MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Rindu di Tengah Emosi


 


Senin pagi anak-anak SMA Guna Bangsa mulai disibukkan dengan pekan ulangan umum. Arjuna menatap ke arah lantai 3 dari ruang guru. Diliriknya tas sekolah Cilla yang sudah dibawanya hari ini. Bahkan gadis itu tidak menghubunginya untuk menanyakan soal itu.


 


Posisi pintu kelas Cilla yang terlihat dari ruang guru membuat Arjuna lebih leluasa memandang ke sana dan berharap bisa melihat gadis itu sebelum memulai tugasnya sebagai pengawas di kelas 10.


 


Arjuna menghela nafas saat melihat Jovan sedang berbincang dengan anak bebeknya di tembok pembatas depan ruang kelas.


Terlihat mereka berdua sedang tertawa layaknya anak remaja. Tidak ada wajah sendu atau kesedihan di mata Cilla, bahkan Arjuna melihat Cilla tertawa  beberapa kali saat Jovan masih mengoceh entah apa yang dibahasnya. Tidak lama ada Febi dan Lili bergabung dengan mereka.


 


Hati Arjuna berdesir saat melihat Jovan mengacak-acak poni Cilla sebelum ketos tampan itu berlalu.


Semalam emosinya sempat naik kembali saat tidak sengaja melihat Cilla sedang berbincang dan tertawa dengan Dimas di pujasera. Keduanya duduk bukan di tempat biasa yang ditempati oleh Arjuna dan Cilla.


 


Arjuna yang semalam sengaja mencari tempat  duduk lain supaya pikirannya tidak ingat terus dengan Cilla, ternyata harus melihat pemandangan yang mengundang emosinya dan meletupkan rasa cemburunya saat harus melihat pemandangan Cilla sedang makan dan berbincang dengan Dimas.


 


Bagai seorang suami yang menangkap basah isrinya yang sedang selingkuh, rasanya Arjuna ingin menghampiri mereka dan memaki keduanya.


Tapi mengingat peristiwa Sabtu pagi, Arjuna merasa kalau ia tidak berhak untuk kembali memarahi Cilla di depan umum. Arjuna hanya bisa menghela nafas berkali-kali dan akhirnya memutuskan memesan makanan untuk dibawa pulang.


 


Padahal Arjuna sempat khawatir dan memikirkan reaksi Cilla dengan sikapnya yang agak kasar pada Sabtu pagi.


Ternyata Cilla ini tidak terus melow di dalam kamar dan menangis karena habis bertengkar dengan Arjuna. Sungguh semuanya di luar gambaran Arjuna yang menganggap Cilla adalah gadis-gadis pada umumnya yang langsung sesunggukan dan memilih tetap di kamar saat bertengkar dengan kekasih mereka.


 


“Datangin aja kalau kangen, Bro. Sekalian buat pemberi semangat Cilla sebelum ulangan,” Dono menepuk bahu Arjuna yang sedang fokus menatap ke arah lantai 3.


 


“Ngaco lo !” gerutu Arjuna sambil membalikkan badannya.


 


“Gue tahu kok gimana rasanya rindu,” ujar Dono sambil terkekeh. “Jangan ditahan, nanti malah bikin pusing kepala dan pikiran jadi melantur akhirnya emosi nggak karuan.”


 


“Kayaknya cuma elo doang yang begitu,” cebik Arjuna sambil kembali ke mejanya.  Masih ada waktu sepuluh menit sebelum bel tanda masuk berbunyi.


“Eh, itu kenapa tas Cilla masih ada di sini ? Jangan bilang elo lupa bawa pulang hari Jumat kemarin, Bro ?” tanya Dono sambil menunjuk ke arah bangku Arjuna.


 


“Iya lupa,” sahut Arjuna asal.


 


“Terus tuh anak belajarnya bagaimana ? Belum lagi alat tulisnya kan masih ada di dalam tas.”


 


“Buktinya tuh anak santai aja, nggak cari gue dan minta tasnya,” jawab Arjuna sambil mempersiapkan perlengkapannya.


 


“Memangnya kalian nggak nge-date gitu ?” Dono memicing, menatap curiga pada sahabatnya.


 


“Bro, Cilla itu masih anak sekolah kelas 12 pula. Bisa-bisa gue langsung dapat SP3 kalau berani mengajak anak pemilik sekolah kencan menjelang ulangan umum,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


 


Meski tidak puas dengan jawaban Arjuna, tapi kepala Dono mengangguk juga. Jawaban Arjuna ada benarnya juga.


 


Arjuna mengambil handphonenya dan berniat untuk mengirimkan pesan pada Cilla agar menemuinya saat pulang sekolah untuk mengambil tasnya. Arjuna menepuk jidatnya sendiri saat muncul notifikasi kalau nomor Cilla sudah diblokir olehnya.


 


Pantas saja dua hari kemarin tidak ada kiriman pesan apapun dari Cilla. Padahal dalam hati, Arjuna berharap anak bebeknya itu akan mengirimkan pesan-pesan manis untuk meredakan emosinya dan membujuknya supaya tidak marah lagi.


 


Bukannya pesan indah yang didapat Arjuna, ia malah harus melihat kalau Cilla baik-baik saja dengan Dimas di hari Minggu malam dan pagi ini bisa tertawa dengan Jovan.


Hatinya seperti teriris hanya dengan melihat anak bebeknya itu tertawa bahagia dengan pria lain.


 


“Don, gue bisa minta tolong ?”


 


Keduanya sudah berjalan menuju pintu keluar ruang guru.


 


“Handphone gue lagi bermasalah, dan sekarang jatah gue jaga di kelas 10. Bisa minta tolong bilangin Cilla buat ketemu gue habis pulang sekolah, sekalian ambil tasnya.”


 


“Kenapa elo nggak omong sendiri pas jam istirahat ?” Dono mengernyit.


 


“Elo kan tahu kalau pas isirahat malah susah buat ketemunya. Lagipula kalau gue samperin ke kantin, bisa heboh satu sekolah. Tolong ya,” pinta Arjuna dengan wajah memelas.


 


Hari ini memang tugas Dono mengawasi kelas 12 tapi di kelas IPA bukan IPS. Akhirnya guru ekonomi itu mengangguk dan mereka berpisah di dekat tangga, karena Arjuna akan turun ke lantai 1 dan Dono akan ke lantai 3.


Arjuna memutuskan untuk membuka blokiran nomor Cilla dan mengirimkan satu pesan untuk gadis itu agar menemuinya di halaman belakang sepulang sekolah. Namun ia harus kecewa karena jawaban 'Cilla hanya ingin menemuinya di ruang guru, itu pun sekedar mengambil tas nya yang tertinggal hari Jumat lalu.


 


Arjuna mengernyit saat melihat Jovan berdiri di depan pintu ruang guru dan bermaksud menemuinya.


 


“Maaf mengganggu Pak Arjuna, saya mau ambil tas Cilla yang tertinggal,” ujar Jovan dengan sopan sambil tersenyum pada guru matematika itu.


 


“Tadi Cilla bilang akan mengambilnya sendiri kemari,” sahut Arjuna dengan nada kesal.


 


“Cilla buru-buru pulang karena dijemput papinya. Dia minta tolong saya untuk mengambil dari Pak Arjuna dan mengantarkan ke rumahnya nanti sore. Sekalian papinya Cilla mau bertemu saya, sudah lama kami nggak ngobrol,” ujar Jovan sengaja dengan nada pamer untuk memanasi Arjuna.


 


“Kalau begitu biar saya yang antar langsung ke rumah Cilla,” sahut Arjuna sedikit ketus.


 


“Tapi saya tetap harus ke sana juga, Pak,”  sahut Jovan tidak mau kalah.


 


“Terserah kamu. Kan bilangnya mau ketemu sama papinya Cilla, kalau saya ya mau ketemu Cilla nya langsung,” sahut Arjuna dengan ketus.


 


 


“Kenapa nggak dikasih ?” Arjuna melotot menatap Jovan yang masih menertawakannya.


 


Terinyata diam-diam Dono juga memperhatikan interaksi Arjuna dengan Jovan dari mejanya. Secara garis besar Jovan sudah sempat bercerita saat Dono menjadi pengawas di kelasnya, apalagi Jovan tahu kalau Dono adalah salah satu sahabat Arjuna yang mengetahui hubungan antara guru matematika dengan putri pemilik sekolah.


 


Dono sempat kaget saat tahu kalau Cilla adalah anak SMA yang akan dijodohkan oleh papa Arman. Namun ia akhirnya tersenyum, itulah yang namanya kalau sudah  jodoh tidak akan lari kemana-mana.


 


“Bukannya om Rudi sudah memberikan bapak syarat untuk bisa memacari putrinya ?” ledek Jovan sambil terkekeh.


 


“Saya sudah memenuhi semua syarat dan ketentuan yang diberikan sama om Rudi, jadi sudah pasti saya dapat restu beliau,” sahut Arjuna dengan wajah pongah.


 


“Cie…cie… panggilnya udah om Rudi aja nih. Udah rubah panggilan, Pak ? Nggak om Darmawan lagi ?”


 


“Eh ingat ya… Status saya masih pacarnya, Cilla. Belum ada kata putus keluar dari mulut saya, jadi status saya masih sama seperti kemarin-kemarin,” sahut Arjuna masih dengan nada ketus.


 


“Masalahnya Cilla yang sudah nggak menganggap Bapak itu pacarnya,” ujar Jovan sambil mencibir.


 


“Sabtu kemarin adalah pertama kalinya saya melihat Cilla menangis sampai sesunggukan begitu,” Jovan memulai aktingnya dengan gaya yang dibuat lebay habis. “Bahkan saat jatuh dan terluka, Cilla nggak sampai sedih dan kecewa begitu.”


 


“Kamu tahu darimana ?’ nada galak masih mendominasi suara Arjuna, tapi ada nada khawatir juga dalam ucapannya.


 


“Saya ikut menemani Amanda, adik bapak yang galaknya sebelas duabelas kayak kakaknya. Amanda nggak mau diajak pulang dan melihat dari jauh perlakuan Bapak pada Cilla,” Jovan dengan wajah serius menjelaskan pada Arjuna.


 


Melihat ekspresi Arjuna yang mulai berubah perlahan dari ketus jadi khawatir, Jovan tertawa dalam hatinya.


 


Memangnya enak dibuat khawatir gitu, Pak ? Kalau memang tidak bisa membahagiakan Cilla, saya bersedia menggantikan tempat Bapak, batin Jovan.


 


“Saya tetap akan datang menemui Cilla,” tegas Arjuna sambil menatap Jovan yang terlihat mengejeknya sambil mencibir. “Saya akan minta maaf padanya.”


 


“Kalau semua selesai dengan kata maaf, maka tidak akan ada cerita sakit hati karena putus cinta,” sahut Jovan.


 


“Kamu nyumpahin saya putus sama Cilla ?” tanya Arjuna mulai emosi kembali.


 


“Tuh kan !” Jovan tertawa. “Baru dipancing sedikit aja, Bapak sudah langsung emosi. Saya sama dengan Cilla, masih sama-sama anak SMA, jadi ya pikiran kami juga masih setengah anak-anak. Mana bisa disamakan dengan pikiran Bapak yang sudah dewasa, sudah matang, sudah om-om.”


 


“Saya belum om-om. Saya masih cocok jadi abege yang matang, tapi bukan om-om,” protes Arjuna dengan wajah juteknya.


 


“Kalau begitu mari kita buktikan,” Jovan mengulurkan tangannya mengajak Arjuna bersalaman. “Saya belum mau mengalah sama Pak Arjuna. Saya melihat masih ada peluang untuk mendapatkan hati Cilla, apalagi Pak Arjuna sering menyakiti hatinya dengan kata-kata pedas. Setidaknya saya sudah menang sepuluh poin dari Pak Arjuna, karena saya sudah lama mengenal Cilla.”


 


“Saya nggak akan kasih celah untukmu sekalipun masih ada peluang nol koma nol nol satu persen,” Arjuna menggeleng. “Sekarang kamu boleh mengantongi sepuluh poin di atas saya, tapi saya pastikan kalau saya adalah pemenangnya !” tegas Arjuna.


 


“Bapak yakin ?” Jovan menaik turunkan alisnya.


 


“Bukan sekedar yakin,” Arjuna membalas tatapan Jovan dengan dada membusung. “Saya sangat yakin banget sekali.”


 


Jovan terbahak sampai menahan perutnya. Beberapa guru yang masih berada di ruangan sampai menoleh, terutama Dono yang sudah tidak bisa menahan gelak tawanya juga.


 


“Saya tahu Bapak itu guru matematika, tapi bahasa Indonesia bapak parah banget. Belum pernah ada orang yang mengucapkan kalimat borongan kayak tadi.”


 


“Selama tidak mengandung unsur sara dan provokasi, saya nggak akan disalahkan siapa-siapa kecuali sama Bu Tuti, guru Bahasa Indonesia,” jawab Arjuna dengan alis menaut.


 


“Kalau begitu, selemat berjuang Pak Arjuna !” Jovan mengangkat tangan memberi semangat pada gurunya. “Semoga Cilla masih punya cadangan maaf buat bapak dan hatinya masih seluas samudera untuk tetap mencintai Pak Arjuna.”


 


Jovan memberi hormat  dengan tangan yang ditempelkan di keningnya. Arjuna mendengus kesal melihat kelakuan ketos tampan yang selalu jadi rivalnya. Sepertinya ia harus belajar meditasi untuk bisa mengatasi emosinya yang mudah terpancing dengan kelakukan anak-anak SMA, karena bukan hanya demi statusnya sebagai guru SMA, tapi terutama karena calon istrinya memang masih anak SMA.


 


Arjuna kembali ke mejanya dan memeluk tas Cilla di atas pangkuannya. Wajahnya mendadak merona membayangkan kalau Cilla ternyata adalah gadis yang dijodohkan oleh papa Arman, bukan sekedar untuk menjadi kekasihnya tapi istrinya.


 


“Jun, elo masih waras, kan ? Atau perlu gue ambilkan obat ?” ledek Dono sambil terkekeh.


 


“Si**lan, lo !” omel Arjuna dengan wajah cemberut dan bibir maju lima senti.


 


Dono tergelak melihat tingkah sahabatnya. Ia tahu kalau Arjuna memang sudah jatuh, sangat jatuh cinta pada Cilla. Mungkin tulah karena ucapannya atau memang jodoh berat dengan Cilla, Dono juga tidak tahu.


 


Tapi memang emosi sahabatnya ini terlalu menggebu-gebu, mudah meledak hanya dengan semburan api kecil saja. Dono berharap, Arjuna akan berhasil melatih emosinya dengan memiliki kekasih seperti Cilla.