MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Obrolan di Kafe


Para pria memilih menunggu di coffe shop sementara para wanita ingin berbelanja. Amanda sudah sejak tadi merengek pada papa Arman ingin mengajaknya berbelanja.


“Mau ngapain ?” tanya papa Arman saat Amanda mengulurkan tangan sambil menaik turunkan alis dan senyum-senyum.


“Memangnya Papa mau Manda ditahan polisi gara-gara belanja tanpa bayar ?”


“Kan ada mama,” papa Arman melirik pada istrinya.


“Kalau nanti pisah, rempong cari-cari mama. Kan Manda mau belanja sama kakak ipar,” Amanda lngsung merangkul lengan Cilla.


“Ya minta sama kakak ipar kamu yang bayarin,” ledek papa Arman.


“Iiihh giliran belanja ngakuin gue kakak ipar,” Cilla mencebik. “Baru calon belum sah jadi kakak ipar.”


“Nggak bisa minta sama kakak ipar, Pa, soalnya suaminya masih melarat. Udah pasti jatah belanja istri juga kena potong.”


“Erehhh siapa bilang suami gue melarat,” Cilla langsung melotot. “Lagian gue juga nggak bakal rela bagi uang belanja buat shopping adik ipar.”


“Duhhh udah sebut suami aja,” ledek Amanda sambil terkekeh. “Kayak udah sah aja.”


Cilla hanya mencebik dan kembali menggelayut di lengan Arjuna.


“Mau udah sah atau belum yang penting Mas Juna sudah bersertifikat hak milik gue,” Cilla mencibir sambil menyandarkan kepala di lengan Arjuna.


“Memangnya Mas Juna yang ganteng ini samal seperti tanah dan bangunan yang bisa dirubah dari HGB jadi Hak Mliik ?” Arjuna tertawa sambil mengacak rambut Cilla dengan gemas.


Papi Rudi yang sejak tadi memperhatikan mereka tampak tersenyum bahagia. Bisa dimengerti kenapa Cilla begitu jatuh cinta pada calon suaminya, Arjuna terlihat begitu perhatian pada Cilla. Meski pembicaraan mereka sering dipenuhi dengan perdebatan, tapi terlihat kalau Arjuna tetap menghargai Cilla dan mencintainya.


“Udah kalau papa dan kakak kamu nggak mau traktir belanja, biar om aja yang bayarin,” papi Rudi mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya dan menyodorkan pada Amanda.


“Tolong ajari Cilla cara berburu barang-barang diskon yang bisa mempercantik dirinya. Biar nggak galau lagi mikirin gimana nasibnya kalau Arjuna balik kerja jadi CEO,” lanjut papi Rudi sambil tertawa.


Amanda jadi malu saat papi Rudi menyodorkan kartu kredit di depannya. Tidak mungkin juga meminta pada calon mertua kakaknya untuk membayar biaya shoppingnya.


“Biar Cilla yang pegang kalau begitu,” Cilla langsung mengambil kartu kredit milik papi Rudi. “Bisa langsung jebol limit kartu papi kalau dipegang sama ratu belanja,” Cilla mencibir.


“Eh bukan gue yang ratu belanja, ya,” Amanda melotot ke Cilla lalu melirik mama Diva.


“Tuh yang punya gelar ratu belanja. Itu ya calon mama mertua elo,” bisik Amanda sambil terkikik.


“Eh berani ya bilang mama ratu belanja,” mama Diva langsung melotot. “Setiap kali pergi belanja, sudah bisa dipastikan kalau belanjaan kamu lebih banyak daripada punya mama.”


Amanda tertawa dan mengangkat jarinya membentuk huruf V. Bisa gawat kalau mama Diva marah padanya karena sudah pasti tidak ada kesempatan berbelanja.


“Udah sana cepetan kalau pada mau belanja,” Theo pun akhirnya ikut buka suara. “Nggak pakai lama. Kalau udah ditelepon nggak boleh nambah waktu.”


“Iddiihh galaknya jadi cowok,” Amanda mencebik. “Pantas aja susah dapat cewek.”


Cilla ikut tertawa dan mengajak Amanda ber-tos ria.


“Akhirnya ada yang satu pemikiran sama gue,” ujar Cilla sambil tertawa. “Kayaknya cocok kalau gue jodohin sama Febi,” Cilla menaik turunkan alisnya menatap Amanda.


“Udah sana pada pergi, jangan bikin gosip baru,” Theo mendorong bahu Cilla supaya beranjak pergi.


“Udah kalau hari ini papa kamu nggak mau traktir belanja, biar tante yang bayarin. Bonnya tinggal tagih ke papa kamu,” tante Siska menggandeng lengan Amanda.


“Eh calon istri gue mau disuruh kemana ?”protes Arjuna saat Theo makin membawa Cilla menjauh.


“Suruh mempercantik diri biar nggak dianggap adik kalau nanti jalan sama CEO Indopangan,” sahut Theo sambil tertawa.


Arjuna hanya geleng-geleng dan membalas lambaian tangan Cilla saat Amanda yang digandeng tante Siska menarik tangan Cilla.


Om Rio yang sejak tadi lebih memilih jadi pendengar hanya bisa senyum-senyum.


Setelah para wanita menjauh, --Arjuna dan Theo pun mengajak papa Arman, papi Rudi dan om Rio memasuki salah satu kafe yang agak sepi.


“Papi belum jadi ngomong sama Cilla soal sakit papi ?” tanya Arjuna saat mereka sudah duduk di satu meja.


“Belum,” papi Rudi menggeleng. “Papi nggak tega melihat kondisi Cilla yang melow dan galau karena kebanyakan mikirin kamu,” papi Rudi menatap Arjuna sambil tertawa pelan.


“Kelihatan kayak anak ayam kehilangan induk,” timpal om Rio ikut tertawa pelan.


“Bukan anak ayam, Pi,” sahut Theo. “Tapi anak bebek yang kehilangan bapaknya.”


“Udah lama papi nggak lihat Cilla dalam situasi tidak menentu seperti kemarin. Bahkan saat papi jarang bersamanya, Cilla masih bisa bersikap pura-pura tegar dan biasa saja. Sangat berbeda beberapa hari kemarin, sifat kanak-kanaknya begitu kelihatan. Papi sendiri sempat lupa kalau usia Cilla itu memang terbilang masih belia. Papi malah sempat mikir juga, dengan kondisi Cilla seperti itu, apa kamu tetap mau menjadikannya istrimu, Juna ?”


“Tentu aja Juna nggak akan merubah keputusan, Pi,” sahut Arjuna cepat. “Keputusan Juna melamar Cilla bukan karena paksaan papa atau demi melancarkan pekerjaan Juna sebagai guru di sekolah milik papi. Juna tulus mencintai Cilla dan tidak masalah kalau Cilla masih suka bersikap kekanak-kanakan.”


“Elo juga sih yang jadi biang masalah. Udah tahu dia lagi galau, malah dikomporin dengan pikiran negatif,” omel Arjuna sambil menatap Theo.


“Bukan ngomporin, tapi buka pikiran dia biar jangan terlalu naif. Biar bagaimana Cilla harus menghadapi kenyataan kalau calon suaminya itu memang calon pemimpin perusahaan besar yang ke depannya bakal sibuk banget.”


“Biarpun nanti kesibukan gue nggak akan sama seperti saat menjadi guru, memberikan waktu untuk istri adalah kewajiban dan tanggungjawab suami, Bro.”


“Kamu nggak main-main sama Cilla kan, Juna ? Jangan mengiyakan karena ada papa dan papi Rudi di sini,” tegas papa Arman.


“Kok papa malah nanya kayak begitu ? Bukannya papa yang ngotot untuk menjodohkan Juna dengan Cilla sampai tega mengusir Juna dari rumah ?”


“Papa menyuruh kamu keluar bukan sekedar karena menolak perjodohan dengan Cilla, tapi kebebasan yang kamu berikan buat mantan pacarmu Luna, itu yang lebih mengkhawatirkan. Dengan membuat kamu jadi orang susah, kamu baru bisa melihat sifat asli Luna yang mempertahankanmu hanya karena alasan materi.”


“Luna itu mantan anak tiriku, Man,” ujar papi Rudi sambil terkekeh. “Meski pernikahanku dengan Sofi hanya seumur jagung, tapi aku yang membiayai Luna sampai jadi sarjana.”


“Bukan maksud menjelekkan mantan anak tirimu, Rud. Tapi satu kenyataan kalau Luna adalah cewek matere,” sahut papa Arman dengan wajah kesal. “Bukan sejuta dua juta ia menghabiskan uang Arjuna, tapi sampai ratusan juta.”


“Aku bercanda, Man. Tentu saja aku tahu sifat asli Luna dan Sofi. Mereka bahkan tega menyakiti Cilla yang masih kecil, makanya aku buru-buru memutus hubungan dengan mereka,” ujar papi Rudi dengan wajah kesal karena mengingat perbuatan mantan istri siri dan anak tirinya itu.


“Jadi kapan rencananya Papi akan ngomong sama Cilla ? Kalau memang Papi merasa Juna perlu menemani Cilla saat itu, Papi tinggal bilang aja. Juna pasti akan mendampingi Cilla.”


Papi Rudi terdiam sejenak. Ia mengambil botol berisi air mineral dan meneguknya sedikit.


“Bisakah papi minta waktu sampai Cilla berulangtahun yang ketujuhbelas. Papi sudah berencana akan mengadakan pesta besar untuk Cilla.”


“Apa tidak terlalu lama menunda lagi. Rud ?” tanya papa Arman.


“Selama lebih dari sepuluh tahun aku merasa telah mengabaikan anakku satu-satunya. Sering aku dipenuhi dengan rasa takut kalau Cilla akan membenciku dan tidak mau lagi menganggapku sebagai papinya. Tapi semua kecemasanku tidak terbukti, bahkan Cilla tetap mencintai aku dan memperlihatkan kalau ia masih membutuhkan aku. Rasanya momen beberapa bulan terakhir ini begitu berharga, membuat aku enggan membuat Cilla jatuh dalam kesedihan. Hasil pemeriksaan kemarin menunjukan kalau kondisi kesehatanku tidak memburuk meski tidak membaik juga. Lagipula sejak Sylvia sakit, Cilla tidak pernah lagi merayakan ulangtahun dengan keluarga. Jadi aku mohon, beri aku kesempatan dan dukungan supaya bisa mengadakan perayaan ulangtahun yang spesial untuknya di hari istrimewanya karena Cilla akan memasuki usia tujuhbelas tahun.”


Papi Rudi menatap satu persatu yang duduk bersamanya saat ini sampai akhirnya matanya berhenti menatap Arjuna, berharap agar calon menantunya mau mengerti permintaannya.


“Dan papi sangat berharap padamu Juna agar tetap mencintai Cilla seperti yang papi lihat sendiri hari ini. Papi percayakan Cilla kepadamu, karena hanya kamu yang bisa membuat Cilla tertawa dan bahagia sekaligus membuatnya sedih dan cemas. Tapi papi yakin kalau kamu akan lebih banyak memberikan kebahagian dan tawa dalam hidupnya.”


Papi Rudi tersenyum dengan tatapan memohon pada Arjuna. Hati Arjuna terasa sedih dan berharap papi mertuanya diberi kesehatan dan umur panjang.


“Juna bukan manusia sempurna yang akan selalu bisa memberikan Cilla tawa dan kebahagiaan, Pi,. Tapi Juna bisa memastikan kalau cinta Juna tidak pernah main-main. Selama Juna hidup, selama itu pula Juna akan mencintai Cilla sepenuh hati.”


“Terima kasih atas kesanggupanmu, Juna,” sahut papi Rudi sambil tertawa pelan. “Jangan buat Cilla merasa sendirian dan kesepian lagi dalam hidupnya. Dalam lima hari kemarin, papi bisa melihat kalau kamu begitu berharga dalam hidup Cilla. Kamu adalah nafasnya, kebahagiaannya dan harapannya. Jangan sampai kamu menyakitinya apalagi meninggalkannya. Jika suatu saat papi sudah tidak ada dan kamu merasa kalau Cilla bukan lagi teman hidup yang tepat untukmu, tolong bicarakan baik-baik dan serahkan kembali Cilla kepada tante Siska dan om Rio.”


“Papi jangan bicara seperti itu. Prinsip Arjuna adalah menikah sekali seumur hidup, jadi tidak akan pernah Arjuna menyerah begitu saja saat menghadapi kesulitan dengan Cilla. Bukan berarti rumahtangga kami akan bebas dari masalah dan jatuh bangun, tapi Juna pastikan kalau Juna tidak akan gampang menyerah dan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Cilla.”


“Apa kita nikahkan mereka sekalian pesta tujuhbelasan Cilla, Rud ?” tanya papa Arman dengan wajah serius.


“Ide yang bagus juga, Man,” sahut papi Rudi.


”Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, hemat biaya juga,” celetuk om Rio sambil terkekeh.


“Wah Arjuna menang banyak itu namanya,” ledek Theo sambil tertawa. “Menikah dengan perempuan yang masih muda dan bucin berat sama calon suaminya.”


“Iri bilang boss,” cebik Arjuna.


“Diihh mana gue iri. Ngebayangin punya pacar kayak anak bebek elo, kepala gue langsung pusing tujuh keliling, apalagi jadiin calon istri. Lagian elo tega juga Jun. Cilla itu ibarat pohon jambu yang baru berbunga udah elo petik. Bukannya tambah subur dan berbuah banyak, malah bantet dan ngambek tuh pohon sampai nggak mau berbuah.”


“Dasar jones, mana bisa calon istri gue disamain dengan pohon jambu tetangga elo !” Omel Arjuna sambil melemparkan gulungan tisu ke arah Theo.


“Kalau udah tujuhbelas, Cilla itu ibarat bunga baru mekar yang lagi cantik dan wangi-wanginya. Daripada didatangi lebah model kayak elo terus dihisap madunya, lebih baik gue petik dan taruh di vas bunga, biar cakep terus.” tukas Arjuna dengan wajah tegas.


“Nggak anaknya, nggak bapaknya. Dua bebek ini memang udah sama-sama penderita bucin akut,” cebik Theo. “Pengennya kawin melulu.”


“Nikah Theo, jangan kawin dulu baru nikah,” protes papa Arman sambik tertawa..


Ucapan papa Arman disambut dengan tawa oleh papi Rudi dan om Rio.


“Sepertinya kamu memang harus mengikuti jejak Arjuna, Yo,” ujar om Rio. “Coba aja dengan temannya Cilla yang siapa itu namanya, siapa tahu kamu memang cocok.”


“Ya ampun Papi,” mata Theo membelalak. “Jangan bilang papi nggak mau kalah dengan Om Rudi dan Om Arman. Theo yakin kalau Papi punya menantu model anak-anak abege kayak Cilla, pasti papi akan seperti Om Arman yang bisanya garuk-garuk kepala saat berhadapan calon menantu.”


“Eh sembarangan ngomong !” Protes Arjuna dengan mata melotot. “Elo kira Cilla itu kutu rambut yang bisa bikin kepala papa gatal terus ?”


“Ya ampun Juna, kenyataan… kenyataan. Apa elo nggak lihat tampang bokap lo pas Cilla minta dikawinin ?”


“Anak gadis yang kamu omongin itu masih ada bapaknya di sini, anak muda,” tegur papi Rudi dengan wajah sengaja dibuat tegas dan menyeramkan.


“Eh iya Om, saya nggak lupa.” Theo nyengir kuda sambil menangkup kedua tanganya di depan wajah.


Semuanya tertawa melihat ekspresi Theo yang sedikit salah tingkah. Arjuna bahkan mencibirkan bibirnya.