
Cilla memilih Tanah Lot sebagai tujuan pertamanya. Selama ini Cilla hanya bisa melihat dari postingan foto teman-temannya di media sosial, dan seperti mimpi hari ini bisa menginjakkan kakinya di atas pasir Tanah Lot sambil merentangkan kedua tangannya, menghirup udara laut di sekitar tempat yang cukup legenda di Pulau Dewata.
”Senang banget mukanya,” goda Arjuna sambil merangkul bahu istrinya.
“Iya senang pakai banget,” Cilla bergelayut di lengan Arjuna. “Mas Juna mau tahu kenapa ?”
“Daripada menebak, Mas Juna lebih suka dengar Cilla cerita,” Arjuna mengacak rambut Cilla.
“Sebetulnya Cilla bisa aja kemari sama teman-teman, papi pasti kasih apalagi kalau Jovan ikut. Kalau perlu papi yang biayain. Tapi Cilla nggak mau pergi dengan sembarang teman, akan lebih nyaman kalau pergi sama Febi dan Lili. Tapi sayangnya setiap liburan sekolah, mereka pasti pergi dengan orangtuanya sementara hubungan dengan Jovan sudah berantakan sejak Cilla berumur 8 tahun. Sedih rasanya harus sendirian melewati liburan, dan hari ini Cilla bisa datang di sini bersama suami tersayang,” Cilla menyandarkan kepalanya di lengan Arjuna.
“Cilla sedih setiap melihat postingan teman-teman di medsos saat liburan. Itu sebabnya Cilla menangis pas lagi di Semarang, bukan karena datang bulan seperti dugaan Mas Juna,” Cilla mendongak dan menatap Arjuna sambil tersenyum.
“Tapi liburan dengan Mas Juna di Ambarawa dsn Semarang adalah yang terbaik dari semua liburan yang pernah Cilla lewati. Dan hari ini jadi luar biasa karena Mas Juna ada bersama Cilla sebagai suami tercinta,” Cilla tertawa pelan dan menarik Arjuna supaya lebih mudah mencium pipi pria kesayangannya itu.
Cilla melepaskan rangkulannya dan berjalan menyusuri pantai dan mengambil beberapa foto lalu mengajak Arjuna foto berdua.
“Akhirnya Cilla bisa ikutan pamer posting foto di medsos,” Cilla tertawa bahagia sambil melihat hasil jepretan kamera handphonenya.
Arjuna tersenyum dengan hati yang terenyuh mendengar curahan hati istrinya. Digandengnya lengan Cilla melewati toko-toko souvernir sebelum akhirnya kembali ke parkiran.
Ingatannya kembali saat mendapati Cilla menangis di pelataran Klenteng Sam Poo Kong. Rasanya memang menyedihkan untuk gadis seusianya melewati liburan seorang diri bukan karena tidak ada uang tapi karena tidak ada yang menemani.
Mas Juna janji nggak akan pernah membuat Cilla merasa kesepian dan sendirian lagi. Selama Tuhan masih memberikan hidup, selama itu juga Mas Juna akan menyayangi, mencintai dan berada di samping Cilla sebagai sahabat, saudara dan suami serta ayah yang baik untuk anak-anak kita, batin Arjuna.
“Kita makan siang dulu sebelum belanja di Pasar Sukawati, ya ? Biar ada tenaga. Tadi pagi Cilla nggak makan banyak,” ujar Arjuna sambil mengusap keringat di dahi Cilla.
Keduanya sudah kembali berada di dalam mobil yang disopiri Kadek, warga asli Bali yang pekerjaan sehari-harinya memang sopir di perusahaan rental mobil.
“Boleh, Cilla juga udah lapar,” Cilla mengangguk dan memberikan sebotol air mineral untuk Arjuna.
“Mas Kadek boleh tolong antar kita ke rumah makan yang enak dekat sini dan searah jalannya ke pasar Sukawati,” pinta Arjuna saat mobil mulai meninggalkan pelataran parkir.
“Pak Arjuna dan istri sukanya makan apa ?” tanya Kadek sambil memandang dari spion tengah.
“Apa aja yang khas Bali, kita berdua nggak pemilih, asal enak dan bersih,” gantian Cilla yang menyahut.
“Okelah kalau begitu,” Kadek tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya membuat Cilla tertawa.
Keduanya menikmati makan siang di salah satu restoran yang cukup terkenal dengan menu ayam betutu. Arjuna lebih banyak diam dan membiarkan Cilla berceloteh seperti biasa. Terlihat rasa bahagia yang tidak terlukiskan sekalipun berkali-kali Cilla mengungkapkannya dengan kata-kata.
“Cilla bawel banget, ya ? Mas Juna capek dengerin Cilla ngoceh dari tadi, ya ?”
Sadar kalau suaminya lebih banyak menjadi pendengar dan hanya menanggapinya dengan kalimat-kalimat pendek, Cilla menghentikan celotehnya. Cilla menatap Arjuna sambil melipat kedua tangannya di atas meja.
“Nggak, Mas Juna sama sekali nggak capek. Mas Juna malah senang dengerin Cilla ngomong. Benar-benar anak bebek kesayangan Mas Juna.”
“Cilla udah bukan anak bebek lagi tapi ibu bebek, soalnya udah bukan gadis lagi,” ujar Cilla sambil terkekeh dengan suara berbisik sambil mencondongkan badannya ke arah Arjuna.
“Iya, ibu bebek kesayangan bapak bebek,” sahut Arjuna sambil tertawa pelan.
“Adiknya lucu dan cantik,” puji seorang Ibu yang melayani pembayaran di kasir saat Cilla dan Arjuna akan membayar setelah selesai makan.
“Eh.. ini…” Arjuna mengerutkan dahi namun belum sempat menjelaskan, si ibu sudah bicara lagi.
“Dijaga baik-baik soalnya pasti banyak yang dekati, soalnya adiknya imut dan menarik mata.”
“Dia istri saya, Bu, bukan adik saya,” sahut Arjuna tersenyum sambil menahan emosinya. “Istri sah, kami pengantin baru.”
Arjuna mengangkat jemari Cilla dan jemarinya, memperlihatkan cincin kawin mereka.
“Ooh maaf, habis istrinya kelihatan masih seperti anak-anak,” ujar ibu tadi dengan nada tidak enak.
“Nggak apa-apa, Bu. Suami saya pesonanya luar biasa sampai saya susah nolak waktu diajak menikah,” seloroh Cilla mencoba menetralkan suasana.
Terdengar helaan nafas kesal Arjuna saat mereka berjalan menuju parkiran, meneruskan rute berikutnya ke Sukawati.
”Jangan terlau dimasukan hati. Mas Juna nggak kelihatan tua sama sekali, tapi Cilla nya yang kependekan, jadi disangkanya masih anak-anak. Mereka belum tahu aja kalau cewek imut ini udah pintar main anak koala,” ujar Cilla cekikikan sambil bergelayut manja di lengan Arjuna.
Pria itu melirik istrinya yang langsung mengedipkan sebelah matanya membuat Arjuna akhirnya tersenyum juga.
Hanya butuh waktu 15 menit mobil sudah sampai di pelataran parkir Pasar Sukawati. Arjuna berpesan pada sopir supaya menjemput mereka sekitar 1,5 jam lagi di tempat yang sama.
Sudah 15 menit Cilla berkeliling di pasar Sukawati tetapi belum ada satupun barang yang dibelinya. Malah tangan Cilla terlihat sibuk dengan handphone di tangannya.
“Nggak usah pusing mau beliin oleh-oleh buat semua orang. Mereka kan juga tahu kalau kita berdua lagi bulan madu bukan liburan biasa. Kasih oleh-oleh dedek bayi pasti bisa menyenangkan semuanya,” bisik Arjuna di akhir kalimatnya sambil tertawa pelan.
“Hobi banget nyerempet ke masalah dedek bayi,” Cilla mencibir. “Kan kita udah sepakat…”
Cilla tidak melanjutkan ucapannya karena pikirannya kembali teringat masalah obat yang lupa dikonsumsi. Cilla pun mempercepat langkahnya meninggalkan Arjuna. Rasanya deg deg kan kalau membahas soal anak.
Arjuna tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sengaja membiarkan Cilla jalan di depannya. Terlihat kalau Cilla seperti orang panik.
”Mas Juna mau lihat lukisan dulu di sebelah sana,” Arjuna menunjuk sisi kanan dari tempatnya berdiri. Cilla sendiri sedang sibuk memilih pernak pernik di salah satu kios.
”Cilla nggak bawa uang tunai, kan ? Ini Mas Juna tambahin dulu,” Arjuna menyerahkan lima lembar uang ratusan yang baru diambil dari dompetnya
“Kebanyakan,” ujar Cilla.
Wajah Cilla langsung merona dan setelah menerima pemberian uang dari Arjuna, ia kembali fokus dengan pernak-pernik khas Bali yang ingin dibelinya.
“Kakaknya baik banget, ya. Adiknya mau belanja, langsung dikasih uang tanpa diminta,” ujar seorang cowok asing yang langsung berdiri di samping Cilla, ikut melihat-lihat pernak-pernik bersama Cilla.
“Eh…” Cilla mengerutkan dahinya, menatap cowok yang tertawa pelan di sebelahnya.
“Kenalkan nama gue Ario,” cowok yang usianya sekitar 20 awal itu mengulurkan tangannya.
“Dari Jakarta juga kan ? Kelas berapa ?” Ario kembali bertanya dengan tangan yang masih terulur.
Cilla menoleh ke belakang, mencari sosok Arjuna yang berdiri agak jauh dengan posisi memunggunginya.
“Wah udah dapat kenalan baru aja nih, Yo,” ledek seorang cowok sambil menepuk bahu cowok bernama Ario itu. Terlihat ada 2 cowok lain yang ikut bersamanya.
“Dari Jakarta juga ? Kelas berapa dan di SMA mana ?” sapa cowok yang menepuk bahu Ario tadi.
“Eh gue…” Cilla terlihat ragu-ragu menjawab pertanyaan para cowok itu.
“Kenalkan, Reyhan, panggil sana Rey,” pria yang baru datang itu mengulurkan tangan sementara tangan Ario sudah ditarik kembali.
“Teman-temannya kemana ? Kok sendirian aja belanjanya ?” Reyhan kembali berceloteh dengan gaya santainya.
“Nggak sendirian, sama kakaknya tuh.”
Belum sempat Cilla menjawab, Ario sudah lebih dulu menjelaskan pada Reyhan dan menunjuk Arjuna dengan dagunya.
”Ooo ditemani kakak,” Reyhan manggut-manggut. “Kakaknya protektif banget, ya,” lanjut Rey sambil tertawa.
”Ini teman-teman gue. Si blonde ini kan udah sebut nama, nah yang itu Brian dan Albert. Kita berempat mahasiswa dari Jakarta baru semester 6.”
Kedua cowok yang datang bersama Reyhan menganggukan kepala sambil tersenyum pada Cilla.
Cilla pun balas tersenyum dan menganggukan kepala tanpa menyebutkan namanya.
”Nama elo siapa ?” tanya Reyhan sambil mencondongkan sedikit badannya ke arah Cilla membuat Cilla reflek mundur menjauh hingga menabrak seseorang yang berdiri di belakangnya.
Cilla menoleh saat ada lengan memegang bahunya dari belakang. Begitu melihat sosok Arjuna, Cilla langsung tersenyum.
“Kami cuma mau kenalan sama adiknya aja, Kak,” ujar Ario sambil tersenyum kikuk. Tatapan Arjuna membuatnya menjadi agak canggung.
“Istri saya nggak perlu tambahan teman saat ini,” tegas Arjuna dengan tatapan tajam.
“Istri ? “ keempat cowok tadi langsung tercengang menatap Cilla dengan wajah tidak percaya.
”Kenapa ? Ada masalah ?” tanya Arjuna masih denga tatapan tajam bergantian kepada empat cowok di depannya
“Yakin Om ini istrinya ?” tanya Reyhan dengan dahi berkerut. “Bukan istri paksaan kan ? Soalnya kelihatan elo masih muda banget,” Reyhan melirik Cilla.
“Wanita ini istri saya bukan adik saya. Kenapa ? Kamu dari KPAI ? Berpikir kalau saya semacam pedofil atau sugar daddy ?” rentetan pertanyaan diucapkan Arjuna dengan nada galak.
“Eh muka Om belum kayak daddy-daddy tua, kok,” cowok yang bernama Albert langsung menjawab pertanyaan Arjuna.
”Tapi beneran, muka istri Om ini masih imut-imut banget, kayak anak baru lulus SMP,” timpal Brian.
“Terus kalian berniat nge-begoin istri saya karena dianggap masih kecil ?” tatapan Arjuna yang menelisik keempat mahasiswa di depannya ini membuat Cilla sebetulnya ingin tergelak. Gaya Arjuna seperti pak guru matematika yang galak.
“Nggak Om, beneran,” Ario langsung menggeleng dan menggoyangka tangannya
Cilla tertawa pelan, membayar belanjaannya setelah menerima satu kantong barang yang sudah dibelinya.
“Ya udah, kalian sok lanjut aja belanjanya,”ujar Cilla sambil menggandeng lengan Arjuna. “Saya juga mau lanjut jalan-jalan sama suami.”
Keempatnya mengangguk sementara Arjuna mendengus kesal karena Cilla segera menarik lengannya tanpa memberikan kesempatan Arjuna untuk meneruskan omelannya.
“Nggak usah dipikirin apalagi dianggap omongan mereka. Biasa kan kalau lagi ramai-ramai ketemu lawan jenis sendirian suka cari perhatian,” ujar Cilla masih menggandeng lengan Arjuna menuju mobil.
“Memangnya Cilla juga suka isengin cowok kalau lagi jalan sama Febi dan Lili ?” mata Arjuna menyipit, menatap istrinya yang malah tertawa pelan.
“Lili memang suka lirik cowok, tapi sebatas lirik doang. Belum pernah dalam sejarah kita bertiga nyamperin cowok yang lagi ramean atau sendirian. Lili cuma jadiin mereka bahan gibah doang.”
“Beneran ya !” tegas Arjuna sambil membukakan pintu mobil untuk Cilla. “Awas nanti kalau berubah pikiran setelah jadi mahasiswa !”
“Didoakan saja nggak akan berubah,” goda Cilla sambil terkekeh.
Arjuna melengos dengan bibir yang masih cemberut. Kekhawatirannya sedikit bertambah mengingat Cilla semakin terihat menarik di usianya yang semakin dewasa.
Cilla sendiri sering merasa tidak percaya dengan kondisi fisiknya yang memiliki tinggi di bawah rata-rata, belum lagi wajahnya yang dianggapnya biasa-biasa saja dan tidak suka dengan sentuhan make-up.
Tapi entah kenapa, sejak menikah dengan Arjuna, Cilla baru merasakan sering mendapat pujian cantik dan diajak bicara dengan cowok-cowok asing yang usianya sedikit lebih tua darinya.
Arjuna sendiri mengakui kalau secara wajah, Cilla tidak secantik Sherly atau Luna. Tapi bagi Arjuna, ada pesona lain yang menjadi magnet Cilla melebihi kecantikan Luna atau Sherly. Mungkin saja kecantikan Cilla itu datangnya dari dalam hati atau yang sering dikenal dengan istilah inner beauty.
Buat Arjuna kecantikan “inner beauty “ itu lebih mengkhawatirkan. Apalagi pria-pria dengan usia 20 tahun ke atas lebih banyak mencari wanita bukan sekedar untuk dijadikan pacar saja tapi kemungkinan penjajakan menjadi pasangan hidup. Wajah selalu jadi prioritas tapi tidak perlu secantik bintang idola karena biasanya pemilik wajah cantik memerlukan perawatan “full press body” yang membutuhkan biaya ekstra dengan jumlah yang terkadang bikin WOW.
Arjuna menghela nafas sambil memandang keluar jendela sementara Cilla hanya melirik sambil tersenyum melihat suaminya kembali galau karena masalah cowok yang dekat atau mendekati Cilla.