MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Selalu Berjodoh


Sementara di kota lain Cilla dengan santainya menyusuri Simpang Lima. Suasana menjelang sore ini sudah mulai sejuk dan kesibukan para pedagang kaki lima mulai terlihat.


Cilla sempat mengomel pada dirinya sendiri yang membiarkan hatinya membawa langkah Cilla ke kota penuh kenangan ini. Semarang.


Cilla memilih hotel yang pernah ditempatinya saat membawa Lima Pandawa jalan-jalan di Semarang. Banyak kenangan indah tentang hidupnya bersama Arjuna di kota ini.


Di Semarang, Cilla pertama kalinya bicara terus terang pada Arjuna tentang perasaannya meski Arjuna menolaknya mentah-mentah.


Di Semarang juga, Cilla memberikan miliknya yang paling berharga untuk Arjuna, suaminya.


Memenuhi hati dan pikirannya dengan sosok Arjuna membuat bayi yang ada di perutnya bergerak aktif.


“Baby kangen sama papi, ya ? Semalam nggak dielusin sama papi sebelum bobo,” Cilla tertawa pelan sambil mengusap perutnya yang sedikit membesar.


Seolah mengerti, bayi itu memberikan pergerakan ringan di perut Cilla.


“Papi hari ini ulangtahun, baby. Mami sengaja nggak kasih selamat. Mami ingin memikirkan tentang banyak hal. Jadi istri papi kamu nggak gampang. Wajah tampannya membuat banyak cewek ingin mendapatkannya biar cuma jadi penghibur aja. Tapi kenapa juga papi harus sampai bohong segala. Hati mami kok berasa kecewa banget, ya.”


Cilla menghentikan taksi yang lewat di depannya dan minta diantar ke kota tua. Mendadak ia ingin menikmati gelato yang dijual di salah satu cafe sambil menikmati suasana malam di sana.


Sampai di cafe yang dimaksud, Cilla mengambil satu meja dekat jendela dengan pemandangan tepat ke Taman Srigunting. Keramaian mulai terlihat di sana meski bukan malam Minggu.


“Sendirian ? Boleh gabung ?”


Cilla menoleh dan terlihat seorang pria dengan wajah lumayan berdiri di dekat mejanya.


Cilla mengerutkan dahi, mencoba mengenali pria di depannya, tapi tidak ada satu kenalan Cilla yang mirip dengan cowok ini.


“Kenalkan nama saya Glen,” pria itu mengulurkan tangannya. “Sejak tadi saya perhatikan kamu senyum-senyum sendiri menikmati situasi di luar sana. Akan lebih nyaman lagi kalau ada teman berbincang.”


Tanpa menunggu persetujuan Cilla, pria bernama Glen itu langsung duduk di depannya.


“Nama kamu siapa ?” Glen menarik kedua sudut bibirnya, memberikan senyuman manisnya yang justru membuat Cilla merindukan Arjuna.


“Saya…” Cilla baru saja hendak menunjukkan cincin di jari manisnya namun batal karena sadar kalau ia tidak memakai cincin kawinnya.


Tidak ingin keberadaannya diketahui oleh Arjuna lewat Sebastian, Cilla melepaskan semua perhiasan yang menempel di tubuhnya apalagi handphone.


“Saya sudah menikah dan juga calon ibu,” ujar Cilla menghindar menjawab permintaan Glen.


“Maksud kamu lagi hamil ? Wajah kamu tuh nggak bisa bohong. Aku tebak kamu baru kelas 1 atau 2 SMA.”


Cilla menghela nafas. Glen bukan pria pertama yang tidak percaya kalau Cilla adalah seorang wanita bersuami bahkan sekarang sedang hamil 20 minggu.


“Bisakah anda pindah ke meja yang lain ? Saya benar-benar tidak nyaman dengan kehadiran anda di sini.”


“Kayaknya kamu lagi putus cinta, ya ? Asli Semarang ?”


Cilla hanya mendengus dan membuang pandangan keluar jendela dengan wajah cemberut.


“Kamu tambah menggemaskan kalau lagi cemberut begitu,” ujar Glen sambil tertawa.


Cilla menghela nafas, ucapan Glen barusan membuatnya kembali teringat pada Arjuna. Pria tampan kesayangan Cilla itu sering mengucapkan kata yang sama kalau Cilla lagi ngambek.


“Putus dengan pacar atau bertengkar ?”


Cilla buru-buru menghabiskan makannya. Sebetulnya Cilla sudah kehilangan selera karena kehadiran Glen yang mengganggunya, tapi ingat kalau ada baby yang harus diberi asupan gizi, Cilla pun memaksakan diri untuk makan.


Cilla mengangkat tangan, memberi isyarat pada pelayan untuk mengantarkan tagihan pesanannya.


“Kok buru-buru banget ?”


“Sudah saya jelaskan dari tadi kalau saya ingin sendiri, tapi anda tetap memaksa duduk di sini. Saya merasa terganggu dan tidak lagi menikmati suasana di sini,” sahut Cilla dengan nada ketus.


“Kamu benar-benar tambah menarik dan menggemaskan kalau sedang cemberut dan galak begitu,” ujar Glen sambil tertawa.


Cilla mengeluarkan dua lembar uang merah untuk diberikan pada pelayan, namun dicegah oleh Glen. Cilla buru-buru menarik tangannya yang ditahan oleh Glen.


Tanpa bicara apa-apa, Cilla bangun dan meninggalkan uang ratusan tanpa menunggu kembaliannya.


“Gadis yang menarik,” ucap Glen sambil mengikuti Cilla yang berjalan keluar cafe.


“Pulang kemana ? Aku antar,” Glen mensejajarkan langkahnya di samping Cilla.


Cilla hanya diam dan berdoa semoga ada taksi yang lewat hingga bisa lepas dari cowok iseng seperti Glen ini.


“Sepertinya kamu benar-benar sedang hamil,” tatapan Glen fokus pada perut Cilla membuat wanita itu semakin jengah.


“Tidak bisakah anda bersikap lebih sopan pada perempuan ?” tegur Cilla dengan nasa ketus


“Hanya ingin memastikan kalau ucapanmu itu bukan sekedar ingin mengusir seorang pria yang ingin berkenalan denganmu.”


Cilla terdiam dan merapatkan jaketnya. Wajahnya berubah sedikit cerah saat melihat taksi kosong akan melintas di depannya.


Bergegas Cilla masuk ke dalam taksi tanpa bicara apa-apa lagi dengan pria bernama Glen itu.


Cilla benar-benar merindukan Arjuna dan merasa bahwa sikapnya ini sangat kekanak-kanakkan. Seharusnya tidak perlu sampai pergi sejauh ini dan membuat khawatir banyak orang.


Mungkin sikap kekanakan seperti ini yang membuat Arjuna spontan berbohong padanya, hanya demi menjaga emosi Cilla.


Cilla mengusap kedua sudut matanya yang mulai basah. Rasanya ingin berteriak memanggil nama Arjuna dan meminta pria kesayangannya itu datang kemari.


Cilla membayar ongkos taksi dan turun di lobby hotel. Sebetulnya ia ingin mampir ke minimarket membeli cemilan dan minuman. Cilla tidak bisa melakukan pesanan online karena handphone dan nomor barunya belum memiliki aplikasi belanja atau transportasi online.


“Mas Juna,” desis Cilla saat meihat seorang pria sedang duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam, dekat meja front office.


Cilla melrik handphonenya. Baru jam 8 malam. Dan bagaimana pria yang dirindukannya ada di sini ?


“Mas Juna,” panggil Cilla saat posisi berdirinya sudsh di dekar Arjuna.


Pria itu mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang ada di lobby. Terlihat keletihan yang amat sangat di wajah Arjuna membuat hati Cilla merasa bersalah.


.


“Cilla udah balik ?” kedua sudut bibir Arjuna tertarik, memperlihatkan senyuman yang dirindukan Cilla.


“Mas Juna kok tahu Cilla ada di sini ?” mata Cilla mengerjap, berusaha menahan air mata yang sudah mau keluar.


Belum sempat Arjuna menjawab, perutnya sudah berbunyi hingga didengar oleh Cilla.


“Mas Juna lapar. Temani Mas Juna makan dulu, mau ?”


Cilla hanya mengangguk dan membiarkan Arjuna menggandengnya keluar hotel menuju parkiran.


Tubuhnya yang merindukan sentuhan Arjuna dan tidak bisa menolak saat pria itu menunjukkan rasa peduli dan sayangnya. Debaran di hati Cilla masih sama, belum berkurang sedikitpun saat bersama dengan Arjuna.


“Cilla mau makan apa ?” tanya Arjuna setelah keduanya sudah di dalam mobil.


“Cilla tadi udah makan jadi terserah Mas Juna aja. Nanti Cilla ikut ngemil aja.”


Arjuna tersenyum dan membawa Cilla ke salah satu kafe yang letaknya dekat Simpang Lima.


“Masih,” lirih Cilla.


Cilla kembali membiarkan tangan Arjuna menggandengnya memasuki cafe. Lagi-lagi kehangatan jemari Arjuna bagaikan magnet yang menarik sebagian rasa rindu yang bertalu-talu di hati Cilla.


Setelah mendapatkan meja dan memesan makanan, keduanya sempat diam, merasa canggung untuk memulai percakapan.


“Mas Juna minta maaf,” akhirnya Arjuna mengambil inisistif pertama.


Cilla menoleh, membalas tatapan Arjuna meskipun terlihat letih namun binar cinta yang luar biasa untuk Cilla begitu menyentuh hatinya.


“Reflek Mas Juna benar-benar jelek,” Arjuna meraih jemari Cilla dan bernafas lega saat istrinya itu tidak menolak apalagi menepisnya.


“Mas Juna nggak ada pikiran mau macam-macam di belakang Cilla. Mas Juna agak panik saat Cilla menanyakan Tino dan jeleknya Mas Juna malah spontan berbohong.”


Cilla hanya diam menatap wajah Arjuna membuat mantan guru itu jadi salah tingkah.


“Tino baru kabarin kalau…”


“Iya, Om Tino sakit dan ketiduran, makanya baru jam 8 pagi bisa kasih kabar ke Mas Juna. Cilla udah dikasih tahu sama Om Tino.”


“Maaf,” Arjuha mempererat genggamannya.


Tidak lama pesanan minuman mereka di antar.


“Pasti semalam dan pagi ini Cilla nggak minum susu bumil-nya,” ujar Arjuna sambil mendekatkan milkshake strawberry kesukaan Cilla.


“Nggak ingat bawa-bawa susu,” sahut Cilla.


“Mas Juna udah bawain, nanti malam Mas Juna buatin sebelum tidur.”


“Beneran Mas Juna bawa ?” mata Cilla membesar, tidak percaya dengan ucapan Arjuna.


“Iya, kan Mas Juna udah janji akan jadi suami dan ayah siaga,” sahut Arjuna sambil tertawa.


Wajah Cilla merona, entah mengapa hatinya langsung melambung bahagia sampai membuat wajahnya terasa panas.


Pesanan makanan mereka pun menyusul disajikan. Kali ini Cilla memesan hawaian fried rice yang sedikit pedas.


“Makan yang banyak biar Cilla dan baby sehat terus. Biarpun lagi kesal dan marah, jangan pernah lupa untuk tetap makan dan minum susu. Mau Mas Juna suapin ?”


“Nggak usah,” Cilla menggeleng sambil tersenyum.


Hati Arjuna berdesir melihat Cilla tersenyum. Rasanya seperti oase di tengah padang pasir. Debaran yang tidak pernah hilang meskipun status mereka sekarang suami istri.


“Mas Juna kok tahu Cilla ada di Semarang ?”


“Mas Juna nggak tahu,” Arjuna menggeleng dan mengambil tisu untuk membersihkan makanan yang tertinggal di sudut bibir Cilla.


“Setelah selesai dengan urusan Anggita, Mas Juna tiba-tiba kepikiran pergi ke Semarang. Mas Juna ingin mengingat lagi kenangan terindah kita di sini dan nggak kepikiran Cilla ada di sini karena Pak Trimo bilang tidak ada tanda-tanda Cilla ke Semarang. Mas Juna setir mobil sendiri dengan penyesalan sekaligus rasa kangen yang nggak ada habisnya sebelum bertemu Cilla.”


“Om-om kalau gombal memang receh dan garing,” gumam Cilla sambil senyum-senyum.


“Mas Juna nggak gombal, Cilla. Beneran.”


“Iya…iya… terus gimana caranya tahu Cilla nginep di hotel itu ?”


“Namanya juga ingin mengingat memori tentang kita, jadi Mas Juna coba datang ke hotel pertama kita di Semarang. Iseng, Mas Juna tanya-tanya dan sedikit memaksa,” ujar Arjuna sambil terkekeh.


“Maksa gimana. ?” Cilla menautkan alisnya.


“Mas Juna kasih lihat bukti-bukti kalau kita ini suami istri sah dan Cilla sedang hamil. Mas Juna bilang mereka hanya perlu jawab iya atau tidak aja, nggak perlu sebut nama tamunya.”


“Jangan bilang kalau Mas Juna pakai alasan kalau Cilla ke situ karena lagi ngambek terus kabur !” Cilla menyipit, menelisik wajah Arjuna yang senyum-senyum.


“Nggak bilang secara langsung,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.


“Tuh kan ! Nyebelin deh,” wajah Cilla langsung cemberut membuat Arjuna makin tertawa.


“Sudah aku bilang kan kalau kamu tambah menggemaskan kalau lagi cemberut begitu.”


Arjuna langsung menghentikan tawanya dan Cilla mendongak dengan mata membulat.


Semarang memang bukan kota besar, namun probabilitas ketemu cowok ini lagi di tempat yang berbeda kemungkinannya juga kecil.


“Arjuna ?”


“Glen ?”


Kedua pria itu saling terkejut menatap lawan bicara mereka. Tanpa terduga, Arjuna langsung bangun dan merangkul Glen dengan gaya pria umumnya.


“Apa kabarnya ?” tanya Arjuna sambil melepaskan pelukannya.


“Seperti yang elo lihat,” Glen merentangkan kedua tangannya sambil tertawa.


“Oh ya, kenalkan ini istri gue, Cilla.”


Arjuna bergeser mendekati Cilla dan merangkul bahu wanita itu yang masih dalam posisi duduk.


“Akhirnya aku tahu juga nama kamu, Cilla,” Glen tertawa pelan dan mengulurkan tangannya.


“Kalian sudah kenal ?” Arjuna mengernyit menatap Glen dan Cilla bergantian.


“Belum”


“Iya”


Cilla dan Glen menjawab bersamaan lalu Glen tertawa sedang wajah Cilla makin ditekuk dan cemberut.


“Tadi kami sempat minum bareng di cafe yang ada di kota lama,” ujar Glen.


“Gimana ceritanya minum bareng ? Anda maksa banget dan tanpa ijin langsung duduk di meja saya,” protes Cilla dengan nada ketus.


Arjuna mengerutkan dahinya menatap Glen yang terus menatap Cilla sambil tertawa. Ada rasa tidak suka teman SMA-nya ini menatap Cilla seperti itu.


“Glen, gue lagi dating sama istri, jadi next time kita ketemu lagi sambil ngobrol. Sorry gue minta kali ini elo bisa pisah meja dulu ?”


Arjuna langsung membaca situasi kalau Cilla tidak nyaman dengan kehadiran Glen.


Akhirnya kedua pria itu saling bertukar nomor handphone dan Glen sendiri memilih batal makan di cafe itu.


”Senang akhirnya bisa tahu nama kamu, CILLA,” ujar Glen sebelum meninggalkan meja Cilla dan Arjuna.


Cilla menghela nafas menahan emosi.


Arjuna pun tidak ingin bertanya lebih lanjut soal pertemuan Glen dan Cilla karena baginya saat ini yang penting hubungannya dengan Cilla bisa baik kembali.


Arjuna sempat bersitatap dengan Glen saat pria itu kembali menoleh sebelum keluar dari pintu cafe. Ada sesuatu dalam tatapan Glen pada Cilla yang membuat Arjuna ikutan merasa tidak nyaman.