yang memang sudah lama menderita sakit paru-paru akhirnya ikut menyusul ibu. Sejak itu, tante yang memang sudah bekerja sambilan sejak kelas 1 SMA, mengambil alih tugas sebagai orangtua sekaligus kakak bagi Sylvia. Namun sepertinya masalah sedang menjadi teman kami. Saat acara kelulusan, tante dijebak dengan seorang teman pria yang ternyata memang menjadikan tante sebagai taruhan mereka. Sampai akhirnya tante hamil Theo. Semula tante ingin menggugurkannya, tapi Sylvia melarang dan berjanji akan membantu membesarkan janin yang sudah ada dalam kandungan tante. Sampai akhirnya Theo lahir, Sylvia yang saat itu masih sekolah kelas 3 SMP, membantu mengurus Theo saat tante bekerja di sore hari. Kehidupan yang penuh perjuangan kami lewati sambil membesarkan Theo. Memasuki SMA, Sylvia sendiri mulai bekerja sebagai SPG hanya di akhir pekan, karena setiap harinya sesudah pulang sekolah ia harus menggantikan tante mengurus rumah dan Theo. Sampai suatu saat Sylvia bertemu dengan Rudi sebagai pengunjung pameran. Kalau tidak salah saat itu mami kamu baru saja naik kelas 3 SMA dan sedang bekerja mengisi waktu libur panjangnya. Theo yang sudah berusia dua tahun lebih dititipkan pada tetangga selama tante dan mamimu bekerja. Ternyata Rudi yang baru saja pulang dari studinya di luar negeri, jatuh cinta pada Sylvia dan mulai intens mendekatinya sampai akhirnya mereka berpacaran. Namun sayangnya hubungan mereka tidak disetujui oleh orangtua Rudi yang memang berasal dari keluarga kaya. Apalagi saat mengetahui kalau Sylvia mempunyai keponakan yang lahir tanpa ayah. Penghinaan terus dilontarkan oleh keluarga Rudi, itu sebabnya tante menyuruh Sylvia untuk memutuskan hubungan mereka dan menjauhi Rudi beserta keluarganya. Namun Sylvia yang sudah terlalu mencintai Rudi tetap memilih bertahan meskipun sering bertengkar dengan tante. Yang mengagetkan saat Sylvia mengatakan kalau ia akan mendonorkan salah satu ginjalnya untuk Rudi yang memang sangat membutuhkannya. Padahal hubungan mereka baru dan belum berjalan setahun, bahkan saat itu Sylvia akan menempuh ujian akhir SMA nya.
Malam itu kami bertengkar hebat sampai akhirnya tante memutuskan untuk berpisah tempat tinggal dengan Sylvia. Tante menyuruhnya keluar dari rumah dengan membekalinya sejumlah uang dan berjanji akan tetap membiayai kuliahnya jika ia mau meneruskan pendidikan. Dan saat itu, hati tante bertambah kecewa karena Sylvia memilih pergi dan berpisah dari tante dan tetap memutuskan untuk mendonorkan salah satu ginjalnya. Akhirnya keluarga Rudi menerima Sylvia sebagai menantu mereka setelah Rudi berkeras akan menerima ginjal Sylvia setelah mereka dinikahkan secara hukum dan agama. Kedua orangtua Rudi tidak ada pilihan, karena Rudi adalah satu-satunya anak mereka yang akan meneruskan keturunan dan usaha mereka.
Sebelum semuanya terlaksana, tante masih berusaha menemui Sylvia untuk mencegahnya memberikan satu ginjalnya meskipun ia akan dinikahkan oleh Rudi. Tante yakin kalau orangtua Rudi terpaksa menerima adik tante itu dan perlakuan mereka tidak akan banyak berubah setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Malam itu tante bahkan sempat mengancam dan memberi ultimatum, jika Sylvia tetap memaksa memberikan ginjalnya dan menikah dengan Rudi, maka hubungan kami sebagai saudara kandung berakhir. Tante tidak akan lagi menganggapnya sebagai adik. Ternyata ancaman tante tidak digubris oleh Sylvia yang keras kepala dan terlanjur cinta mati dengan Rudi. Ia menerima keputusan tante dan melakukan semuanya tanpa restu dari tante. Sejak itu pula tante tidak pernah lagi berhubungan dengan Sylvia entah lewat telepon atau surat.
Ternyata apa yang tante pikirkan terjadi. Setelah kondisi Rudi semakin membaik karena sudah mendapatkan donor ginjal, orangtua Rudi terutama mamanya sering menghina Sylvia yang tidak kunjung hamil setelah perkawinannya berjalan 2 tahun. Bahkan tante sempat mendengar dari Pak Trimo kalau mamanya Rudi sempat mengusulkan untuk membayar rahim wanita lain demi mendapatkan keturunan mereka. Tetapi sulit bagi tante untuk menarik Sylvia dari situasi yang menyakitkan itu, karena sekarang ia sudah menjadi istri orang, jadi hak dan tanggungjawab hidupnya berada di tangan suaminya.”
“Tante kenal dengan Pak Trimo dan Bik Mina ?” tanya Cilla saat mendengar nama pengasuhnya yang sudah seperti orangtua angkatnya itu disebut.
“Bik Mina dan Pak Trimo sudah bekerja dengan keluarga Rudi sebelum mami kamu menikah. Tante sempat mengenal mereka saat datang ke rumah opa dan oma kamu untuk menyampaikan kalau sebagai kakak, tante keberatan dengan niat Sylvia mendonorkan ginjalnya. Kami sempat bertengkar karena tidak menemukan kesepakatan, tetapi karena Sylvia sebagai pendonor tidak berkeberatan, tante tidak bisa berbuat apa-apa. Saat tante mau pulang, sepasang suami istri itu menemui tante dan bilang supaya tante tidak usah khawatir dengan Sylvia, mereka berjanji akan merawat Sylvia dengan baik.”
“Lalu mengenai rahim bayaran, apakah papi mengikuti permintaan oma ?” tanya Cilla dengan sedikit bergetar. Ada ketakutan dalam hatinya jika jawaban yang diberikan oleh mami Siska tidak sesuai dengan harapannya.
“Tante tidak tahu soal itu Cilla. Maaf. Sejak keputusan Sylvia menjalankan semuanya dengan atau tanpa restu dari tante, tante pergi membawa Theo ke Amerika dan bekerja sebagai tenaga ilegal di sana. Sampai akhirnya tante dipertemukan oleh laki-laki yang membuat tante hamil dan merupakan ayah biologis Theo. Ternyata papinya Theo sudah lama mencari-cari tante dan ingin meminta maaf sekaligus bertanggunjawab atas perbuatannya malam itu. Om Rio, nama papi Theo , melakukan semuanya di bawah pengaruh obat yang sengaja diberikan oleh teman-temannya supaya ia kalah taruhan. Apalagi setelah mengetahui kalau ia memiliki Theo, segala cara dilakukannya untuk membuktikan penyesalan dan niat tulusnya bertanggungjawab, karena ternyata sebenarnya ia memang mencintai tante saat SMA. Tante membutuhkan waktu 1 tahun untuk meyakinkan diri menerima Om Rio sebagai suami tante dan ayah kandung Theo. Apalagi keluarganya juga menentang keputusan Rio untuk menikahi tante dan membesarkan Theo, sekalipun sudah terbukti kalau Theo adalah cucu kandung mereka.Tapi yang namanya jodoh tidak akan lari kemana, mungkin seperti itu tepatnya Cilla. Kami akhirnya menikah dan menjalankan rumahtangga sampai sekarang ini,” ujar mami Siska sambil tersenyum dan menepuk-nepuk jemari Cilla yang masih ada di genggamannya.
Theo mengambilkan gelas minuman untuk mami Siska dan memberi isyarat pada Cilla untuk minum juga. Gadis itu menurut dan ikut mengambil gelas minuman yang sudah disediakan oleh pelayan.
Suasana sempat hening karena baik Cilla maupun mami Siska larut dalam pikiran masing-masing pada kenangan lama yang cukup menyedihkan dan menyakitkan.
“Setelah menikah, papinya Theo mengajak kami pindah ke London untuk menemaninya merintis usahanya di sana. Saat itu Theo sudah berumur 6 tahun. Sejak saat itu pula tante tidak pernah mengirimkan kabar atau mencari tahu soal Sylvia lagi. Sampai akhirnya kami kembali ke Indonesia saat Theo masuk SMP dan papinya menetapkan untuk menyekolahkan Theo di Indonesia sampai lulus SMA. Tidak lama setelah kami pulang ke Indonesia, opa dan oma kamu meninggal karena kecelakaan pesawat. Om sempat mengajak tante untuk melayat karena ternyata keluarga om adalah salah satu rekan bisnis opa dan oma kamu.Tapi tante yang sudah mengeraskan hati, menolak ajakan itu dan meminta om untuk tidak memberitahu Sylvia mengenai pernikahan kami. Dari situlah tante tahu kalau adik tante itu sudah memiliki kamu yang saat itu sudah berusia 3 tahun, namun tante tidak tahu kalau saat itu Sylvia sedang menjalani pengobatan karena sakit ginjalnya.”
“Apa Tante tidak tahu saat mami meninggal ?” tanya Cilla dengan wajah sedih. Mami Siska menggeleng dan tidak mampu menahan air matanya mengingat kejadian itu.
“Tante baru mengetahuinya setelah Sylvia dimakamkan. Itu pun diberitahu oleh omanya Theo. Saat itu tante tidak bisa pulang karena papinya Theo sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit di London. Meskipun suami tante sudah menyuruh pulang ke Indonesia, tapi sebagai seorang istri, mana mungkin meninggalkan suaminya sendirian dalam keadaan sakit. Maafkan tante, Cilla.”
Cilla menghapus air mata yang perlahan keluar dari sudut matanya dan meraih jemari mami Siska lalu menggenggamnya.
“Tidak apa-apa Tante, semua juga sudah berlalu. Sikap keras mami juga yang membuat Tante akhirnya memutuskan untuk melakukan itu semua. Cilla yakin kalau rasa sayang Tante pada mami tidak pernah habis. Semua foto yang tersimpan dengan baik ini membuktikan betapa besarnya cinta Tante pada mami, sampai rasanya Tante tidak rela membuang semua kenangan indah sama mami.”
Mami Siska langsung memeluk Cilla dan terisak dalam pelukan Cilla, sementara gadis itu juga masih meneteskan air mata meski tidak sampai terisak.