
Ternyata bukan hanya para sahabat Cilla yang diundang, tapi juga sahabat-sahabat Arjuna. Semuanya datang bersamaan, hanya Pius dan kekasihnya yang absen. Theo pun ternyata datang bersamaan dengan mereka dan membawa tambahan minuman kaleng tanpa alkohol atau yang berakohol rendah.
“Ya ampun bocil,” Erwin langsung mengacak-acak poni Cilla. “Kayaknya belum lama diajak jalan-jalan sama kamu dan hampir sepanjang liburan kamj berantem sama Juna. Eh sekarang malah jadi calon istrinya Juna.”
”Ngomong boleh, tapi tangan dikondisikan,” mata Arjuna melotot menatap Erwin.
“Ya ampun Junjunan, dulu marah-marah sampai keluar sumpah serapah segala, sekarang anak bebeknya ketoel dikit aja langsung jadi T-Rex,” timpal Luki sambil mengulurkan tangannya sengaja ingin menyentuh kepala Cilla juga.
Arjuna langsung menarik tangan Cilla dan memposisikan calon istrinya di belakang tubuhnya.
“Ya ampun Juna,” Boni menepuk jidatnya. “Elo takut amir sih anak bebek lo diracunin sama kita-kita. Dulu aja dikatain suka ngurusin om-om dan dengan sok yakin bilang nggak bakalan suka sama nih bocil dan lebih baik menerima perjodohan yang disiapkan bokap. Ternyata oh ternyata, om-om nya itu elo ?”
Yang lain langsung terbahak, mengingat kelakuan Arjuna yang malah marah-marah saat muntah di tengah jalan dalam rute Ambarawa menuju Gunungpati. Bukannya berterima kasih pada Cilla yang membantu mengurusnya, malah mempermalukan Cilla di depan para sahabatnya.
”Wah Cil, kalau sudah sampai dikatain begitu, aku sih bakal mikir berkali-kali buat jadiin cowok model begini sebagai calon suami,” Mimi ikutan memanasi.
“Bener juga sih, Kak,” Cilla menyahut dari balik badan Arjuna. Spontan pria itu menoleh dan menatap Cilla dengan dahi berkerut.
“Pelanggaran etika guru itu, Jun,” Dono pun ikutan buka suara sambil terkekeh. Wiwik, istrinya, langsung menyenggol tangan Dono dan memberi isyarat dengan gerakan matanya.
Cilla mengabaikan tatapan Arjuna meski tidak ada kemarahan di sana, malah Cilla senyum-senyum sendiri.
“Jadi kamu masih marah soal omongan aku waktu itu ?” Tanya Arjuna dengan suara lirih.
“Nggak,” Cilla menggeleng. “Nggak salah lagi,” lanjutnya sambil tergelak.
Luki, Erwin dan Theo saling menatap dan mengangkat bahunya.
“Cilla udah maafin Mas Juna, tapi nggak lupa lah sama ucapan dan kelakuan Mas Juna waktu itu. Bukan karena dendam, tapi mengingat untuk belajar. Apalagi yang ngomong kan guru, orang yang jadi panutan murid-murid.”
Arjuna menghela nafas dan menangkup wajah Cilla, menatapnya dengan wajah sendu.
”Maafin Mas Juna, ya,” ucapnya tulus. Cilla mengangguk-angguk sambil tertawa pelan. Wajahnya menggemaskan membuat Arjuna langsung mencium pipinya.
“Ya ampun Juna !” pekik Dono sambil menepuk jidatnya. “Murid gue seenaknya elo sosor begitu, di depan umum pula.”
“Namanya juga bapak bebek,” ledek Theo sambil tertawa.
“Murid elo ini calon istri gue, Pak Dono. Malahan kalau semua lancar, bulan depan kemungkinan udah sah jadi istri,” ucap Arjuna dengan wajah sumringah.
“Seriusan ?” Luki dan Erwin ikut berkomentar sambil membelalakan mata.
“Mas Juna ih, belum pasti juga,” bibir Cilla mengerucut sambil memukul bahu Arjuna.
“Masih di bawah umur kali, Jun. Elo nggak kasihan sama nih bocah ?” Erwin menunjuk Cilla. “Masa elo tega mempekerjakan anak di bawah umur buat jadi istri ? Elo kan tahu kalau istri itu harus membahagiakan suami lahir batin. Kalau lahirnya sih masih bisa dijalankan, nah batinnya…”
“Jangan mau dipaksa dewasa sebelum waktunya, Cil,” Mimi kembali memanasi Cilla sambil tertawa.
Arjuna mengabaikan komentar teman-temannya, pandangannya fokus menatap Cilla yang senyum-senyum sambil melirik para sahabat Arjuna karena kedua pipinya masih ditangkup kedua tangan Arjuna.
“Memangnya om-om nggak antusias kalau Mas Juna menikah sekarang. Cilla nggak keberatan karena sudah kebayang mau ikutan acara siraman,” Cilla terkekeh.
“Memangnya kamu mau pakai adat Jawa ?” tanya Arjuna sambil menautkan kedua alisnya.
“Jangan pura-pura lupa dengan perjanjian kita deh, Jun,” Luki yang tahu maksud ucapan Cilla langsung berkomentar.
“Siraman kalah taruhan Jun, pakai air kali, air got atau air cucian piring,” timpal Boni sambil tergelak.
”Ya ampun, memangnya nggak ada remisi atau apa gitu ? Tega benar sama calon pengantin. Masa mau jadi pengantin malah disiramnya pakai air kotor,” ujar Arjuna dengan wajah memelas.
“Sekali janji tetap janji, Jun,” Theo menjawab sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Apa mau dibilang bukan lelaki sejati karena tidak bisa menepati janji ?”
“Masa begitu aja Mas Juna nggak berani ? Mas Juna pria sejati bukan, sih ?” ledek Cilla sambil mencebik.
“Ya pria tulen, dong !” sahut Arjuna dengan wajah cemberut. “Akan Mas Juna buktikan kalau kita sudah resmi menikah.”
Wiwik dan Mimi langsung tercengang dan menutup mulut mereka. Bisa-bisanya Arjuna yang berstatus guru bicara begitu pada murid sekaligus calon istrinya yang baru mau memasuki usia 17 tahun.
“Dih bukan masalah ketulenan itu maksud Cilla,” Cilla balik cemberut dan memukul bahu Arjuna lagi. “Tapi pria sejati yang selalu menepati janji dan ucapannya.”
“Cilla tega lihat Mas Juna hitam-hitam bau begitu ? Kalau baunya bisa cepat hilang, kalau masih nempel pas kita menikah apa Cilla tetap mau dekat-dekat Mas Juna ?” Arjuna memegang kedua bahu Cilla.
Para sahabatnya sudah geleng-geleng sambil mencebik. Hanya Mimi yang terkikik karena melihat kelakuan Arjuna yang mirip anak kecil. Selama menjadi teman sekolah Arjuna sejak SMP sampai cowok itu pacaran dengan Luna, belum pernah Mimi melihat sisi lain Arjuna seperti ini.
“Mateng loh, Jun,” ejek Theo sambil tertawa.
Wajah Arjuna kembali ditekuk dan dengan kesal melirik para sahabatnya yang sedang menertawakannya.
”Awas Wiwik mau lahiran sekarang gara-gara kebanyakan ketawa,” ledek Arjuna dengan wajah kesa.
“Eh mulut lo ya, Jun !” omel Dono dengan mata melotot. “Amir-amit lahiran sekarang. Belum waktunya,” Dono langsung mengelus-elus perut istrinya.
Cilla melirik jam dinding yang ada di belakang Arjuna. Tinggal duapuluh menit menjelang pergantian hari ke awa tahun yang baru.
“Udah mau jam duabelas, kita ke belakang yuk,” Cilla megajak para sahabat Arjuna dan menggandeng tangan Arjuna.
“Jangan ngambek,” bisik Cilla saat para sahabat Arjuna berjalan mendahului mereka. “Sekali-sekali buat Cilla bahagia dengan cara yang unik,” gadis itu terkekeh.
“Teganya Cilla,” gerutu Arjuna.
“Mas Juna tetap ganteng biar hitam-hitam disiram air got, dan cinta Cilla nggak berkurang biar Mas Juna bau lama dan perlu mandi berkali-kali,” ucapnya agak berbisik dan tertawa pelan.
“Mulai gombal,” cebik Arjuna. Cilla hanya tertawa dan membiarkan tangan Arjuna terlepas, ganti merangkul bahunya.
Sampai di teras belakang, semua sudah berkumpul. Bahkan ketiga sahabatnya sudah mulai memasang kembang api. Papi Rudi dan papa Arman ternyata ikutan memegang kembang api juga.
Langkah Cilla tertahan dan matanya mengerjap menahan air mata yang meronta-ronta ingin keluar. Entah sudah berapa lama Cilla tidak pernah mengalami malam pergantian tahun bersama keluarga dan para sahabatnya.
Sejak mami Sylvia sakit-sakitan dan harus bolak balik dirawat inap, Cilla sudah tidak pernah berpikir untuk merayakan tahun baru bahkan hari ulangtahunnya sendiri.
Cilla menoleh ke lain arah karena air matanya benar-benar tidak bisa diajak bekerjasama.
Arjuna yang merasakan Cilla bergeming di tempatnya langsung menoleh dan didapatinya Cilla sedang menatap ke arah lain.
Diputarnya badan Cilla hingga mereka berhadapan dan dihapusnya air mata yang basah membasahi pipi calon istrinya dengan punggung tangannya.
“Jangan menangis, sayang,” bisik Arjuna saat Cilla sudah berada dalam pelukannya. Diusap-usapnya punggung Cilla untuk memberi ketenangan.
“Mulai hari ini sampai seterusnya, selama Tuhan masih memberikan Mas Juna kesempatan untuk bernafas, selama itu pula Mas Juna akan membuat Cilla tidak akan pernah kesepian dan sendirian lagi. Papa, mama, papi, tante Siska dan om Rio bahkan Theo dan Amanda juga semua sahabat kita akan selalu ada untuk Cilla kapanpun Cilla mulai kesepian. Mas Juna sayang dan cinta sama Cilla sepenuh hati. Semoga Tuhan selalu mendengarkan doa Mas Juna agar memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk membahagiakan Cilla.”
Arjuna mempererat pelukannya dan mencium kening Cilla dengan penuh kasih sayang.
Papi Rudi yang melihat pemandangan itu tersenyum bahagia melihat kedekatan putrinya dan calon suaminya.
“Selamat Tahun Baru !” Pekik Erwin dan Amanda bersamaan meski posisi mereka tidak berdekatan.
“Selamat tahun baru, sayang,” bisik Arjuna pada Cilla yang masih ada dalam pelukannya.
“Selamat tahun baru juga Mas Juna,” sahut Cilla pelan dan malu-malu.
Setelah melerai pelukannya, Cilla berjalan mendekati papi Rudi dan langsung memeluknya.
“Selamat tahun baru, Papi. Terima kasih karena sudah hadir kembali dalam kehidupan Cilla. Semoga Cilla bisa mewujudkan impian dan harapan Papi.”
“Terima kasih juga sudah menjadi anak papi yang kuat dan luar biasa. Terima kasih karena Cilla sudah tumbuh menjadi anak yang penuh cinta meskipun Papi tidak bisa memberikan cinta layaknya orangtua pada anaknya. Terima kasih karena sudah membukakan pintu maaf buat Papi dan memberikan Papi kesempatan kedua. Semoga hubungan Cilla dan Arjuna dipenuhi dengan kasih dan berkat Tuhan.”
Cilla kembali menangis dalam pelukan papi, sementara Arjuna yang menyalami satu persatu keluarga dan para sahabatnya hanya sesekali melirik arah Cilla sambil tersenyum.
“Semoga Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk calon istriku, belahan jiwaku dan separuh nafas hidupku,” doa Arjuna dalam hati.
Hai Readers yang setia,
*Selamat menjalani Tahun 2023. **🎉🎉😊🎉😊*
Semoga selalu diberikan berkat, rejeki dan kesehatan yang melimpah.
Semoga harapan para readers dapat terwujud dan usaha kalian mendapat keberhasilan.
Jangan pernah putus asa saat menemukan masalah atau kegagalan karena pasti ada yang lebih indah setelah semuanya terlewati.
Terima kasih karena telah membaca karya saya dan secara khusus kepada para pembaca yang selalu setia memberikan komen, vote, like dan gifts.
Segala dukungan yang diberikan adalah semangat baru untuk saya untuk terus berkarya.
*Terima kasih **😊😊🙏🙏🙏*