MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Bab 43 Dikejar Penagih Cinta


Kali ini bukan hanya Cilla yang menghindar, tapi Arjuna jadi ikut-ikutan. Dono menduga-duga ada sesuatu terjadi di antara mereka, meskipun Arjuna selalu menjawab tidak ada apa-apa.


 


Dan ternyata bukan hanya Dono yang memperhatikan merenggangnya hubungan Arjuna dan Cilla, Jovan yang sudah dijanjikan akan dibantu Arjuna untuk memperbaiki hubungannya dengan Cilla, ikut mengerutkan dahi melihat Arjuna malah menjauhi Cilla.


 


“Pak Juna !” 


 


Arjuna yang baru saja keluar dari ruang guru, batal menuruni tangga saat mendengar namanya dipanggil. Ia menengok ke belakang dan mendapati Jovan sedang berlari kecil ke arahnya,


 


“Kok kamu belum pulang ?” tanya Arjuna saat Jovan sudah di depannya.


 


“Habis rapat OSIS, Pak. Persiapan pergantian pengurus, kan saya sudah kelas 12 juga.”


 


Keduanya berjalan bersama menuruni tangga menuju lantai satu.


 


“Gimana kabarnya Cilla, Pak ?”


 


“Mana saya tahu,” jawab Arjuna dengan jutek.


 


“Kok Bapak jawabnya begitu ?” Jovan menautkan kedua alisnya. “Memangnya Bapak belum coba ngomong sama Cilla tentang masalahnya dengan saya ?” Nada suara Jovan mulai terdengar kesal juga.


 


Arjuna menghentikan langkahnya saat sudah sampai di lantai 1, lalu menghela nafas. Bukan karena kelelahan baru turun tangga, tapi otaknya tidak sinkron dengan ucapan Jovan. Meski sudah lima hari berlalu, tapi pikirannya masih sering mengingat kejadian di hari Jumat lalu.


 


“Bapak nggak lupa kan sama janji akan membantu saya membuat Cilla memaafkan saya ?”


 


Arjuna berusaha menyatukan pikiran dan mulutnya supaya tidak berlawanan arah. Bisa runyam kalau sampai perkataannya salah arah,


 


“Saya nggak lupa, Jovan,” tegas Arjuna sambil berhadapan dengan ketos tampan itu. “Tapi yang jadi masalah, saya sama Cilla sama-sama lagi sibuk sama tugas-tugas sekolah. Kamu tahu kan kalau nggak ada PTS tapi ulangan harian dan tugas-tugas diperbanyak untuk laporan nilai mid-semester ? Saya pegang 4 kelas 12, dan ini semua pengalaman pertama saya, jadi harus banyak belajar dan hati-hati supaya tidak salah kasih nilai.”


 


“Nanti keburu Cilla pacaran sama orang lain, Pak, tapi bukan sahabat Bapak.”


 


“Memangnya lagi ada yang PDKT sama Cilla ? Atau malah ngaku-ngaku pacarnya dia ?” Arjuna mengangkat alisnya sebelah, apalagi saat melihat wajah Jovan sedikit lesu.


 


“Ada cowok yang rutin menjemputnya dua minggu terakhir ini. Gosipnya kalau Cilla sudah resmi pacaran sama tuh cowok.”


 


“Anak Guna Bangsa juga ?” Arjuna mengernyit.


 


“Belum ada bocoran isu, Pak. Febi dan Lili juga nggak tahu. Jangankan asal sekolahnya, namanya saja masih dirahasiakan sama Cilla.”


 


“Bukannya cowok itu udah sempat bertemu Febi dan Lili ? Mereka nggak kenalan sama tuh cowok ?”


 


“Bapak tahu darimana kalau cowok itu pernah bertemu Febi dan Lili ?” Gantian Jovan yang memicingkan mata, menatap curiga pada Arjuna.


 


‘Ngg.. ngg.. waktu itu, “ Arjuna mendadak gugup karena merasa kelepasan. “Saya lagi bahas soal tugas-tugas sama Cilla, terus Lili telepon memberitahu kalau ada cowok yang menunggunya di gerbang sekolah. Cilla bilang ke saya kalau itu pacarnya.”


 


Jovan langsung mendelik dan memasang wajah kesal.


 


“Bapak nggak coba menahan Cilla ? Diinterogasi kek, ditanya-tanya gitu, atau kalau perlu minta Cilla suruh cowok itu pulang duluan karena masih ada keperluan sama Bapak.” Jovan kembali mengomel dengan wajah kesal.


 


“Saya nggak kepikiran sampai ke sana, Jovan !” ujar Arjuna dengan wajah gemas.


 


“Otak saya lagi penuh dengan tugas-tugas jadi guru. Lagian kalau terlalu ekstrim mendekati Cilla apalagi sampai melarang-larang dia, bisa-bisa dia malah salah kaprah sama saya. Kamu mau kalau sampai Cilla berpikiran saya yang suka sama dia ?”


 


“Ya udah pasti nggak mau dong, Pak. Cuma kalau gerakan Bapak lamban begini, keburu Cilla ditikung orang. Gimana saya mau bertanding secara sehat sama sahabat Bapak ?” Jovan menggerutu kesal membuat Arjuna jadi emosi.


 


“Kamu kok mau minta tolong tapi marah-marah ? Memangnya gara-gara saya bilang mau bantuin, usaha kamu jadi mengendor ?”


 


Arjuna, guru muda yang masih suka lupa kalau dia itu panutan para muridnya, mulai terpancing dengan omelah Jovan. Wajahnya tidak kalah menekuk dengan muridnya.


 


“Kalau saya udah janji bantu, pasti saya tepati. Ingat ya, janji saya bukan supaya Cilla menerima cinta kamu, tapi memaafkan kamu. Kalau masalah cinta, ada sahabat saya juga yang mau mendapatkan cintanya Cilla. Saya nggak mau kalau disuruh milih kamu atau sahabat saya. Kalian usaha sendiri, saya hanya jadi pembuka jalan.” Tegas Arjuna.


 


Langkah kakinya menuju ke gerbang sekolah sementara Jovan ke arah parkiran motor.


 


“Pak Arjuna !” panggil Jovan sebelum mereka menjauh. “Saya antar ke rumah. Gratis. Murni bukan sogokan.”


 


Arjuna yang memang merasa cukup lelah sore ini sementara Dono sudah pulang lebih dulu, akhirnya mengangguk dan mengikuti Jovan ke arah parkiran motor.


 


Ia langsung berdecak kagum melihat motor sport milik ketos tampan itu. Melihat motornya saja, cewek-cewek Guna Bangsa sudah pasti langsung terhipnotis, apalagi begitu pengemudinya memperlihatkan wajahnya, langsung melehoy dan manut sama pemiliknya.


 


Supaya tidak terlalu banyak tanya, Arjuna membuka aplikasi penunjuk jalan yang ada di handphonenya dan memberikan pada Jovan. Agak susah mengobrol dengan motor Jovan karena posisinya kurang nyaman untuk penumpang belakang.


 


Jangan ditanya berapa lama sampai di ujung gang tempat kost Arjuna. Yang pasti Arjuna sempat deg deg kan juga. Masalahnya sudah lama banget ia tidak membawa motor sport apalagi duduk di kursi penumpang.


 


 


“Sama-sama, Pak. Jangan lupa janji bantuannya.” Jovan hanya membuka kaca helmnya dan tetap duduk di atas motor. Setelah pamitan, ia pun melanjutkan untuk pulang ke rumah.


 


 


 


Arjuna baru saja masuk kembali ke kamarnya setelah mandi, suara panggilan di handphonenya sudah terdengar nyaring. Ia menghela nafas ketika melihat nama Theo muncul di sana.


 


“Ada apa, Bro ?” sapa Arjuna begitu panggilan Theo diterimanya.


 


“Elo nggak lupa kalau mau ajak Cilla ketemu gue, kan ? Biar gue bisa mulai pendekatan sama dia. Soalnya agak susah kalau tiba-tiba ngajak dia ketemu apalagi ajak dating.”


 


Arjuna menghela nafasnya. Kenapa hari ini dia berasa seperti dikejar oleh debt collector ? Untung saja bukan penagih hutang pinjaman, tetapi para pecinta Cilla.


Baru menyegarkan badan habis lepas dari tagihan Jovan, sekarang giliran Theo yang menagih janji dengan topik yang sama.


 


“Jun… Jun… elo masih hidup kan ?” Theo terkekeh.


 


“S**lan, elo kira gue mau dibuat pingsan gara- gara pusing sama anak bebek ?” Arjuna mendengus kesal, membuat Theo tertawa.


 


“Calon pacar gue jangan dikasih nama anak bebek, dong. Cewek manis dan imut begitu.”


 


Arjuna mencebik mendengar ucapan Theo dan  tentu saja sahabatnya itu tidak tahu.


 


“Sekolah lagi banyak tugas sama ulangan, Bro,” sahut Arjuna. “Gue nya juga pusing sambil belajar cara menghitung nilai buat anak-anak. Udah seminggu ini gue jarang ketemu Cilla di luar kelas. Tuh anak lagi tobat pulang on time terus.”


 


Theo tertawa mendengar penjelasan sekaligus keluh kesah Arjuna.


 


“Gue udah cerita sama nyokap soal Cilla. Nyokap bilang nggak masalah kalau pacar gue anak SMA,” Theo kembali tertawa, ada nada bahagia di dalam ucapannya. “Malah nyokap tanya kapan bisa diajak ketemuan Cilla.”


 


Arjuna tercekat mendengarnya. Theo sangat serius untuk mengejar Cilla. Mungkin bukan hanya akan dijadikan kekasih oleh sahabatnya, tapi bisa jadi langsung calon istri.


Ia pun tertawa getir. Apa yang Theo lakukan sangat berbanding terbalik dengannya. Arjuna justru nekat meninggalkan keluarganya hanya karena mempertahankan prinsip menolak dinikahkan dengan anak SMA dan memilih Luna yang ternyata sudah lama mengkhianatinya.


 


“Jun… Arjuna..” suara Theo terdengar sedikit berteriak. “ Elo dari tadi ngapain sih ? Gue kayak ngomong sama manusia separo tembok,” sungut Theo kesal.


 


“Gue masih bernafas dan sehat. Habis mandi malah. Pokoknya elo nggak usah khawatir, pasti akan gue atur waktu biar elo bisa ketemuan sama Cilla.Tapi sebelum gue lupa. Bro. Ketos di sekolah ternyata udah lama juga ngejar Cilla, dari bayi malah. Jadi elo punya saingan yang lebih muda dan segar, Om Theo,” Arjuna tertawa.


 


“Nggak masalah saingan mau sama siapa juga,” sahut Theo. “Kayaknya selera Cilla memang pria matang alias om-om. Buktinya dia bapernya sama elo, bukan sama tuh Ketos. Elo nggak lupa kan kalau dia pernah bilang kalau elo adalah cowok pertama yang bisa bikin dia baper.”


 


“Elo tahu darimana Cilla ngomong begitu ?” Arjuna kaget sampai mengernyit sambil menyugar rambutnya yang masih basah.


 


Seingat Arjuna, Cilla mengatakan soal itu saat mereka sedang berdua saja.


 


“Elo kan yang cerita sendiri, Jun,” ujar Theo menjawab pertanyaan Arjuna.


 


“iya gue lupa”  sahut Arjuna. “Kalau pembagian nilai mid semester udah kelar, kemungkinan kegiatan sekolah juga sedikit lebih longgar. Nanti gue kabarin elo.”


 


“Ngomong-ngomong cakepan mana, gue apa ketos itu ?” Theo bertanya sambil tertawa.


 


“Cakepan elo dikit, banyakan tuh ketos. Lagian tuh bocah juga masih muda dan mulus, belum setengah karatan dan banyak dosa kayak elo,” ledek Arjuna sambil tertawa.


 


“Dasar sahabat laknat. Gue doain jodoh elo sama anak SMA  juga,” gerutu Theo.


 


“Nggak apa-apalah, yang penting bukan tuh anak bebek. Gue bisa  kena stroke punya istri yang demennya ngajak debat terus,” Arjuna terkekeh.


 


“Hati-hati mulutmu harimaumu, Bro,” ledek Theo.


 


“Ya suka-suka elo deh… Udah gue mau lanjut kerja periksa ulangan anak- anak lagi. Lusa sudah harus dikasih ke Dono dan teman-temannya, soalnya Sabtu ini anak-anak terima laporan mid -semester.”


 


“Okey, thankyou Bapak Arjuna.”


 


Arjuna  hanya tersenyum sebelum sambil mematikan handphonenya.  Masalah janjinya menjadi mak comblang untuk Jovan dan Theo harus disingkirkannya terlebih dahulu.


Arjuna harus memusatkan pikirannya mengurus nilai yang terasa sedikit rumit karena ia sama sekali belum memilik pengalaman dan merupakan hal yang baru untuk dirinya. Ditambah sisa waktunya hanya tinggal 2 hari lagi.


 


Mungkin di hari Minggu, otaknya  baru bisa memikirkan cara  yang tepat untuk berbicara dengan Cilla membahas masalah Jovan dan mengatur waktu untuk bertemu dengan Theo.