MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Gara-gara Lupa Minum Obat


“Kalau cuma mau main kuda-kudaan, ngapain juga harus jauh-jauh ke Bali, sih ?”


Cilla mengomel saat keduanya baru saja kembali ke kamar setelah menikmati makan malam romantis di pinggir pantai.


Sudah 3 hari ini kegiatan mereka hanya di kamar, berenang, makan di restoran sekitar hotel dan kembali ke kamar lagi.


Arjuna menolak permintaan Cilla untuk pergi ke tempat-tempat wisata terkenal di Bali.


“Kan Mas Juna sudah penuhi permintaan Cilla untuk mengabaikan semua telepon yang berhubungan dengan urusan pekerjaan. Sebagai gantinya, Mas Juna mau puas-puasin waktu berdua sama Cilla terutama kegiatan yang hot dan nikmat.”


“Iya tapi ini udah 3 hari. Kan bisa diatur siang kita jalan-jalan ke tempat wisata, malamnya baru main anak koala di kamar,” gerutu Cilla dengan bibir mengerucut.


“Kalau siang kita isi dengan aktivitas setengah hari, kegiatan malamnya nggak akan maksimal karena capek habis jalan di siang harinya. Kan namanya juga bulan madu bukan liburan biasa, jadi lebih banyak ngamar daripada jalan-jalannya,” sahut Arjuna dengan santai.


“Kalau cuma perlu di kamar aja, kan bisa kita tinggal di apartemen dulu biar nggak diganggu siapa-siapa,” Cilla masih meneruskan protesnya.


“Beda dong, sayang,” Arjuna menarik Cilla duduk di pangkuannya di pinggir ranjang. “Suasana kamarnya aja udah beda, belum lagi aroma laut yang bisa Cilla hirup sepanjang hari. Ditambah pemandangan di luar kamar yang langsung ke laut, bukan gedung-gedung bertingkat, bisa membangkitkan gelora cinta dan sensasi yang luar biasa. Memangnya Cilla nggak merasa beda ? Mas Juna aja jadi semangat terus.”


“Me-sum,” cibir Cilla “Mau beralih jadi pujangga ? Biasanya ucapan Mas Juna pedes kayak cabe rawit sekilo. Sekarang malah penuh rayuan kayak romeo bucin,” lanjut Cilla dengan bibir manyun dan wajah cemberut.


“Memangnya Mas Juna nggak bosan main anak koala atau kuda-kudaan terus-terusan ?”


“Romeo memang bucin berat sama Juliet sampai rela mati. Mas Juna juga sama, tapi bukan plagiatnya Romeo. Cinta Mas Juna asli bukan aspal, nggak bisa nolak pesona anak bebek kesayangan satu ini. Mau lari kemana ujung-ujungnya hati pilih anak bebek yang menggemaskan ini.” Arjuna mencubit pipi Cilla dengan satu tangannya karena tangan lainnya memeluk pinggang Cilla.


“Soal main anak koala, mana bisa Mas Juna bosan. Kan Mas Juna pernah bilang kalau udah memulai sama Cilla, jangan suruh Mas Juna berhenti. Nggak akan capek apalagi bosan sama anak bebek kesayangan Mas Juna.” Arjuna menciumi leher Cilla membuat wanita itu terkekeh kegelian.


“Beneran ? Dan benar kalau Cilla ini yang pertama dan akan jadi satu-satunya buat Mas Juna ?”


Meskipun dalam mode ngambek, tangan Cilla tetap merangkul leher Arjuna dan tidak menolak saat tangan Arjuna sesekali bergelirya kemana-mana.


“Kalau pria bisa membuktikan keperjakaannya, Mas Juna mau membuktikannya sama Cilla. Sayangnya cowok nggak seperti cewek yang bisa memberikan bukti masih segel atau sudah jebol.”


“Bahasanya deh, Mas Juna,” Cilla mencibir. “Udah kayak bendungan aja bisa jebol atau orang main bola bisa dijebol gawangnya.”


“Kan memang biasa bilangnya jebol gawang.”


“Jadi besok beneran ya mau ajak Cilla jalan-jalan dan nggak hanya di hotel seharian ?”


“Iya beneran,” Arjuna mengangguk. “Besok Cilla boleh pilih kemana aja, Mas Juna akan turuti.”


“Beneran ? Serius ? Nggak boleh protes, ya !” Cilla mengangkat telunjuknya ke depan wajah Arjuna. “Nggak boleh ngeluh apalagi marah-marah, ya.”


“Iya, iya,” Arjuna mengangguk sambil tertawa. “Yang penting malam ini dobel kombo, ya,” Arjuna menaik turunkan alisnya.


“Memangnya tiga hari ini nggak dobel kombo ? Malah bisa triple kombo kali,” Cilla kembali mencibir dan hanya ditanggapi Arjuna dengan tawa.


“Eits, mau kemana ?” tangan Arjuna menahan pinggang Cilla yang bergerak ingin bangun dari pangkuan Arjuna.


“Mau sikat gigi dulu sama bersih-bersih,” sahut Cilla sambil mengerutkan dahi.


“Nggak usah, bersih-bersihnya habis olahraga aja. Lagipula mulut Cilla wangi juga, paling malam ini ciumannya rasa cumi dan ikan bakar,” ujar Arjuna tertawa pelan.


“Iya tapi….”


“Yang di bawah udah nggak bisa diajak kompromi buat nungguin. Cilla nggak bisa duduk tenang di pangkuan Mas Juna, jadi si adek kebangun deh.”


“Mas Juna iiihh…” Cilla tersipu dan memukul bahu Arjuna karena baru menyadari ucapan suaminya kalau ada yang menegang di bawah bokongnya yang masih menempel di pangkuan Arjuna.


“Gaya baru apalagi malam ini ?” bisik Arjuna di sela ciuman panasnya di leher Cilla yang sudah terbaring di ranjang.


“Suka-suka Pak Guru,” sahut Cilla di antara desahann nafasnya karena Arjuna semakin agresif bergerak menelusuri tubuh Cilla.


Gelora cinta kembali memenuhi kamar bulan madu Arjuna dan Cilla. Bukan hanya Arjuna yang penuh semangat seperti orang kecanduan dengan cintanya pada Cilla, namun anak bebek kesayangan Arjuna itu semakin pintar memanjakan suaminya. Cilla tidak lagi malu-malu mengimbangi gelora Arjuna, memberikan sensasi yang luar biasa untuk pria yang memberikan dirinya untuk Cilla seorang.


“Udah jangan ngambek begitu, dong,” Arjuna mengikuti langkah Cilla yang sesekali menghentakan kakinya dengan wajah ditekuk.


Keduanya baru saja selesai menikmati sarapan di restoran hotel dan berjalan menuju lobby, menunggu mobil yang akan membawa mereka berkeliling Bali sesuai permintaan Cilla.


“Mas Juna juga lupa beneran,” Arjuna meraih tangan Cilla dan menahannya hingga mereka berdiri berhadapan di pinggir lobby depan.


“Terus kalau Cilla hamil gimana ? Siapa yang mau tanggungjawab ?”


Arjuna menggigit bibirnya menahan rasa geli mendengar ucapan Cilla. Bisa panjang urusannya kalau sampai Arjuna terbahak mendengar ucapan Cilla barusan.


Anak bebek kesayangannya ini dalam mode ngambek gara-gara baru sadar kalau kemarin Cilla lupa mengkonsumsi pil pencegah kehamilannya yang harus rutin dikonsumsi setiap hari.


Itupun baru disadari Cilla saat membuka kotak obat hariannya selesai sarapan. Cilla terkejut saat melihat pil kecil itu masih ada di bagian kotak yang bertuliskan M, yang artinya Monday. Dan kemarin adalah hari Senin, Cilla lupa mengkonsumsinya.


Senin pagi, Arjuna sengaja mengajak Cilla sarapan di balkon kamar mereka. Keduanya baru bangun jam 9 pagi setelah malamnya berolahraga dalam beberapa episode dan berhenti total di jam 2 pagi. Ingin sedikit santai dan menikmati sarapan dengan keindahan laut yang terhampar di depan kamar mereka, Arjuna memutuskan untuk sarapan di kamar.


“Sayang, tentu saja Mas Juna yang akan tanggungjawab,” Arjuna memeluk Cilla dan mengusap-usap punggungnya.


Satu hal baru yang didapati Arjuna, anak bebeknya jadi suka ngambek belakangan ini. Tapi sekesal apapun Cilla, tidak akan pernah menolak saat Arjuna memeluknya apalagi mengusap-usap punggung atau kepalanya saat mereka di ranjang.


“Kalau itu Cilla juga udah tahu,” omel Cilla yang masih menyenderkan kepalanya di dada Arjuna. “Kalau sampai Mas Juna nggak mau tanggungjawab, Cilla bikin adeknya Mas Juna nggak bisa main anak koala lagi sama yang lain.”


“Kok Cilla sekarang sadis amat,” Arjuna bergidik namun akhirnya tersenyum.


Anak bebeknya ini mulai menjadi dirinya sendiri, bukan anak perempuan yang berusaha terlihat dewasa, tegar dan selalu baik-baik saja.


“Kalau Cilla hamil berarti nggak bisa kuliah ? Nggak bisa jadi mahasiswa karena harus ngurus dedek bayi ? Terus gimana Cilla bisa mendampingi Mas Juna kalau sampai nggak kuliah, terus…”


Arjuna mengeratkan pelukannya dan kembali senyum sendiri.


“Sayang, jangan nethink dulu,” Arjuna merenggangkan pelukannya. “Nggak akan ada yang melarang Cilla untuk kuliah, apalagi Mas Juna. Mas Juna akan jadi orang pertama yang mendukung banget keinginan Cilla untuk lanjut kuliah. Kalau sampai Cilla hamil dan punya anak, Cilla tetap bisa jadi mahasiswa. Mas Juna akan jadi suami dan daddy yang siaga. Selain itu Cilla masih punya mama dan tante Siska yang pasti akan membantu Cilla. Kalau sudah bertambah besar, kita bisa suruh Amanda ajak anak kita jalan-jalan. Ada papa dan om Rio juga yang pasti akan senang direpoti sama cucu. Jadi jangan khawatir. Cilla nggak akan pernah sendirian lagi.”


Arjuna tersenyum dan mengusap wajah Cilla yang basah dengan air mata.


“Cilla akan makin lama bantuin Mas Juna kerja kalau punya anak sekarang,” ucap Cilla dengan suara tersendat karena habis menangis.


“Cilla tahu, apa yang Cilla lakukan di Semarang pada Rafael, Luna dan Riana benar-benar membuat Mas Juna kagum sama Cilla dan merasa terbantu banget. Cilla sudah mencari tahu semuanya dengan detil dan menyusun rencana yang tidak terduga sama sekali. Benar-benar buat Mas Juna bahkan Tino berdecak kagum sampai susah berhenti. Dan semua itu apa karena Cilla sudah berstatus sarjana ? Bahkan mulai kuliah aja belum. Tapi strategi dan ketelitian Cilla untuk mencari tahu semuanya tanpa menomorsatuksn emosi membuat para lawan Cilla justru tidak bisa berkutik lagi. Mas Juna bukan sekedar kagum dan bahagia aja, tapi bersyukur punya istri biarpun usianya masih belia tapi udah punya misi dan strategi yang nggak kalah hebatnya dengan profesional wanita di dunia bisnis.”


“Beneran ? Bukan karena Mas Juna lagi menghibur Cilla, kan ?” mata Cilla mengerjap menatap Arjuna yang tersenyum tulus kepadanya.


Arjuna mengambil saputangan dari saku celananya dan membersihkan sisa air mata di pelupuk mata Cilla.


“Bener. Serius !” Jari Arjuna teracung membentuk huruf V. “Tino juga sampai memuji Cilla terus. Mau Mas Juna telepon Tino biar Cilla bisa tanya langsung ?”


“Nggak usah,” Cilla menggeleng. “Nanti gara-gara satu pertanyaan, om Tino mengambil kesempatan untuk ganggu Mas Juna soal kerjaan kantor,” lanjut Cilla dengan bibir yang masih manyun.


“Ya udah, kalau gitu kita jalan aja sekarang gimana ? Mobilnya udah datang. Cilla udah tahu mau kemana aja hari ini, kan ?” Arjuna merapikan rambut Cilla yang sedikit berantakan karena memeluk Arjuna.


”Udah, ini daftarnya,” Cilla memperlihatkan catatan yang ada di handphonenya.


“Jangan khawatir lagi. Mas Juna udah cinta mati sama Cilla. Apapun keadaannya Mas Juna nggak akan kabur lagi apalagi mengabaikan Cilla.”


“Beneran, ya !” Cilla merangkul lengan Arjuna dan bergelayut manja pada suaminya.


“Iya apalagi anak bebek kesayangan Mas Juna kalau malam udah makin pintar jadi anak koala dan kuda poni,” ujar Arjuna terkekeh.


Wajah Cilla tersipu malu mendengar ucapan Arjuna. Ternyata olahraga malam yang menakutkan pada awalnya itu malah menbuat Cilla ikut ketagihan seperti Arjuna. Dan apa yang Arjuna pernah sampaikan benar adanya karena tidak perlu mengikuti ujian khusus demi sebuah sertifikat karena cinta akan menuntun mereka bisa dengan sendirinya.


Masih ada sedikit rasa khawatir di hati Cilla kalau sampai dia hamil di saat ini. Cemas karena tidak yakin Cilla bisa menjadi ibu yang baik di usianya yang baru akan 18 tahun.