MENGEJAR CINTA PAK GURU

MENGEJAR CINTA PAK GURU
MCPG 2


Arjuna berjalan mondar mandir di dalam ruang kerjanya dengan wajah cemas dan kurang tidur. Meskipun polisi sudah dilibatkan karena lebih dari 24 jam Cilla menghilang namun belum ada tanda-tanda dimana Cilla berada.


Glen tidak datang ke kampus hari ini dengan alasan sakit, bahkan handphonenya tidak bisa dihubungi sejak pagi membuat Arjuna khawatir. Ia takut pria obsesi seperti Glen melakukan tindakan gila pada istrinya.


Arjuna masih berdiri dekat kaca sambil memijat pelipisnya saat Tino masuk.


“Gimana ? Ada perkmbangan ?”


“Sementara polisi lagi mengumpulkan data pribadi Glen dan belum bisa menjadikan cowok itu tersangka karena hanya ada ucapan saksi di kafe yang tidak tahu dengam identitas Glen. Alamat yang tercatat di data kampus sesuai dengan KTP-nya yaitu apartemen yang gue datangi kemarin. Nggak ada catatan kalau Glen memiliki tempat tinggal kain yang mungkin dipakai untuk menahan Cilla.”


“MegaCyber nggak bisa melacak harta tersembunyi milik Glen ?”


“Itu melanggar aturan, Bro. Di catatan resminya Glen hanya memilki satu apartemen.”


“Cilla harus segera ditemukan, gue khawatir pria obsesi seperti Glen melakukan hal-hal yang tidak pantas sama Cilla. Udah gitu Sean juga nggak tenang tanpa maminya. Semalam rewel terus dan nggak mau tidur di ranjangnya sendiri.”


“Ikatan batin, Jun. Kita semua sedang mengusahakan yang terbaik,” ujar Tino sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya.


“Hhhmmm.”


“Amanda, Febi dan Lili juga lagi mencari tahu keberadaan Glen lewat GFC.”


“GFC ?” Arjuna menautkan kedua alisnya.


“Glen Fans Club,” sahut Tino sambil tertawa pelan. “Sebentar lagi GFC akan punya saingan AFC alias Arjuna Fans Club.”


Arjuna hanya memutar bola matanya dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Moodnya sedang tidak bagus untuk membalas candaan Tino.


****


“Kenapa kamu nggak mandi ?” tegur Glen saat melihat Cilla masih mengenakan pakaian yang sama.


Seharian ini Glen hanya meninggalkan apartemen hanya untuk berbelanja bahan makanan di supermarket dekat apartemen. Cilla bukan hanya menjadi sandera biasa karena Glen memintanya untuk memasak juga.


”Kenapa kamu nggak mandi ? Apa pakaian yang aku bawakan tidak sesuai seleramu ?” tanya Glen sekali lagi sambil memperhatikan Cilla yang sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.


“Tidak ada kewajiban untuk menjawab pertanyaan Bapak, kan ?”


Glen malah tertawa melihat wajah Cilla yang kesal sambil bekerja.


“Kamu benar-benar mirip dengan Gina, suka ngambek dan pintar masak. Aku suka dengan masakanmu tadi pagi biar hanya nasi goreng telur.”


Cilla hanya diam saja. Sejak pagi ia enggan menanggapi ucapan Glen meskipun pria itu memujinya karena sudah disiapkan sarapan pagi.


“Aku sering banget merindukan Gina. Hubungan kami lumayan dekat tapi sayangnya tidak sedekat yang aku bayangkan karena ia tidak pernah bicara terus terang soal perasaannya yang mulai jatuh cinta,” ujar Glen dengan pandangan menerawang. Cilla sempat melirik sejenak. Wajah pria itu terlihat sedih.


Cilla masih mengabaikannya karena ia mulai memasak bahan makanan yang sudah disiangi.


Glen memperhatikannya sambil menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Gerakan Cilla memang sudah mahir dan terbiasa di dapur.


“Wangi dan kelihatan enak,” puji Glen sambil menghirup aroma masakan yang tersaji di depannya.


Cilla mengangkat ayam goreng di wajan lainnya dan sambil menunggu minyakny tiris, Cilla mengambilkan nasi dari rice cooker untuk Glen.


Cilla benar-benar merindukan Arjuna. Apa yang dilakukannya ini sudah menjadi tugasnya sehari-hari saat makan pagi dan malam dengan suaminya itu.


“Kamu nggak makan ?”


Cilla menghela nafas. Sebetulnya ia enggan makan semeja dengan Glen tapi perutnya sudah meronta minta diisi. Setidaknya ia harus tetap sehat sampai Arjuna menemukannya.


“Terima kasih karena sudah bersedia memasak untukku. Kalau sudah begini, aku benar-benar merindukan keluargaku. Sejak Gina meninggal lalu papa menyusulnya, mama seperti menghilang entah kemana. Sudah bertahun-tahun aku hidup sendirian dan hanya sesekali mendapat kabar dari mama.”


Cilla masih tetap diam, memilih hanya menjadi pendengar yang baik tanpa bermiat untuk berkomentar.


“Kalau begitu, penyebab Kak Gina mengakhiri hidupnya tidak pasti karena ditolak oleh Mas Juna. Mungkin saja…”


“Cukup ! Jangan coba-coba membela laki-laki pengecut itu. Dia menolak Gina karena menganggap dia tidak pantas.”


“Mas Juna tidak pernah bilang begitu, teman-temannya juga memastikan kalau Mas Juna tidak pernah tahu masalah perasaan Kak Gina kepadanya.”


“Bohong !”


Cilla menghela nafas dan beranjak dari kursi karena ia sudah menyelesaikan makannya. Cilla langsung membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya.


“Bapak bilang pada Mas Juna kalau Bapak cinta pada saya tapi kenyataannya Bapak malah membuat saya menderita dengan menjauhkan saya dari keluarga saya. Bapak yang sebenarnya pengecut.”


“Cukup !”


“Kalau memang Bapak merasa yakin Mas Juna yang menyebabkan Kak Gina bunuh diri, temui Mas Juna dan beri pelajaran yang setimpal, bukannya menunggu bertahun-tahun dan menimpakan semua kebencian Bapak dengan menahan saya seperti ini.”


Cilla tidak mau mengalah. Suaranya meninggi dan tatapannya menantang mata Glen yang memerah karena marah.


“Lelaki seperti Arjuna tidak akan pernah mengerti soal sakit hati karena cinta. Buktinya meski sudah dihina oleh Luna saat masih sekolah, tetap saja ia mau menjadi kekasih perempuan itu setelah selesai kuliah bahkan berniat menikahinya,” ejek Glen dengan senyuman sinis.


“Itu satu kelemahan Mas Juna soal cinta karena pada dasarnya Mas Juna bukanlah manusia pendendam seperti Pak Glen.”


“Cukup kataku ! Sekarang kamu mandi ! Tidak bisakah kamu menghargai usahaku untuk membuatmu nyaman ?”


Dengan wajah memerah karena masih diselimuti emosi, Glen menarik lengan Cilla dan membawanya ke ruang tengah. Cilla tidak memberontak, hanya meringis kesakitan, ia tidak mau membuat Glen semakin marah kalau Cilla berusaha melepaskan cengkraman Glen.


“Mandi atau aku yang akan memandikanmu !”


“Saya tidak mau !” tolak Cilla dengan tegas.


Mata Glen semakin tajam menatap Cilla dan cengkramannya semakin kuat.


“Bapak menyakiti saya.”


“Karena kamu tidak bisa diajak kerjasama,” tegas Glen.


“Jangan pernah lagi bilang cinta di hadapan saya !” bentak Cilla.


“Bapak tidak cinta dengan saya tapi gila !”


“Sudah saya bilang jangan menguji kesabaran saya !” tangan Glen kembali mencengkram rahang Cilla.


“Kamu mau…”


Belum sempat Glen meneruskan kalimatnya, pintu apartemen diketuk dari luar. Ia melepaskan tangannya dari wajah Cilla dan berjalan menuju pintu.


“Cari siapa ?”


“Saya sekuriti dari bawah Pak Glen, ada titipan surat yang harus disampaikan langsung dan ditandatangani tanda terimanya, ditunggu kurirnya di bawah.”


Glen menautkan alis dan mengintip dari lubang pintu. Benar seorang pria yang dikenal Glen berdiri di depan pintunya. Mata Glen melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kalau Kusno, nama petugas itu hanya datang sendirian.


“Saya butuh tandatangan Bapak,” ujar Kusno saat Glen membuka pintunya hanya sedikit.


Glen menghela nafas dan akhirnya melebarkan pintunya karena tidak ada tanda-tanda Kusno diikuti orang lain.


“Maaf Pak Glen, ujar Kusno yang malah menarik Glen keluar.


Glen kalah sigap dan ternyata dugaannya benar. Kusno tidak datang sendirian.