
“Cilla darling, apa kabar ? Kok tambah cakep aja, sih ? Jangan bilang kalau elo hamil lagi ?”
Dita si biang rusuh, pengganti Lili saat Cilla masih SMA, mengerutkan dahinya, menelisik Cilla dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
“Kenapa kalau gue hamil lagi ? Takut bikin heboh satu kampus ?”
“Bukan soal itu tapi mau suruh buat anak yang gemoy dan ganteng lagi kayak Sean. Siapa tahu nanti bisa jadi jodoh anak gue.”
Hilda dan Fino langsung tergelak, membayangkan anak si rusuh Dita jadi kekasihnya Sean.
“Nikah aja belum udah mikirin anak !” ledek Fino di sela-sela tawanya.
“Gue dengar ada dosen baru di kampus. Gantengnya nggak kalah sama Pak Glen, “ ujar Hilda.
“Iya benar,” Dita mengangguk. “Tapi kali ini data doaennya rahasia banget alias top secret,” gerutu Dita.
“Jadi elo gagal dong stalking dosen baru ?” ledek Fino kembali. Dita mengangguk.
“Gue dengar jadwal mengajar pertamanya akan masuk ke kelas kita pagi ini,” ujar Hilda lagi.
“Beneran ?” mata Dita langsung membola dan wajahnya berbinar cerah.
“Elo tuh kalau dengar kata ganteng langsung melotot, belum juga lihat orangnya. Lupa sama Peter, anak akuntansi yang digosipin ganteng sejagad ? Nyatanya muka di bawah kkm, otak juga jauh dari Einstein,” ledek Hilda menoyor kening Dita.
“Nyebut Dit, sadar dan jangan lupa kaki napak bumi,” timpal Cilla sambil tertawa melihat wajah Dita senyum-senyum sendiri.
“Elo semua nggak merasa jadi mahasiswa kehormatan karena kelas kita bakal jadi yang perdana diajar sama dosen tampan ?”
“Nggak !” ketiga temannya kompak menjawab sambil menatap Dita dengan mata membola lalu tergelak.
Jam 8.15 kelas pertama di semester 3 ini dimulai. Setelah berdebat dengan ketiga temannya akhirnya Dita berhasil mengajak mereka duduk sedikit di depan.
Tidak disangka kalau gosip dosen baru yang tampan sudah beredar sampai mahasiswi lain pun ikut memilih duduk di barisan depan.
Cilla sibuk mengetik pesan untuk Arjuna yang terkirim tapi belum terbaca. Ia yakin kalau suaminya sedang rapat pagi ini dan belum sempat memegang handphone.
“Selamat pagi !”
“Pagi Pak.”
Cilla masih fokus dengan handphonenya. Kali ini ia sedang senyum-senyum mendapat kiriman foto Sean yang sedang asyik di kamar mandi.
“Cil, dosennya udah datang,” ujar Dita sambil menyenggol bahu Cilla.
Cilla mengangguk dan segera menyimpan handphone ke dalam tasnya yang dipangku.
“Beneran ganteng, Cil,” bisik Hilda yang duduk di sebelah kirimya.
Cilla mendongak, menatap lurus ke arah papan tulis di depan dan matanya langsung membola saat menatap wajah pria berkacamata yang berdiri di depannya. Tatapannya terpaku pada pria itu dan tanpa sadar mulutnya sampai terbuka.
“Cil, ingat suami di rumah. Itu mulut rapetin, sama iler di lap dulu,”ledek Dita sambil terkekeh apalagi saat Cilla reflek mengusap mulutnya.
Hilda ikut tertawa pelan, baru kali ini Cilla salah tingkah melihat pria tampan selain suaminya. Untung saja dosen baru itu tidak menegur ketiganya yang sesekali mengobrol sambil cekikikan.
Cilla benar-benar dibuat panas dingin melihat pria tampan itu lancar mengajar di depan tanpa peduli dengan tatapan para mahasiswi yang menatapnya dengan pandangan penuh damba.
Dosen tampan ini tampak percaya diri dan sudah terbiasa digemari banyak kaum hawa, bahkan kali ini Cilla benar-benar dibuat gelisah, salah tingkah dan panas dingin.
Saat mata kuliah si dosen tampan berkacamata ini berakhir, Cilla langsung beranjak dari kursi hendak melewati Hilda dan Fino.
“Eh mau kemana ?” Dita menahan tangan Cilla.
“Mau kenalan sama dosen baru.”
“Nggak bisa, habis ini matkul Bu Risa. Elo lupa gimana killernya dia kalau di hari pertama udah bolos ?”
Fino dan Hilda mengangguk setuju.
“Sabar aja sih, tuh dosen nggak bakal kemana-mana, baru juga mulai kelas pertama.”
“Dasar otak kalian perlu dilurusin,” Cilla memutar bola matanya. “Sejak kapan gue nge-fans sama cowok apalagi dosen sampai segitu agresif nya. Gue mau ke toilet, mau buang air kecil. Cepetan deh kasih gue jalan, nanti kalau ngompol di sini repot.”
“Gue temenin demi memastikan elo nggak menyimpang jalan.”
***
Jam 11 lewat kuliah pagi berakhir. Cilla lebih dulu meninggalkan kelas dan mengedarkan pandangan ke sekeliling kampus dari balkon di lantai 2.
Matanya langsung menangkap si dosen ganteng itu berjalan di koridor lantai 3. Tidak sendiran, ada Susan di sampingnya. Keduanya berbincang dengan akrab, seolah mereka sudah mengenal lama.
Cilla berdiri di ujung tangga lantai 2, menunggu si dosen baru itu turun lewat tangga yang sama. Hatinya gelisah dan wajahnya terlihat tidak sabaran menunggu.
“Priscilla !”
Cilla mendongak dan melihat senior tampan itu sedang berlari kecil ke arahnya.
“Lagi nungguin gue ?” wajah tampan Hans terlihat semalkin tampan saat senyum berlesung pipit itu tersungging di bibirnya.
“Ge-er banget !” Cilla mencibir.
“Makan yuk, mumpung ketemu di sini. Jarang-jarang loh bisa ketemu senior selebriti kayak gue,” Hans menaik turunkan alisnya membuat Cilla mencibir.
“Nggak mau ! Udah cukup gosip di waktu ospek. Trauma.”
“Kalau begitu biarkan daku mengobati rasa trauma itu sebagai teman.”
Hans menarik lengan Cilla namun gadis itu bergeming dan menggeleng saat Hans menoleh.
“Sebagai teman doang, janji nggak nyerempet ke sana sini.”
“Nggak bisa, aku lagi nungguin dosen, mau ketemu sebentar.”
“Baru hari pertama di semester baru udah bikin masalah sama dosen ?” tany Habs sambil mengerutkan dahinya.
“Kepo. Udah deh, aku beneran lagi nungguin dosen.”
Cilla berhasil melepaskan genggaman Hans dan siap berbalik hendak mengintip ke arah tangga.
Buugghhh !
Cilla tidak perlu mendongak karena dari bau parfumnya, Cilla sudah tahu siapa yang ditabraknya.
“Saya mau bicara sama Bapak,” ujarnya dengan tatapan sedikit galak.
Susan yang berdiri di samping dosen itu hanya tersenyum dan berjalan duluan sementara Hans terpaku di tempatnya.
“Jangan bilang kamu cuma mau minta nomor handphone saya,” sindir si dosen melewati Cilla.
Cilla mengepalkan kedua tangannya dan mengikuti dosen itu dari belakang sampai lupa berpamitan pada Hans.
Matanya berkerut saat dosen tadi malah berbelok ke kanan bukan lurus terus menuju ruang dosen di lantai 2. Namun Cilla tidak bertanya apapun dan tetap berjalan di belakangnya.
“Mau ngapain ?” tanya dosen tampan itu saat melihat Cilla masih berdiri di belakangnya dengan wajah jutek.
“Mau ngajak Bapak mesum,” ketus Cilla.
Dosen itu tertawa dan sengaja melebarkan pintu memberi tanda supaya Cilla diperbolehkan masuk ke dalam ruangannya.
Cilla menutup pintu ruangan itu dengan sedikit dibanting membuat si pemilik ruangan menoleh dan mengerutkan dahi.
“Mulai bosan sama istri sampai harus kerja sampingan jadi dosen di kampus ? Mau cari yang lebih muda lagi untuk dijadikan selir ?”
Wajah Cilla ditekuk dan kedua tangannya terlipat di depan dada bahkan sekarang bibirnya mulai mengerucut.
“Bukan bosan sama istri tapi biar kalau lagi kangen, tinggal diseret kemari.”
Tangan kekar itu langsung menarik pinggang Cilla ke dalam pelukannya. Bibirnya langsung menempel bibir Cilla bahkan mendesak Cilla untuk membuka mulutnya.
“Nggak mau ! Cilla kesal banget nih sama Mas Juna !”
“Kesalnya lanjut lagi setelah ini.”
Satu tangan Arjuna mengeluarkan remote dan menekan tombolnya untuk mengunci pintu sementara bibirnya sudah menguasai bibir Cilla hingga wanita itu tidak bisa berkata-kata.