
Cilla dan Arjuna baru saja sampai di kantor polisi ditemani Tino dan dua orang dari tim hukum yang ditunjuk Papa Arman.
“Arjuna ?” sapa seorang wanita baya dengan penampilan modis sedang melepas kacamata hitamnya.
“Tante Vina ?” mata Arjuna sampai membelalak karena tidak percaya dengan penglihatannya.
”Apa kabar Arjuna ? Lama tidak ketemu. Ini pasti istrimu yang viral ini.”
Wanita yang disapa Tante Vina tertawa lalu menyalami Arjuna kemudian beralih ke Cilla.
“Saya mamanya Glen. Maaf karena Glen sudah mengganggu kalian,” ujar Tante Vina sambil tersenyum.
“Saya Cilla, Tante.”
“Saya dengar kalau Arjuna menikah dengan muridnya sendiri yang masih SMA dan sekarang saya mengerti kenapa banyak teman-temannya bilang Arjuna sangat beruntung.”
“Terima kasih Tante.”
“Kita masuk ?” Arjuna mengangguk dan membiarkan Tante Vina menggandeng Cilla menuju ke dalam kantor polisi.
Ternyata Glen sudah menunggu di salah satu ruangan dengan pakaian yang sama, didampingi seorang polisi.
Tanpa diduga, Tante Vina yang menghampiri Glen langsung menampar pria itu.
”Dasar anak bodoh ! Sudah Mama wanti-wanti supaya fokus pada sekolah dan karirmu bukan memikirkan balas dendam atas kematian adikmu !” suara Tante Vani yang tegas dan tatapan tajamnya malah membuat Glen tersenyum sinis.
“Setelah menghilang 2 tahun, Mama datang hanya untuk marah-marah ?”
Tante Vina menghela nafas dan menarik kursi di dekat Glen, di sebelahnya duduk seorang pria baya membawa tas kerja seperti seorang pengacara.
“Kalian duduk juga,” pinta Tante Vina menatap Arjuna, Cilla dan rombongannya.
“Gina mengakhiri hidupnya bukan karena patah hati dengan Arjuna tapi karena mendapati dirinya tengah hamil 10 minggu.”
“Mama bohong !” pekik Glen.
Tante Vina memberi isyarat pada pria yang duduk di sampingnya. Pria itu langsung meyodorkan 2 dokumen ke hadapan Glen.
“Dan papa bukan meninggal bunuh diri. Kamu bisa melihat hasil tes kehamilan Gina dan laporan otopsi papa.”
Glen mengerutkan dahi dan membaca kedua dokumen itu dengan seksama. Arjuna, Cilla dan Tino terkejut mendengar pernyataan Tante Vina.
“Gina diperkosa oleh putra boss papa. Mereka bertemu di sebuah club dan adikmu sengaja dijebak sebagai bahan taruhan.”
Glen menghela nafas dan meletakkan kedua dokumen itu di atas meja.
”Lalu kenapa ada dairy dan surat untuk Arjuna di dekat jenazahnya ?”
“Itu hanya kebetulan. Setelah kehamilan Gina terbongkar, papa dipecat dengan tidak hormat saat menuntut pertanggungjawaban keluarga Anthoni, nama pria itu. Saat polisi menemukan fakta kalau Gina sedang hamil, papa tidak berniat meneruskan penyelidikan karena diancam oleh mereka. Bukan hanya nyawa papa yang jadi taruhan tapi mama dan kamu pun termasuk, itu sebabnya papa memutuskan untuk menyembunyikannya darimu. Dengan sifatmu yang mudah emosi itu, papa takut kamu akan mengambil langkah yang membahagiakan jiwamu.”
“Keputusan papa dan mama sudah membuatku salah paham bertahun-tahun.”
“Bukankah Mama sudah berpesan supaya kamu melupakan masalah surat cinta untuk Arjuna. Kamu ingat soal beasiswa yang mendadak kamu dapat padahal tidak pernah mendaftar ? Semuanya itu dilakukan teman papa untuk membuatmu menjauh sejenak.”
“Lalu ini ?” Glen mengangkat lembaran berisi hasil otopsi papanya.
“Kenapa Mama tidak memberitahuku dan melibatkanku untuk mendapatkan keadilan.”
“Mama tidak ingin hidupmu jadi rumit. Sudan cukup kami kehilangan Gina lalu Mama kehilangan papa.”
“Dan Mama membiarkan mereka bebas begitu saja ?”
“Selama ini Mama terus menghilang supaya tetap hidup untuk memberi mereka pelajaran, sampai akhirnya Mama bertemu dengan Mas Sugondo. Ternyata Anthoni dan keluarganya sudah lama diincar oleh Mas Sugondo karena meninggalkan jejak kejahatan dimana-mana. Kami pun bekerjasama untuk memberi mereka pelajaran berharga.”
Glen mengerutkan dahi dan menatap Mama Vina dengan penuh tanda tanya.
”Maaf Mama tidak membicarakan denganmu dulu kalau Mama akhirnya menikah lagi dengan Mas Sugondo setahun yang lalu.”
Glen menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya memancarkan perasaan yang campur aduk, sangat berbeda dengan sikapnya semalam pada Cilla.
“Maafkan Mama dan Papa yang berpikir kamu bisa menghadapi semuanya sendiri karena selama ini sikapmu cukup dewasa hingga membuat kami tenang.”
“Dan sekarang Mama datang untuk menyesali semua perbuatanku ? Aku tidak butuh oengacara,” ujar Glen sambil melirik pria yang duduk di samping Mama Vina.
“Meskipun 2 tahun terakhir ini kita tidak pernah bertemu tapi bukan berarti Mama tidak pernah mencari tahu bagaimana hidupmu. Sayangnya Mama kecolongan berita soal istri Arjuna yang kamu manfaatkan untuk membalas dendam yang salah.”
“Tidak usah pura-pura menjadi ibu yang baik. Mama tidak pernah menganggapku anak karena tidak sedikit pun berniat memberitahuku saat “Mas Sugondo” Mama mulai menjalankan aksinya.”8
“Maafkan Mama, Glen,” ujar Mama Vina dengan wajah sendu.
“Silakan menuntutku sesuai keinginan kalian, aku tidak akan menyangkalnya,” ujar Glen sambil menatap Arjuna namun menghindari bertatapan dengan Cilla.
“Elo tahu kalau tuntutan kecil akan menghancurkan karir dan hidup elo, Glen,” ujar Arjuna.
“Kehancuran sudah dimulai sejak mereka membiarkan gue hidup dalam pikiran yang salah, berharap gue mengerti tanpa penjelasan. Jadi nggak usah khawatir, toh kalau pun harus hancur, gue akan hancur sendirian.”
Glen tersenyum getir, enggan menatap siapapun yang ada di ruangan itu.
“Urusan saya dengan mereka sudah selesai, Pak,” ujar Glen pada polisi yang sejak tadi ikut duduk bersama mereka. Ia beranjak bangun dengan dan memberi isyarat supaya polisi itu membawanya keluar.
***
“Maafkan Glen, Cilla,” ujar Mama Vina sambil menyentuh bahu Cilla saat mereka sudah berada di luar kantor polisi.
“Iya Tante.”
“Arjuna, sebagai orangtua Glen, Tante berharap agar kalian bisa memaafkan Glen dan tidak mengajukan tuntutan yang terlalu berat. Terima kasih karena selama ini kamu sudah berusaha tetap menjadi sahabat Glen dan berusaha memahaminya.”
“Saya ikut berbelasungkawa atas kejadian yang menimpa Gina dan Om, Tante. Untuk masalah Glen, agak berat kalau membebaskan Glen sepenuhnya dari jerat hukum karena apa yang dilakukannya membuat nama baik istri saya tercemar lalu ditambah penculikan kemarin. Saya akan membicarakannya dengan kuasa hukum kami dan sebisa mungkin saya tidak akan membuat hidup Glen hancur berantakan sampai di sini.”
“Terima kasih Arjuna, Tante tahu kalau kamu akan selalu jadi sahabat yang baik untuk Glen. Terima kasih juga karena berusaha mencari Tante untuk mengetahui kebenarannya.”
Arjuna menjabat tangan Tante Vina yang terulur. Senyuman tulus tersungging di wajahnya dan tangan lainnya menepuk-nepuk bahu Arjuna.
“Tante doakan semoga rumahtangga kalian selalu bahagia dan penuh berkat.”
“Terima kasih. Tante,” sahut Cilla yang langsung memeluk wanita baya itu.