MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Kado yang Terindah


Cilla duduk di antara mama Diva dan Arjuna. Wajahnya terlihat cemas karena Arjuna berniat langsung menikah di saat Cilla justru belum siap. Apalagi usianya baru akan 17 tahun dalam 2 bulan ke depan.


“Kamu nggak apa-apa, Cilla ?” mama Diva menyentuh tangan Cilla yang mulai terasa dingin.


Arjuna tertawa pelan sambil menoleh ke arah lain dan menutupi mulutnya.


Papa Arman yang sudah bisa menangkap kejahilan anaknya langsung geleng-geleng kepala.


“Kamu diapain sama Juna, Cilla ?” tanya papa Arman sambil tersenyum.


Mama Diva dan papi Rudi langsung menatap papa Arman dengan dahi berkerut.


“Apa Arjuna marah-marah lagi sama kamu ?” tanya mama Diva sambil mengusap punggung Cilla.


“Haiiss mama, wajah orang baik begini dibilang suka marah-marah,” protes Juna dengan wajah cemberut.


“Kenyataannya Jun… Kenyataan kalau kamu tuh kayak selang bensin, nggak boleh kena percik api sedikit langsung nyamber aja,” ujar papa Arman sambil tertawa.


“Makanya harus cepat-cepat dikasih istri biar ada yang meredam emosi,” seloroh Juna sambil terkekeh dan melirik Cilla.


“Mas Juna iihh…” Cilla memukul bahu Arjuna. “Nggak mikir apa kalau umur Cilla belum 17. Mana ada ceritanya menikah tanpa KTP.”


“Jadi sebaiknya aku cari yang sudah punya KTP aja ?” ledek Arjuna sambil tertawa.


“Boleh aja Jun cari yang sudah punya KTP. Kalau keputusannya begitu, om sama Cilla undur diri aja, soalnya sudah tidak memenuhi syarat,” papi Rudi dengan wajah pura-pura serius mendorong bangkunya sedikit menjauh dari meja.


“Eh jangan, Om,” cegah Arjuna cepat-cepat. “Kalau soal KTP, saya masih bisa sabar menunggu sampai Cilla punya KTP.”


Papa Arman dan papi Rudi tertawa sementara mama Diva menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tapi Cilla nggak mau menikah sama Mas Juna,” ujar Cilla dengan suara agak pelan namun masih bisa didengar oleh semuanya.


“Kamu serius Cilla ?” Arjuna langsung memutar badan ke arah Cilla dengan mata membelalak karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Kamu beneran nggak mau menikah sama aku ? Memangnya kamu masih marah sama aku ?” wajah Arjuna terlihat cemas menunggu jawaban Cilla.


Papa Arman, papi Rudi dan mama Diva senyum-senyum melihat kepanikan wajah Arjuna.


“Maksud Cilla, nggak mau menikah sekarang sama Mas Juna dan nanti kalau sudah menikah, memangnya Cilla masih boleh melanjutkan kuliah ?”


Arjuna menarik nafas lega, wajahnya langsung berubah berbinar ceria.


“Aku sudah khawatir kamu nggak mau sama aku beneran,” Arjuna mengelus dadanya sendiri yang sempat deg deg kan.


”Kalau soal itu, pasti aku ijinkan, tapi…” Arjuna melirik ke arah para orangtua mereka yang ikut duduk di situ.


“Target memberi orangtua cucu yang banyak tidak boleh tertunda lama-lama. Kamu bisa kuliah merangkap jadi istri dan ibu,” lanjut Arjuna sambil mengedipkan matanya.


“Ya ampun Juna,” mama Diva menepuk jidatnya sendiri.


“Iiihh tapi masa Cilla kecil-kecil udah jadi mama,” ujar Cilla sambil cemberut.


“Kan lagi jamannya mahmud - mamah muda,” seloroh Arjuna sambil kembali mengedipkan sebelah matanya. Ia teegelak saat melihat Cilla mengerucutkan bibirnya.


“Jangan takut soal itu, Cilla,” mama Diva mengelus punggung calon menantunya. “Tergantung bagaimana pemberian dari Tuhan. Kalau memang Tuhan memberi kalian rejeki anak dalam waktu dekat, ada mama, papa dan papi kamu yang siap membantu.”


“Iihh mama, belum juga resmi jadi menantu, udah main nyebut diri sendiri mama aja,” ledek Arjuna sambil terkekeh.


“Mau mama minta om Rudi supaya melarang kamu menikah sama Cilla ?” sahut mama Diva sambil melotot.


“Paling Arjuna kabur lagi, Ma,” ledek papa Arman sambil mencibir lalu tertawa


“Ampun ibunda ratu, Juna kan cuma bercanda,” ujar Arjuna sambil menangkup tangannya di depan wajah dan membungkukan badannya sedikit.


“Jangan galak-galak di depan calon menantu mama, nanti anak kecil ini takut punya mertua kayak mama. Juna bisa patah hati,” lanjut Arjuna dengan wajah sedih.


“Jadi bagaimana Cilla, apa kamu bersedia menerima Arjuna menjadi calon suami kamu ?” Tanya papa Arman.


Cilla menatap Arjuna kemudian beralih ke papa Arman dan terakhir ke papi Rudi yang memberinya senyuman sambil mengangguk, sebagai tanda apapun keputusan Cilla, papi Rudi akan mendukung.


“Langsung menikah ?” tanya Cilla dengan raut wajah cemas.


“Kamu maunya langsung menikah ?” Papa Arman balik bertanya sambil tertawa. Cilla buru-buru menggeleng.


“Tadi kata Mas Juna, kita berdua akan langsung menikah,” ujar Cilla masih dengan wajah cemas.


Arjuna tertawa lalu menggenggam sebelah tangan Cilla.


“Nggak harus langsung nikah, tunggu sampai kamu menyelesaikan SMA dulu. Tapi kalau mau dipercepat setelah kamu punya KTP, aku nggak keberatan,” ujar Arjuna sambil tertawa pelan.


“Sesudah lulus SMA aja,” sahut Cilla.


“Jadi kamu menerima lamaran orangtuanya Arjuna ya, Cilla ?” tanya papi Rudi menegaskan keputusan putrinya.


Dengan wajah merona dan malu-malu, Cilla mengangguk sambil menunduk. Arjuna langsung memeluknya dengan wajah bahagia.


“Arjuna !” tegur mama Diva sambil memukul bahu putranya. “Belum sah main peluk-peluk aja. Belum juga pertunangan kalian dilaksanakan, baru lamaran papa mama dulu. Mau dibatalkan sama papinya Cilla ?” tanya mama Diva sambil melotot.


Arjuna tertawa kikuk sambil melepaskan pelukannya.


“Namanya juga bahagia, mama. Lagipula hanya dipeluk aja, nggak pakai cipika cipiki,” ujar Arjuna sambil tertawa.


Mama Diva masih melotot sementara papa Arman dan papi Rudi tertawa kembali. Keduanya terlihat bahagia dan tidak pernah menyangka kalau dari sahabat mereka menjadi besanan.


Selesai berbincang berlima, mereka berniat kembali ke dalam ruangan untuk melakukan prosesi pertunangan Arjuna dan Cilla.


Sengaja Pak Wahyu dan Pak Slamet diundang sebagai saksi dari pihak sekolah, kalau guru dan murid itu memang sudah dijodohkan sebelum Arjuna bekerja sebagai guru di sekolah Cilla.


“Aku lega sekarang karena akan ada yang menjaga Cilla kalau sampai terjadi sesuatu padaku,” ujar papi Rudi sambil menarik nafas lega.


Keduanya berjalan beriringan kembali ke ruangan mengikuti mama Diva yang jalan paling depan dengan menggandeng Cilla, sementara Arjuna di belakangnya.


“Jangan bicara begitu, Rud. Masalah umur tidak ada yang tahu. Bukan tidak mungkin kalau kehendak Tuhan melampaui perkiraan manusia,” ujar papa Arman sambil tersenyum.


“Tapi aku benar-benar tenang dan bahagia. Apalagi yang menjadi calon suami Cilla adalah anak sahabatku sendiri. Setidaknya selain suami, Cilla akan mendapatkan mertua yang akan menyayanginya seperti anak sendiri.”


Papa Arman menghela nafas dan masih berusaha tersenyum. Ada rasa pilu yang menyayat hatinya kalau ingat betapa perjuangan hidup Rudi, sahabatnya ini penuh dengan perjuangan.


Dimulai masalah kerusakan fungsi ginjalnya, sulitnya mendapatkan buah hati, ditinggal istri saat anak mereka masih kecil dan akhirnya divonis menderita kanker getah bening.


Papa Arman berjanji dalam hatinya akan menjaga Cilla seperti anaknya sendiri apabila terjadi aesuatu pada sahabatnya sekaligus besannya ini.


“Sayang,” Arjuna menahan tangan Cilla sebelum ia masuk ke dalam ruangan.


“Ternyata kamu tambah memikat kalau sedang malu-malu meong begitu. Nggak mirip seperti anak bebek kesayanganku,” bisik Arjun di telinga Cilla.


Cilla mendelik dengan wajah yang langsung cemberut.


“Habis jadi anak bebek, sekarang anak kucing, besok-besok jadi apa lagi ? Macan betina ? Atau beruang kutub ?” ujar Cilla dengan nada ketus.


Arjuna tergelak.


“Sepertinya macan betina akan keren juga, apalagi kalau kita sudah menikah dan jadi beruang kutub kalau kamu mengandung anak kita,” seloroh Arjuna,


“Ooo jadi Mas Juna nyumpahin badan aku kayak beruang kalau lagi hamil nanti,” ujar Cilla ketus.


“Mau jadi apapun nantinya, kamu tetap anak bebek kesayanganku,” ujar Arjuna sambil mencubit sebelah pipi Cilla.


Cilla mencibir dengan wajah cemberut. Arjuna tertawa namun tidak bisa menggandeng Cilla karena sementara dikuasai oleh mama Diva.