MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
Doa untuk Cilla


Jangan ditanya bagaimana ributnya para sahabat Arjuna saat melihat Cilla tampak malu-malu digandeng oleh mama Diva.


“Ya ampun Cilla, ini beneran kamu, kan ?” ledek Erwin saat Cilla hanya mengikuti mama Diva untuk duduk di sebelahnya.


“Biasa, Bro… Baru juga dipaksa sama Arjuna, jadi masih malu-malu meong,” timpal Boni. “Lama kelamaan juga balik ke habitat awal.”


“Mimi, sepertinya elo musti kasih Boni surat SP 1 soalnya keduluan sama Arjuna. Delapan tahun pacaran dikalahkan sama delapan bulan usaha,” ledek Theo memprovokasi sahabatnya.


“Eh jangan macam-macam lo !” ancam Boni sambil melempar gulungan tissue ke arah Theo yang duduk selang satu bangku darinya.


“Iya, Mi.. Sebaiknya sepulang dari sini, elo pastiin sama cowok lo tuh,” Arjuna ikut menimpali sambil menujuk Boni. “Mau dibawa kemana hubungan kita ini.”


Para sahabat Arjuna langsung terbahak, apalagi melihat wajah Boni langsung merah padam saat Mimi menatapnya tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Meski cuma sandiwara Mimi, tapi hati Boni sempat ketar ketir.


“Butuh kendaraan buat kabur lagi, Jun ?” Boni menyodorkan kunci mobilnya untuk membalas ledekan Arjuna.


“Nanti kalau sudah resmi jadi istri. Cilla bakalan gue bawa kabur biar jauh dari kalian semua untuk menghindari provokasi dari para jones yang suk bikin rusuh,” cibir Arjuna.


“Dih sombongnya,” cebik Theo. “Lupa dia gimana mukanya kayak kertas lecek waktu terancam ditinggalkan Cilla.”


“Bener banget, Bro,” timpal Dono “Menatap dari kejauhan mengharap pujaan hati menoleh walau sekilas.”


“Eh Dondon, elo itu guru ekonomi, nggak usah gaya kayak pujangga kesiangan,” sahut Arjuna.


Candaan mereka akhirnya terhenti saat papa Arman mendehem dan berdiri di depan kursinya.


“Jadi gimana Juna ?” tanya papa Arman pada putra sulungnya yang duduk persis di sebelahnya.


“Eh… gimana apanya, Pa ?” Arjuna balik bertanya dengan wajah bingung.


Spontan bukan hanya para sahabatnya tapi juga Pak Slamet, Pak Wahyu dan ketiga sahabat Cilla juga Amanda ikut tertawa.


“XY nya Pak Juna… Apa sudah ketemu hasil akhirnya ?” ledek Dono di sela-sela tawa mereka.


Arjuna mengusap tengkuknya dengan senyum canggung. Dalam pikirannya papa Arman yang akan bicara dan Arjuna tinggal mengiyakan lalu memasang cincin pertunangan di jari manis Cilla.


Papa Arman geleng-geleng kepala sambil tertawa pelan. Beliau sendiri tidak yakin kalau anaknya sudah mempersiapkan segala sesuatunya karena kehadiran Cilla sendiri adalah kado kejutan untuk Arjuna.


“Kamu jadi mau gimana sama Cilla ? Mumpung hari ini lengkap, ada keluarga, sahabat kalian berdua dan perwakilan dari sekolah.”


Arjuna menepuk saku celananya. Ia menarik nafas lega saat merasakan kalau kotak kecil yang ia persiapkan untuk Cilla tidak lupa dibawanya meski tahu kalau Cilla tidak akan datang.


Arjuna pun memutari meja dan mendekat ke arah Cilla yang duduk di antara mama Diva dan Amanda.


Telapak tangan Cilla langsung terasa dingin saat Arjuna sudah dekat dan meminta Cilla memutar bangkunya dan Amanda menggeser duduknya.


Tidak ada yang menduga kalau Arjuna akan berlutut dan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


“Priscilla Darmawan, hari ini di hari spesialku rasanya tidak ada yang lebih indah saat melihatmu hadir menjadi kado terindahku. Di depan orangtua kita, para sahabat dan keluarga Guna Bangsa, aku ingin menjadikanmu calon istriku. Satu-satunya wanita yang akan menemaniku seumur hidupku.”


Arjuna pun membuka kotak yang ia bawa. Isinya hanya cincin putih sederhana tanpa hiasan berlian besar. Berbeda dengan cincin yang diberikannya untuk Luna saat Arjuna mengajaknya untuk menikah.


Cincin itu baru dibeli dari hasil kerjanya sebagai guru. Mama Diva tidak mampu menahan air matanya saat melihat bentuk cincin yang sangat sederhana itu. Sebagai seorang Arjuna Hartono, seharusnya putra sulungnya bisa memberikan yang lebih bagus dan indah untuk Cilla.


Papa Arman yang ternyata sudah berdiri di dekat situ langsung merangkul mama Diva saat melihat istrinya menghapus sudut matanya.


Cilla sendiri mengerjapkan matanya. Ia tidak peduli dengan bentuk cincin yang diberikan oleh Arjuna, tapi bagaimana cara pria itu dengan berani melamarnya di depan banyak orang, sungguh membuat hati Cilla melambung bahagia.


Cilla sempat menatap papi Rudi yang kembali mengedipkan kedua matanya dengan senyuman sebagai tanda restunya apabila Cilla ingin menerima lamaran Arjuna.


Cilla menatap Arjuna dengan mata berkaca-kaca.


“Bapak yakin nggak akan kabur lagi kalau sampai harus menunggu saya punya KTP dan lulus SMA ?”


Pertanyaan Cilla sontak membuat suasana syahdu menjadi riuh dengan gelak tawa. Apalagi Cilla memanggil Arjuna dengan sebutan bapak.


Arjuna langsung cemberut. Susah payah ia menahan malu karena pasti akan menjadi bulan-bulanan sahabatnya setelah ini, karena aksi melamar Cilla di depan banyak orang. Eh bisa-bisanya calon istrinya malah balik bertanya dengan kalimat yang mengundang tawa.


Arjuna pun bangun dari posisi berlutut dengan wajah cemberut ia menarik kursi yang tadi diduduki oleh Amanda.


“Kamu kira aku lagi main drama ?” gerutu Arjuna dengan wajah kesal. “Butuh keberanian untuk bertindak kayak tadi. Kamu malah menghancurkan suasananya.”


“Namanya juga trauma, Jun,” celetuk Theo. “Memangnya enak jadi perempuan ditinggal kabur sama cowok yang mau dijodohin ?”


“Benar banget Jun, kalau gue sih pikir seribu kali untuk menerima cowok model elo,” ledek Mimi gantain menggoda Arjuna.


“Kejarlah daku, kau kutinggal,” timpal Dono.


“Jangan pada jadi provokator, deh,” gerutu Arjuna dengan wajah masam. Terlihat ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


“Mau nge-prank aku ?” tanyanya dengan jutek.


“Eheemm…” terdengar suara papi Rudi di belakang Arjuna, membuat pria yang sedang berulangtahun itu agak kaget.


Terlihat Cilla melambaikan tangan lagi meminta Arjuna mendekat.


Sadar sedang diperhatikan semua orang apalagi orangtua mereka berdiri begitu dekat, akhirnya Arjuna mendekat ke arah Cilla.


“Cilla mau,” bisiknya pelan di telinga Arjuna. “Tapi menikahnya tunggu Cilla selesai kuliah ya ?”


Arjuna melirik sambil mengerutkan dahi dengan wajah ingin protes


“Atau menikahnya saat lulus SMA, tapi punya anaknya setelah Cilla selesai kuliah.”


Posisinya masih berbisik di telinga Arjuna hingga yang hadir dibuat penasaran saat melihat eskpresi Arjuna berubah-ubah.


“Soalnya Cilla mau kuliah di luar negeri,” bisik Cilla lagi.


Arjuna langsung menjauh dan dengan wajah juteknya ia menggeleng.


“Mana ada istri jauh-jauh dari suami !” protesnya dengan suara cukup lantang membuat Cilla langsung membekap mulut Arjuna.


Ia melirik ke kiri kanan, terlihat kalau yang ada di aitu langsung terdiam memperhatikan adegan selanjutnya setelah ucapan Arjuna barusan.


“Nggak usah nge-gas,” omel Cilla dengan wajah cemberut.


Arjuna hanya bisa mengangguk karena tangan Cilla masih menutup mulutnya.


“Bener ya nggak boleh nge-gas ?” tanya Cilla sambil mengangkat kedua alisnya. Arjuna mengangguk.


Perlahan Cilla melepaskan tangannya yang menutup mulut Arjuna. Ia kembali mendekati wajah Arjuna dan berbisik di telinganya.


“Cilla mau jadi calon istrinya Mas Juna,.”


Tanpa diduga kali ini Cilla langsung mencium pipi Arjuna yang dekat dengan wajahnya. Spontan semua bersorak riuh sementara Cilla wajahnya langsung memerah karena malu.


“Malu gue !” Febi menutup matanya. “Nggak nyangka tuh anak berani langsung nyosor,” ujar Febi sambil geleng-geleng kepala.


Terlihat Arjuna langsung meraih jemari Cilla dan menyematkan cincin yang sudah disiapkannya.


“Kok bisa pas ?” tanya Cilla sambil memicingkan matanya.


“Udah sering pegang tangan kamu, jadi udah ngukur jari kamu juga,” sahut Arjuna sambil tertawa.


“Oooo jadi kamu suka pegang-pegang Cilla ? Selain pegang tangan, sudah pegang apalagi ?” tanya papi Rudi dengan suara yang dibuat sedikit galak.


“Cuma tangan, Om. Beneran deh,” Arjuna berbalik sambil nyengir kuda dan kedua jari membentuk huruf V.


“Kalau dikasih ijin sama Om sih maunya lebih,” ujar Arjuna sambil terkekeh.


“Cilla nya nggak mau !” gadis itu memukul bahu Arjuna.


“Iihh galak bener sih… Baru juga jadi calon istri,” ledek Arjuna dambil mengusap bahunya.


Ternyata mama Diva juga sudah menyiapkan seuntai kalung untuk Cilla sebagai tanda pengikat. Beliau sendiri yang menyematkannya pada Cilla.


“Mulai sekarang panggil kami mama dan papa seperti Arjuna dan Amanda. Dan Arjuna akan memanggil papi juga ke papi kamu,” tutur mama Diva.


Cilla mengangguk sambil tersenyum dengan mata mulai berkaca-kaca. Akhirnya mulutnya bisa mengucapkan kata mama lagi setelah sekian tahun ia merindukan sosok wanita sebagai ibunya.


“Kakak ipar,” Amanda dengan gaya lebaynya langsung mendekat dan memeluk Cilla. “Senangnya punya kakak ipar yang bisa jadi sekutu buat melawan kakak yang otoriter ini,” ujarnya sambil melirik Arjuna.


Arjuna mendengus kesal dan melotot ke arah adik dan calon istrinya yang langsung akrab dan menertawakan dirinya.


Dari tempat duduknya, Jovan melihat semuanya dengan tatapan bahagia. Ada perasaan lega di hatinya saat melihat sahabat kecilnya memiliki pria yang benar-benar dicintainya.


Dan sepertinya ucapan Cilla benar, kalau perasaan yang ada di hati Jovan bukan cinta antara laki-laki dan perempuan melainkan lebih kepada hubungan saudara. Ia tidak merasa sakit hati atau kecewa saat melihat Cilla memilih Arjuna.


Pak Slamet dan Pak Wahyu pun saling menatap sekilas dan tersenyum. Ada perasaan lega di hati mereka, karena harapan mempersatukan Arjuna dan Cilla bisa terwujud. Tinggal satu langkah lagi mereka akan menjadi satu dalam ikatan pernikahan. Setidaknya saat Cilla harus menghadapi kenyataan tentang kondisi Pak Darmawan, sudah ada Arjuna yang akan menjadi sumber kekuatannya.


“Gue benar-benar nggak percaya kalau mereka dijodohkan, tapi ternyata benar-benar jatuh cinta bukan karena perjodohan,” bisik Lili dengan nada terharu.


“Iya, gue bahagia, Li. Paling nggak Cilla nggak akan merasa kesepin lagi kalau bokapnya sering nggak ada di rumah,” sahut Febi. Lili mengangguk tanda setuju.


“Semoga kamu selalu bahagia dengan cintamu, Cilla,” batin Theo dalam hati. Senyumnya makin mengembang saat melihat adik sepupunya berbinar bahagia karena memiliki Arjuna.